Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Serta


__ADS_3

Saat itu juga, Lucille naik pitam. Ia sangat geram dengan gadis tanggung ini yang sudah dengan berani menegurnya, tapi itu kenyataan. Kalau bukan karena mengejar Ken, ia tak mungkin melakukan hal serendah itu.


"Ini rumah sakitku! Aku bisa mengusirmu, mungkin, tapi aku masih menghargai keberadaanmu," ucap penyihir itu geram.


"Rumah sakitmu? Sejak kapan kau beli rumah sakit ini, hah?" Mira mulai terpancing emosi. Ia melipat tangannya di dada. Rasanya ia mulai berani dari ia saat dulu ditipu dan dicuri Lucille, bola kristalnya. Karena ia mulai dewasa.


Lucille menyorot balik gadis itu dengan sorot mata menghujam. Ia mengeratkan kepalan tangannya. Hampir saja ia melempar sihir pada gadis itu, kalau saja Ken tak keluar dari ruang operasi.


Ken khawatir ketika melihat keduanya tengah berhadapan. Dengan cepat ia menengahi. Ia berdiri membelakangi Mira. "Eh, Lucille. Ada apa kau ke sini?"


"Aku mendengar kau ke ruang operasi jadi aku datang ke sini. Aku pikir kau tak akan datang, karena teleponmu bermasalah. Ada apa denganmu, aku ikut khawatir mendengarnya," sahut wanita itu memberondongnya dengan pertanyaan.


"Oh, ponselku rusak. Eh, operasiku sudah selesai. Aku mau pergi lagi," pamit pria itu.


Pada saat itu, Dokter Barnes keluar dan memperingatkan Ken. "Cepat beli ponsel baru, soalnya aku masih ingin menghubungimu."


"Eh, iya, Dok," jawab sang pria Jepang. Ia menarik tangan Mira untuk ikut bersamanya. "Ayo, Mira."


Lucille hanya melihat saja, Ken pergi dengan gadis itu. Ia tak berani meminta ikut dengan Ken karena pasti ditolak, dan itu bisa mempermalukan ayahnya di depan Dokter Barnes.


-------+++-------


"Mira, benar kau tidak mau beli ponsel baru?" tanya Ken memastikan, sebab memang gadis itu tak punya ponsel.


"Tidak ah, Kak. Aku tidak pergi ke mana-mana hanya kerja di-laundry dan mengikuti Kakak. Pengalaman Kak Ken juga, pas butuh, handphone-nya malah dibuang penjahat. Jadi apa gunanya handphone untukku, Kak?"


"Mmh, ya sudah." Pria itu menjepit hidung Mira.


"Ih, Kakak jahil!" Gadis itu menepis tangan Ken.


Sang pria hanya terkekeh. Ia kemudian membayar ponselnya dan keluar bersama Mira. "Aku mau menemui pasien dulu. Aku belum selesai dengannya."


"Ok, siap."


Pria itu melirik Mira. Ia gemas hingga mencubit pipinya.


"Kakak ... aku udah gede, tau, Kak." Gadis itu cemberut seraya mengusap pipinya yang memerah karena dicubit Ken.


Ken tertawa. "Maaf."


Tak sengaja ia melihat toko perhiasan. "Eh, lihat toko itu, yuk!" Keduanya lalu masuk dan melihat-lihat.


Mira tentu saja suka melihat perhiasan dari emas. "Bagus-bagus ya, Kak?" Matanya serasa disegarkan oleh pengelihatan.


"Kamu mau?"


Gadis itu terkejut. "Ah, tidak usah, Kak." Tiba-tiba saja ia menjauh dari kotak kaca itu.


"Kenapa? Akan kubelikan, kok! Coba pilih yang kamu suka," ucap Ken lembut.


Mira menggeleng dan segera keluar dari toko itu. Pria itu menyusulnya. "Mira!"

__ADS_1


"Tidak usah, Kak. Aku tidak perlu."


"Masa perempuan gak mau perhiasan sih? Itu tadi bagus-bagus lho!" tunjuk Ken ke arah toko itu.


"Iya, bagus sih, tapi ...." Kalimat gadis itu terhenti.


"Kenapa? Kamu mau yang paling mahal? Ambil saja. Mau yang satu set juga boleh," bujuk mahasiswa itu.


Mira menatap Ken. Ia seperti ragu-ragu.


"Apa? Kamu mau yang mana? Coba bilang, aku takkan marah."


Gadis itu menunjuk ke arah tubuh Ken.


Pria itu kebingungan. Ia mengikuti arah telunjuk Mira yang mengarah tepat ke leher sang pria. Tepat saat itu ia memakai kalung koin yang sudah lama dimilikinya.


Rantai besinya sudah lusuh dan koinnya sudah usang tapi Ken masih memakainya. "Maksudmu kalung ini?" Ia memastikan kalung yang ada di leher.


Gadis itu mengangguk.


Ken menyentuh kalung itu di dada. "Maaf, kalau yang ini, aku tidak bisa beri. Kalung ini punya banyak kenangan untukku," ujarnya dengan suara pelan.


"Ya, sudah."


"Maaf ya?" ucap pria itu sedikit merasa bersalah.


"Tidak apa-apa." Gadis itu menggeleng. Kalung itu juga punya banyak kenangan untukku, Kak Ken.


"Ngak papa."


Mahasiswa kedokteran itu memperhatikan gadis itu lekat. "Kenapa kau tak mau gelang emas atau kalung emas saja? Aku 'kan bisa membelikan."


"Tidak usah," ucap Mira sambil tersenyum.


"Mira ...."


"Kakak gak usah merasa bersalah. Ngak papa kok." Gadis itu menyentuh lengan Ken sambil menengadah. Ia mendekati pria itu dan menggenggam tangannya.


"Bener?" Sang pria masih menatap gadis berambut sepinggang itu.


"Bener." Mira mengangguk.


"Tapi kalau ada mau apa, bilang ya?"


"Iya." Gadis itu kembali mengangguk seraya tersenyum.


Ken mengusap pucuk kepala gadis itu lembut. Mereka kemudian melangkah meninggalkan Mal itu.


---------+++---------


"Oh, untunglah." Ken mulai bisa tersenyum pada Charles.

__ADS_1


Akhirnya pria tua itu melepaskannya dan memberinya selembar amplop.


"Ah, Kek. Aku belum melakukan apapun, kenapa Kakek berikan ini padaku?"


"Karena menyatukan keluarga ini, tidaklah mudah," ucap pria bule itu bijak.


"Untuk itu pun, aku tidak melakukan apa-apa."


"Jangan terlalu merendah, Ken. Untuk pekerjaan seperti itu, ada orang yang harus bekerja keras untuk itu, tapi kamu cukup dengan ucapan, semua kembali damai."


"Tapi, Kek, aku melakukannya dengan ikhlas. Tidak mengharapkan apa pun."


"Justru itu hebatnya kamu, karena itu kamu cocok jadi dokter. Jadi terimalah, dok."


Ken tertawa. "Kakek, benar-benar pandai memuji." Ia akhirnya terpaksa menerima amplop itu.


Charles pun ikut tertawa. Ia kemudian melirik gadis yang sedari tadi diam saja, duduk di samping mahasiswa Jepang itu. "Apa ini pacarmu?"


Wajah Ken memerah sambil menggoyang-goyangkan tangannya. "Bukan, ia seperti adik bagiku. Ia selalu mengikutiku ke mana saja. Belakangan, kami bertemu lagi. Karena itu, aku membawanya ke sini."


"Oh, begitu." Namun Charles yakin ada sesuatu di antara mereka karena sang gadis tersipu-sipu setiap kali dilirik oleh mahasiswa Jepang itu dan Ken juga terlihat salah tingkah saat menerangkan hubungan mereka. Apa mereka masih malu-malu mengungkapkan hubungan mereka ke publik?


"Jaga dia ya?"


"Oh, ya. Tentu saja," sahut mahasiswa itu tanpa mendalami arti kata kalimat tersebut.


"Oh, sebentar lagi jam makan malam. Bagaimana kalau kalian makan malam bersama kami di sini?"


-----------+++-----------


Ken mengantar Mira ke rumah sewaannya. Sebuah ruangan yang lebih mirip kamar karena saking kecilnya.


"Mira, bagaimana kalau aku sewakan kamu sebuah apartemen?"


"Tidak usah, Kak. Aku melakukan, sesuai dengan dana yang diberikan."


Pria itu mengernyit dahi karena tidak suka. "Biar nanti aku bilang ibu agar dananya di tambah." Bukan apa-apa. Mira adalah anak Dewa Matahari yang notabene adalah bos ibu Ken. Apa tidak bermasalah bila anaknya diberi fasilitas yang sangat terbatas?


Gadis itu tersenyum karena kepedulian Ken.


"Oh, ya. Aku lupa bertanya. Bagaimana caranya menghubungi Ejiro, kakakmu?"


"Bagaimana kalau besok kita ke rumahnya? Besok 'kan hari Minggu," ajak Mira.


Ken kembali menatap gadis itu, ingat sesuatu. "Ah, bukankah kakakmu itu jadi dokter? Kenapa kau tak tinggal dengannya?"


"Ini tugas, Kak. Aku tidak mau mencampuradukkannya," ucap gadis itu lagi.


"Hah ... ya sudahlah. Terserah kamu saja. Besok kita ke tempat Ejiro. Pagi atau siang?"


Tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Kumpulan burung terbang dengan panik.

__ADS_1


__ADS_2