Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Dinding Ajaib


__ADS_3

Lucille tak menggubris omongan pengantin pria itu, karena amarahnya dipenuhi oleh kesepian, kecewa dan putus asa. Ia hanya menonton saja, Dewi Sri diserang oleh pasukan makhluk menyeramkan miliknya dengan pandangan dingin.


"Lucille!" teriak Ken. Ia cemas karena sang ibu diserang dari berbagai penjuru oleh mahkluk bersayap itu, hingga wanita itu terkena cakaran dan gigitan mahkluk buas itu di sekujur tubuhnya. "Ibu!" Ia memukul-mukul dinding tak kasat itu dengan keras sehingga buku-buku jarinya memerah bahkan sampai lecet. "Ibu!"


Gojo pun berusaha memukul dinding itu dengan pecutnya tapi tak berguna. Bahkan dengan pedang emas milik Ken. Hanya bunyi gemerincing besi saja yang terdengar redup seperti berada di dalam ruangan kedap suara. Dinding itu sama sekali tak rusak ataupun tergores sedikit pun.


Ken berusaha berkonsentrasi dengan menatap pedang-pedang milik zombie yang berserakan di lantai gua, tapi mereka sama sekali tak bergerak. "Ah!" Ia memukul dinding tak kasat mata itu karena kesal. Usahanya untuk menggerakkan benda itu sia-sia saja. Ternyata dinding itu menutup kemampuannya untuk menggerakkan benda mati.


Sekilas ia melihat Mira mengeluarkan darah kembali dari mulutnya. "Mira ...." Pria itu terlihat begitu khawatir. "Bagaimana caranya aku menolong Mira dan Ibu?" ucapnya dengan suara bergetar. "Aku takkan memaafkan Lucille kalau sampai harus kehilangan keduanya!" Suaranya seperti tercekat, hampir menangis tapi penuh dengan ancaman.


"Ken, apa kau tak bisa membuka dinding tembus pandang ini?" tanya Gojo yang sedari tadi penasaran kenapa Ken tak berusaha membuka dinding itu. Hanya pria ini yang bisa tenang dalam situasi seperti ini.


"Aku tak bisa memerintahnya, Gojo, sebelum tahu nama benda ini."


"Mmh, namanya ya?" Pria gondrong itu menyentuh dagunya. "Bagaimana kalau kamu menebak-nebak saja?" Sarannya.


"Menebak?" Bola mata pria Jepang itu mulai memerah. Ya, tidak ada salahnya ia menebak-nebak. Barangkali saja ia menemukan namanya tanpa sengaja. Ken mulai berkonsentrasi.


Mira sedang memulihkan tenaganya. Darah yang keluar dari mulutnya adalah racun yang tertolak tubuh dan racun itu keluar pelan-pelan. Ia melirik pisau belati yang diabaikan Lucille tergeletak tak jauh darinya.


Apa yang harus kulakukan? Mami terdesak sedang aku ingin sekali membunuh manusia iblis berdarah dingin ini.


Sambil mengatur napas, ia mengatur strategi. Pelan-pelan ia melepas totokan yang ada di beberapa titik tubuhnya, bertanda efek racun itu sudah mulai berkurang tapi tubuhnya masih belum pulih sempurna. Racun itu sedikit banyak telah menggerogoti kekuatan tubuhnya. Dengan cepat, ia meraih belati itu dan menarik tubuh sang wanita berambut merah dengan menodongkan belati ke arah lehernya.

__ADS_1


Lucille hanya sedikit terkejut tapi tetap terlihat tenang. "Kau ingin membunuhku? Ken berada di bawah kekuasaanku dan wanita itu ...." Ia mengarahkan tongkatnya pada Dewi Sri. "Shazam!"


Pasukan kelelawar hitam setengah manusia itu, kini bertambah banyak. Dewi Sri yang sudah habis-habisan dicakar dan digigit mahkluk itu, kini harus menghadapi mereka yang jumlahnya bertambah dua kali lipat. "Ah!"


"Ibu!" teriak Ken, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.


Mira dihadapkan pilihan yang sulit. "Sial!" Akhirnya ia memutuskan untuk membantu sang dewi. "Hiah!" Ia turun dan mendekati wanita itu sambil memainkan belati menumpas para manusia kelelawar yang mendekat.


"Terima kasih, Mira," sahut ibu Ken tersenyum pada calon menantunya itu seraya menangkis serangan udara yang datang dari segala arah. Pakaiannya sudah dibasahi darah akibat gigitan dan cakaran makhluk itu.


Lucille hanya tersenyum miring, tapi Ken lega karena ibunya telah ditolong oleh calon istrinya. Berarti racun yang menguasai Mira tidak terlalu parah. Sang pria kini kembali bisa berkonsentrasi.


"Ah!" Ibu jatuh tersungkur karena sudah tidak kuat lagi diserang bertubi-tubi oleh mahkluk bersayap yang beringas itu. Ia tak berdaya.


Kejadian itu sempat memecah konsentrasi Ken. "Berengsek! Kenapa kau sejahat itu, Lucille!" teriaknya geram. Amarahnya sudah tidak bisa dipendamnya lagi.


Wanita berambut merah itu tersenyum lebar. "Kau sendiri yang salah! Kalau dari awal kau menuruti permintaanku, aku takkan mengurungmu dalam bola sihir itu dan mereka berdua pasti selamat!" teriak Lucille dari jauh.


Ken dan Gojo saling pandang. Wanita itu baru saja menyebut nama dinding itu tanpa sengaja, membuat keduanya tersenyum. Ken berkonsentrasi. Tak butuh waktu lama terdengar bunyi seperti kaca pecah berserakan dan dinding itu menghilang. Keduanya kemudian bergabung dengan Mira dan Dewi Sri melawan mahkluk kelelawar setengah manusia itu.


Lucille tentu saja kaget melihat Ken dan Gojo bisa terbebas dari bola sihir miliknya. Karena kesal, ia makin memperbanyak mahkluk kelelawar itu berkali-kali lipat. "Shazam! Shazam! Shazam!"


Sang pria Jepang dengan kekuatannya, membuat pedang-pedang berserakan milik zombie, bergerak sendiri menyerang mahkluk jadi-jadian itu. Mahkluk-mahkluk kelelawar itu mati satu persatu dengan pedang yang bergerak sendiri karena perintah Ken.

__ADS_1


Lucille tak mau kalah. Ia kembali mengeluarkan para bajak laut, Elf, zombie dan dan manusia setengah kelelawar. Ia mengirimkan dua kali lebih banyak dari sebelumnya hingga gua yang luas itu terasa sesak. "Shazam! Shazam! Shazam! Shazam!" Ia mengucapkannya berkali-kali dengan penuh emosi. Ia tak ingin kalah hingga setetes air matanya jatuh. Kenapa susah sekali memperjuangkan sebuah cinta yang tulus. Kenapa susah sekali ....


Ken mendekati Ibunya yang sudah babak belur terluka dengan wajah pucat. "Ibu ... Ibu ...." Ia mulai menitikkan air mata. "Ibu jangan tinggalkan aku, Ibu." Pria itu mendekapnya erat lalu kemudian dilepaskan.


Dewi Sri terlihat siuman. Ia tersenyum pada Ken tanpa berkata apa-apa. Kemudian matanya kembali terpejam.


"Ibu, aku akan menyelamatkanmu, Bu. Percayalah." Pria itu mulai menggerakkan tangannya pada tubuh sang ibu yang terluka. Luka itu sembuh satu-satu.


Sementara itu Gojo dan Mira masih sibuk berperang melawan mahkluk-mahkluk aneh dan bajak laut yang berjumlah banyak. Mira hanya bisa menyerang semampunya karena tubuhnya masih lemah.


Walau luka telah sembuh tapi Dewi Sri tak kunjung bangun. Ken sudah berusaha mengecek nadinya, wanita itu masih bernapas normal. Apa yang terjadi dengan ibu Ken? "Ibu ...."


Teringat pada bola kristal, ia kembali mengeluarkan bola itu. "Bola kristal, ada apa dengan ibuku? Selamatkan dia," pinta Ken.


Tiba-tiba bola kristal miliknya naik ke atas, diikuti bola kristal milik sang dewi yang keluar dari balik pakaiannya. Lalu bola kristal lain milik Lucille pun keluar dari balik pakaian wanita berambut merah itu mendatangi kedua bola kristal yang tengah mengambang di atas tubuh sang dewi.


Lucille terkejut melihat bola kristal miliknya keluar sendiri meninggalkannya. Ken pun juga sama herannya, tapi kemudian ia meletakkan sang ibu di lantai gua dan menyerahkannya pada kemampuan bola itu untuk menyembuhkan sang ibu. Bola-bola kristal itu lalu saling memberi energi pada bola lainnya dan kemudian menyinari tubuh wanita itu. Bola-bola itu lalu turun dan mencair menutupi tubuh sang dewi, kemudian membeku menjadi es.


"Mmh? Apa maksudnya ini?"


_________________________________________


__ADS_1


Visual Dewi Sri yang dibekukan bola kristal. Salam, ingflora💋


__ADS_2