
Ken dan pria itu menenteng belanjaan keluar dari mobil. Mereka membawanya ke pintu depan di mana wanita itu berdiri menyambut mereka.
"Tuan Jack Wickerman?" tanya wanita itu yang tak menyangka pria itu sangat tampan, aslinya.
"Ah, ya, itu Saya," ucap pria itu dengan ramah. "Sebentar ya, Saya baru pulang berbelanja dengan anak Saya." Pria bule itu kemudian menyiapkan kunci dan membuka pintu depan.
Wanita Meksiko bermata indah itu hanya memberi senyum di kulum sambil melirik Ken dengan cara aneh. Mungkin mengira-ngira apa benar pemuda itu anaknya.
"Silahkan masuk, kami ke atas sebentar ya?" ucap Jack pada wanita itu.
Wanita itu ikut masuk bersama Ken dan Jack. Kedua pria itu naik ke lantai atas.
"Ken, kamu jangan turun ya, sampai tamunya pulang," ujar pria itu pada Ken sambil mengisi lemari es.
"Lama?"
"Lama sebentarnya, kamu jangan turun."
Ken merengut. "Aku boleh main keluar?"
"Tidak. Ayah 'kan tadi sudah membawamu keluar."
"Jalan-jalan sebentar saja, nanti balik lagi."
"Tidak, ayah bilang tidak, ya tidak!" tegas pria itu.
Ken terdiam, kesal.
"Paling, tidak lama dengan tamu ini."
Ken melangkah ke kamar dengan pelan.
---------+++---------
"Jadi mulai besok, ayah akan melukis Nona Mirelle, jadi kamu jangan turun ya?" ucap Jack sambil menyuap salad-nya.
"Kenapa? Aku tak boleh lihat?"
"Nanti dia malu."
"Kenapa?"
"Dia minta dilukis tanpa busana."
Pemuda itu membulatkan matanya. "Ayah ...."
"Kenapa? 'Kan ayah sering mendapat pesanan seperti itu. Itu untuk koleksi pribadi, biasanya."
__ADS_1
"Tapi ... waktu melukisnya, ayah tidak ...."
Pria itu tersenyum lebar. Ia meraih kepala pemuda itu dan mengacak-acak poninya. "Sudahlah, kau tak usah pusing memikirkannya. Itu memang pekerjaan ayah, jadi ayah sudah biasa melakukannya."
"Mmh." Ken menyuap makan malamnya.
-----------+++-----------
Ken menghabiskan beberapa potong sandwich untuk makan siang yang disimpan ayahnya di lemari es, sedang ayahnya masih sibuk melukis di bawah. Ia sebenarnya ingin mengintip tapi takut ketahuan pria itu dari bawah. Alhasil, ia hanya bisa mondar-mandir kamar dan ruang makan saja. Menyalakan TV pun dilarang karena akan mengganggu konsentrasi pria itu melukis di bawah.
Tiba-tiba terdengar suara Jack dari bawah. "Kenzie, ayah pergi sebentar dengan Nona Mirelle ya?"
Ken bergegas ke pagar di lantai 2, dan melihat pria itu melambaikan tangan padanya, di samping wanita itu sebelum menutup pintu. Setelah pintu itu ditutup, pemuda itu terlintas di kepala untuk pergi keluar juga tanpa sepengetahuan Jack. Ia dengan senangnya turun ke lantai satu.
Sempat mengintip dari jendela memastikan pria itu pergi, kini Ken pun keluar. Ia tentu saja akan mematuhi perintah ayahnya dengan main di hutan.
Hutan yang tenang dengan udara yang cerah membuat Ken mendatangi danau. Suasananya yang damai membuat pemuda itu duduk-duduk di pinggir danau.
Ia tidak menyadari seseorang tengah memata-matainya. Orang ini lagi ... Apalagi yang ingin dilakukannya di sini? Setelah memperhatikannya cukup lama, pria itu bergerak hendak meninggalkannya karena pemuda itu tak melakukan apa-apa, hingga Ken bergerak mengambil batu-batu kecil di dekatnya. Pria itu penasaran dan kembali ke posisi semula.
Ken mencoba melempar batu di atas air sejauh mungkin sambil duduk, tapi tak bisa jauh. Ia melakukannya sambil berdiri, pun sama. Ia mencoba duduk sambil memiringkan tubuhnya, melempar batu kecil. Batu itu bergerak di permukaan air dengan melompat-lompat tapi tak jauh. "Wow." Pemuda itu terkejut batu itu bisa meloncat di atas air hingga begitu senangnya.
Pria yang mengintipnya tersenyum. Ken mencoba dengan berbagai cara agar batu itu sampai lebih jauh sebelum tenggelam dan pria itu menikmatinya. Pria itu geleng-geleng kepala karena Ken begitu gigih berusaha, tapi pada akhirnya batu itu tidak sampai ke tengah danau tapi sudah tenggelam.
Namun kemudian pria itu ingin menyudahi menonton pertunjukan kecil itu ketika ia melihat Ken termenung lama memegang sebuah batu kecil. Pria itu ingin melihat usaha terakhir pemuda itu untuk melempar batu kecil itu.
Ken seperti sedang fokus melihat batu di tangan dan danau yang airnya hingga ke seberang. Ia memiringkan tubuhnya dan melempar batu itu pelan, tapi apa yang terjadi? Batu kecil itu terus melompat-lompat di atas permukaan air hingga sampai ke seberang!
Dilihatnya pemuda itu dengan riang berlari mengitari danau hanya untuk mencari batu yang ia lempar, tapi pria itu, masih melongo di tempatnya mengingat kejadian barusan.
Ken tentu saja tak bisa menemukan batu yang dicarinya karena semua batu bentuknya mirip. Ia harus mencari batu itu lebih teliti. Ia menggaruk-garuk kepalanya karena banyak. Selagi ia melihat-lihat, seseorang datang menyambangi.
"Halo."
Seorang pria bertubuh kekar mendatanginya. Ken tentu saja terkejut hingga jatuh terduduk.
"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud mengagetkanmu. Sini, aku bantu berdiri." Pria berwajah asia itu mengulurkan tangannya.
Pemuda itu menyambutnya dengan ragu-ragu hingga ia bisa berdiri.
"Eh, siapa namamu?" Pria itu menggenggam tangannya.
"Ken."
"Gojo."
"Oh."
__ADS_1
"Kenzie!"
"Ah, ayah ...." Pemuda itu kebingungan.
"Apa dia ayahmu?"
"Iya," jawab Ken dengan wajah khawatir.
"Apa dia benar-benar ayahmu? Kenapa kalian tak mirip?"
"Hah?" Pemuda itu tentu saja terkejut karena mereka belum melihat kemunculan Jack di sana dan pria bernama Gojo itu tahu seperti apa wajah ayahnya, membuat Ken bertanya-tanya siapa Gojo ini. "Kenapa kau tahu ayahku? Kau kenal dengannya?"
"Aku yang menemukanmu pingsan di sini kemarin dan menyerahkannya pada ayahmu." Pria itu berterus terang.
Ken menatap pria itu tak percaya.
"Kenzie!" Jack akhirnya menemukan Ken bersama pria kemarin. Ia mendatangi mereka berdua. "Ayo pulang." Ia menarik tangan pemuda itu.
"Ayah kenal dia?" Ken dengan lugu menunjuk pada Gojo.
"Tidak. Kenapa?" Kening Jack berkerut.
"Katanya, dia yang menemukanku pingsan kemarin dan memberikanku pada ayah."
Pria bule itu menoleh sekilas pada Gojo lalu Ken. Ia menarik anaknya pulang. "Oh, ayah sedang mencarimu dan dia yang menemukanmu. Itu saja."
"Oh."
"Kau mengobrol dengannya?"
"Tidak, Ayah."
"Jangan mengobrol dengan orang asing ya?"
"Mmh? Baik, Yah."
Diam-diam Gojo terus memperhatikan Ken. Siapa anak muda ini sebenarnya? Dewakah, atau setengah dewa? Atau bahkan siluman? Pria asia itu terus memperhatikannya hingga jauh. Bagaimana kalau aku cari tahu di mana ia tinggal?
Pria itu menjatuhkan lututnya ke tanah. Di kepalanya keluar sepasang telinga berbulu juga dibagian bokong keluar buntut yang berbulu lebat. Giginya bertaring saat tersenyum. Lama-lama ia berubah menjadi serigala. Dengan cepat makhluk itu mengejar kedua orang itu dengan sembunyi-sembunyi.
Ken merasa ada yang membuntuti hingga menoleh ke belakang.
"Kenzie, ada apa?" tanya Jack.
"Entah, seperti ada yang membuntuti."
Jack menoleh. Tiba-tiba seekor kucing mendatangi mereka. "Oh, hanya kucing."
__ADS_1
____________________________________________