
"Ya, di masa depan, dunia akan dipimpin oleh para manusia setengah dewa dan karenanya, banyak yang ingin bergabung denganmu untuk memperluas kekuasaan. Salah satunya adalah aku.
Ayo Kenzie, kita taklukkan dunia ini. Kita bunuh semua umat manusia yang ada agar kita bisa merajai dunia ini. Manusia, hidupnya hanya bisa menghancurkan dirinya sendiri saja, jadi mari kita musnahkan mereka dan kita buat kerajaan kita sendiri." Pria itu mengulurkan tangannya.
"Kamu sudah gila ya?" Ken bertelak pinggang. Ia tidak takut dengan pria yang berada di depannya. "Apa kamu waras? Siapapun kamu tapi idemu itu sudah gila. Aku sudah bilang aku bukan siapa-siapa. Identitas diriku pun masih aku ragukan, jadi jangan bicara yang tinggi-tinggi sebab aku sendiri tidak tahu apa yang kamu katakan. Jadi maaf, aku tidak tertarik."
Baru saja Ken menyelesaikan kalimatnya, pria itu tiba-tiba menarik tangan Yumi yang sedari tadi mendengarkan sehingga gadis itu terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ken terkejut.
"Dia sebagai jaminannya. Kau tak boleh menikah dengannya sampai kau menyetujui untuk menggabungkan kekuatanmu dengan kekuatanku. Kau juga harus membantuku untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar lagi lewat kemampuanmu itu."
"Apa? Kau benar-benar tidak waras ya?" Sebelum Ken sempat meraih tangan Yumi, pria itu menarik gadis itu menjauh.
"Kak Ken!" teriak Yumi karena kemudian tiba-tiba keluar segerombolan pria berpakaian hitam-hitam dengan wajah ditutupi topeng setengah wajah, keluar dari dalam lingkaran berwarna ungu itu. Mereka langsung mengamankan Yumi.
"Kak Ken, tolong!"
"Hei, mau dibawa ke mana temanku itu!" Ken berusaha mengejar tapi beberapa pria berpakaian hitam-hitam itu berusaha menghadangnya. "Hei!"
Pria itu tersenyum. "Kau boleh menipuku Kenzie, tapi aku tahu. Aku sudah membunuh Mimi sebagai peringatan. Aku beri kau waktu. Setelah itu, carilah aku!" Pria itu kembali tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya. Ia pun membawa Yumi ke dalam lingkaran cahaya berwarna ungu itu.
"Apa?" Ken syok. Air matanya langsung jatuh. Jadi Mimi benar-benar telah ....
"Kak Ken!"
"Yumi ...," gumam pemuda itu. "Kau kejam! Kau pria kejam!!!" teriaknya lantang.
Kembali tawa pria itu membahana. "Cari dan temukan aku Ken. Kau pasti bisa!" Pria itu segera masuk ke dalam lingkaran cahaya ungu itu yang mirip goa dan menghilang bersama Yumi.
"Kak Ken!"
Ken berusaha merangsek masuk melewati pria-pria itu yang sedang melangkah mundur, tapi mereka malah mendorong Ken hingga terjerembab ke tanah. Mereka bahkan tega menendang Ken bahkan memukulinya dengan tombak yang mereka bawa agar pemuda itu tak bisa mengikuti mereka.
__ADS_1
"Agh ... agh!"
Kemudian para pria itu meninggalkan pemuda itu dan masuk ke dalam lingkaran bercahaya ungu itu. Lingkaran itu perlahan mengecil dan angin berubah dengan bertiup sangat kencang.
"Tunggu! Tunggu aku!!" Ken berusaha berdiri, tapi terlambat.
Angin kencang membuat rambut pemuda itu melambai-lambai ditiup angin dan dedaunan juga pasir berterbangan di sekitarnya.
Ken mengangkat jemarinya menutupi wajah ketika lingkaran itu semakin menyilaukan mata. Dalam hitungan detik cahaya itu menjadi titik dan menghilang.
Udara kembali cerah seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Ken sendirian menatap sekeliling.
Mimpikah ini? Ia kini benar-benar tidak tahu definisi arti mimpi sekarang ini sejak dunianya jungkir balik di usianya yang menginjak 20 tahun ini. Terkutukkah diriku? Kenapa semua orang yang kusayang menghilang di usiaku yang seharusnya bisa membuatku disebut dewasa ini. Kenapa?
Pemuda itu menjatuhkan dirinya terlentang di atas rerumputan. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku ini siapa? Benarkah aku ini mahluk setelah dewa, tapi ... aku tidak bisa apa-apa. Sampai sekarang saja ... aku masih belum percaya bahwa aku ini mahluk setengah dewa. Aku punya kekuatan dari mana? Aku tidak punya kekuatan apa-apa. Perkelahian tadi saja kalau tidak dibantu Yumi mungkin aku akan kalah. Apa mereka sudah gila atau aku yang mulai tidak waras?
Untuk sesaat, Ken termenung tetapi tetap saja ia tak bisa menemukan solusinya. Jalan satu-satunya ia harus kembali menemui sangat ayah karena hanya dia yang bisa memberikan jawaban atas kesemrawutan hidupnya saat ini.
-----------+++----------
Di panti asuhan Ken menangis tersedu-sedu dipelukan Pak kepala panti, Pak Ryu. Ia mengadukan semua yang terjadi barusan.
Pak Ryu bagi Ken sudah seperti keluarga sebelum ia mengetahui kalau pria itu adalah ayahnya. Pria itu bisa menjadi Kepala Panti, guru, kakak dan sekaligus sahabat baginya karena itu hubungan mereka jauh dari kata formil. Pria itu menempatkan diri menjadi banyak hal untuk Ken tanpa pemuda itu sadari.
"Jadi aku ini apa, Yah? Kau benar-benar Ayahku kan? Aku sebenarnya siapa?" tanya Ken masih menangis memeluk Pak Ryu.
Pria itu hanya tersenyum melihat tingkah Ken yang menangis dipelukannya.
"Tadi saja kalau bukan karena Yumi, mana bisa aku mengalahkan berandalan itu. Lah, kalau hal-hal kecil seperti ini saja aku tak mampu, bagaimana mungkin aku bisa menguasai dunia. Orang itu pasti salah orang, Yah." Namun kemudian pemuda itu berhenti menangis dan mengusap air matanya. "Tapi kalau benar ia salah orang, berarti kamu bukan Ayahku ya? Kok aku bingung jadinya?"
Pak Ryu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ken. Pemuda itu sedari dulu memang lugu dan sederhana memandang hidup, jadi terkadang Pak Ryu tertawa mendengar komentar polosnya itu.
"Ken. Anggaplah Ramalan itu benar agar bisa memotivasimu ke arah yang lebih baik lagi. Jalani saja hidupmu karena takdirmu sudah ada yang mengaturnya," ucap pria itu bijak sambil mengacak-acak poni Ken.
__ADS_1
"Aku lupa menanyakan siapa nama orang itu," gumam Ken.
"Lord Z."
"Bagaimana Ayah tahu?"
"Waktu kecil, ia hampir membunuhmu, karena itu aku menyembunyikanmu."
"Me-mem-bunuhku?" Ken terbata-bata. "Bukankah dia ingin aku bekerja sama dengannya menguasai dunia? Lalu kenapa dia ingin membunuhku waktu kecil?"
"Entahlah. Yang aku tahu aku sempat memergokinya berada di dekatmu di atas tempat tidur. Kakimu terluka, karena itu kamu menangis hingga aku melihatnya."
"Mmh ... bisa saja 'kan dia datang saat aku sudah terluka?" Ken menopang dagu dengan satu tangan.
"Mmh ... benar juga," ucap Pak Ryu sambil berpikir. "Tapi karena luka itulah aku bisa menyelamatkanmu dari bahaya yang lebih besar karena ternyata orang itu sangat kejam. Ia tega membunuh Mimi." Walaupun wajahnya berusaha nampak tegar tapi emosinya bergejolak terlihat dengan jatuhnya sebutir air mata.
"Berarti ... aku bisa mati?" Ken tiba pada sebuah kesimpulan.
"Eh, kalau itu aku tak tahu. Bahkan Ibumu."
"Ibuku ... Dewi Sri?" Ken coba mengingat lagi nama ibunya.
"Ya, itu nama Ibumu."
"Kenapa ... eh dia tidak bersama kita?"
"Untuk menyempurnakan penyamaran, tapi ternyata Lord Z juga mengetahuinya. Aku tidak tahu bagaimana caranya ia mengetahui ini tapi aku sudah berusaha semaksimal mungkin dengan menjadi Kepala Panti Asuhan ini."
"Oh, jadi sebelumnya Ayah kerja apa?"
____________________________________________
__ADS_1