
Ken tiba-tiba teringat Mira, Gojo dan Ejiro, tapi terutama Mira. Mira ....
"Mereka yang hidup pasti terasa asing oleh sikapmu yang hanya memikirkan yang mati. Seolah, mereka tidak pernah ada. Mungkin mereka tidak tahu betapa sedihnya dirimu tapi satu hal yang kamu harus tahu, mereka pasti khawatir denganmu. Kau ada tapi terasa tak ada. Kau egois dan melupakan mereka."
"Bukan begitu. Aku tak seegois itu," sangkal Ken.
"Benarkah? Bukankah selama ini kau memikirkan orang yang meninggalkanmu?"
Pria Jepang itu tak bisa menjawab. Ia syok ketika kata-kata pria itu benar adanya. Ia telah egois.
"Kalau begitu, ayo bangun dan bantu aku. Aku akan mengambil pakaianmu di luar. Mungkin sudah kering."
Ken teringat, ia tak berpakaian. Rupanya pria Perancis itu menjemur semua pakaian yang dikenakannya sehingga ia tak mengenakan pakaian ketika tidur.
Tak lama pria itu kembali membawa pakaian Ken. "Ini, pakailah cepat. Setelah itu kita bekerja. Siapa namamu?"
"Ken."
"Namaku Balto, kau cukup memanggilku dengan 'Pak'."
Pria Jepang itu melirik Balto dengan mimik aneh. "Rasanya itu yang akan kulakukan."
"Bagus."
Setelah berpakaian, Ken mengikuti pria itu menuruni tangga. Ternyata tempat itu adalah ruang atas sebuah restoran. Saat itu masih pagi buta dan hanya ada seorang pria yang bekerja di dapur restoran itu. Sang pria tengah mencuci sayuran agar siap masak.
"Oh, Pak. Pagi," sapa pria itu. Ia melirik Ken.
"Pagi. Kali ini ada karyawan baru. Namanya Ken. Aku harap kalian bisa bekerja sama."
Enak sekali bapak ini, menjadikan aku pegawainya. Padahal aku tak melamar kerja padanya, batin pria Jepang itu melirik Balto.
"Hei, ayo beri salam." Pria Perancis itu menyikut sang pria Jepang.
"Eh, pagi." Ken mengaggukkan kepala pada pria bule berambut coklat itu. Tubuhnya kekar tapi tinggi tubuhnya tidak setinggi Ken. Pria itu termasuk pendek untuk orang bule.
"Pagi," ujarnya singkat.
"Namanya Lucas," ucap pria paruh baya itu pada Ken. Kemudian ia beralih pada Lucas. "Oya, Lucas, ia akan mulai dari bawah. Berikan kentang yang kemarin itu. Biar dia yang kerjakan."
Pria bernama Lucas itu mengambilnya dari ruang pendingin dan memberikan satu kantung besar pada Ken. "Ini kau kupas. Masih ada 2 kantong lagi dalam ruang pendingin yang juga kamu harus kupas. Jangan pergi bermain ke mana-mana sebelum kamu menyelesaikannya, karena aku menunggunya untuk memasak."
__ADS_1
Enak sekali pria itu menyuruhku ini dan itu. Apa mereka tidak tahu aku tidak minta diselamatkan, aku tak minta pekerjaan dan aku tak minta berada di sini. Namun, walau begitu, Ken mengambil juga bungkusan itu tanpa banyak bicara, dan mencari wadah untuk kentang yang telah dikupas. Ia kemudian mengisinya dengan air.
Pria Jepang itu melakukannya dalam diam di sudut ruang dapur itu. Ia duduk di kursi kecil di bawah dengan celemek, sambil menguliti kentang dengan pisau kecil di tangan. Setelah selesai menguliti satu buah kentang, ia mencemplungkannya ke dalam wadah air.
Balto sibuk membuat kaldu dan Lucas membersihkan sayuran dan membuat persiapan bumbu. Seorang pegawai wanita kemudian datang ke dapur itu saat Ken telah selesai mengupas kentang.
"Oh, Pak. Pagi. Ada pegawai baru ya?" Wanita muda itu melirik Ken.
Pria Jepang itu sedikit terkejut karena rambut wanita itu sedikit kemerahan. Coklat kemerahan, tepatnya. Mengingatkannya pada Lucille.
"Oh, Irene. Ini Ken." Balto memperkenalkan Ken.
Bertepatan dengan itu, seorang wanita lagi datang ke dapur dengan wajah Asia. "Oh, ada orang baru? Pagi, Pak. Namanya Ken ya?" Gadis bermata sipit itu berusaha membesarkan matanya.
"Oh, Min Shi. Iya, betul," sahut Balto menjawab pertanyaan pegawainya yang baru datang.
Ken menganggukkan kepala pada kedua wanita muda itu.
"Wau, wajahnya menyegarkan juga," imbuh Irene dengan senyum lebar.
Min Shi melirik Irene. "Wah, kau tertarik dengan orang Asia juga? Kau mau bersaing denganku?"
Sang pria Jepang bersikap masa bodo dengan komentar kedua wanita itu. Ia langsung ke ruang pendingin dan mengambil 2 bungkus besar kentang untuk dikupas.
"Wah, kuat sekali dia, bisa membawa 2 bungkus kentang sebesar itu sekaligus," celetuk Irene yang melihat Ken keluar dari ruang pendingin.
"Wau, pasti ototnya kekar," imbuh wanita Cina dengan rambut panjang di kuncir ke belakang. Wajahnya yang tirus makin mempertegas wajah asianya.
Lucas kembali melirik kedua wanita itu. Huh, kau pikir aku tidak bisa? Lihat ototku lebih besar darinya. Aku malas saja membawa berat-berat kentang itu tadi padanya.
"Sudah, sudah bercandanya. Cepat rapi 'kan meja makan dan bersihkan tempat itu. Kita tidak tahu apakah akan ada pelanggan yang datang pagi ini." Pria paruh baya itu menyudahi.
"Baik, Pak," sahut keduanya. Sebentar kemudian, wanita-wanita itu menghilang karena mengurus ruang makan di depan. Dapur kembali sepi.
"Sudah, Pak." Sejam kemudian Ken menyelesaikan tugasnya.
"Coba aku lihat." Balto memeriksa pekerjaan pria muda itu.
"Mmh, kerjamu bagus. Tidak banyak kentang yang terbuang. Biarkan saja kentang itu di wadah itu. Tolong, berikutnya kau bersihkan kulit kerang."
Begitulah. Ken mulai sibuk membantu Balto di restoran. Sedikit demi sedikit ia mulai melupakan kesedihannya dan sibuk bekerja di restoran. Pagi-pagi sebelum Balto datang, ia sudah turun ke dapur dan melakukan tugasnya.
__ADS_1
"Oh, Ken." Lucas terkejut melihat Ken sepagi itu sudah turun ke dapur. Memang Ken tinggal di ruang atas restoran itu. Kebetulan ada 2 kamar di atas disediakan untuk karyawan laki-laki dan sang pria Jepang menghuni salah satunya. Lucas punya kunci restoran itu karena harus datang lebih pagi untuk persiapan.
"Pagi, Lucas."
Lucas mengerutkan dahi. "Pagi." Mmh, manusia pencari pamor, agar terlihat paling rajin dan baik. Cih!
Saat Ken hendak ke ruang depan, Lucas menghentikannya. "Untuk apa kau ke sana? Itu bukan tugasmu. Tugasmu di sini, di dapur. Orang dapur jangan coba-coba ke depan kalau tak diundang. Mengerti?" ucap pria bule itu sedikit tegas.
"Oh, iya. Maaf." Ken kemudian mengurungkan niatnya dan kemudian kembali mengurus pekerjaannya.
Lucas mengintip dengan sudut matanya, dengan sinis. Tak lama Balto datang dan memeriksa. Ia melihat Ken tengah menguliti kentang.
"Pagi, Pak," sapa sang pria Jepang dengan sopan.
Pria paruh baya itu senang Ken mulai fokus dengan pekerjaannya, yang berarti mulai melupakan masalah yang mengganggu pikirannya dengan kesibukan baru. Ia kemudian mendekati Ken. "Apa kau bisa memasak?"
"Eh, kalau yang sederhana, bisa."
"Seperti apa?"
"Eh, sup ayam, atau onigiri."
"Wow, kau pasti pintar memasak."
Ken tersenyum lebar. "Eh, tidak juga. Aku diajari teman, jadi bisa."
Mmh, cari muka dengan Pak Balto. Dasar! Lucas mendengarkan tapi malas melihatnya.
"Bagaimana kalau coba memasak?"
"Eh?" Ken melirik Lucas sekilas. "Tapi, bukannya ada Lucas?"
"Tidak apa-apa, kau 'kan bisa jadi cadangan."
Saat itu juga Lucas meremas daun seladanya karena geram.
__________________________________________
Visual Ken yang bekerja di restoran. Salam, ingflora💋
__ADS_1