Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Kesempatan?


__ADS_3

Mereka bersalaman. Lucille tersenyum dengan sangat manis dan Ken terpaksa menyalaminya dengan setengah hati.


"Papa dan Pak Pierre berniat untuk bekerja sama karena itu kami sedang menjajaki perusahaan-perusahaan mana yang potensial untuk bisa disatukan ke depannya. Papa lebih senang lagi kalau kalian bisa akrab bersama. Ini akan memperlancar bisnis Papa ke depannya."


Ken mengerut kening. Ini artinya Erick mengharapkan ia menikahi putri Pierre, walaupun ia tidak mengatakannya secara langsung. Gawat. Walaupun ini untuk mewakili orang yang kini digantikannya, tidak sedikitpun pemuda itu mau berdekatan dengan gadis pencuri bola kristal Mira ini. Namun demi keluarga ini ....


"Kenzie ya namanya?" tanya gadis itu.


"Iya." Pemuda itu bingung dalam bersikap.


"Ajak ngobrol, Kenzie. Dia baru tiba tadi malam, mungkin masih lelah jadi ajak dia jalan-jalan melihat kebun ini," seru Erick lagi.


Rumah keluarga Northville punya kebun yang sangat luas di belakang rumah dan dirawat oleh seorang tukang kebun profesional sehingga menghasilkan taman-taman yang indah di setiap sudutnya. Ken mengajak jalan-jalan Lucille di sana dengan menjauhi kerumunan.


Pemuda itu menghela napas pelan. "Kenapa kau terus saja membuntutiku?"


"Mmh, cinta. Mau bilang apa? Aku terlanjur jatuh cinta padamu."


"Kau takkan bisa mendapatkan balasannya bila bersamaku."


Gadis itu berhenti melangkah dan menoleh pada Ken. "Kau tahu rasanya, cinta bertepuk sebelah tangan?"


Pemuda itu menatap wajah gadis itu untuk mendengarkan.


"Bahkan bersama tanpa dicintai saja aku rela."


Pemuda itu semakin pusing mendengar jawaban Lucille. "Bukankah sebaiknya kau mendapatkan apapun hasil dari jerih payahmu? Apa tidak sebaiknya mencari yang lebih menguntungkan? Sama-sama bisa saling memberi dan menerima."


"Bagiku cinta bukan masalah keuntungan, tapi dengan siapa pertama kali hati ini memberi, karena hati tak bisa membagi."


"Tapi, Lucille ...."


Gadis itu mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Ken. "Biarkan hati ini yang berbicara. Aku ingin berusaha dan kau pun juga berusaha. Biar, biar ia bekerja sampai lelah dan jauh. Aku masih ingin mengerjakannya sampai aku benar-benar paham apa yang ingin kuraih. Aku ingin terus melakukannya, Ken walau tahu hasilnya akan seperti apa. Aku paham, tapi aku bukan penjahat. Aku hanya seorang wanita yang mengejar cintanya, itu saja."


"Mengejar sesuatu dengan menghalalkan segala sesuatu itu penjahat namanya, Lucille. Jangan mengatasnamakan cinta, semua kejahatanmu."


Kembali gadis itu berhenti dan menatap Ken. "Kenapa kau tak bisa mengampuniku, Ken?"


"Karena kau mencuri bola kristal Mira."


"Kenapa perempuan itu lebih berharga daripada aku?"


Air muka Ken langsung berubah. Perempuan ini tolol atau bagaimana? "Tentu saja dia lebih berharga. Dia kan tentara ibuku yang dipekerjakan untuk menolongku. Jangan karena masalah sentimentil ini semua yang salah jadi benar. Bodoh itu namanya," tegasnya.


Gadis itu merengut. "Tidak bisakah kau memahami perasaanku barang sedikit saja, Ken?" katanya mulai kesal.

__ADS_1


"Tidak, karena kurasa tidak perlu," ucapnya asal.


Gadis itu menampilkan wajah hampir menangis membuat Ken mulai panik.


"Hei, hei, sudah. Kenapa wanita selalu bersenjata tangisan sih! Ah ...."


"Ken, kau jahat ...." Gadis itu mulai menangis.


Ken mengangkat kedua tangannya. "Eh, sudah, sudah. Katanya kalau bersamaku saja sudah cukup. Kini giliran bersamaku kau malah menangis."


Gadis itu memukul bahu pemuda itu dengan keras. "Karena kau berengsek! Kau tidak mau mengerti perasaanku."


Ken berusaha menangkisnya. "Eh, ya sudah, sudah. Kita 'kan mau jalan-jalan, katanya," bujuknya lagi.


Terdengar tawa seorang pria. Keduanya kemudian mencari sumbernya. Seekor kucing tiba-tiba keluar dari semak-semak.


"Gojo, aku pikir siapa." Ken mengelus dada. Ia menyodorkan tangannya hingga kucing itu melompat pada lengan pemuda itu. Ken memeluk dan mengusap punggungnya.


"Maksudmu, yang tadi tertawa, kucing ini?" tanya Lucille memastikan.


"Iya, dia sama sepertiku."


"Setengah dewa?"


"Apa?" Gadis itu melongo.


Ken tertawa. "Kau habis dari mana saja, hah? Makan atau lihat cewek cantik, mmh?" Ia mengangkat kepala kucing itu.


"Makan, Ken. Aku belum lihat cewek cantik eh malah di sini kau bersama cewek cantik."


"Kucing ini bisa bicara?" Gadis itu masih terperangah.


"Eh, dia aslinya manusia tapi karena dia keturunan dewa binatang, dia bisa berubah wujud menjadi binatang."


"Oh, begitu."


Tiba-tiba mulut kucing itu menganga lebar-lebar.


"Eh, kau mau apa?" tanya pemuda itu heran.


Segera kucing itu mengarahkan kepalanya ke arah Lucille dan ... "Haciuh!" Binatang itu bersin dan mengenai gadis itu. Seketika gadis itu tak bisa bergerak.


"Gojo ... kau jorok sekali sih. Tidak sopan!" kecam Ken. "Lucille kau tidak apa-apa?"


Namun gadis itu tak bergerak.

__ADS_1


"Lucille?"


"Maaf, Ken. Aku kalau bersin itu cukup berbahaya sebab orang yang kena bersinnya akan kaku tak bergerak selama 15 menit."


"Apa?" Pemuda itu menoleh ke arah Lucille yang tidak bergerak itu. Ia mencoba menyentuhnya.


"Mmmm mmmh."


Ken terkejut, lalu tertawa. "Kau hebat, Gojo. Dari tadi aku berusaha membuatnya diam tapi sulit. Kau dengan sekali bersin telah membuatnya langsung terdiam."


Lucille terlihat merengut.


"Oh maaf, Lucille tapi aku tidak bermaksud mengejekmu, maaf." Namun kemudian ia tersenyum senang dan memeluk kucing itu dengan bahagia. "Terima kasih, Gojo."


Seketika, acara pesta itu sedikit riuh dengan sebuah keributan dan letusan. Keributan itu datangnya dari arah dalam rumah. Sekumpulan orang berusaha memaksa masuk ke dalam pesta itu yang membuat beberapa orang panik dan berlari mencari selamat. Ken melihat dari kejauhan.


Tiba-tiba muncul seseorang dengan pakaian kemeja mahal berusaha memperhatikan sekelilingnya. Chihiyo yang terkejut karena mengenalinya, segera bersembunyi di balik punggung suaminya.


"Ada apa? Siapa dia?" tanya Erick pada istri mudanya.


"Ken ... Kenzie, di mana kamu!" teriak Jack di tempat ramai itu.


Banyak orang menepi bahkan melarikan diri karena tempat itu diobrak-abrik oleh orang-orang pria itu. Istri tua Erick tersenyum melihat segala kekacauan yang tidak terduga itu, padahal tadi ia sempat kecewa karena merasa sudah mati langkah.


Ken yang melihat Jack berteriak memanggil namanya, segera bersembunyi dengan berjongkok. "Ayah, kenapa Ayah ada di sini?"


"Padahal aku baru saja akan mengumumkannya. Ke mana para bodyguard-ku yang di luar sana, hah? Apa mereka tak sanggup mengalahkan para bajingan ini?" ucap Erick geram. Ia menelepon tapi tak ada yang mengangkatnya.


Tentu saja tak ada karena para bodyguard yang berjaga di depan telah dikalahkan anak buah Jack dengan pistol berperedam suara dan belati. Mereka semua mati di tempat.


Ken kembali mengintip dan di saat itulah ia ketahuan oleh Jack.


"Kenzie!"


Beberapa anak buah kepala mafia itu masih bertarung melawan bodyguard yang ada di dalam pesta itu sehingga Jack sendiri yang mengejar Ken di taman. Ken tentu saja berusaha kabur.


"Kenzie, kenapa kau lari!" teriak Jack.


Pemuda itu berlari sekuat tenaga karena takut. Ia bingung melihat Jack membuat huru-hara seperti mengamuk. Ia belum pernah melihat sosok ayahnya yang seperti sekarang ini. Pria itu mengejarnya hingga akhirnya Ken tertangkap. Kucing itu melompat dan kabur.


"Ma-maafkan aku, Ayah. Aku bukan tidak mau menengokmu tapi ibu tidak izinkan. Maafkan aku, Ayah. Aku mohon." Ken hampir menangis. Ia jatuh di atas lututnya dengan satu lengannya dalam genggaman pria itu.


___________________________________________


__ADS_1


__ADS_2