Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Keramaian Di Rumah Sakit


__ADS_3

Para staf kesehatan bergerak ke arah pintu masuk rumah sakit. Kebanyakan di antara mereka ada perawat laki-laki dan perempuan. Mereka telah menyiapkan beberapa brankar dan tabung oksigen untuk menyambut pasien yang akan masuk.


"Ada apa?" tanya Ken pada salah satu petugas.


"Aku tidak tahu tapi kami bersiap saja dengan segala kemungkinan."


Pria Jepang itu menatap ke arah pintu, tapi belum ada tanda-tanda mobil atau kendaraan lain datang.


"Ken." Lucille menyentuh bahunya.


Pria Jepang itu menoleh.


"Ini bukan urusanmu. Biarkan mereka bekerja."


Ken hanya diam. Ia tak mau berbantah-bantahan dengan wanita itu di depan para pegawai orang tua Lucille. Ia hanya menunggu.


Tak lama kemudian terdengar suara sirine ambulan dan mobil itu datang beriringan. Para petugas segera mendorong brankar keluar dan menunggu pasien dipindahkan. Setelah itu, baru didorong lagi ke dalam. Pasien yang datang banyak yang berlumuran darah. Terutama seorang wanita dengan berpakaian pengantin. Wajahnya yang cantik terlihat pucat dan lemah. Ini pemandangan yang tidak biasa. Adakah keributan di sebuah pesta pernikahan?


Kemudian ada lagi beberapa orang yang berpakaian pesta terluka dan dibawa ke bagian UGD. Rombongan kendaraan itu belum juga berhenti sehingga jumlah orang yang terluka belum diketahui.


Ken mengikuti rombongan petugas kesehatan yang membawa pengantin wanita karena wanita itu terluka cukup parah.


"Ken!" teriak Lucille.


"Wanita itu kemungkinan di operasi. Sudah, kamu tunggu saja di sini," ucap pria itu pada sang wanita berambut merah. Ia bergegas mengikuti brankar itu hingga masuk lift. Semua petugas melirik ke arah Ken karena merasa pria ini bukan dokter dari rumah sakit itu.


"Maaf, ini darurat. Kalo Anda dokter magang, Anda sebaiknya kembali keluar sebab pasien sepertinya butuh dokter ahli," sahut salah satu petugas kesehatan.


"Kalian 'kan tidak tahu apa pasien itu butuh operasi atau tidak. Biar aku periksa apa dia layak dioperasi atau tidak," terang Ken.


"Maaf, kami memang tidak bisa memutuskan, tapi kami bisa menduga-duga dan akan menyerahkannya pada dokter ahli, jadi jangan ikut campur dalam diagnosa petugas rumah sakit kami," imbuh petugas pria bule itu kesal.

__ADS_1


Pintu lift terbuka. Sang pria Jepang membiarkan brankar itu lewat lebih dulu dengan dirinya menepi setelah keluar. Ia kemudian menelepon dosennya mengenai adanya kejadian itu.


"Penembakan?" tanya suara seseorang dari telepon genggam Ken.


"Sepertinya begitu."


"Ok, aku akan segera naik. Mereka membawanya ke ruang operasi?"


"Eh, naik? Bapak ada di mana?"


"Aku sedang bertemu dengan kepala rumah sakit. Ok, aku ke sana." Sambungan telepon segera dimatikan dari si penerima dan Ken menurunkan HP-nya. Ken baru tahu bahwa dosennya yang ia telepon sedang ada di rumah sakit itu.


Beberapa menit kemudian, seorang pria bule paruh baya dengan rambut pendek bergelombang datang bersama kepala rumah sakit. Ia keluar dari lift dan langsung mengenali Ken. "Di mana pasiennya?"


Sang pria Jepang menunjuk ke arah mana pasien itu dibawa. Di sebuah ruangan, seorang dokter tengah memeriksa pasien. Ia terkejut dengan kedatangan ketiganya.


"Biarkan dokter Barnes memeriksanya," sahut kepala rumah sakit, membuat dokter itu akhirnya menepi. Petugas kesehatan pun terlihat takut melihat kedatangan pemilik rumah sakit.


Ken mendekat saat dosennya memeriksa pasien wanita itu. Ada luka di bagian perut dan bahu akibat tembakan.


Wanita itu mengangguk lemah membuat dokter yang memeriksanya tadi terkejut.


"Mmh, terpaksa Nona harus dioperasi agar bisa mengetahui aman tidaknya kandungan Anda karena kami tidak bisa me-rongent Anda dalam keadaan terluka. Aku harus memeriksa apakah pelurunya sudah keluar atau belum dari perut Anda."


"Tolong, selamatkan bayiku ...," ucap wanita itu sambil terisak.


Dokter Barnes melirik dokter tadi. "Kau sanggup mengoperasinya?"


"Kalau dalam keadaan hamil, aku tidak bisa." Dokter itu terlihat pucat saat menjawabnya.


Dosen Ken itu menoleh ke arah kepala rumah sakit.

__ADS_1


"Aku serahkan padamu, Dokter Barnes," sahut pria bule berambut gondrong itu.


Maka operasi dipersiapkan oleh petugas kesehatan dan perawat di sana dengan dokter tadi sebagai asistennya. Ken hanya melihat berlangsungnya operasi itu dan memperhatikan bagaimana dosennya mengoperasi pasien wanita tersebut.


Operasi ini cukup menegangkan, karena bekas tembakan di perut dan bahu itu terus mengeluarkan darah sedang mereka harus hati-hati dengan janin di perut pasien. Agar pasien wanita itu tidak kehilangan banyak darah, kantong darah pun tetap disalurkan sementara operasi berlangsung.


Telah setengah jam berlalu dan pasien masih dioperasi, tapi kemudian terdengar bunyi keributan di luar ruang operasi. Ken terkejut tapi Dokter Barnes berusaha fokus karena sedang menjahit luka pasien.


Seseorang tiba-tiba masuk dengan mendobrak pintu ruang itu. Seorang pria dengan kaki dan bahu yang diperban memaksa masuk melihat operasi.


"Hei, ini ruang operasi, bersabarlah! Tunggu sampai operasi selesai!" teriak Ken yang menjadikan tubuhnya tameng agar pria bule itu tak mendekat.


"Selamatkan dia dan bayinya. Tolong selamatkan!"


"Tolong jangan mengganggu, kami sedang berusaha menyelamatkannya." Ken merendahkan suaranya dan terus mendorong pria yang terluka itu keluar.


Perlahan pria itu mundur, tapi ia mengarah wajahnya pada Ken. Dengan wajah garang ia mencengkram leher pria Jepang itu dan menariknya ke atas. "Awas saja kalau ia tak selamat!" ancamnya.


Namun kemudian keadaan berbalik. Dengan menarik jari tengah tangan yang mencekal lehernya, Ken memutar tubuhnya hingga tangan sang pria kini terjepit di belakang tubuh pria itu sendiri.


"Ah!" Pria itu kesakitan.


"Keluar!" teriak Ken marah karena ditakut-takuti. Ia menarik pria itu dengan kasar keluar ruang operasi. "Tidak boleh satu orang pun berani menakut-nakuti kami, petugas rumah sakit. Karena kami bukan Tuhan! Kami berusaha menyelamatkan pasien tapi selebihnya itu urusan Tuhan!" Ia menasehati pria itu dengan keras sambil menunjuk-nunjuk wajah pria bule itu. Wajahnya tak kalah garang.


Saking kesalnya, ia mendorong pria itu dengan kasar untuk duduk di bangku panjang di depan ruangan itu. Aksi heroik yang di lakukan Ken disaksikan kepala rumah sakit. Para petugas yang berada di ruang itu juga para dokter terkejut dan merasa lega, sang pria Jepang telah menyelesaikan huru-hara yang terjadi barusan. Operasi pun kemudian berjalan lancar tanpa kendala.


Ken pun turun. Ia membantu mengobati pasien lain yang terluka ringan. Banyaknya korban pada insiden itu membuat pria itu turun tangan. Tentu saja, karena terbatasnya petugas dan dokter di tempat itu dibanding banyaknya pasien yang datang.


Pasien pengantin wanita dibawa ke ruang pemulihan, sementara yang pria menunggui pasien itu di sampingnya. Menurut keterangan dari tempat kejadian, pengantin wanita ketahuan berselingkuh hingga hamil yang menyebabkan sang pria marah dan hampir membunuhnya dengan pistol. Lalu secara membabibuta menembaki tamu yang hadir.


Untungnya seorang pria yang diduga selingkuhan sang wanita, berusaha menghentikan aksi gila calon pengantin pria itu. Kini calon pengantin prianya menghilang entah ke mana.

__ADS_1


__________________________________________



__ADS_2