
"Tapi sekarang aku lapar." Ken melepas pelukan dan melihat senyum ibunya.
"Sebentar lagi malam, tapi tak apa. Kita makan malam lebih cepat dari biasanya." Ibu kemudian beranjak berdiri dan menyiapkan makan malam sederhana di dalam tenda itu. Potongan daging sapi panggang dan segelas susu kambing. Mereka mengobrol sambil menikmati makan malam berdua.
Ken begitu bahagia bertemu dengan ibunya sampai tiba-tiba ia teringat seseorang. Seseorang yang berpakaian mirip dengan ibunya, pakaian orang Mongolia. "Ibu, apa Ibu kenal seseorang bernama Mira? Ia berpakaian sama seperti Ibu."
"Mira? Miracle maksudmu?"
"Oh, Ibu kenal?" Ken menghentikan makannya.
"Tentu saja. Dia 'kan tentara ibu."
"Tentara?"
"Iya, Ken. Dia memang ibu kirim untuk membantumu."
"Oh, begitu."
"Dengarkan saja apa yang dikatakannya. Kau juga bisa bertanya padanya tentang banyak hal."
"Mmh ... tapi entah kenapa, aku kok merasa seperti pernah kenal dengannya sebelumnya, entah di mana." Pria itu menerawang.
Wanita itu meliriknya sekilas, lalu menunduk saat Ken menatap ke arahnya. "Entah, hanya kau yang tahu."
"Tapi, ngomong-ngomong, ibu sekarang ini telah jadi raja Mongol 'kan?"
"Iya, raja. Laki-laki."
"Ha?"
"Kamu melihat ibu wanita tapi bagi manusia biasa, mereka melihat ibu laki-laki."
Ken melongo. "Bagaimana bisa?"
"Ibu masuk ke tubuh raja Mongol. Tentara itu melihat ibu memang rajanya. Hanya kamu yang melihat ibu adalah ibu."
Ken masih melongo.
"'Kan ibu seorang dewi," ucap wanita itu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Eh, iya." Ken kembali mengunyah makanannya sambil berpikir. "Eh, bagaimana tempat ini jadi tempat pertama aku pindah dimensi ya?"
"Mmh." Ibu menyelesaikan kunyahannya dan lalu minum seteguk susu kambing. "Itu sebenarnya tergantung dari apa yang dipikirkan waktu kamu pindah dimensi. Waktu itu kamu sedang berpikir apa?"
Ken berpikir sejenak. "Waktu itu aku sedang bersedih memikirkan Mimi. Adik kecilku yang ternyata dibunuh oleh Lord Z, tapi apa karena itu aku pindah ke jaman ini?"
"Kau sedang sedih? Kau butuh dihibur? Apa kau menemukan orang yang bisa menghiburmu?"
Ken terdiam. Ia kembali ingat Yeti, binatang yang juga tengah bersedih kehilangan bayinya. Bersamanya ia berbagi kesedihan. Mungkin karena itulah ia bisa pindah ke jaman itu karena ia butuh pelarian dan tempat pelarian itu adalah makhluk Yeti yang baik hati itu.
Ia merasakan bagaimana susahnya melupakan kesedihan yang membuat ia lupa, ia telah menyusahkan banyak orang. Bukan hanya dia yang kehilangan Mimi, juga Yumi tapi seluruh anak panti dan begitulah hidup. Harus terus berjalan karena ia yang masih hidup bisa memilih sedang mereka yang pergi, tidak.
Setidaknya ia masih bisa mengusahakan membebaskan Yumi. Gadis itu kini berada di tangan Lord Z dan sekarang ia tinggal membebaskannya. Untuk membebaskannya ia butuh kekuatan. Lalu, kekuatan apa sebenarnya yang ia mampu kerjakan selain menyembuhkan dirinya sendiri?
"Ibu, apa Ibu tahu kekuatanku selain bisa menyembuhkan diri sendiri?" tanya pria itu lagi.
"Ibu belum pernah bertemu manusia setengah dewa yang lain selain dirimu jadi kamu harus mencari tahu sendiri kekuatanmu," desah ibu pelan. Mmh, mudah-mudahan kau tak marah pada ibu, Nak, karena ibu berbohong padamu.
Ken terdiam.
"Tapi kau bisa belajar."
"Oh, bukan. Ini skill, kemampuan yang kau butuhkan. Kau tinggal berpikir kau ingin mempelajari apa, nanti dengan sendirinya saat kamu pindah dimensi, kau pindah ke tempat di mana kamu bisa mempelajari hal itu."
Mata pria itu terbuka lebar. "Begitu ya?" Ia tersenyum senang. "Aku tak sabar ingin menyelesaikan misi pertamaku dan pindah dimensi. Aku ingin kuat dan tangguh hingga bisa mengalahkan Lord Z dan membebaskan Yumi. 'Yumi tunggu aku'!" Ken bersemangat menyelesaikan makan malamnya.
Wanita itu tersenyum melihat ke arah Ken. Ia ikut senang pria itu mulai bisa beradaptasi dengan perubahan di sekelilingnya.
-------+++--------
Karena hari mulai malam, ibu Sri memutuskan untuk membiarkan anaknya itu tinggal di tenda untuk bermalam. Lagipula, saat malam tiba, orang-orang di tempat pencarian korban pesawat jatuh pasti sudah pulang dan akan mulai mencari lagi besok pagi sehingga Ken sebaiknya menginap di sana sehari lagi.
Dengan cepat Ken tertidur. Wajahnya dipenuhi dengan kegembiraan dan tertidur dengan tersenyum. Tak lama senyum itu menghilang diganti dengan dengkuran halus yang keluar dari mulut berbibir tebal itu. Ibu tersenyum melihat wajah anak kesayangan itu tertidur dengan lelapnya.
Kalau bukan karena sebuah takdir yang harus anaknya lewati, ia saat tahu Ken harus disembunyikan, berusaha melawan hati nuraninya sebagai seorang ibu. Ia sangat ingin membesarkan Ken tapi di lain pihak ia tidak boleh mengacaukan takdir yang harus dilewati anaknya itu.
Ia harus maklum karena ia sendiri sebagai dewa juga mengikuti takdir yang sudah digariskan. Sesuatu yang sudah tersurat dan tak bisa dicegah karena ia sendiri berada dalam sistem yang sama. Ia hanya bisa mengikuti tanpa bisa membantahnya karena kalau tidak akan fatal akibatnya bagi semua.
Dengan lembut ia menepikan rambut Ken ke samping lalu merapikan selimutnya. Disentuhnya wajah itu sekali lagi mulai dari dahi, pelipis, juga pipi, sebelum ia pindah ke tempat tidur yang bersebelahan dengan tempat tidur Ken. Sebuah kasur tipis yang berada di atas berkarpet. Ia masuk dan menarik selimutnya lalu mulai tidur.
__ADS_1
--------+++--------
Ken dibangunkan oleh tepukan halus di bahu membuat ia terjaga seketika. "Mmh?" Dengan mata sebelah ia mengintip siapa yang membangunkannya. Seorang wanita dan ia terkejut hingga terduduk segera.
Pikirannya masih menduga-duga kenapa wanita itu membangunkannya dan masuk dalam kamar sampai akhirnya ingatannya kembali dan ia malu sendiri. "Ah, Ibu."
"Iya. Kau tak ingin sarapan?"
"Eh, iya, Bu." Pria itu mengucek-ngucek matanya dengan tangan. Ken, walaupun terlihat seperti pria berumur 30 tahun tapi tingkahnya seperti pemuda berumur 20 tahun karena memang itulah jadi diri Ken yang sebenarnya.
Seorang pria masuk ke dalam tenda itu dan memberi hormat pada ibu. "Kuda sudah disiapkan, Paduka."
"Mmh. Mungkin kami akan berangkat sedikit terlambat."
Baik, Yang Mulia." Pria itu kembali memberi hormat lalu keluar dari tenda.
Ibu Sri membawakan sebuah baskom berisi air hangat dan sebuah handuk kecil. "Ini. Kau dulu cuci wajahmu di sini. Kalau kau ingin mandi, kau harus pergi ke sungai yang letaknya cukup jauh dari sini."
"Tidak apa-apa. Ini saja sudah cukup." Pria itu membasuh wajahnya dengan air hangat dan mengeringkannya pelan-pelan dengan menggunakan handuk. Ia kemudian sarapan bersama ibunya.
Acapkali pria itu memandangi ibunya saat makan.
Ini membuat ibu penasaran. "Ada apa?"
"Tidak."
"Apa masih ada yang ingin kau tanyakan," sahut ibu lagi.
"Aku hanya ingin mengingat wajah ibu."
Ucapan melankolis Ken membuat ibu semakin merasa bersalah, tapi ia menguatkan diri untuk tidak menangis. "Makan sarapanmu, Ken. Jangan berpikir yang tidak-tidak!" ucapnya dengan sedikit tegas.
Tindakan ibunya yang kadang lembut dan kadang keras membuat pria itu sering bingung menghadapi wanita ini, padahal Ken hanya tidak tahu isi hatinya saja.
____________________________________________
Ayo, kepoin yang satu ini.
__ADS_1