
Terdengar bunyi keras seperti benda jatuh lalu sunyi. Tak lama, pria itu keluar dan mendekati Ken. Ia lalu menggendong pemuda itu dengan kedua tangan dan membawanya menaiki tangga.
Kucing itu mengikuti pria itu namun tidak ikut masuk ke dalam kamar Ken. Ia bersembunyi di bawah meja makan. Setelah Jack kembali turun, ppria itu seperti menunggu seseorang di ruang tamu. Kucing itu mengintipnya dari atas.
Tak lama terdengar bel rumah berbunyi. Pria itu membuka pintu. 3 orang pria bertubuh kekar seperti pria itu, masuk ke dalam rumah. 2 orang diperintahkan masuk ke dalam kamar pria itu. Kemudian ketika keduanya keluar, mereka menggotong wanita yang diseret Jack tadi masuk ke kamarnya. Wanita itu mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Ia sudah tak bergerak, dan kemungkinan telah mati.
Kucing itu melihat semuanya dalam diam.
"Pastikan seperti kecelakaan hebat, mengerti?" ucap Jack santai.
"Baik, Bos!" sahut ketiganya.
"Atau bakar saja bersama mobilnya."
Ketiga orang itu menundukkan kepala.
"Kapan Bos akan balik?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku belum tahu. Aku masih menikmati duniaku yang sekarang. Selama wanita itu tidak menemukan Kenzie, aku ingin selamanya begini."
Jadi benar Ken bukan anaknya? Ah, membingungkan. 'Wanita itu' siapa? Mantan pacarnya? Yang pasti, Ken anak 'wanita itu' tapi ayah Ken, masih misteri.
Tapi pria ini siapa? Ia sangat sadis seperti ... mafia, atau psychopath? Mungkin mafia karena dia punya anak buah, tapi kenapa Ken sampai di sembunyikan? Apa mereka sedang rebutan hak asuh anak? Terdengar seperti itu, tapi kalau itu benar berarti Ken memang anaknya. Aduh, yang mana yang benar ini, pusing ....
Ketiga orang itu pergi dengan membawa mobil wanita itu. Pria itu kemudian naik ke lantai atas. Ia mencuci piring.
Kalau pria ini memang orang tua Ken, aku kok tidak melihat ia punya kemampuan apapun selain melakukan kekerasan. Eh, tapi aku masih belum sepenuhnya percaya Ken punya kemampuan tak biasa. Ah, tapi ... yang dikerjakannya benar-benar tak mungkin. Tak mungkin ada manusia yang bisa mengerjakan hal itu. Itu pasti bukan kebetulan.
-------------+++----------
Menjelang makan siang, Ken terbangun. Jack menungguinya di samping ranjang.
"Ayah, Ayah menungguku?" kata pemuda itu sambil menyipitkan matanya.
Ken langsung dihujani ciuman di kening, pelipis dan mata oleh pria itu sebagai ungkapan rasa bersalahnya.
"Ayah, hentikan. Aku bukan anak kecil lagi! Menjijikan." Pemuda itu berusaha menghindar.
Pria itu tertawa terkekeh-kekeh. "Iya, iya. Maaf, tapi sudah sesiang ini, kau belum juga makan sarapanmu. Kamu mau makan apa?"
"Aku tidak tahu, Ayah. Kepalaku masih pusing." Pemuda itu memegang keningnya.
__ADS_1
Jack menepikan poni pemuda itu. "Kau tidak demam. Mau ayah buatkan teh hangat?"
"Entahlah."
Pria itu pun pergi dan tak lama ia kembali tapi Ken sudah tidur. Ia membangunkannya lagi. "Ayo diminum tehnya."
Pemuda itu masih memejamkan mata. "Mmh, ayah, aku ngantuk ...."
"Eh, jangan dibiarkan perutmu kosong, Kenzie. Kau bisa sakit."
"Tapi memang aku sakit. Kepalaku pusing." Pemuda itu membuka sedikit matanya.
Pria itu meletakkan secangkir teh di atas meja nakas. "Sini coba ayah dudukkan kamu. Paksakan sedikit minum tehnya." Tubuh pemuda itu dibantu duduk dan diganjal di belakang oleh tubuh pria itu. Jack membantunya meminum teh hangat itu, pelan-pelan. "Masih mau lagi?"
"Sudah," rengek pemuda itu.
"Kau mau makan apa sekarang?" Jack meletakkan kembali cangkir itu di atas meja nakas.
Ken menerawang. "Aku tak mau makan tapi aku lapar."
Pria itu menahan tawa.
"Aku teringat kentang goreng."
Pemuda itu menggeleng. "Tidak, hanya kentang."
"Double cheese, enak lho!" goda pria itu lagi.
"Tidak."
"Ya sudah."
Pria itu kemudian memesan lewat delivery. Di dapur, ia ingin menyajikannya tapi terlihat sedikit bimbang. Ia mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebuah botol kecil.
Ah, itu pasti racunnya. Jadi dia yang selama ini meracuni Ken, tapi kenapa? Bukankah pria itu sangat menyayangi Ken? Bukankah ia sangat takut kehilangan Ken? Kucing itu memperhatikan gerak gerik pria itu. Sungguh aku tak mengerti jalan pikirannya.
Jack mengambil sebuah piring dan membuka tutup botol kecil itu. Baru saja ia akan menuang, kucing itu tiba-tiba melompat dan menyenggol tangannya. Keruan saja, botol itu terlepas dan jatuh. "Eh ...."
Botol itu tumpah dan isinya yang berupa bubuk, berserakan di lantai.
"Hish, kucing berengsek!" umpatnya hingga ingin melemparnya dengan sesuatu.
__ADS_1
Kucing itu berlari dan masuk ke kamar Ken yang terbuka. Ia segera menaiki ranjang dan mendekati pemuda itu. Ken terbangun ketika kucing itu menggosong tubuhnya di lengan pemuda itu. "Oh, pus. Kau habis dari mana saja, mmh? Tidak kelihatan dari tadi." Ia mengusap kucing kesayangan yang kini tengah menatapnya.
Jack datang dengan wajah dongkol pada kucing yang dipegang Ken tapi berusaha bersikap manis pada putranya. Kucing itu yang ketakutan, berusaha berlindung pada tuannya.
"Kenzie, kucingmu ditaruh di bawah ya?" Pria itu meletakkan makanan di meja nakas.
"Tidak mau. Aku baru bertemu dengannya," rengek Ken.
"Tapi, Kenzie ...."
"Ngak mau, pokoknya ia harus bersamaku!" Pemuda itu mengerucutkan mulut sambil mendekap kucing yang berwarna hitam putih itu ke tubuhnya.
"Ya ... ya sudah." Pria itu harus berhati-hati pada sikap Ken. "Ayo makan." Jack yang telah meletakkan kentang goreng di sebuah mangkuk, menyodorkannya pada Ken.
Pemuda itu langsung mengambil satu dan mengunyahnya. "Mmh, enak. Kau mau, Pus?" Ia menyodorkannya satu pada kucing itu.
Kucing itu hanya mengeong tapi tak memakannya. Ken kemudian menikmati kentang goreng itu sendirian. Pria itu terdiam di sisi pemuda Jepang itu.
Ia tengah merenung. Ia bimbang karena selama ini ia telah memberi Ken racun dengan dosis rendah karena agar pemuda itu tidak pergi jauh-jauh darinya, tapi kemudian efek buruknya malah merusak kesehatan pemuda itu. Ia menyadari dan ia sendiri mulai ragu memberikan lagi pada Ken, racun itu.
"Ayah, kenapa menunggui aku? Cepat selesaikan lukisannya, biar Nona Mirelle tidak menunggu lebih lama," sahut pemuda itu mengusirnya secara halus.
"Eh, Nona Mirelle tak jadi membeli lukisannya, karena ayahnya tidak menyukainya."
"Eh?" Ken menatap Jack dengan sedikit syok. "Kasihan Nona Mirelle," ucapnya sendu.
"Jadi ayah bakar saja lukisannya."
Ken menatap pria itu dengan sedih. Ia meraih tangan Jack. "Apa gara-gara aku, Ayah. Gara-gara aku pingsan tadi di depan Nona Mirelle?"
Pria itu mengerut kening, kenapa instingnya tajam sekali? "Oh, bukan. Ia juga tadi sempat menitipkan pesan agar kamu cepat sembuh," ujarnya berpura-pura tak terjadi apa-apa.
"Mmh, jadi ayah gak dapat uang, gara-gara aku ya?" ucap pemuda itu dengan nada menyesal sambil meraih lagi satu potong kentang yang kemudian masuk ke mulutnya.
"Eh, tidak begitu, Kenzie. Jangan terlalu sensitif begitu. Uang simpanan ayah masih ada kok." Pria itu mengusap kepala pemuda itu dengan lembut. "Jangan khawatir."
----------+++---------
Kucing itu sedang bersantai di lantai ketika tiba-tiba tangan kekar Jack meraihnya saat ia lengah.
Kucing itu mengeong-ngeong ketakutan. Gawat ... apa ia akan membunuhku?
__ADS_1
Tangan kekar itu satu telah melingkar di leher kucing itu. Pria itu menatap kucing itu dengan tajam.
Apakah ... apakah aku berubah jadi manusia saja, tapi ... misiku belum berhasil. Bagaimana ini?