
"Jadi kalau begini, bagaimana kalau aku yang tertangkap lebih dahulu?" Belum apa-apa, pemuda itu sudah protes, karena ia tahu betapa berbahayanya tugas kali ini. Tanpa peta yang jelas dan ia tidak tahu di mana saja jebakan untuk pencuri berada. Mungkin ia tidak mati, tapi tertangkap? Kemungkinan itu sangat bisa terjadi pada dirinya.
"Ken, kami akan coba meminimalisirnya. Aku dan Irish akan menyamar menjadi tamu undangan sedang kau akan langsung masuk ke lantai 2 dari luar. Kalau tidak salah, ruangan yang akan dimasuki itu di lantai 2 dan brangkas itu disembunyikan dibalik sebuah lukisan. Jadi setelah kau mengambilnya, kau bisa langsung keluar, tanpa harus menunggu kami selesai. Karena itu ada 2 mo—"
"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Jack. Bagaimana kalau AKU yang tertangkap lebih dahulu," potong Ken dengan tegas.
"Itu tidak mungkin," sahut pria kulit hitam itu. "Tapi sesudahnya, itu baru mungkin tapi jangan takut, kami akan mengatasi dan mengalihkan perhatian mereka. Kalau perlu kami akan bantu kamu di lapangan. Sebelumnya, bukankah aku juga sudah mengerjakan itu untukmu, Ken?"
Sorot mata pemuda itu terlihat seram. Semua yang ada di ruangan ikut merasakan. Baru kali ini Ken terlihat dewasa dan penuh perhitungan.
Sebenarnya Ken muak direndahkan dan ia merasa ia melakukan segala sesuatunya tapi setiap bicara, selalu saja tidak dianggap. Padahal semua tergantung dengan kepandaian dan kerja kerasnya. Sudah saatnya ia mendapat hak berbicara dan menentukan apa yang ia inginkan.
Jack, mengeluarkan tas kain besar dan meletakkannya di atas meja. Ia kemudian membuka resletingnya. Di dalam berisi setumpuk uang dolar yang masih disegel. Pria paruh baya itu lalu membagi-bagikannya kepada yang hadir. "Aku tak tahu rekening kalian atau ada yang bahkan tidak punya, jadi aku berinisiatif membaginya di sini langsung, agar tidak ada yang merasa dirugikan."
"Oh, terima kasih." Devan orang pertama yang mendapat tumpukan uang dari Jack.
Kemudian Ben, Hugo, Vicky lalu Irish. Ketika tiba giliran Ken, pria itu menutup resleting tas itu dan melempar tas itu ke hadapan pemuda itu. Ken yang memang duduk berseberangan dan jauh hanya melihat saja tas itu jatuh di hadapannya. Wajahnya bergeming, sangar.
"Aku sudah melebihkannya dari orang lain karena semua ini memang atas kerja kerasmu dan ...."
Pemuda itu segera mengangkat tangan untuk menghentikan ucapan pria paruh baya itu lebih jauh lagi. "Aku bertanya, Jack. Bagaimana, kalau aku tertangkap lebih dahulu, dan kau belum menjawabnya, dari tadi," ujar Ken dengan menahan amarah di setiap kalimatnya, karena pria itu tidak menjawab melainkan malah menyogok semua orang.
"Ok." Jack melipat tangannya di dada dan bersandar ke belakang. "Kalau salah satu dari kalian tertangkap, aku minta kalian mengaku bahwa itu adalah usaha kalian sendiri. Organisasi akan menolak keanggotaan kalian dan kalian harus mengusahakan sendiri bagaimana caranya bisa terbebas dari orang yang menangkapmu. Sekarang, sudah mengerti 'kan semua?"
"Ya," jawab yang lainnya. Tentu saja mereka tidak fokus karena sudah menerima uang hingga mengiyakan segala kondisi yang diberikan pria kulit hitam itu.
Ken kesal karena peraturannya sangat tidak menguntungkan dan tidak sesuai dengan yang dijanjikan di awal hingga saat berpikir, ia mengetuk-ngetuk meja dengan sedikit keras. Ia kemudian mengambil tas itu dengan kesal dan kemudian pergi.
"Kenapa dia?" tanya Irish pada Jack.
__ADS_1
"Oh, jangan pikirkan itu. Semua orang sedang senang karena sudah mendapatkan bagiannya. Aku rasa Ken juga begitu. Ia mungkin sedang memikirkan strategi yang ingin ia lakukan di sana nanti," ujar Jack menenangkan wanita itu.
Meeting kemudian dibubarkan.
Ken kembali ke kamar. Ia membuka tas itu dan melihat uang yang diperuntukkan untuknya, memang berjumlah lebih banyak dari anggota West Eagles lainnya tapi untuk apa?
Ia bukan berasal dari tempat itu, dan kemungkinan besar ia tak bisa membawa benda itu pada saat ia melompat nanti, jadi untuk apa uang sebanyak ini kalau ia sendiri tak bisa menggunakannya? Untuk apa? Padahal ini untuk pertama kalinya ia punya uang yang banyak hasil dari usahanya sendiri.
Namun kemudian ia menutup resleting tas itu dan mendorongnya menjauh. Itu 'kan uang dari hasil mencuri!
------------+++-----------
Ken diberikan pakai jas lengkap berwarna biru dongker bergaris putih, bahkan berdasi. "Kenapa aku harus berpakaian seperti ini?"
"Oh, ini karena gedungnya berwarna putih. Saat kau berdiri dekat tanaman, kau akan mirip pagar." Setelah berbicara seperti itu, Irish menahan tawa.
Ken menggembungkan pipinya kesal.
Kembali pemuda itu tak percaya.
"Ini beneran, Ken. Di sekitar gedung itu banyak tanaman sehingga saat mengendap-endap di luar, penjaga akan melihatmu sekilas sebagai pagar."
"Lalu, kenapa aku harus memakai jas? Pakaian ini agak sulit digerakkan, Irish."
"Ini bila ketangkap basah kau ada di dalam ruangan, kau bisa mengaku sebagai tamu."
Kali ini Ken bisa sedikit banyak mempercayai omongan wanita itu.
"Oya. Bila kita bisa menyelesaikan misi ini, kata Jack, kita bisa liburan."
__ADS_1
Ken sudah punya firasat bahwa pria kulit hitam itu mengetahui bahwa misi kali ini terbilang susah sehingga ia menjanjikan seluruh anggota organisasinya bisa berlibur setelah misi ini. Bagaimana kalau misinya gagal? Pria itu bisa tetap melenggang pergi karena Ken harus mengaku tidak mengenal siapapun dan ia melakukan ini secara solo(sendiri) tanpa bantuan dan suruhan orang lain. Benar-benar licik! "Mmh."
"Kau mau ke mana?"
"Eh, aku mau konsentrasi pada pengambilan dokumen perusahaan itu, karena kali ini pengerjaannya agak sulit," ucap Ken mengalihkan pembicaraan.
"Oh, iya." Irish membekali pemuda itu dengan ikat pinggang yang banyak kantong di dalam jasnya agar pemuda itu bisa membawa berbagai macam peralatan yang ia butuhkan.
"Maaf ya, Ken. Kau terpaksa menumpang di bawah mobil agar tak ketahuan."
"Tidak apa-apa."
Wanita itu kemudian merapikan pakaiannya yang berupa gaun yang terbuka di bagian bahu dengan rambut digelung ke atas. Ia terlihat sangat cantik dengan pakaian berwarna merah dengan dandanan yang sempurna itu. "Bagaimana penampilanku, Ken?"
"Eh, sempurna," ucap pemuda itu asal. Wanita itu terlihat cantik dengan penampilan itu tapi pikiran Ken sedang tidak di sana.
Tiba-tiba pemuda itu mendapat kecupan di kening yang membuat Ken terkejut. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher pemuda itu. "Kau selalu jadi adik termanisku." Irish menyentuh hidung Ken.
"Mmh, kita 'kan harus buru-buru," elak pemuda itu agar Irish tak bermanja-manja padanya, saat itu.
"O iya." Wanita itu menegakkan tubuhnya dan merapikan penampilan. Setelah itu keduanya keluar.
Irish telah ditunggu Jack di bawah tangga. Pria itu memakai jas lengkap sama seperti Ken dan memberikan sikunya pada wanita itu. Irish meraih lengan pria itu dan berjalan bersamanya keluar gedung.
Saat Ken menyusul di belakang, ia diberi earphone oleh Devan. Ia memasangnya di daun telinga.
Jack dan Irish menaiki mobil mewah di depan pintu yang disopiri Hugo, sedang Vicky, Ben dan Devan naik mobil yang lain. Ken sendiri, ia berbaring di samping mobil mewah dan mulai bergeser masuk ke bagian bawah mobil.
___________________________________________
__ADS_1