
"Apa mereka menculikmu?" tanya ninja itu lagi, mendatanginya.
"Eh, tidak. Mereka menyelamatkanku."
"Yang benar saja!" ujar ninja itu tak percaya.
"Lihat, aku sedang dirawatnya."
Ninja itu hanya menatapnya sesaat. "Kau yakin ingin menolong mereka?"
"Apa? Memangnya ada apa?"
Tanpa menjawab, ninja itu membawa Ken yang masih dalam keadaan kurang sehat, keluar. Pria berkimono itu berjalan tertatih keluar dibantu ninja itu.
"Kenapa ada orang Jepang di sini? Apa kau ditawan oleh mereka?" Pertanyaan yang sama keluar dari mulut seorang pria dengan baju pendekar Jepang menatap ke arahnya.
Ken melihat di luar sana ada 2 kubu yang saling berseberangan. Ada kubu pendekar Cina yang semuanya dalam keadaan terikat, duduk bersimpuh di tanah sedang kubu satu lagi adalah para pria dengan baju pendekar Jepang. Pria tua itu berada di antara orang-orang yang bersimpuh di tanah itu. "Tidak, mereka malah menolongku."
"Benarkah? Kau tidak berusaha melindungi mereka 'kan?"
"Pasti aku melindungi mereka karena mereka telah menyelamatkanku."
Pendekar pria itu sepertinya adalah pimpinan dari kelompok itu, menatap Ken dengan enggan. Ia harus merelakan mangsa yang sudah ia dapat untuk dilepaskan. "Baiklah. Mereka semua aku bebaskan, tapi dengan satu syarat. Kau ikut denganku."
"Eh, ikut?" Netra Ken terlihat tercengang.
"Ya, mulai sekarang kau ikut kelompok kami."
Ken merasa, sebagai orang Jepang pasti pria itu akan membawanya bersama tapi untuk memulangkannya ke Jepang, bukan untuk mengikuti kelompok mereka. Bergabung dengan kelompok mereka? Kelompok apa ini? "Eh, kelompok apa ya?" tanyanya pelan.
"Tidak ada pertanyaan karena aku sudah menganggap kau bilang iya, sebab kau menginginkan kebebasan mereka jadi aku akan membebaskannya." Pria itu kemudian membebaskan para orang Cina itu dan membawa Ken pergi.
__ADS_1
Sebelum berangkat, Ken pamit pada Suhu yang telah menolongnya. "Terima kasih, Suhu. Kau telah menolongku."
Suhu itu berbisik di telinga pria itu dalam bahasa Cina. "Hati-hati, mereka perampok. Kalau kau tidak suka pada pekerjaan ini, sebaiknya kau kabur saja dari mereka."
"Apa?" Ken terkejut.
Pria tua itu mengedipkan satu matanya pada Ken. "Terima kasih juga kau telah menyelamatkan kami. Semoga kau beruntung."
Ken dengan terpaksa ikut rombongan para pria Jepang itu. Rombongan itu mengambil satu kuda dari sana untuk Ken. Mereka turun gunung.
Saat sedang beristirahat di sebuah tempat yang datar, mereka duduk di tanah sambil berbagi minuman. Ken mendekati pria itu dengan duduk bergeser ketika pria itu sedang mengobrol dengan salah satu anak buahnya.
"Kita sebentar lagi akan bertemu dengan desa-desa atau kota kecil di bawah sana. Jadi kita harus kembali tinggal di pinggiran untuk memantau rumah-rumah atau tempat yang menjadi target kita berikutnya," ucap pria itu pada bawahannya.
"Benar, Ketua, tapi apa kita akan tinggal di penginapan lagi, karena uang kita semakin menipis saja setiap harinya."
"Eh ... boleh aku bertanya," tanya Ken pelan yang membuat keduanya menoleh. "Pekerjaan kita apa ya?"
"Apa kita tidak bisa melakukan pekerjaan lain yang lebih baik dari pada mencuri? Bukankah mencuri itu tidak baik?"
Tidak hanya keduanya, tapi semua anak buah pria itu menatap ke arahnya. Setelah itu mereka semua tertawa.
"Kamu ini seperti anak kecil saja. Mana ada pekerjaan yang lebih baik dari seorang pencuri? Kau tak bisa kaya dengan cepat dan hidup senang-senang. Sudah, simpan saja ceritamu tentang kebaikan dan lakukan saja tugasmu sesuai dengan yang aku perintahkan, mengerti?" ejek pria itu.
Kemudian mereka kembali dalam perjalanan. Ken kembali berpikir saat naik kuda bersama mereka. Benar kata Suhu, bahwa mereka adalah kawanan pencuri. Aku tak mau hidup dengan mencuri lagi, aku harus kabur dari mereka.
Setelah menuruni gunung, mereka kemudian bertemu dengan sebuah kota kecil. Tak jauh dari dari pintu masuk kota, ada sebuah penginapan yang terlihat cukup mahal. Mereka mendatangi penginapan itu.
Karena mereka adalah serombongan orang Jepang, orang Cina tak berani mengganggu mereka. Apalagi pakaian mereka yang menggunakan hakama(celana pendekar Jepang), yang membuat orang berpikir mereka adalah pendekar di dunia persilatan yang sangat di hormati. Orang-orang tak berani mendekat.
Walau begitu, mereka juga berusaha berhati-hati dengan tinggal di pinggir kota karena takut berpapasan dengan orang iseng yang ingin menjajal kemampuan mereka. Apalagi dengan tinggal di pinggir kota, mereka bisa kabur ke kota lain dengan mudah.
__ADS_1
Mereka yang berjumlah 7 orang, menambatkan tali kekang kuda di sebuah kayu panjang di samping penginapan. Kemudian mereka masuk. Tempat itu berlantai 3 dengan restoran di lantai 1 membuat tempat itu menjadi terlihat ramai tapi juga praktis. Bangunannya tidak besar tapi cukup mewah untuk kota kecil di tempat itu dengan interior sederhana, bersih dan terawat.
Mereka kemudian memesan kamar di sebuah meja untuk mendaftar. Ken melihat-lihat ruang besar itu. Seorang wanita mengurus pendaftaran di meja itu.
Seorang pria berpakaian pendekar Jepang duduk dekat wanita itu, dan sedang menyandarkan kakinya ke meja lain, menoleh ke arah mereka. "Jadi kalian orang Jepang?" sahutnya dalam bahasa Jepang.
"Iya. Kenapa?" tanya Kepala Perampok itu dengan satu alis terangkat.
"Aku pemilik penginapan ini." Pria itu menurunkan kakinya.
Kepala Perampok itu tentu saja senang. "Oh, senang berkenalan denganmu." Pria itu menyodorkan tangannya pada pria yang duduk di kursi itu.
Pria itu melihat sekilas pada tangan Kepala Perampok dan kemudian menyambut tangan itu dengan wajah datar.
"Yaaa, aku tidak menyangka ada pria Jepang yang sukses punya penginapan di tanah Cina ini." Namun kemudian pandangannya terarah pada Ken yang bergerak keluar penginapan itu secara diam-diam. "Hei, kamu mau ke mana?" Ia menoleh pada anak buahnya. "Cegah dia!"
Seorang anak buah pria itu segera meraih lengan Ken agar tak bisa keluar dari penginapan itu.
"Awas ya, kau tak bisa seenaknya kabur dariku! Kau sudah terikat perjanjian!" Rupanya Kepala Perampok itu mengawasi pria itu sejak pembicaraan waktu itu karena tahu Ken pasti tak suka dengan pekerjaan merampok itu.
Pria pemilik restoran itu hanya melihat saja kejadian itu dengan acuh. Mmh, punya anak buah kok tak bisa mengaturnya? Tolol sekali pasti pemimpin ini. Heh! Ia mengusap codet berbentuk silang yang ada di pipinya.
Wanita itu kemudian membawa mereka ke kamar yang mereka sewa di lantai dua. Mereka menempati kamar itu satu-satu. Ken di tempatkan di kamar sebelah Kepala Perampok itu. Setelah wanita itu pergi, Kepala Perampok itu mendekati Ken. "Awas saja kalau kau berani kabur dariku. Aku yang akan menghajarmu dengan tanganku sendiri!"
Kondisi tubuh pria berambut pendek itu yang mulai membaik, memaksanya untuk bersabar. Ia hanya diam saja mendengar omelan Kepala Perampok itu padanya.
"Rambutmu juga harus kau panjangkan. Jangan seperti ini, seperti orang tolol saja." Pria dengan ikat kepala berwarna hitam itu masih saja mencercanya. Ia kemudian menatap ke arah anak buahnya. "Sekarang kita istirahat dulu. Setengah jam lagi kita turun untuk makan siang."
"Baik, Ketua," seru yang lainnya serempak.
___________________________________________
__ADS_1