Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Si Rambut Merah


__ADS_3

"Paman,dia benar bibiku?" tanya Erina memastikan. Ia mendekati pria berambut panjang, yang dikuncir ke belakang itu.


"Iya, betul. Paman menemukan adik seayah, paman tadi," ucap Ejiro sambil tegak berdiri.


"Dia ...dia itu kakakmu, Mira?" tanya Ken tak percaya sambil menunjuk pria bercodet itu.


"Dia saudara tiriku, Kak," terang Mira.


Gojo pun masih tak percaya, sebab wajah dan penampilan keduanya sangat berbeda. Ejiro urakan sementara Mira rapi dan pria bercodet itu kulitnya sedikit kecoklatan sedang gadis itu seputih susu. Wajah mereka pun tidak mirip.


"Jadi pria tadi itu ayahmu, Mira," tanya pria berambut pendek itu pada Mira.


"Iya," jawab Mira mantap.


"Ah, kenapa aku tidak memberi salam padanya tadi," sesal Ken lemas.


Ejiro kembali mencubit pipi gadis itu yang membuat gadis itu menepisnya kasar. Ia bersembunyi dibalik punggung Ken. Me Hua segera tahu, wanita inilah yang disukai Ken dilihat dari cara pria itu membelanya. Ia mulai belajar mengikhlaskan walaupun ia sangat menyukai pria itu, karena dari awal pria itu memang sudah mengatakan kalau ia sudah suka pada gadis lain.


Makanan pun tiba dan mereka mulai duduk kembali. Ken melihat Me Hua pamit. "Lho, Me Hua. Kenapa tidak makan bersama?"


"Ah, tidak, Kak. Aku masih ada kerjaan untuk tamu hotel. Permisi, Kak."


Ken mulai duduk tapi Mira mendorong pria itu agar duduk di samping Ejiro.


"Kenapa aku harus duduk dengan manusia tak punya harapan ini?" protes pria bercodet itu, yang dibalas Ken dengan meninju bahunya.


"Auw!" Namun Ejiro tertawa.


Suasana meja makan pun terdengar ramai seiring mereka menghabiskan makanan yang terhidang. Canda, tawa dan saling ledek mengiringi makan siang yang tak biasa. Erina menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keramaian di meja makan itu. Ia pun ikut bahagia karena untuk pertama kalinya ia melihat senyum pamannya ini yang penuh suka cita.


------+++------


Rombongan Ken, Mira dan Gojo pun pulang ke tempat tinggal Menteri Pertahanan bersama para pengawalnya, sedang Ejiro ke rumah Lian Luo. Mereka memasuki gerbang dan melihat Menteri itu sedang kedatangan tamu. Namun yang tak biasa adalah tamu itu, dari jarak jauh mereka sudah mengenalinya. Seseorang yang berambut merah. Yah, siapa lagi kalau bukan Lucille!


"Haruskah kita mengatakan kepadanya, siapa orang ini?Ini sudah sangat salah!" dengus Ken pada Mira dan Gojo.


"Kami bukan orang yang berkepentingan untuk melakukan ini, Ken," tegas Gojo. Ia memberitahu bahwa Mira tidak bisa dilibatkan pada masalah ini.


"Ah, Ken. Ayo, ke sini!" teriak Menteri Pertahanan.

__ADS_1


Terlihat wanita berambut merah itu menoleh. Ia tersenyum pada pria Jepang itu.


"Ternyata 'ular' ini selalu ada di mana-mana. Baiklah, aku akan coba mengusirnya." Ken menghela kuda mendatangi selasar itu, sementara Mira dan Gojo beserta rombongannya berbelok ke samping menuju kekediaman Mira.


Menteri Pertahanan berdiri menyambut Ken, ketika pria itu menambatkan kuda dan menaiki tangga menuju tempat itu.


"Lihat, Ken. Dirimu orang Jepang yang bisa berbahasa Cina. Sekarang, ada orang Prancis yang pintar berbahasa Cina pula. Bukankah sungguh beruntung diriku ini, dikelilingi orang-orang asing yang pintar berbahasa Cina?" ucap pria Cina itu dengan bangga.


Itu bodoh namanya! Saringlah orang berdasarkan kemampuannya, bukan kepintaran mulutnya semata, bathin pria Jepang itu geram. Ia berusaha menahan emosi dengan menampilkan wajah datar.


"Senang berkenalan denganmu,Tuan," sahut wanita itu dengan mulut manisnya. Ia makin hari makin pintar bersandiwara.


"Oh,begitu," ucap pria Jepang itu asal. Ia kemudian menoleh ke arah Menteri Pertahanan. "Apa ini yang Tuan maksud waktu itu? Teman bisnis orang asing?"


"Oh, iya benar. Dia menawarkan sejata untuk perlengkapan pasukan raja yang lebih hebat dari yang kami miliki sekarang ini."


"Apa Tuan sudah membeli darinya?"


"Masih tahap negoisasi."


"Apa sudah lihat barangnya?"


"Aku harap, Menteri berhati-hati dalam bernegosiasi, sebab banyak hal yang harus dipikirkan. Salah satunya karena orang yang diajak kerjasama ini masih baru. Bukannya aku berpikiran buruk, tapi ...." Pria Jepang itu melirik Lucille. "Berpikiran buruk juga tak ada salahnya."


"Jangan begitu, Tuan Ken, jangan berpikiran buruk tentang Saya. Di Prancis, Saya adalah Salah satu pengusaha yang paling jujur di sana. Semua orang mengakuinya," ucap Wanita itu dengan senyum termanisnya.


"Kau dengar, Ken, apa katanya ...," sahut Menteri Pertahanan lagi.


Ah, manusia macam apa ini, Menteri Pertahanan ini? Ternyata disodori wanita cantik saja sudah buta. Alamat akan hancur negeri Cina ini, karena kenaifannya.


"Oh, iya, Ken. Temani tamu kita ini makan malam ya? Ia akan menginap di sini, sedang kru kapalnya akan menginap di penginapan. Dia akan berada di sini untuk beberapa hari, tolong bantu ia pergi jalan-jalan mengenal kota ini."


Aduh, kenapa aku selalu bersamanya di setiap episode dimensiku sih?Bagaimana caranya ia mengatur semua ini, ini cukup mengherankan bagiku. Ken hanya bisa membatin, karena menolaknya sungguh ia tidak mampu.


-----+++------


Di saat makan malam, Ken memilih lebih banyak diam dan mendengarkan. Ia tidak ingin terlalu terlibat lebih jauh lagi dengan pembicaraan keduanya kecuali jika ditanya.


"Ken, apa besok kau bisa mengajak Nona ini jalan-jalan? tanya Menteri Pertahanan.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku pun bukan berasal dari kota ini jadi aku tidak begitu tahu jalan-jalan dan tempat yang bagus untuk dilihat di kota ini. Jadi nanti aku akan bawa temanku yang memang lahir di kota ini, untuk memberi tahu tempat-tempat mana saja yang cocok untuk jalan-jalan."


"Baguslah. Baik, aku bergantung padamu, Ken."


Menteri Pertahanan dan Lucille, keduanya tersenyum pada pria Jepang itu.


Huh, menyebalkan. Seharusnya aku punya banyak waktu dengan Mira, tapi karena ada 'setan merah ini'. Hah ... setidaknya aku bisa bawa Ejiro menemaniku, di banding harus bersama dengannya seharian.


Seusai makan malam, Ken dan Lucille pergi ditemani seorang pengawal ke kediaman yang berada di belakang bangunan utama rumah itu. Ken yang lebih dulu sampai dan ternyata kediaman Lucille letaknya berada di belakang kediaman Ken.


"Malam, Ken," sahut Lucille.


"Malam."


"Sampai jumpa besok."


Pria itu hanya diam dan tak begitu menggubris ucapannya hingga masuk ke dalam kamar. Fuf ....


"Malam, Ken."


Tiba-tiba saja jantung Ken serasa mau lepas. Ia menatap ke depan. "Gojo! Sialan kamu!" Ia mendatangi meja di dekatnya dengan kesal, sedang pria berambut berombak itu tertawa terkekeh melihat keterkejutan Ken. "Bagaimana caranya kamu masuk ke sini?" Ia menarik kursi dan duduk berhadapan.


"Aku ini pengawal khusus, Ken. Punya akses ke mana saja di rumah ini tanpa dihalangi. Bahkan masuk ke kamar Menteri Pertahanan sekali pun."


"Wow, kamu luar biasa, Gojo. Kenapa kalian-kalian ini selalu mendapat pekerjaan mudah dan menyenangkan, sementara aku tidak?" protes Ken.


"Tanyakan ibumu karena bukan aku yang mengaturnya," kata pria Cina itu meledeknya.


Pria Jepang itu menghela napas. "Heh, mana aku tahu soal begini."


"Yang mengaturnya Dewa Matahari, ayah Mira."


"Apa? Ayah Mira, dia ... dia ... Dewa Matahari?"


"Iya,masa kau tidak tahu?"


"Tidak. Tidak ada yang memberitahuku. Bahkan Ibu." Ken terlihat panik.


__________________________

__ADS_1



__ADS_2