
"Maaf, tapi aku sudah menemukan orang tuaku."
Wanita itu menatap Ken, tak percaya. "Jangan bohong kamu, padaku."
"Aku tidak bohong. Itu kenyataan."
"Ken, berbohong hanya untuk menghindari kerumitan itu tidak ada gunanya. Aku orang kaya, Ken, sekarang. Aku bisa mewarisimu dengan banyak uang. Daripada kau bekerja sebagai tukang masak, aku mampu membiayaimu membuka restoran baru. Bahkan membuka cabang restoran ke beberapa tempat karena aku lihat kau berbakat masak. Aku juga bisa sekolahkan kamu di kampus terkenal."
"Ini bukan masalah uang, Nyonya."
Wanita itu menatap pria Jepang itu lekat. Ia menatap kedua bola mata hitam milik Ken. "Berarti, kemungkinan aku ibumu itu ada 'kan? Kenapa kau tak mengakuinya?"
Aduh, bagaimana bicara dengan wanita ini ya? Ia seperti terobsesi dengan anaknya yang hilang hingga mengganggap aku berbohong. Masalahnya, usiaku mungkin sama dengan anak kandungnya itu bila benar masih hidup, tapi aku bukan dia. "Eh, kalau Nyonya ingin kepastian, kita tes DNA saja."
"Ok."
Ken kemudian beranjak berdiri. "Semuanya sudah selesai 'kan? Kalau begitu aku pamit."
"Eh, kau mau ke mana?" Lena ikut-ikutan berdiri.
"Aku harus kembali ke asrama. Ini sudah malam."
"Kenapa tidak tinggal?"
"Aku terikat kontrak dengan pemilik, maaf."
Namun Lena menghalangi pria itu untuk keluar.
"Maaf, Nyonya. Aku tak bisa tinggal," ulang Ken.
"Bagaimana kalau ternyata kamu kabur?" Lena tak bisa melepas Ken karena ia sudah berjanji dengan teman-teman sesama pencuri kalau Ken takkan keluar dari rumah itu.
"Aku takkan kabur, Nyonya. Lagipula untuk apa?"
Kembali pria Jepang itu dihalangi untuk keluar. "Aku tak mengizinkanmu pergi."
"Nyonya ...."
"Sampai aku bisa memastikan kau anakku, aku takkan membiarkanmu pergi."
Ken merasa permintaan wanita itu terasa berlebihan. "Baiklah, besok pagi-pagi sekali Saya akan ke rumah sakit. Apa itu cukup? Nah, biarkan aku pergi."
Kembali Lena menghalangi Ken, membuat pria itu mengeluarkan jurus bela dirinya. Ternyata wanita itu membalasnya karena ia juga bisa ilmu bela diri. Beberapa kali pria itu berusaha hendak membuka pintu, tapi gerakan tangannya dipatahkan oleh jurus yang lain oleh wanita itu. Lalu berikutnya wanita itu membanting Ken ke lantai. "Ah!"
__ADS_1
Saat Ken hendak berdiri, ia kembali ditendang hingga jatuh tengkurap. Di saat itulah, punggung pria itu diinjak. "Ah ... Nyonya! Kenapa kamu memaksaku untuk tinggal, aku tidak mengerti."
"Kenapa kau menyerangku!" teriak wanita itu geram.
"Karena kau tidak bisa diajak bicara, Nyonya!"
Wanita itu membantu Ken berdiri tapi dengan memiting tangannya ke belakang. Ia menariknya ke ranjang untuk mengambil tali yang mengikat pria itu tadi.
"Nyonya, aku tidak mengerti. Kenapa kau terus memaksaku untuk tinggal di sini!" keluh Ken.
"Karena, kalau kau pulang, ini akan memperumit pekerjaanku."
Ken menoleh ke belakang ketika wanita itu mengikat tangannya ke belakang. "Apa maksud Nyonya dengan 'memperumit pekerjaan'?"
"Aku ingin merampok bank, dan kalau kau pulang, masalahnya akan semakin rumit."
"Apa?" Pria itu terkejut mendengarnya. "Kalau kau kaya, kenapa harus merampok bank?" tanyanya polos.
"Merampok itu hobiku, ken. Nah, selesai." Wanita itu kemudian memutar tubuh Ken hingga mereka saling berhadapan. "Karena kau tahu, mungkin selamanya kamu di sini, Ken."
"Tapi aku bukan anakmu!" terang pria itu lagi, dengan kesal. Ia lelah membuat wanita itu mengerti.
"Ya sudahlah, kalau begitu. Aku lelah mencari tahu. Kalau kau bukan anakku, aku akan mengangkatmu jadi anakku. Nah, selesai 'kan masalahnya?"
Lena menarik tubuh Ken dan membaringkannya di atas ranjang. "Sudah, sebaiknya kau tidur karena kita sudah menemukan solusinya."
Ken yang masih bingung, terus saja protes. "Solusi apa? Tunggu dulu. Aku tidak mau terlibat dalam perampokan, Nyonya. Nyonya!" teriaknya karena menjelaskan tak lagi juga didengarkan.
"Selamat malam." Wanita itu meninggalkannya.
"Eh! Dia punya telinga atau tidak sih?" gumam Ken kesal. Ia memiringkan tubuhnya dan mulai konsentrasi. Tali itu mulai melepaskan diri dari tubuh sang pria. Ken segera duduk dan merapikan pakaiannya. Kalau begitu aku kabur saja lewat jendela.
Tiba-tiba sebuah pintu muncul dalam kamar itu. Pintu itu terbuka dan seseorang keluar dari balik pintu.
"Ejiro?" Ken terkejut.
Wajah kakak Mira itu sedikit masam ketika bertemu Ken. "Ayo ikut aku. Ibumu mencarimu."
"Oh, iya." Ken beranjak berdiri dan mengikuti langkah Ejiro masuk ke dalam pintu itu. Kemudian pintu itu menghilang.
Ken melihat pintu yang ditutup pria itu kemudian dibuka lagi dan terlihat pemandangannya telah berubah. Ia kembali keluar mengikuti Ejiro sambil melihat suasana di tempat itu. Tempat itu antara nyata dan tidak. Mirip berada di sebuah ruangan yang terang.
"Ayo!"
__ADS_1
Ken kembali mengikuti pria berkimono itu ke sebuah ruang lain. Di sana, Dewi Sri sedang menunggunya. "Apa kabar Ken?"
"Baik, Bu."
"Permisi." Kakak Mira segera meninggalkan tempat itu saat sang dewi memeluk anaknya, Ken.
"Kau baik-baik saja, Ken?" tanya wanita itu sambil tersenyum menatap Ken.
"Mmh, ya."
"Kau sudah tidak apa-apa setelah kematian Yumi?"
Ditanya begitu, Ken sedikit menunduk. "Mmh, begitulah."
"Kalau disuruh memilih, kau akan menyelamatkan siapa? Mimi atau Yumi?"
"Ibu ... jangan buat ini bercandaan, Ibu. Aku tidak mau." Pria itu tak mau menatap ibunya karena hatinya terasa berat.
Wanita itu, yang kini duduk di sofa berhadapan dengan Ken, melipat tangannya di dada dan kembali bertanya. "Kalau kau diberi kesempatan untuk menyelamatkan, siapa di antara keduanya yang akan kau pilih?"
Takut-takut, Ken menatap ibunya. "Ibu, jangan macam-macam, Bu. Apa maksud Ibu dengan berkata seperti itu? Apa bisa kita memutar waktu dan kembali ke masa lalu?"
"Lho, bukankah kau selama ini bisa pindah dimensi?" Dewi Sri mencondongkan tubuhnya ke depan.
Pria itu terkejut karena terlambat menyadari.
"Lalu siapa yang akan kau pilih?"
"Aku ingin dua-duanya selamat, Ibu. Apa itu bisa?" Ken kini menaruh harapan.
"Kau hanya bisa menyelamatkan salah satunya saja. Tidak bisa tidak, kau harus memilih."
Pria itu tentu saja bingung. Ia menyayangi keduanya seperti keluarga sendiri. Bagaimana caranya ia memilih, sedang hatinya akan teriris dan menyesal bilang memilih hanya salah satu di antara mereka saja. "Aku tidak bisa, Bu. Aku sangat menyayangi mereka berdua. Kalau sampai aku memilih salah satunya, aku bisa gila," keluhnya.
"Kalau begitu, Ibu yang akan memilihnya untukmu. Kau harus selamatkan Mimi."
Ken menatap ibunya, masih dengan pertanyaan yang sama di kepala. "Memang bisa?"
"Tugasmu yang berikutnya adalah menyelamatkan Mimi." Dewi Sri kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik pintu lemari. Sebuah jaket berwarna hitam. Ken seperti pernah melihat jaket itu tapi entah di mana.
"Ini, kau harus pakai jaket ini dan penutup kepalanya karena kau tak boleh terlihat oleh dirimu yang dulu. Sekalinya dirimu yang dulu mengenalimu, cerita akan berubah. Kau tak boleh merubah takdir yang sudah ada selain yang Ibu minta." Wanita itu memberikan jaket itu pada Ken.
Sang pria mengambilnya. Ia mengerut kening. Tiba-tiba matanya membulat sempurna. "Oh, aku tahu ini. Pria misterius itu!"
__ADS_1