Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Menolong Monster


__ADS_3

Pria itu mengangkat kemeja yang diberikan Ken. Tanpa berkomentar, ia memakai baju itu, padahal kemeja miliknya masih lebih mahal dari kemeja mahasiswa itu. "Mmh, pas ukuranku memang." Ia melihat dirinya memakai pakaian itu.


"Kau sepertinya sudah lumayan sehat. Luka itu akan sembuh dengan sendirinya, tapi jangan lupa minum obat. Oya, aku pamit. Aku baru ingat ada satu pasien yang harus aku kunjungi pagi ini, jadi aku tidak bisa menemanimu. Telepon saja orang tuamu, untuk menjemputmu."


"Aku tidak tinggal dengan orang tua."


Ken tertegun mendengarnya. "Kalau kau tinggal dengan teman, kau bisa telepon temanmu."


"Bagaimana kalau kamu temani aku sarapan?"


Pria Jepang itu terdiam. Ia memang tidak buru-buru ke tempat Charles, tapi pagi ini ia ingin pulang dulu ke apartemen karena ingin bertemu Mira. Ia tidak menepati janjinya kemarin, karena itu ia ingin minta maaf. "Mmh, baiklah."


"Pria itu memesan makanan. Ia juga menelepon seseorang untuk menjemput di motel itu lewat handphone-nya. "... ok, aku tunggu."


Tak lama, sarapan datang dan keduanya sarapan. Selagi makan, pria itu menerima notif di handphone-nya. "Mmh, mereka sudah datang. Aku akan keluar hari ini juga. Biar biaya motel dan sarapan, aku yang bayar."


"Mmh, padahal semalam kamu sudah bisa pulang ya? Entahlah. Semalam aku terlalu lelah, hingga bertemu bantal aku langsung tertidur," ingat Ken lagi.


"Kau sudah menyewanya, sayang 'kan kalau tidak dipakai?"


"Mmh."


"Kau tidak ingin punya pekerjaan tambahan yang menghasilkan uang, begitu?"


"Aku? Mmh ... tugas kampusku sangat menyita waktu. Aku tidak bisa bekerja part-time karena terlalu sibuk, tapi untunglah uangku cukup untuk keperluan kuliah jadi tidak perlu untuk cari lagi."


"Kau tidak ingin punya pekerjaan cepat dengan uang banyak, begitu?"


"Eh, tidak, terima kasih. Aku hanya ingin fokus kuliah saja. Itu sudah jadi cita-citaku."


Seusai sarapan, keduanya keluar ke tempat resepsionis dengan Ken menyandang tas ranselnya. Diego menyelesaikan semuanya, ditemani pria Jepang itu. Setelah itu mereka bersama-sama ke parkiran.


"Aku berangkat duluan ya?" sahut Ken melangkah ke parkiran motor.


"Eh, tunggu. Itu mobilku." Bule itu menunjuk sebuah mobil hitam mewah, satu-satunya di parkiran itu. "Ada sesuatu untukmu."


"Oh, tidak usah. Aku membantumu dengan suka rela," ucap pria Asia itu menggoyang-goyangkan tangannya.


"Ada beberapa temanku di mobil yang ingin kukenalkan padamu."

__ADS_1


"Oh, ok," kata Ken sedikit ragu. Ia pun mengekor pria itu. Sesampainya di depan mobil, keluar dua orang pria bertubuh tinggi tegap dengan berpakaian jas hitam. Sang pria Jepang terkejut melihat penampilan kedua pria itu.


"Ayo cepat, tangkap dia!" Diego memiringkan kepalanya ke arah Ken.


Kedua pria bertubuh kekar itu mendatangi pria Jepang itu.


"Lho, kenapa aku ...." Ken bergerak mundur.


Salah satu pria bertubuh besar itu hendak meraih lengan Ken, tapi sang pria Jepang itu menghindar. Yang satu lagi hendak menangkapnya, tapi dengan ilmu bela diri yang Ken miliki, ia berhasil bahkan menjatuhkan lawannya ke trotoar.


Ini kejutan besar buat Diego. Ia tak menyangka pria Jepang yang terlihat lemah ini, jago bela diri.


Ken juga tak menyangka ilmu bela dirinya masih bisa ia pakai. Ternyata ilmu silat dengan teknik pernapasan yang diajarkan Sensei Odagiri saja yang tidak bisa ia gunakan karena pernapasannya seperti terkunci.


"Hiah!" Pria Jepang itu berhasil membanting kedua pria tinggi kekar itu ke trotoar.


"Ken."


Mahasiswa kedokteran itu menoleh. Ia tengah ditodong senjata api oleh Diego.


"Kalau dengan ini kau tidak bisa berkutik, 'kan?" tanya pria bule itu dengan pandangan mata tajam ke arah Ken.


"Karena kau sempurna. Aku ingin merekrutmu, Ken."


"Aku sudah bilang, aku tak butuh pekerjaan."


"Dan aku membutuhkanmu. Aku tak menerima penolakan." Pria bule itu menatap ke arah anak buahnya. "Ayo cepat, ikat dia!"


"Diego ... Diego!"


Ken yang sudah terikat, dimasukkan ke kursi belakang diapit kedua anak buah bule itu. Sedang Diego, ia duduk di depan.


"Diego, lepaskan aku, Diego."


"Tenang, kau akan kaya bersamaku."


Mobil pun keluar area motel itu. Di tengah jalan, terdengar dering telepon. Itu ternyata berasal dari dering telepon Ken.


"Oh." Belum sampai sang pria Jepang merogoh kantong celananya, bodyguard Diego mengambilnya lebih dulu. "Jangan! Berikan padaku!"

__ADS_1


"Sini, berikan padaku." Pria bule itu mengulurkan tangannya. Setelah mendapatkannya, ia membuka jendela kaca mobil dan membuang handphone itu keluar.


"Diego ...." Ken melihat ponselnya dibuang keluar jendela kaca dan jatuh di trotoar. "Ah, ponselku ...."


"Sekarang kau tidak punya siapa-siapa lagi, Ken. Kau sekarang bergantung padaku," kata pria bule itu tanpa menoleh.


"Tidak, aku tidak mau bergantung pada siapapun, tidak juga kamu, Diego!" ucap pria Jepang itu dengan nada marah.


Pria itu tersenyum mengejek dan melihat Ken dari cermin kecil di atasnya. "Kita lihat saja nanti."


Mobil pun kemudian sampai di sebuah rumah besar dan mewah. Ketika masuk lewat pintu gerbang yang tinggi, terlihat rumah itu di kelilingi banyak bodyguard bersenjata api.


Diego ... dia punya bisnis apa? Mafiakah? Tapi pria itu masih sangat muda untuk jadi seorang pemimpin.


Mobil berhenti di depan pintu utama. Ken dibawa masuk ke dalam mengekor pria bule itu. Sesampainya di lantai atas, pria bule itu membuka sebuah kamar untuk Ken. "Letakkan ia di sini." Pria itu menunjuk ke arah ranjang dengan dagunya.


Pria Jepang itu diletakkan di atas ranjang dan ditinggalkan berdua dengan Diego.


Pria bule itu duduk di tepi ranjang, berdampingan dengan Ken. Ia kembali mencoba membujuknya. "Ayolah, Ken. Aku punya bisnis bagus untukmu. Bahkan kau bisa menjualnya ke kampus." Ia melipat tangannya di dada.


"Narkoba? Kau berbisnis narkoba? Maaf, aku calon dokter. Aku tahu betapa berbahaya itu bagi umat manusia."


"Ayolah, bahkan bahan-bahannya saja bisa jadi obat untuk sebagian orang."


"Itu lain lagi jenisnya. Ini sudah penyalahgunaan obat-obatan, sebenarnya narkoba itu. Makanya dilarang. Awalnya memang untuk kesenangan, tapi efek sampingnya yang buruk membuat ia dilarang dipakai, apalagi secara serampangan," terang Ken.


"Ayolah, kau calon dokter. Kau tahu, banyak orang yang tahu efek sampingnya tapi bahkan mereka tak peduli. Banyak sekali orang stres yang membutuhkan itu. Pelanggan kami banyak artis dan kaum pejabat, karena tanpa narkoba ini mereka tidak bisa bertahan di posisinya sekarang ini. Banyak tekanan yang membuat mereka membutuhkan benda ini," bujuk Diego.


"Hah, itu pikiran egois. Sebenarnya kalau mereka minum itu, mereka sama saja dengan meracuni diri sendiri, hanya itu untuk jangka panjang. Belum lagi kalau yang sudah kecanduan."


Diego tersenyum lebar.


"Apa?" Ken tak mengerti senyum tiba-tiba pria ini.


"Bagaimana kalau kau ikut merasakan, kau takkan bisa bicara seperti ini."


"Apa? Tidak, aku tidak mau."


"Sebentar, aku akan kembali untukmu." Pria bule itu beranjak berdiri. Ia melangkah keluar kamar.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau!" teriak Ken, tapi pria itu telah pergi. Ia berusaha memutar otak. Oya, aku 'kan bisa melepaskan tali ini. Mudah-mudahan aku bisa melakukannya. Pria itu mulai berkonsentrasi.


__ADS_2