
Makhluk itu, seluruh tubuhnya tertutup bulu panjang yang berwarna putih dengan tubuh besar, tinggi dan kekar. Makhluk berwajah menyeramkan itu hanya menatap Ken, manusia pertama yang ditemuinya.
Ken yang panik luar biasa, berusaha menggerakkan tubuhnya untuk menjauh tapi kembali ia malah menggerakkan tubuh di tempat bahunya yang retak itu sehingga ia kesakitan. "Aghh!!" Ia menahan ngilu yang luar biasa.
Ia sudah sangat ketakutan melihat makhluk itu semakin mendekat, tapi ia tak sanggup mengangkat kepalanya yang pusing. Pria itu akhirnya pasrah dan terkulai lemas.
Makhluk itu berjongkok di depannya dalam diam dan memperhatikan pria itu. Kemudian ia menatap jauh ke depan. Makhluk itu melihat beberapa pecahan bangkai pesawat dan barang-barang lain yang bertebaran di hadapannya. Ia kembali menatap Ken.
Ken dengan lemah menatap balik makhluk yang mirip beruang itu. "Tolong, jangan makan aku. Dagingku tidak enak." Ia memohon.
"Aghhewh," sahut makhluk itu seperti mengerti apa yang diucapkan Ken.
Tiba-tiba tangannya meraih tubuh pria itu. Jantung Ken rasanya mau lepas. Makhluk itu mengangkat pria itu dan memanggulnya. Tubuh makhluk itu yang berbulu lebat membuat hangat tubuh Ken ketika makhluk itu mendekapnya. Ia membawa Ken melangkah ke depan.
Makhluk itu berjalan mendatangi barang-barang yang berserakan di depannya sehingga Ken yang berada dalam posisi terbalik dengan kaki dijepit tangan makhluk itu, bisa melihat apa saja yang dilalui makhluk itu dengan sedikit mengangkat kepala.
Makhluk itu memeriksa isi mobil yang kosong, truk dan terakhir pesawat yang pecah berantakan. Sepertinya tidak ada yang selamat karena yang naik pesawat menggunakan seatbelt pun banyak yang terluka dan tidak utuh mayatnya. Pesawat tidak hanya terbelah tapi juga pecah karena terbanting ke tanah jadi kemungkinan hidup sangatlah kecil.
Ken sepertinya satu-satunya manusia yang masih hidup. Melihat banyak mayat bergelimpangan, membuat Ken tak tega melihatnya. Bahkan ternak-ternak yang ikut tergulung badai. Semua mati.
Setelah usai memeriksa, makhluk itu kemudian membawa Ken dengan menyeret seekor kuda yang telah mati. "Yaoow!!" Suaranya yang keras, menggema di pengunungan itu.
"Kau akan membawaku ke mana?" ujar Ken lemah, tapi makhluk itu terus membawanya tanpa bicara.
----------+++----------
Pak Ryu masih menanti Ken, hingga malam. Anak-anak panti mulai mendatanginya untuk pamit tidur. Jam menunjukkan pukul delapan kurang lima menit tapi kehadiran yang ditunggu tak kunjung pulang.
Ken, apa kau sudah berkelana ... atau hanya menginap di luar sebentar? Pikiran itu membuat pria itu makin resah. Semoga kamu selamat Nak, doa Pak Ryu. Walaupun mungkin kamu belum tentu bisa mati. Pria itu tersenyum.
__ADS_1
Ia kemudian masuk ke dalam ruang kantornya untuk membereskan beberapa berkas. Belum selesai ia membereskan meja, terdengar suara ketukan di pintu utama. Karena ruang kantor tidak di tutup pintunya, pria itu bisa mendengar suara ketukan itu dengan jelas.
Bergegas ia ke arah pintu karena biasanya anak-anak panti, mereka langsung masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Itu berarti ada tamu datang mengunjungi panti.
Pak Ryu membuka pintu dan alangkah terkejutnya ia melihat siapa yang datang. "Kau?" Ia melihat apa yang dibawa pria itu.
Seorang bocah perempuan kecil dalam gendongan memeluk pria itu dan tak mau lepas. "Kakak."
"Kau ... kau menyelamatkan Mimi?" Pak kepala panti tersenyum lebar.
"Tolong aku, dia dari tadi tak mau lepas. Aku harus menolong 'Ken'," pinta pria itu.
"Oh, ya. Mimi, ayo sini Bapak gendong. Kakak mau pergi sebentar." Pak Ryu mencoba mengambilnya tapi Mimi dengan erat memeluk leher pria itu.
Gadis kecil itu menangis kencang. Bulir-bulir air matanya berjatuhan di pipi mulus gadis kecil itu. "Ngak mauuuu, nanti kakak tinggalin Mimi lagi. Hu ... Huuu ...."
"Apa? Susul?" Pak Ryu melihat heran pada pria itu dan juga pada Mimi.
Mimi pun berhenti menangis.
"Apa dia bisa menyusulmu?" tanya Pak Ryu masih dalam keterkejutan.
"Ya, bisa, karena dia adalah miracle(keajaiban)." Pria yang berjaket dan bertutup kepala itu mengusap pelan kepala bocah perempuan itu sebelum ia menyerahkannya pada Pak kepala panti. Ia bergegas pergi dan menghilang di kegelapan.
"Miracle? Apa maksudnya itu?"
----------+++-----------
Ken tergolek lemah di dalam gua yang sepertinya rumah bagi makhluk itu. Makhluk itu meletakkan kuda yang telah mati itu di hadapan Ken. Ia mendorongnya ke arah pria itu.
__ADS_1
"Kau menyuruhku makan? Aku ... tidak bisa makan ini," terang Ken lemah. Kepalanya masih pusing mungkin akibat berputar-putar di dalam badai tadi. Tubuhnya pun menggigil kedinginan karena gua itu terbuka walaupun ia sudah memakai sweater tanpa lengan.
Tiba-tiba makhluk itu mengangkat tubuh pria itu dan mendekapnya seperti tahu kebutuhan Ken.
Sempat terkejut, Ken menikmati pelukan hangat makhluk itu. Ken memejamkan mata. "Terima kasih."
---------+++----------
Berita dunia heboh kala itu karena sebuah pesawat milik penerbangan India jatuh di Tibet tersapu badai. Tempat jatuhnya pun telah diketahui, di daerah pegunungan Tibet yang bersalju. Tempat itu kini telah didatangi petugas penyelamat untuk menyelamatkan siapa saja yang masih bertahan hidup di sana.
Namun bukan itu saja. Selain petugas, banyak juga yang datang ke sana untuk meliputi atau bahkan hanya sekedar melihat-lihat. Wartawan TV, jurnalis, wartawan majalah dan orang awam dari berbagai belahan dunia, ikut datang ke tempat itu seolah tempat itu kini menjadi tempat wisata dadakan yang menjadi perhatian penjuru dunia.
Seorang pria berkepala botak dan berpakaian biksu terlihat mondar-mandir di dalam sebuah ruangan besar. Ia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Rombongan biksu lainnya datang dan masuk ke dalam ruangan lalu segera menghadapnya.
Pria itu segera duduk bersila di atas sebuah bantal dan biksu lainnya duduk bersimpuh di hadapannya. "Bagaimana?" tanya pria itu.
"Dalai Lama, maaf. Sudah banyak yang masuk ke dalam daerah Tibet ini Yang Mulia, bahkan sudah memasuki area pegunungan bersalju."
Pria itu menghela napas panjang. Dalai Lama di Tibet adalah raja sekaligus pimpinan tertinggi dalam keagamaan. Ia sedang mengkhawatirkan sesuatu bila banyak orang memasuki pegunungan Tibet yang bersalju itu karena ada sesuatu yang tersembunyi di sana yang tidak boleh dunia tahu.
"Mau tidak mau beberapa orang kita, juga harus ke sana menolong para petugas agar tidak ada yang menjelajah ke tempat lain. Masalahnya dalam meditasiku semalam, aku melihat ada seorang pria yang selamat dalam kecelakaan itu dan sekarang berada dalam perawatan Yeti, padahal, tidak boleh ada yang mengetahui keberadaan Yeti, atau ia akan diburu."
Para biksu saling berpandangan. Ya, Yeti adalah makhluk legenda di Tibet yang diyakini ada oleh rakyat di sana. Berperawakan seperti beruang, berbulu panjang dan berwarna putih.
"Kita harus mengirim beberapa orang lagi khusus untuk mencari Yeti terlebih dahulu sebelum orang lain melihatnya. Yeti harus tetap jadi legenda, dia tak boleh terkenal." Pria itu kembali menghela napas. "Tapi pria yang diselamatkannya, dia separuh manusia. Bawa dia ke hadapanku, aku ingin bertemu dengannya."
____________________________________________
__ADS_1