Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Kambuh


__ADS_3

"Kenzie ... cepat bangun! Hari ini kamu harus bantu kerjaan ayah lagi!"


Ken terpaksa bangun, karena, dari nada suaranya, pria itu ada di dekatnya. Pemuda itu membuka matanya dengan sedikit menyipit, dan melihat sekeliling dengan pandangan kebingungan. Ini di mana? Kamar siapa ini? Kenapa dia memanggilku Kenzie? Siapa itu .... Ia mencari-cari si pemilik suara.


Seorang pria bule di umur sekitar awal 40an bertelak pinggang menatapnya. Ken mengangkat kepalanya tapi terasa pusing hingga ia menyentuh keningnya.


"Kenzie ... kau pasti diam-diam minum Champagne ayah lagi ya?"


Ken kembali menatap pria itu. Orang ini 'kan bule, kenapa menyebut dirinya 'ayah'? Memangnya dia ayahku? Dan kenapa pula aku dipanggil Kenzie? Nama asliku memang Kenzie, tapi tak ada yang memanggilku Kenzie selain orang ini ....


Pria itu mendatangi Ken. Tubuhnya kekar dan tinggi. Ia segera menyingkap selimut yang menutup tubuh pemuda itu dan kembali bertelak pinggang. "Ayo! Mau ayah gotong atau mau turun sendiri?" ucapnya dalam bahasa Inggris.


"Eh?" Orang ini benar-benar pemaksaan ya? Aku 'kan baru bangun. Dengan merengut Ken menggeser kakinya dan turun perlahan dari ranjang. Ia berusaha berdiri tapi tak bisa hingga kembali jatuh. Untung saja pria itu cepat menangkap tubuh pemuda itu.


"Maaf, kepalaku masih pening."


"Ya sudah, ayah gendong." Pria itu dengan sigap memanggul Ken di bahu.


"Ah ...." Pemuda itu sedikit terkejut dengan gerakan pria itu hingga tahu-tahu ia sudah ada di bahu pria itu. Ken kemudian dibawa keluar. Ia kemudian didudukan di kursi meja makan.


"Kau mau makan apa, Kenzie? Roti lagi?"


Pemuda itu masih mengucek-ucek matanya karena baru bangun. "Mmh? Kepalaku masih pusing. Apa aku boleh tidur lagi sekarang?"


Pria itu duduk di kursi di samping pemuda itu. "Apa? Tidak. Kau harus makan dulu baru boleh tidur lagi. Ayo, mau sarapan apa?"


Ken terdiam sejenak. "Aku benar-benar mau tidur saja, kepalaku pening. Aku tidak ingin makan," rengeknya. Ia benar-benar tidak sanggup kalau dengan kepala pening seperti itu.


"Dengarkan ayah dulu ya?" Pria itu mengangkat telunjuknya. "Ayah akan buatkan air madu buat penawar alkoholnya ya? Coba dulu." Ia segera berdiri.


Pemuda itu tentu saja merengut. Saat pusing begini, ia lebih suka tidur dibanding melakukan hal lain.

__ADS_1


"Ini." Pria itu meletakkan gelas berisi air madu di hadapan Ken. "Ayo, minum."


Ken mencobanya.


"Habiskan paling tidak setengahnya!"


Kening pemuda itu mengerut ingin protes. Dengan susah payah ia meminumnya. Setelah habis separuhnya, ia meletakkan gelas itu di atas meja sambil mengusap mulutnya.


"Sarapan?"


"Sudah ... nanti aku muntah ...." Pemuda itu hampir menangis karena dipaksa makan. Dalam keadaan kepala pusing begitu, ia tidak bisa berpikir jernih. Lagipula, ia takut dengan pria itu karena bertubuh tinggi dan kekar walaupun tubuhnya langsing.


Di luar dugaan, pria itu malah mengusap kepala Ken dengan lembut. "Ya sudah, tapi lain kali jangan minum Champagne ayah lagi ya? Kalau tidak, kamu pasti sehari susah makan. Mmh?"


Memang aku minum Champagne dia? Kapan? Ah, begini nih sulitnya kalau mengganti tubuh orang lain. Orang lain yang berbuat, aku yang kena apesnya, hah .... Ken mulai ingat, bahwa kini ia pasti sudah pindah dimensi lagi, entah ke tubuh siapa.


Pria itu kembali memanggul tubuh pemuda itu dan membawanya ke dalam kamar tadi. Ken kembali dibaringkan di atas ranjang dan diberi selimut hingga leher. Pria itu mencondongkan wajahnya dan mengecup kening pemuda itu. "Nanti kalau sudah pulih, cepat sarapan ya?"


Saat memejamkan mata, pemuda itu tak bisa tidur. Ia masih bingung memikirkan siapa dirinya. Kenapa ia punya ayah orang bule? Ya, ayah aslinya memang setengah bule ,tapi punya ayah bule apa mungkin? Ia tak habis pikir, walaupun begitu ia bersyukur. Pria yang menjadi ayahnya kali ini sangat baik. Tak lama, ia pun tertidur kembali.


------------+++---------


Ken terbangun saat cahaya matahari masuk dari cela-cela gorden di jendela ke dalam kamarnya yang kini mulai terasa hangat. Ia mencoba duduk dan mengingat kembali apa yang terjadi. Padahal setahunya ia baru saja meredakan badai dan ia jatuh pingsan. Apakah saat itu ia langsung berpindah?


Ia kemudian ingat Mira. Ia berharap Mira tidak terbawa badai itu, karena saat itu ia sedang konsentrasi menaklukkan badai hingga ia lupa tentang keberadaan gadis itu di sana.


Ia kembali memperhatikan kamarnya yang sederhana. Tidak ada perabot apapun di kamar itu, termasuk jam di atas meja. Yang ada di sana hanya meja beserta kursi dan juga lemari, tapi bukan berarti ia tinggal di kamar murahan sebab mebelnya termasuk barang bagus walau tidak mahal. Dindingnya masih baru, juga meja, kursi dan lemari. Apa dia baru pindah rumah?


Kepalanya sudah terasa ringan hingga ia turun dari ranjang dan pergi keluar. Perutnya mulai terasa lapar.


"Kenzie, kau sudah bangun?" Pria itu ternyata sedang berada di meja makan, menulis sesuatu di selembar kertas.

__ADS_1


Pemuda itu terkejut. Ia tidak berharap bertemu dengan pria itu secepat itu hingga ia terpaku di tempat.


"Kenzie, kenapa kau diam di sana? Ayo, ke sini, makan," perintah pria bule itu sambil menarik kursi di sampingnya.


Dengan pelan Ken melangkah mendekat. Sebenarnya ada perasaan aneh saat pemuda itu dekat dengan pria itu. Dari mata elang pria itu saja sudah terlihat, pria itu seakan ingin menguasai dirinya.


"Kenzie kau mau makan apa? Omelet atau roti?" Pria itu memperhatikan pemuda itu di hadapan.


"Apa saja."


"Kalau mau omelet, ayah akan buatkan."


"Ada susu, Yah?"


Pria itu menghela napas kasar. "Aku sudah bilang berkali-kali, KAMU TIDAK BOLEH MINUM SUSU ATAU KOPI, MENGERTI!" ucapnya dengan nada marah yang tertahan.


Ken cukup terkejut melihat pria itu membentaknya, padahal ia cuma minta susu. "Eh ...."


Pria itu berusaha menguasai diri. Ia berusaha merendahkan nada suaranya. "Maafkan ayah, ya? Biar ayah buatkan saja omelet buatmu." Pria itu kemudian berpindah ke dapur sambil mengantongi kertas itu.


Di dekat meja makan itu ada lemari es. Pria itu baru saja mengambil telur dari sana. Ken beranjak berdiri dan ingin minum sesuatu yang dingin dari lemari es. Ia kemudian memeriksanya.


Ada jus, air mineral dan juga kopi. Juga beberapa bahan makanan. Pemuda itu mengerut dahi. Ia menyentuh botol minuman kopi dingin itu. Kenapa aku tak boleh meminum ini?


Tiba-tiba pemuda itu terkejut karena pria itu tiba-tiba sudah ada di sampingnya dan merebut botol minuman kopi itu. "Kenzie!"


Ken ketakutan. Wajah pria itu saat marah sangat menakutkan, seperti singa yang ingin mengamuk.


"'Kan ayah sudah bilang berkali-kali padamu, KAU TIDAK BISA MINUM INI ATAU PENYAKITMU AKAN KAMBUH LAGI!"


Penyakit? Aku punya penyakit apa?

__ADS_1


__ADS_2