
"Memang ada apa?" Ken kembali keluar karena penasaran ingin mendengar kisah keterlambatan gadis itu datang menyusulnya.
"Kita lupa dia berasal dari jaman prasejarah, jadi dia terkejut dengan kemajuan teknologi yang terjadi pada zaman sekarang ini."
"Oh, benar juga ya?" Ken baru menyadarinya.
"Ia terheran-heran melihat mobil yang bergerak, pesawat yang terbang dan handphone yang bisa memperdengarkan suara orang. Semua dianggapnya sihir."
Ken yang mulai mengerti kini tertawa. "Jadi, bagaimana membuatnya mengerti tentang itu semua?"
"Sulit dan lama. Dia tidak percaya aku bilang, kita bisa mencari orang dengan tahu nomor teleponnya. Tinggal di telepon dan saat itu juga bisa terhubung dan mendengar suaranya. Butuh waktu berhari-hari meyakinkannya bahwa itu bukan sihir."
Keduanya kembali tertawa.
"Sudah, Kak. Ayo, Kakak pergi mandi." Gadis itu mengusirnya.
"Oh, iya." Pria itu bergegas ke kamar, sementara Mira melihat-lihat ruangan itu.
Gadis itu yang haus, memeriksa lemari es. Isinya hanya minuman jus kaleng dan botol air mineral. Hanya benda itu yang memenuhi isi lemari es, tiada yang lain. Sungguh terlihat sekali kalau pria itu sangat sibuk sehingga saat pulang ia hanya butuh tempat tidur. Tempat sampahnya pun hanya berisi kaleng minuman dan botol plastik bekas air mineral.
Mira mengambil satu kaleng jus jeruk dan meminumnya sambil duduk di sofa. Ia bersantai sejenak di kursi itu.
Tak lama Ken keluar dengan membawa tas ransel yang terbuka karena sedang memeriksa isinya. "Mira, kau kerja di mana? Nanti aku jemput pulangnya ya?" ucap pria itu yang rambutnya masih sedikit basah di ujungnya. Ia meresleting tas itu dan meletakkan di bahu.
"Kak, rambutnya masih sedikit basah. Sini Mira keringin." Gadis itu masuk ke dalam kamar dan keluar membawa handuk sang pria.
"Mmh? Tidak usah, Mira. Aku buru-buru." Ken ingat sesuatu dan kembali membuka tasnya.
Saat itu Mira mengeringkan ujung-ujung rambut pria itu dari belakang.
"Mira ...."
"Kakak diam saja. Ini aku keringkan." Gadis itu mengusap-usap ujung rambut Ken dengan handuk.
Karena sentuhan tangan gadis itu yang lembut ke kepalanya, ada yang bergejolak di dada pria itu, yang ia tak tahu apa. Gemuruhnya ia coba redam walaupun membuatnya sedikit gelisah. Apa ini? Ada apa denganku?
"Sudah, Kak. Ayo berangkat." Gadis itu menurunkan handuknya.
__ADS_1
"Eh, iya. Ayo," jawab Ken sedikit gugup. Ia terus memperhatikan gadis itu di lift. Bahkan saat keluar. Ia mencuri-curi pandang ketika gadis itu menatapnya.
"Aku kerja di laundry apartemen ini lho, Kak," terang gadis itu.
"Oh." Kini kepala dan tubuh pria itu tidak sepaham tentang satu hal. Apa yang terjadi dengan dirinya?
Saat pintu lift terbuka, ia bergegas keluar. Ia menoleh sambil melangkah membuka pintu depan. "Sampai nanti ya?"
"Sampai nanti, Kak." Mira melambaikan tangan pada sang pria yang melangkah kakinya ke parkiran, sedang Ken ... ia sedang menebak-nebak isi kepalanya sendiri!
-----------+++----------
Ken sesekali menulis di buku catatan, tentang isi pidato wanita yang berada di depannya. Wanita itu memaparkan bagaimana virus pertama kali ditemukan, dianggap wabah, hingga berbalik dipakai sebagian obat penyembuh beberapa penyakit, dan menjadi antibodi buat manusia yang sudah merasakan kegunaannya.
Ia melirik dosennya yang serius mendengarkan isi pidato itu. "Bapak nanti 'bicara' kapan?"
"Mmh?" Pria paruh baya yang terlihat serius itu, menoleh ke arah Ken. Sekilas, Dokter ini seperti orang biasa, tapi saat mulai bicara, ia punya banyak ide dan diagnosa-diagnosa brilian tentang penyakit-penyakit yang menyerang manusia. Hanya saja butuh penelitian yang mendalam untuk membuktikannya. "Ada beberapa orang lagi. Kenapa?"
"Maaf, aku mau ke toilet dan beli minuman," pinta pria Jepang itu pelan.
"Maaf, Pak. Haus." Wajah pria muda itu tampak memelas.
"Ya sudah. Belikan aku juga. Jangan lama-lama!" titah pria itu.
Ken pun bangkit menuju pintu belakang, di mana tempat itu masih ramai dengan para dokter ahli yang sedang mendengarkan wanita itu berbicara. Ikut berada di sana membuatnya bangga.
Pria itu mendatangi tempat penjualan makanan yang memang hanya ada satu di tempat itu dan terkejut. Ia mengenali pegawai penjualnya. "Gojo, kau di sini?"
"Iya, lagi coba kerja part-timer(paruh waktu)."
"Biasanya kamu bersama yang lain. Kenapa tumben sendiri?" Ken melihat ke sekeliling.
"Ada di dalam. 'Kan ikut simposium denganmu."
"Hah? Siapa?" Pria Jepang itu kembali terkejut.
"Dewi dan Ejiro."
__ADS_1
"Apa? Kenapa aku tidak tahu? Apa mereka jadi dokter sekarang?"
"Iya, benar."
"Eh?" Ken pun bergerak kembali.
"Hei, kau membeli apa!" teriak Gojo pada pria itu.
Langkah Ken terhenti dan kembali. "Aku lupa." Sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Gojo terkekeh mendengarnya. Setelah berbelanja, pria Jepang itu setengah berlari, masuk kembali ke dalam ruang simposium itu.
Netranya segera mencari ke mana perginya dua orang yang dikenalnya itu, yang ikut dalam simposium tanpa ia sadari. Tempat itu memang sangat luas karena banyak dokter terkenal hadir di sana, tapi apa saking fokusnya, ia tak bisa mengenali salah satu peserta? Eh, dua, lebih tepatnya.
Ah, itu dia. Ejiro dan ibu duduk bersebelahan. Baru saja Ken akan membuka mulut, ia melirik Dokter Barnes yang telah menunggu dirinya sedari tadi. Ia urung memanggil. Apalagi, kalau ia memanggil keduanya, semua orang pasti akan menatap dirinya saat ini. Keberadaan dosen itu sedikit banyak membantunya sadar, ia tengah berada di lingkungan orang dewasa yang membutuhkan kedewasaan sikap.
Pelan, ia mendatangi dosen itu. "Maaf, Pak. Lama," ujarnya sambil menunduk.
Pria itu menyodorkan tangannya. "Mana, cepat. Aku juga haus."
Sekilas Ken melihat ke arah meja ibunya dan Ejiro. Keduanya tersenyum ke arah Ken. Rupanya sudah sejak tadi mereka mengetahui keberadaannya, hanya dirinya saja yang tidak tahu keberadaan mereka. Bahkan ibu melambaikan tangan ke arahnya secara sembunyi-sembunyi.
Ken kembali duduk di samping Dokter Barnes dan setelah dokter itu fokus ke seorang pembicara baru, barulah ia berani menengok ke arah keduanya. Ia berharap jam makan siang cepat tiba, agar ia bisa berkumpul lagi dengan keduanya.
Waktu yang di nanti tiba, tapi tak semudah bayangan. Ternyata kedatangannya ke tempat itu tidak membuatnya mudah bergerak bebas, apalagi saat jam istirahat. Ia harus tetap berada di samping dosennya itu, karena dosennya itu berbaik hati mengenalkan dirinya pada beberapa dokter ahli.
Sambil makan siang bersama mereka, Ken harus mendengarkan ocehan tentang bidang mereka masing-masing. Ada dokter bedah, dokter anak dan lain sebagainya. Dosen itu sebenarnya membantu dirinya agar bisa menentukan jurusan apa yang ingin ditekuninya kelak. Karena itu, Ken juga harus menghargai bantuan sang dosen yang sangat berharga itu.
"Kalau ini dokter kandungan dan dokter bedah plastik." Secara tak terduga, Dokter Barnes mengenalkan Dewi Sri dan Ejiro. "Ini Dokter Inari dan Dokter Ejiro yang sangat terkenal di Jepang. Apa kau mengenalnya?"
"Iya, aku kenal keduanya, Pak," sahut Ken tak sabar.
Dokter Barnes mengerut dahi.
__________________________________________
__ADS_1