
Tentu saja Lucas ingat dengan kesalahannya beberapa kali yang sering membuat pria itu mengomel dan Balto membelanya dengan membiarkan pria itu pergi tanpa membayar sepersen pun.
Pria itu menatap tajam ke arah Balto. Kali ini dia punya pikiran lain setelah mencoba makan di restoran itu. Ia melipat tangan di dada sambil bersandar menghadap pria itu. "Aku sudah curiga lama tapi kau tetap menyangkalnya. Kau tidak pernah memasak untukku 'kan? Aku bisa merasakan dan mengira-ngira karena beda tangan beda rasanya."
"Tuan Ramires, aku selalu menyeragamkan masakanku dengan anak buahku. Pasti rasanya sama."
Pria itu tersenyum lebar. "Aku tahu, chef sekaliber Anda tidak mungkin terpeleset masak tidak matang atau mentah. Bukankah aku minta dari awal, kaulah yang masaknya, tapi kamu sepertinya menyembunyikan keahlianmu dan selalu menyuruh orang lain untuk memasaknya. Kenapa kau selalu tak pernah mendengarkan permintaanku, Chef Balto?"
Balto tersenyum tipis. Ia tahu pria di hadapannya ini sangat kaya, dan berani membayar mahal pegawai yang ia suka dan ia tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan pegawai itu. Karena itu ia tak pernah memasak secara utuh. Kadang ada bahan yang dimasak oleh orang lain atau ia memasak bahan untuk dimasak orang lain seperti kuah kaldu itu misalnya.
Setelah sekian lama ia menyembunyikan ini, ia akhirnya mengakuinya. Itu karena, kaldu Ken memang beda dan susah untuk diaku miliknya. "Ini ciri khas restoranku. Bekerja dengan tim."
"Mmh, akhirnya kau mengaku juga. Aku sudah mencoba makanan ini." Ia mendorong makan yang telah dimasak bersama kaldu buatan Ken. "Kau punya pegawai baru ya? Sebab rasanya tak mungkin kamu masak seperti ini."
"Ini masakanku."
Pria itu mengerut dahi. "Tapi bumbunya beda. Siapa yang meraciknya?"
Chef bule paruh baya itu menegakkan kepalanya. "Ini rahasia perusahaan. Tentunya ini tak boleh disebar. Apa kau kurang puas dengan itu?"
Pria berpakaian necis itu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sebuah kartu nama. "Tolong kau berikan ini pada pegawai barumu itu dan oh iya, pegawai lamamu yang sering memasak makanan untukku, sebaiknya kau pecat saja. Ia bahkan tak berbakat memasak sama sekali."
Balto mengambil kartu itu dan merobeknya hingga potongan kecil di depan pria Amerika Latin itu. "Aku atau pegawaiku takkan mau bergabung denganmu, jadi kau harus berpikir 100 kali sebelum mengajukan ini lagi pada kami."
Tuan Ramires hanya melihat saja, ia seperti tak peduli. "Ok, aku akan kembali lagi nanti. Tolong tagihannya."
Balto kembali ke dapur. "Irene, dia mau bayar," ucapnya sambil lalu pada Irene.
"Apa?" Pelayan itu terkejut.
Ken pun melongo bersama pegawai lainnya.
"Yang bener, Pak?" tanya Irene lagi. Ia menyibak rambutnya di samping telinga memastikan pendengarannya.
Pria paruh baya itu membalik tubuhnya. "Iya, cepat. Ia menunggu tagihannya!" tegasnya.
__ADS_1
Wanita berambut coklat kemerahan itu mencari kertas pesanan yang tadi ditulisnya agar bisa membuat tagihan. Setelah itu ia bergegas keluar. Lucas kembali gemas.
------------+++---------
"Ayolah, Ken. Kita jalan-jalan ke luar sebentar sambil minum-minum," bujuk Min Shi dengan melingkarkan tangannya di lengan kokoh pria Jepang itu.
"Ah, aku tidak mau minum-minum. Besok 'kan kita harus kerja. Aku tak mau kerja dalam keadaan kurang fit begitu." Ken mencoba menghindar.
"Ini malam keakraban. Semua orang ikut. Lihat, Irene dan Lucas juga ikut, masa kamu tidak?"
Jalan menghindar buntu. Sang pria Jepang tak tahu harus berkata apa. "Tidak bisakah lain kali saja? Aku tidak ingin pergi kali ini," pintanya memohon.
Min Shi malah tertawa lepas. "Bukannya kamu sedang beruntung kali ini? Banyak sekali yang mencoba kaldu buatanmu dan mereka menyukainya. Kenapa tidak kita rayakan saja kali ini dengan minum-minum di bar? Kebetulan kami-kami ini juga suntuk dengan pekerjaan dan ingin ngobrol-ngobrol sebentar biar lebih dekat dengan sesama teman kerja. Bagaimana?"
"Tapi ...." Ken masih mencari cela untuk menghindar tapi Min Shi telah menarik tangannya untuk segera pergi.
"Ayolah ... jangan terlalu kaku jadi pria. Lucas akan memberimu kunci, jadi jangan takut kalau kau pulang telat."
"Iya, ini." Pria bule itu segera memberi Ken kunci di tangannya agar ia mau ikut. Ini memang semua idenya agar pria Jepang itu mau ke bar bersama mereka.
Sesampainya di bar, mereka mencari tempat di sudut yang tidak ramai. Ken diapit Min Shi dan Lucas. Sementara Irene memesan minuman, wanita China itu mengajak ngobrol Ken. "Ken, kau tinggal di mana?"
"Eh, 'kan aku tinggal di atas restoran," jawab sang pria Jepang.
Wanita itu tertawa sambil menggelengkan kepala. Rambut kuncir kudanya dengan bebas dikibaskan ke sana kemari mengikuti arah kepalanya. "Bukan itu maksudku ... kamu rumahnya di mana?"
"Jauh," jawab Ken singkat. Ia tak tahu lagi bagaimana menjawabnya.
"Oh, kau tinggal di Jepang? Tapi bahasa Perancismu sangat fasih."
"Terima kasih."
Bir segera datang dengan cemilan di piring yang disajikan di atas meja. Baru saja Ken ingin mengambil cemilan, Lucas menjauhkan makanan itu dan mendorong bir itu ke arahnya.
"Wanita itu cerewet. Sebaiknya kau banyak minum agar bisa menjawab pertanyaannya," bisik pria bule itu.
__ADS_1
Sang pria Jepang menoleh dengan wajah bingung.
"Eh, kamu punya adik atau kakak?" Kembali wanita itu bertanya pada Ken. Rupanya Min Shi tertarik pada Ken, dan itu bukan sekedar bercandaan.
"Oh, aku anak tunggal."
"Benarkah? Oh, pantas saja," gumam wanita itu.
"Apa?"
"Kurang bisa bergaul."
"Masa?"
"Eh, sepertinya." Min Shi terkejut pria Jepang itu tertarik dengan ucapannya yang asal.
"Aku rasa aku tidak begitu."
"Tapi di tempat kerja kamu banyak begitu."
Kembali Ken tak tahu harus menjawab apa. Ia memang sedang stres berat dan dengan bekerja, stres itu lambat laun berkurang. Karena itulah ia fokus bekerja, tapi ia tak bisa mengatakan ini pada Min Shi. Segera ia mendekatkan bir ke mulut dan mulai meminumnya. Terasa segar di mulut walaupun rasanya tidak enak.
"Eh ...." Ia mengusap mulut dari busa bir dan mengambil kripik yang ada di piring lalu memakannya.
"Kapan-kapan kita jalan, yuk! Berdua, ke pusat kota. Restoran libur pada hari Senin."
Ken menautkan ujung bibirnya ke atas. Seperti kata Lucas, wanita itu tak berhenti-berhentinya bicara sehingga pria itu terpaksa meminum lebih banyak bir karena malas menjawab ocehannya. Irene sesekali mengobrol pada Lucas tapi keduanya melihat lucu pada pasangan Min Shi dan Ken.
Lucas tahu, Min Shi sangat menyukai pria Jepang itu, karena itu ia memberi Ken kunci agar wanita itu bisa tidur dengan Ken. Sepertinya tinggal menunggu waktu karena pria asia itu mulai mabuk. Ken mulai tertidur di atas meja.
"Kau bisa mengantar Ken 'kan, Min Shi? Aku akan mengantar Irene pulang."
"Eh, tapi ini belum terlampau malam," protes Irene. "Birnya saja belum aku habiskan." Ia menoleh ke arah birnya yang baru habis separuh. Ken menghabiskan 2 gelas besar bir yang didapat salah satunya dari Lucas.
"Bagaimana kalau kita pergi ke karaoke? Kamu mau gak?" bujuk pria bule itu pada Irene.
__ADS_1