
"Hentikan!" Ken datang ke gua itu bersama Gojo.
Lucille yang kaget karena ketahuan sedang mence kik Mira, segera menarik tangannya kembali. Ia sebenarnya hanya ingin menakut-nakuti Ken dengan menawan Mira. Racun yang diberikan bukan racun mematikan tapi sanggup membuat yang meminum racun itu tak berdaya.
"Ken." Lucille segera menarik Mira dan meletakkan pisau belati ke dekat leher sang pengantin wanita. "Mira sudah kuracuni. Aku takkan membunuhnya bila kau menikah denganku."
"Apa? Apa kau sudah gila? Aku sudah mengatakannya berkali-kali kalau ...."
"Kau tak mencintaiku?" potong wanita berambut merah itu atas ucapan Ken. "Aku sudah dengar dan aku tak peduli. Kau lambat laun akan menyukaiku bila kita menikah nanti," ucapnya dengan yakin.
"Pernikahan macam apa yang kau harapkan dariku? Dengar, aku tak suka pernikahan pura-pura ini. Sudah, akhiri saja bercandaan ini, ya? Kau kembalikan saja calon istriku padaku." Ken berusaha bicara baik-baik dengan membujuknya. Ia bergerak mendekat.
"Jangan mendekat!" teriak Lucille kesal. "Kenapa kau tak percaya padaku? Ini bukan main-main."
Ken berhenti bergerak dan Gojo diam di tempat. "Apa yang berusaha kau lakukan, Lucille? Ini sudah tidak ada gunanya lagi."
"Aku 'kan sudah bilang, Mira akan jadi tawananku selama kau tak mau menikah denganku!" teriak Lucille yang mulai kesal dengan Ken yang tak mau mendengar omongannya.
"Lalu apa bedanya bila aku menikah denganmu? Kau pasti tetap akan menyanderanya juga 'kan?"
"Aku tak akan pernah melakukan itu kalau kau setia padaku," ujar Lucille memohon.
"Apa aku bisa percaya padamu? Tidak, Lucille, sejak kau membunuh Yumi diam-diam tanpa sepengetahuanku."
Brengsek! Siapa yang memberitahunya tentang hal ini? Wanita berambut merah itu geram sendiri. Mira pun terkejut mendengar apa yang dikatakan Ken. Sialan! Jadi selama ini kaulah pembunuh Yumi sebenarnya? Kenapa Kak Ken tak memberi tahu aku? Aku takkan tinggal diam. Sakit hati ini harus terbalaskan.
Ya, dibanding orang lain, hanya ingatan pada Ken dan Yumilah yang paling ia ingat benar. Yumi sering menggendongnya di kala kecil dan selalu menyisir rambutnya bila ia selesai mandi. Kadang wanita itu juga sering membawa roti buat Mira kecil setiap wanita itu pulang kerja. Memori ini takkan pernah pudar karena keduanya, Ken dan Yumi memperlakukan dirinya dengan sangat istimewa.
__ADS_1
Ken memperhatikan Mira. Ada darah keluar dari mulutnya membuat pria itu panik. "Mira ... apa yang kau lakukan padanya? Kenapa mulutnya mengeluarkan darah? Kau pasti berusaha membunuhnya ya?" ucapnya pada wanita berambut merah itu. "Apa yang kau lakukan padanya!" bentak Ken.
Sang wanita berambut merah yang marah karena dihardik sedemikian rupa, tanpa berkata apa-apa segera menggerakkan tongkatnya. "Shazam! Shazam! Shazam!" Ia menyihir di beberapa tempat dan mendatangkan beberapa mahkluk zombie, mahkluk berbentuk manusia yang seperti mayat hidup dan berwarna hijau. Mereka semua membawa pedang.
"Sialan!" Ken tak membawa pedang, sedang Gojo, dia membawa pecut. Segera pria gondrong itu melindungi Ken. Selagi Gojo berperang melawan mahkluk itu, sang pengantin pria mulai berpikir keras bagaimana mendapatkan senjata. Mereka diuntungkan dengan pergerakan zombie yang lambat. Tiba-tiba sebuah ide brilian muncul di kepala Ken.
Ia mengeluarkan beberapa koin emas yang dimilikinya dan dengan kekuatan pikiran, ia memerintahkan emas-emas itu melebur dan menjadi sebuah pedang yang tajam. Pria itu menyaksikan bagaimana koin-koin itu melebur menjadi satu dan kemudian memanjang membentuk sebuah pedang. Setelah siap kemudian Ken memakainya.
Ia mencoba pada zombie pertama yang ditemuinya. Sekali tebas, ia telah memotong tangan makhluk itu sehingga kehilangan tangannya. "Bagus!"
Gojo terkejut, melihat Ken mempunyai pedang emas di tangan, tapi ia merasa lega. Berarti pekerjaan menjadi lebih ringan. Keduanya menggempur dan membunuh zombie-zombie itu dengan memotong tubuhnya menjadi dua. Tidak ada darah yang keluar dari tubuh mahkluk itu karena sejatinya, mereka adalah mayat hidup. Darah mereka telah membeku.
Melihat pasukan zombie mulai berkurang, Lucille kemudian menambahkan pasukan itu dua kali lipat dari sebelumnya hingga Ken dan Gojo kewalahan. Mereka mau tak mau bergerak mundur karena mendapat desakan dari makhluk-makhluk yang makin banyak itu. Walaupun begitu, keduanya tetap berusaha sekuat tenaga menggempur pasukan mayat hidup yang makin mendesak mereka ke belakang.
"Hiah, hiah!" Ken menangkis serangan yang datang.
Kembali Lucille tak puas. Ia dengan kemarahannya melempar Mira ke lantai gua. Wanita berambut merah itu kemudian mendatangkan lagi pasukan perompak ke dalam gua itu. Pasukan perompak bergerak sangat lincah. Mereka benar-benar membuat Ken kerepotan karena menyerang dari segala arah.
"Ah!" Ken terluka di bagian lengan hingga menyobek lengan haifu-nya.
Bertepatan dengan itu, Dewi Sri datang. Tanpa aba-aba, ia menggerakkan tangannya ke depan membentuk bola cahaya. Lalu bola cahaya itu ia lempar ke depan sehingga mengenai seluruh zombie dan para perompak itu. Para makhluk hijau itu menjerit dan terkapar, sedang para perompak musnah.
"Ibu." Ken merasa lega dengan kedatangan ibunya.
Lucille makin geram. "Kenapa Ibu ikut campur urusan kami?"
"Tentu saja karena dia anakku. Pertanyaan bodoh macam apa ini?" Dewi yang tadinya tersenyum ke arah Ken kini menyorot tajam ke arah wanita berambut merah itu.
__ADS_1
Karena kesal, semakin banyak orang yang tidak mendukungnya di sana, ia melempar sesuatu pada Ken dengan tongkatnya. "Shazam!"
Ken yang tengah mendatangi ibunya tiba-tiba terbentur sesuatu. Seperti dinding yang tak terlihat. "Aduh ... apa ini?" Ia berusaha meraba ke depan. Benar saja ia menyentuh sebuah dinding tak kasat mata. Dindingnya sepertinya tak rata. Apa berbentuk bola? Ken berusaha memeriksanya.
Ternyata ia tidak sendirian. Gojo pun terkurung di dalamnya bersama sang pengantin pria. Ia mengetahuinya ketika berusaha bergerak ke samping. "Aduh! Aku juga terkurung, Ken."
"Apa?" Ken menoleh pada Lucille. "Lucille, apa yang kau lakukan padaku! Kenapa kau mengurungku!"
Saking stresnya, wanita berambut merah itu tertawa. "Itulah kalau kalian main curang, dan menyerangku!"
"Lucille! Kau sudah gila!" Pria itu memukul dinding tak kasat mata itu dengan geram.
Lucille kini menatap ke arah Dewi Sri sambil bertelak pinggang. "Sekarang waktunya Anda yang berjuang, Nyonya." Lucille kemudian menggerakkan tongkat sihirnya ke depan. "Shazam! Shazam!"
Kini wanita itu mendatangkan dua makhluk aneh. Ada makhluk seperti tuyul berwajah tua dengan kepala gundul dan pakaian pekerja tambang. Bentuk telinga mereka sedikit meruncing ke atas karena mereka adalah elf pria. Sedang yang satu lagi, makhluk bertubuh kelelawar berwarna hitam dan bersayap dengan kepala manusia. Mahkluk itu juga tubuhnya sebesar makhluk cebol itu. Kedua kelompok makhluk itu kemudian datang menyerang Dewi Sri.
Kembali wanita itu membuat bola cahaya dengan memberi jarak di kedua tangannya. Ia melempar ke depan, tapi yang hancur hanya para makhluk cebol, sedang makhluk kelelawar itu bisa menghindar dengan terbang ke langit-langit gua. Setelah menghindar, mahkluk kelelawar itu kembali datang dan menyerang wanita itu.
"Ah!" Dewi Sri sempat dicakar makhluk itu tepat di dahinya ketika menghalau mereka tapi kemudian ia mengambil pedang milik zombie dan kini bisa melawan mereka.
"Hei, hentikan! Kaulah yang curang! Kau menyerang ibuku yang sendirian dengan beramai-ramai!" teriak Ken marah sambil memukul-mukul dinding tak terlihat itu. Ia kasihan melihat ibunya yang harus berjuang sendirian.
_________________________________________
Visual Dewi Sri. Salam, ingflora💋
__ADS_1