Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Waktu Sempit


__ADS_3

"Bukan kenal secara dekat 'kan?" tanya dosen itu memastikan.


"Bukankah itu maksud pertanyaan Bapak tadi?" tanya Ken lugu. "Kami kenal sudah lama."


"Apa?"


"Eh, Ken dulu tinggal di panti asuhan. Aku mengenalnya di situ," sela ibu, menanggapi jawaban anaknya.


"Iya. Benar kata ibuku." Ken mengiyakan.


"Ibu?" Dosen itu kembali bingung.


Dewi segera menutupi tubuh anaknya dengan berdiri di depannya lalu berbicara dengan dosen itu. "Eh, maksudnya. Aku sering jadi ibu buat anak-anak panti asuhan itu."


"Oh, jadi kamu bukan anak panti asuhan," tanya Dokter Barnes lagi.


"Bukan."


Sementara Ken dimarahi Ejiro saat di belakang tubuh ibunya.


"Kamu itu bodoh atau apa? Bukankah kamu harus merahasiakannya?" Ejiro memarahinya dengan berbisik.


"Lho, tadi dia bilang ...."


"Tadi, maksudnya, saking terkenalnya kami ...." Anak dewa matahari itu begitu dongkol dengan kebodohan yang diperbuat Ken, hingga hampir saja membongkar rahasianya sendiri.


"Oh ...." Pria muda itu akhirnya mengerti. Ia memperhatikan wajah dokter muda itu dengan teliti. "Tapi kenapa bekas luka di wajahmu bisa hilang. Bagaimana caranya?" Ia terkejut melihat wajah Ejiro telah berubah mulus, seakan tidak pernah terjadi apa-apa pada wajahnya dan kulitnya pun menjadi putih bersih.


Ken hampir saja menyentuh wajah dokter muda itu, jika tidak ditepis olehnya.


"Aku dokter operasi plastik, tentu saja."


"Tapi bagaima—"

__ADS_1


"Ken, ayo! Nanti saja bernostalgianya karena simposium sudah di mulai lagi," panggil dosen itu.


Mau tak mau mereka harus berpisah dengan duduk di kursi mereka masing-masing, padahal Ken begitu ingin mengobrol banyak dengan keduanya. Apalagi tiba-tiba dia ingat bahwa Ejiro bisa menolong mengembalikan lagi ilmu bela dirinya yang telah hilang, pulih seperti sedia kala.


Ken sepertinya harus bersabar. Ia yang mendampingi dosen itu, kini harus menyelesaikan tugasnya membantu sang dosen di sana sampai selesai. Setelah itu, ia pasti bisa berbicara lagi dengan mereka. Ken kemudian fokus.


Setelah Dokter Barnes memberi tambahan untuk berbicara di depan para dokter ahli, dan melewati sesi tanya jawab, simposium akhirnya ditutup dengan konklusi oleh dokter Ejiro. Setelah itu simposium dibubarkan.


Namun masalah lain timbul kemudian. Banyak yang bertanya kepada dokter Ejiro berkaitan dengan konklusi itu, sehingga harus didampingi beberapa dokter untuk membantu termasuk, Dokter Barnes dan Dokter Inari. Waktu kembali molor hingga menjelang sore. Kelompok orang-orang itu terpaksa dibubarkan paksa.


Saat Ken mendekati keduanya, kembali dokter Barnes mengajaknya ke rumah sakit. Ada operasi mendadak dan menanyakan apa Ken bersedia datang. Ken terpaksa menurut.


"Ken, nanti tanya Mira saja!" teriak Ejiro dari jauh. Sepertinya pria itu tahu kegelisahan Ken saat berpisah pulang.


Wajah mahasiswa kedokteran itu mulai cerah, dan melambaikan tangan dari jauh. Ia pergi dengan Dokter Barnes dengan motornya.


Di rumah sakit, mereka hanya menonton operasi kecil yang dilakukan dokter di sana dan setelah itu ia buru-buru pulang ke rumah Charles. Bukan apa-apa, Lucille kembali mengejarnya.


"Ken!"


Sang wanita hanya bisa memandangi motor pria itu menjauh dengan wajah cemberut.


----------+++---------


"Anthony, jangan berputar-putar terus. Bikin kakekmu pusing melihatmu!" teriak wanita berambut pirang sebahu, pada anaknya yang sedang mengitari Charles. Pria itu malah tersenyum senang.


Bocah itu berhenti di hadapan kursi roda pria tua itu dan memeluk salah satu kakinya. "Hah, capek, Kek," ucapnya kelelahan. Masih terlihat napasnya yang tersengal-sengal seraya tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang jarang pada pria tua itu.


"Sudah, Anthony. Kamu senang sekali berlari-lari seperti anak kucing begitu. Ayo, istirahat," ujar Charles pada cucunya yang lucu itu.


Ken yang baru datang, lega melihat keluarga itu kini akur dan tersenyum bahagia. "Sepertinya aku sudah tidak diperlukan lagi di sini ya?"


"Bukan begitu, Ken," sergah Charles yang melihat pria Jepang itu datang.

__ADS_1


Ken mengangkat tangannya. "Tidak apa-apa. Aku sebenarnya ingin mengundurkan diri karena pekerjaanku semakin banyak. Apalagi aku minggu depan mau ujian, karena itu aku mohon padamu, Kek, untuk berhenti bekerja karena sudah tidak sanggup mengurusi


Ia menyatukan tangannya. "Aku bahkan baru pulang dari rumah sakit karena tidak sempat ke sini dulu sebab mengejar melihat orang operasi di sana yang tak kenal waktu."


Melihat Ken yang terlihat kelelahan, pria itu pun iba. "Baiklah, hari ini kau bisa langsung istirahat. Kita bisa bicarakan ini esok." Ternyata pria bule ini masih belum mau melepas pria Jepang itu.


Ken sedikit kecewa, tapi ia kemudian teringat pada Mira. "Ah, aku ada janji dengan seseorang. Aku pergi dulu ya?" Tanpa sempat mendapat izin, ia buru-buru lari keluar.


"Ken!" teriak Charles, tapi Ken seperti tidak mengindahkan.


"Sudahlah, Daddy. Lepaskan dia. Mungkin bukan saatnya Daddy bersamanya. Dia seorang mahasiswa yang punya segudang kegiatan. Kalau Daddy memaksanya juga, ia bisa mati berdiri karena kelelahan." Nasehat Suzanne.


Charles menghela napas dalam dan melihat kepergian sang pria Jepang itu dengan setengah hati.


------+++------


Ken menghela napas pelan karena kelelahan. Mmh, apa Mira sudah pulang ya? Ini sudah menjelang malam. Kalau dia sudah pulang berarti sia-sia saja aku ke sana. Berarti aku harus kembali ke rumah Kakek Charles lagi. Ia menepikan motornya. Tapi kalo ia menungguku, bagaimana? Ia dilema.


Saat sedang berpikir begitu, ia mendengar suara tembakan. Pria itu tentu saja terkejut, hingga menurunkan kepalanya. Ada apa ini? Ia memperhatikan sekitar. Hening, dan lingkungan itu memang kebetulan sepi. Terdengar lagi berondongan senjata yang panjang yang membuat Ken terpaksa turun dari motor dan mendorong motor itu mencari tempat aman.


Sulit untuknya mengetahui ada apa ketika ia tidak melihat kejadiannya tapi hanya terdengar berondongan senjata. Ini lebih mengerikan daripada bertemu hantu.


Hari mulai gelap dan tidak ada satu pun orang atau kendaraan yang lewat di situ. Sepertinya hanya ia satu-satunya orang yang terjebak di tempat itu. Dengan cepat, sambil menengok kanan kiri, ia mendorong motornya agar bisa keluar dari area itu, tapi sebelum ia sempat keluar, ia melihat seorang pria meringkuk kesakitan di sebuah gang sempit.


"Tolong ... tolong aku," kata pria itu pada Ken. Pada pakaian pria itu terdapat noda darah. Sepertinya pria itu terkena tembakan.


Karena iba, sang pria Jepang itu mendekat dan memeriksa pria bule itu. "Kau tertembak."


"Tolong, keluarkan aku dari tempat ini. Setelah itu kau boleh tinggalkan aku di mana saja," pinta pria bule itu dengan memelas.


Ken semakin iba. Ia mengalungkan tangan pria itu di lehernya. "Ayo ikut aku naik motorku." Dengan berhati-hati, sambil melihat kanan kiri, ia membonceng pria itu. Bergegas ia menghidupkan mesin motor dan membawa kencang motor itu keluar dari area itu.


Tiba-tiba segerombolan orang berlari mendekati tempat itu, dan terlambat. Ken sudah membawa lari pria itu.

__ADS_1


"Sial!" Seorang pria menendang sampah kaleng minuman yang tergeletak di trotoar hingga memantul di dinding di dekatnya. Ia merasa kecolongan. Kemudian ia menelepon seseorang. "Maaf, Komandan, dia lolos."


__ADS_2