
Tentu saja batu itu sampai ke dalam lobang di tengah jurang, karena dilihat dari kemampuannya melempar ke tempat yang sangat jauh tapi tepat sasaran, pria itu pasti punya tenaga dalam yang sangat hebat.
Batu itu jatuh tepat ke atas atap rumah Odagiri. Pria itu mendengarnya dari dalam rumah. Sedang Ken dan Ejiro mendengarnya dari luar. Bahkan melihat batu itu menggelinding jatuh ke tanah, hanya saja mereka tidak mendengar suara panggilan itu.
Pria berambut kaku itu keluar rumah dan mendongak ke atas. Ia menoleh pada Ken dan Ejiro yang sedang bersemedi. "Aku pergi sebentar." Sedetik itu juga dengan ilmu meringankan tubuhnya, ia meloncat ke atas pohon dan lalu ke lubang besar di atas dan kemudian menghilang.
Ken dan Ejiro saling pandang tapi kemudian kembali lagi pada meditasi mereka. Suasana kembali hening.
Odagiri ingin memastikan, seseorang tengah menunggunya. Jadi bukanlah pertanda longsor atau gempa bumi dan benar saja, seseorang yang sangat ia kenal tengah berdiri di pinggir jurang. Seorang pria berumur sekitar 40an sebaya dirinya, menyambut dengan senyum tanggung karena duka masih menyelimuti dirinya.
"Lian Luo, apa kabarmu?" tanya pria berambut kaku itu setelah sampai. Ia sedikit ragu mendekat.
"Kau tahu, bagaimana 'kan?"
Odagiri tak tahu bagaimana memulainya. "Aku tidak bermaksud ...."
"Demi ketenangan dunia. Itu yang aku katakan dulu, iya, 'kan?" Pria itu hampir menangis. Ia menunduk.
"Lian Luo ...."
"Kita impas. Kau tak salah. Keadaanlah yang memaksa. Dulu istrimu melanggar peraturan, akulah yang mengeksekusinya, dan kini anak lelakiku satu-satunya, melakukan kejahatan, kaulah yang menghukumnya. Sungguh dunia maha adil, tapi kenapa hidup kita makin terasa sunyi saja." Bulir-bulir air mata pria kaya itu menetes.
"Lian Luo ...." Odagiri memeluk temannya itu. "Aku tidak bermaksud untuk balas dendam denganmu."
"Aku tahu ... aku tahu," ucap pria kaya itu menahan isak.
Cukup lama, pria berambut kaku itu memeluk temannya hingga pria kaya itu akhirnya bisa mengusir rasa sedih dan mulai bicara.
Lian Luo menghapus air matanya. "Kota sedang darurat, apa kau tahu?"
"Ada apa?"
"Aku tidak tahu pasti ini wabah apa tapi ada sebagian orang sakit bila bekerja di siang hari, dan memilih bekerja di malam hari. Dan juga ada masalah pembunuhan yang terjadi tiap hari yang korbannya mati karena kehabisan darah. Jadi aku datang untuk meminta pertolonganmu untuk mencari pembunuh ini karena sudah ada beberapa pendekar yang ikut membantu tetapi berakhir menjadi korban pembunuhan juga. Korban ini juga makin hari makin bertambah. Sedikitnya 3 orang terbunuh tiap harinya."
"Tunggu dulu. Kesakitan bekerja di siang hari? Maksudmu, tidak bisa terkena sinar matahari?" tanya Odagiri memastikan.
__ADS_1
"Mmh? Mungkin. Aku tidak tahu."
"Aku tahu, apa ini."
Lian Luo menatapnya serius.
"Kau lihat mayat yang bergelimpangan di sana?" Odagiri menunjuk tumpukkan mayat tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Itu mereka yang aku bunuh, Luo."
Lian Luo melirik pada temannya itu. "Kenapa kau membunuhnya? Apa itu semacam wabah? Menularkah? Haruskah aku membunuh mereka juga?"
"Bisa dibilang begitu."
"Maksudmu?"
Odagiri kemudian menceritakan semua yang ia tahu dari Ken hingga temannya itu termangu mendengarnya.
"Aku memang melihat ada orang asing akhir-akhir ini tapi berpakaian hanfu bersliweran di jalanan saat tengah malam jadi aku tak menaruh curiga, apalagi salah satu menteri kita juga sedang bekerja sama dengan orang bule untuk membeli senjata untuk pasukan kita, jadi aku melihatnya biasa saja."
"Jadi kau mau aku bagaimana?"
"Tapi murid-muridku ilmunya masih sangat rendah, karena mereka baru bergabung denganku jadi aku takut mereka tidak bisa masuk standarmu untuk bala bantuan kali ini."
"Karena darurat, aku rasa siapapun diizinkan untuk ikut."
"Apa kau yakin?"
"Penduduk sudah sangat ketakutan untuk keluar di malam hari dan di siang hari pun semakin sepi, jadi apakah kita masih bisa memikirkan standar di saat-saat seperti ini?"
Pria berambut kaku itu terdiam.
"Sudah tidak ada waktu lagi untuk berpikir, Odagiri. Hari ini, aku akan menunggumu datang ke rumah." Pria itu kemudian pamit.
Pria berambut kaku itu akhirnya pulang ke rumah dan memberitahukan hal ini pada kedua muridnya. Keduanya menyambut dengan gembira.
"Mau, Sensei. Aku mau," sahut Ken dengan gembira.
__ADS_1
"Ah, akhirnya ...," gumam pria bercodet itu lega.
"Ah, kalian ini ... pikirannya pasti mau main atau cari pacar ya!" keluh guru bela diri itu kesal. Ia bertelak pinggang saat mengomel.
"Aku ingin menengok keluargaku, Sensei. Aku bahkan pergi tanpa pamit dan tidak pulang-pulang," terang Ejiro, sedang Ken, tiba-tiba saja ia teringat Mira. Ia merasa sudah lama sekali tidak bertemu dengan gadis itu hingga rasa penasaran mulai menggerogotinya saat ini.
Setelah berkemas, dengan bantuan Odagiri, mereka keluar dari jurang. Sambil berlatih ilmu meringankan tubuh, Ken dan Ejiro berusaha berlari dan meloncat dari pohon ke pohon. Hanya Ken yang bisa, melompat dari pohon ke pohon walau tidak jauh, sedang pria bercodet itu berlari di darat karena masih belum bisa menguasai ilmu meringankan tubuh itu dengan baik.
Pria berambut kaku itu menunggui dengan sabar sesuai kemampuan muridnya masing-masing dan ternyata mereka sampai dalam waktu yang bersamaan. Mereka datang dengan terengah-engah. Kemudian setelah sampai di kota mereka menumpang gerobak untuk sampai ke kediaman Lian Luo.
Kedatangan mereka disambut langsung pemilik dan keluarga di rumahnya yang megah. Lian Luo mempunyai seorang istri dan 2 orang anak perempuan, sementara 1 anak laki-lakinya meninggal dibunuh Odagiri.
Suasana sudah mulai membaik di rumah itu walaupun istri Lian Luo terlihat masih berduka. Lingkar matanya sedikit menghitam dan wajahnya cekung.
Kedua anak perempuan Lian Luo yang cantik, tertarik pada kedua murid Odagiri, Ken dan Ejiro. Gadis-gadis itu mengintip dari balik tirai.
"Kamu suka yang mana, Cia?"
"Aku suka yang bernama Ken, itu," ucap Cia, kakak Chen Zen.
"Aku juga suka dia."
"Jangan, Chen Zen, kau ambil yang Ejilo(orang China tidak bisa huruf 'r' jadi dibaca 'l' sedang orang Jepang sebaliknya) saja. Ken buatku saja."
Chen Zen tertawa. "Memangnya mereka akan tinggal?"
"Iya, kata ayah mereka akan tinggal."
"Sungguh?" Mata Chen Zen yang kecil itu membulat sempurna.
"Iya. Lihat saja, nanti malam ia akan makan di rumah."
Benar saja, mereka, Odagiri, Ken dan Ejiro, diajak makan malam bersama di rumah itu sebelum pergi ke rumah menteri Pertahanan. Di sanalah kedua gadis itu berusaha mencuri perhatian kedua pria muda itu.
Cia bisa merasakan, adiknya Chen Zen menyukai Ken karena telah merebut kursi untuk duduk di samping pemuda itu. Cia merengut kesal. Pun demikian keduanya masih berebut perhatian di meja makan.
__ADS_1