Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Restoran Ramires


__ADS_3

"Aku beri kalian waktu dua hari untuk memikirkannya. Lusa kita meeting jam sembilan untuk melihat hasilnya." Pria kaya itu mengakhiri pembicaraan. Ken kemudian pamit pulang.


Hari berganti. Setelah meeting dan beberapa kali pertemuan, nama makanan baru kemudian terkumpul dan dibuat. Ramires kemudian mencicipinya, setelah itu diputuskan nama makanan baru yang akan dimasukkan ke dalam menu.


Salah satu makanan baru yang terpilih adalah makanan buatan Ken. Itu artinya ia akan jadi salah satu juru masak di restoran itu. Tentu saja pegawai lama terlihat iri pada Ken, karena mereka tahu, butuh waktu lama untuk jadi seorang juru masak dan Ken melompatinya.


Restoran kembali buka dengan pesta pembukaan. Ramires yang tahu posisi pria Jepang itu yang riskan, akhirnya mengambil chef luar untuk menjadi kepala juru masak di sana. Ia memperkenalkan Chef itu pada koleganya di pesta pembukaan restoran, tapi tetap saja, Ken dimusuhi karena dianggap naik karena dekat dengan Ramires.


"Ken, ada yang pesan steak ayam dua," sahut Chef Romero.


"Oh, baik, Chef." Ken lalu mempersiapkan masakannya.


"Jeans dan Louis, pastanya masing-masing satu ya?"


"Baik, Chef." Keduanya menjawab bersamaan.


Kesibukannya sebagai tukang masak, membuat sang pria Jepang tak lagi memikirkan bagaimana teman sesama tukang masak tidak memperdulikannya. Ia hanya fokus memasak, dan memikirkan apa lagi yang ingin dikerjakannya setelah ini.


"Ken, pelanggan mencarimu." Seorang pelayan yang mengantarkan makanan pria Jepang itu kembali dengan tergesa-gesa.


Semua orang yang berada di dapur melirik ke arah pelayan itu. Ada bahkan yang saling pandang dan tersenyum, berharap pria itu jatuh.


"Ada apa? Apa makanannya bermasalah?" Ken terlihat khawatir.


Pelayan wanita itu menggeleng. "Aku tidak tahu.


"Biar kutanyakan," ujar Chef Romero melepas celemeknya.


Pelayan itu kembali menggeleng. "Dia minta bertemu Ken. Dia menyebutkan namamu, Ken." Ia menerangkan.


Ken terkejut. "Dia kenal aku?" Ia segera membuka celemeknya. "Siapa? Perempuan? Laki-laki?"


"Perempuan tapi aku tidak kenal."


Pria Jepang itu kemudian melangkah keluar dari dapur. Ia menyangka itu mungkin Min Shi atau Irene, teman kerjanya di restoran dulu, tapi ia tidak menemukan mereka di tempat makan. Ia terus mencari hingga ia melihat seorang gadis melambaikan tangan ke arahnya.


Ken masih belum percaya gadis itu melambaikan tangan padanya hingga mencari orang lain di belakangnya. Namun yang ada hanya dirinya seorang. Pria itu kemudian menunjuk dirinya dan diangguki gadis itu.


Sungguh, ia tak kenal siapa gadis cantik itu hingga ia menghampiri sang gadis. Dilihatnya makanan di atas meja, memang gadis itu yang memesannya. Anehnya ia memesan dua porsi padahal ia sendirian.


"Maaf, apa Nona yang cari Saya?" tanya Ken berusaha sopan.


"Eh, iya. Apa kau tak ingat aku?"


Ken meneliti wajah gadis itu dan ia tidak mengingatnya. "Maaf, Nona. Apa Nona tak salah orang?"


"Kamu Ken 'kan?"

__ADS_1


"Iya."


"Yang buat steak ayam ini, 'kan?"


"Bagaimana Nona tahu?"


"Aku anaknya Pak Ramires."


Ken membulatkan matanya karena terkejut lalu mengangguk-anggukkan kepala meminta maaf. "Oh, maaf, Nona. Maaf. Aku tidak tahu."


"Memangnya kau tidak pernah melihatku?"


Ken mencoba mengingatnya. "Aku sepertinya hanya melihat kau naik tapi tak melihat wajahmu." Ia mengusap belakang kepalanya. "Maaf."


"Tidak apa-apa. 'Kan sekarang jadi tahu."


"Eh, iya, Nona. Ada apa ya?" Pria itu melihat gadis itu belum menyentuh makanannya.


"Eh, bisakah kau duduk dulu?"


Sedikit bingung, Ken meluluskan permintaan gadis itu. "Eh, iya."


"Eh sebenarnya aku suka sekali dengan steak ayam yang kau buat. Kau pintar memasak sepertinya." Gadis itu memuji masakan Ken.


"Eh, terima kasih, Nona."


"Apa?" Ken terlihat bingung. "Eh, maaf, Nona. Aku masih bekerja."


"Sebentar ... saja masa tidak bisa," pinta gadis itu lagi. Ia mulai merengut manja pada pria itu. Wajahnya yang tirus dan bola matanya yang indah membuat Ken bingung maksud dan tujuan Millea datang ke sana.


Ia juga bingung bagaimana cara menolaknya karena gadis itu adalah anak Ramires. Akhirnya terpaksa pria itu menggerakkan tangan menyentuh pisau dan garpu yang berada di samping piring makan. Gadis itu terlihat senang, tetapi ....


"Millea? Ada apa kau kemari?"


Keduanya menoleh. Gadis itu gelagapan dan terlihat panik. Ken pun juga kebingungan.


"A-ayah?" ucap gadis itu.


Ramires menatap keduanya.


"A-aku hanya iseng saja, Ayah. Aku dengar Ayah membuka restoran baru, jadi aku coba ke sini. Aku ingin makan steak ayamnya, Ayah. Bukankah aku pernah mencobanya?" Millea memperlihatkan deretan giginya yang bersih, berusaha tersenyum.


Pria kaya itu kembali melihat keduanya. Ken terlihat tak berkutik karena tak tahu harus bicara apa, sedang gadis itu sedang mencari cara bagaimana kabur dari tempat itu. Ia tak menyangka ayahnya akan datang ke tempat itu, mengingat kesibukannya.


"Dari mana kau tahu tempat ini?"


Pertanyaan ayahnya ini cukup membingungkan gadis itu dan menjebak. Ia ketahuan mencari tahu tempat itu padahal ayahnya tidak pernah membicarakan masalah pekerjaan di rumah.

__ADS_1


Ramires melirik Ken. Sepertinya ia tahu apa yang terjadi.


"Bagaimana kalau steak ayam?" ujar seseorang di samping terdengar ingin memesan makanan.


Pria kaya itu kini menatap sang pria Jepang. "Kau sepertinya punya pembeli."


Ken segera tahu dan beranjak dari kursi. "Eh, iya, Pak." Ia segera ke dapur.


Ramires kemudian menggantikan Ken duduk di sana. Ia melirik anak perempuannya yang cantik. "Apa kau menungguku? Aku juga ingin makan steak ayam ini buat makan siang," ucapnya meredakan ketegangan.


"Eh, iya, Yah." Gadis itu akhirnya bisa meredakan jantungnya yang tadi sempat berdebar.


Tiba-tiba ... "Kamu bohong ya? Apa kamu naksir dia?" Pria itu menunjuk ke arah mana Ken pergi.


Gadis itu hanya merengut karena Ramires dapat menebaknya, tapi dari gerak matanya terlihat sekali bahwa ia membenarkan.


Ramires menyentuh hidung mungil anak gadisnya. "Mmh, playgirl. Cedric mau kamu kemanakan?"


"Cedric membosankan," sahut Millea meremehkan.


"Kalau begitu, kau tidak boleh dekat dengan Ken. Dia tipe serius."


"Aku serius!" Gadis itu meyakinkan.


"Kau tidak setia," sahut Ramires sambil tersenyum. Ia mulai memotong ayamnya.


"Ayah ...," rengek Millea.


"Tidak. Jalani dulu dengan Cedric atau selesaikan. Jangan menambah masalah baru, playgirl!" Kembali pria kaya itu mencoleh hidung anaknya.


"Ayah ...," rengek gadis itu kembali.


Keakraban ayah dan anak itu terlihat jelas karena Millea bisa bercerita apa saja pada ayahnya. Ramires adalah tipe pria yang mau mendengarkan keluh kesah anak dan istrinya di sela-sela kesibukan, sehingga keluarga selalu dekat dengannya.


----------+++-----------


Di sore hari, restoran sedikit lengang. Daerah itu adalah daerah perkantoran sehingga ramai di jam makan siang, tapi setelah itu sepi. Hanya ada orang yang bersantai sore yang datang ke restoran. Ken melepas lelah dengan berjalan-jalan di sekitar restoran.


Sambil melihat-lihat kantor apa saja yang ada di sana, ia berdiri di depan kantor pusat sebuah bank. Mmh, sepertinya aku bisa mencairkan koin emas dan menyimpannya di sini.


Tiba-tiba terdengar keributan. Ken melihat seorang wanita tua yang miskin tengah dirundung para preman. Pengemis tua itu diganggu bahkan gerobak yang dibawanya dipermainkan.


Sang pria Jepang itu tentu saja tak tega hingga mendatangi para preman itu. "Hei, kalian apa tak malu mempermainkan nenek-nenek tua seperti itu!" teriaknya kesal.


_________________________________________


__ADS_1


Visual Ken dengan baju koki restoran Ramires. Salam, ingflora💋


__ADS_2