
Ken sebenarnya ingin membawa gadis kecil itu ke taman tapi melihat Mimi terus-terusan menguap, ia akhirnya membawa gadis kecil itu ke penginapan. Ia membaringkan Mimi di ranjang. Tak lama, gadis kecil itu tertidur pulas. Ia memperhatikannya dari tepi ranjang.
Ken lalu menoleh ke arah jendela. Hari sudah sore. Sebentar lagi malam dan saat itulah ia akan menyerah Mimi pada ayahnya, Ryu. Ia sebenarnya menunggu dirinya yang masih di zaman itu, pindah dimensi untuk pertama kalinya, hingga ia bisa memperlihatkan wajahnya pada sang ayah. Apakah ayahnya bisa membedakan dirinya yang sekarang dengan dirinya yang dulu, ia pun ingin tahu.
Ken bergeser dan berbaring di samping gadis kecil itu. Baru saja ia memejamkan mata, ia merasa ada yang bergerak di atas ranjang. Saat sang pria membuka mata, Mimi tengah bergeser ke arah tubuhnya dan menyusup ke ketiak. Gadis itu tidur dengan memeluk dadanya.
Kembali Ken tersenyum. Mimi begitu mengidolakannya hingga pria itu tak berani mematahkan hatinya. Ken mengiyakan saja semua keinginan gadis kecil itu.
Entah berapa lama ia tertidur, tahu-tahu saat bangun kamarnya sedikit gelap. Hanya cahaya rembulan yang memberi penerangan kamarnya saat itu. Ken mencoba menyalakan lampu kamarnya dengan menggeser tangan di atas meja nakas. Ia tak ingin membangunkan Mimi yang masih tertidur. Dengan sekali tekan, lampu pun menyala, tapi tetap saja gadis kecil itu terbangun.
"Mmh, Kakak." Netra gadis kecil itu masih sulit terbuka. Ia masih mengantuk hingga hanya mempererat pelukan.
"Mimi, kamu pulang ya?" Ken berterus terang.
Terdengar rengean dari mulut kecil sang gadis. "Kita gak jalan-jalan lagi, Kak?"
"Udah dong, nanti kapan-kapan lagi. Kakak ada tugas jadi harus pergi."
Mimi terduduk sambil mengucek-ngucek matanya. "Kakak gak ikut pulang?"
"Nanti ya, kita jalan-jalan lagi. Kakak mau kerja dulu."
"Tapi Kakak nanti pulang 'kan?" Mimi memandangi wajah Ken.
Pria itu hanya memberi senyum dan mencoba duduk. "Kita makan malam dulu ya?"
"Mimi 'kan gak pernah makan malam, Kak."
Ken mengusap kepala gadis kecil itu. "Kamu gak lapar?"
Mimi menggeleng. "Enggak."
Pria itu menghela napas dan berusaha tersenyum. Sebenarnya ia berat meninggalkan gadis kecil itu dan masih ingin bersamanya lebih lama lagi, tapi waktu sudah tidak bisa lagi ditunda. Tugas berikut telah menantinya. Ia mengusap pipi gadis itu dengan lembut.
Ken akhirnya membawa Mimi ke panti asuhan dengan sepeda itu lagi. Ia langsung mengembalikan sepeda itu pada pemiliknya dengan sejumlah uang. Pemiliknya begitu senang sepedanya kembali. Sang pria kemudian mendatangi panti asuhan tempat ia pernah tinggal dengan menggendong Mimi. Ia mengetuk pintu.
__ADS_1
"Kau?" Ryu menatap ke arah pria berpenutup kepala itu. Wajahnya terlihat jelas tapi tampak lebih dewasa dari sebelumnya. Ini pasti Ken di masa datang, ia menebaknya dalam hati.
Seorang anak perempuan kecil dalam gendongan langsung memeluk Ken dan tak mau lepas. "Kakak."
"Kau ... kau menyelamatkan Mimi?" Pak kepala panti segera mengenali gadis kecil itu dan tersenyum lebar.
"Tolong aku, dia dari tadi tak mau lepas. Aku harus menolong 'Ken'," pinta sang pria.
"Oh, ya. Mimi, ayo sini Bapak gendong. Kakak mau pergi sebentar." Pak Ryu mencoba mengambilnya tapi Mimi dengan erat memeluk leher pria itu.
Gadis kecil itu menangis kencang. Bulir-bulir air matanya berjatuhan di pipi mulus gadis kecil itu. "Ngak mau, nanti kakak tinggalin Mimi lagi. Hu ... hu ...."
"Tidak. Tunggulah kamu besar nanti, kamu susul Kakak," ucap Ken lembut.
"Apa? Susul?" Pak Ryu melihat heran pada pria itu dan juga pada Mimi.
Mimi pun berhenti menangis.
"Apa dia bisa menyusulmu?" tanya Pak Ryu masih dalam keterkejutan, bertanya pada Ken.
"Ya, bisa, karena dia adalah miracle(keajaiban)." Pria yang berjaket dan berpenutup kepala itu mengusap pelan kepala bocah perempuan itu sebelum ia menyerahkannya pada Pak Kepala Panti. Ia bergegas pergi dan menghilang di kegelapan.
------------+++---------
Ken makan sendirian di sebuah warung ramen. Ia makan sambil mengingat tingkah Mimi yang menggemaskan. Tak terasa air matanya menetes. Setidaknya satu nyawa telah terselamatkan. Ia kemudian segera menghabiskan minya.
Di panti asuhan, anak-anak begitu senang karena Mimi telah kembali. Apalagi mendengar kabar bahwa Kenlah yang menyelamatkannya. Anak-anak berebut memeluk Mimi karena bahagia.
"Mimi, ya ampun, kau selamat," ucap Nara senang.
"Iya, karena Mimi adalah mira ... mirakul." Gadis kecil itu tidak bisa menyebut 'Miracle'.
"Miracle!" sahut Nara membenarkan.
"Iya, itu."
__ADS_1
"Kenapa tidak sekalian saja, namanya diganti Mira," sela Edo.
Anak-anak yang lain tertawa, tapi Mimi terlihat senang. "Mira ya?"
"Ayo, sekarang namamu diganti Mira saja." Ucapan Edo diiringi tepuk tangan yang lain.
--------+++---------
Di sebuah gang yang sepi, malam masih menyelimuti. Sesekali terdengar suara anjing menggonggong. Ken kembali menutup kepalanya dengan hoodie dan mengeluarkan bola kristal. "Bola kristal. Tunjukkan di mana aku yang sedang pergi ke istana Lord Z."
Seketika bola kristal itu dipenuhi asap putih dan ia melihat dirinya di perjalanan menuju istana Lord Z tapi tak menemukan tempatnya. "Iya, di sini saja, saat Lucille belum datang." Ia kemudian membuat pintu portal dengan jari telunjuknya yang seketika berubah menjadi pintu. Ken membuka pintu itu dan melangkah masuk. Setelah menutup pintu sebentar, ia membuka lagi pintu itu. Lalu terlihatlah suasana hutan yang gelap.
Terdengar sayup-sayup suara berisik yang membuat Ken terpaksa mendatangi tempat itu. Ia melihat dirinya yang dulu tengah berusaha menolak kedatangan Lucille.
"Maaf, aku sudah putuskan. Karena banyak pertimbangan yang sudah aku pikirkan."
Wanita itu terlihat kecewa. "Ken!"
"Aku ...."
"Ikutkan dia bersamamu!"
Semua orang menoleh ke belakang. Seorang pria dengan jaket hoodie(berpenutup kepala) keluar dari dalam hutan. Wajahnya tidak bisa dilihat karena ia berusaha menunduk dan memasukkan kepalanya dalam-dalam pada penutup kepala. Bayangan hutan yang gelap di belakang dengan membelakangi cahaya rembulan juga semakin menutupi wajahnya.
"Kau ... siapa?" tanya Ken yang dulu keheranan.
Ken yang sekarang makin menundukkan kepala kala pria Jepang itu berusaha melihat wajahnya. Ia kemudian mengeluarkan bola kristal dari dalam kantong jaketnya.
"Kamu ... apa kamu pencuri bola kristal yang ketiga itu ya?" tuduh Ken yang dulu.
Tuduhan itu membuat pria itu kesal. "Ck! Aku ...." Sang pria kemudian berdehem sebentar. Ia memperbaiki suaranya. Ia tak boleh ketahuan dirinya dahulu hingga mengubah suaranya menjadi lebih berat. "Aku diutus ibumu untuk membawa bola kristal ini untukmu. Bola kristal ini yang akan membantumu menemukan istana Lord Z, tapi bola kristal ini tidak bisa bekerja sendirian. Ia membutuhkan bola kristal lain untuk menemukan jalan menuju tempat itu."
"Oh ... maaf. Aku tidak ... maaf." Ken yang dulu jadi salah tingkah karena menuduh penolongnya. Ia melirik Lucille dan dengan terpaksa menerimanya.
Lucille tersenyum karena ada yang membelanya. "Terima kasih," katanya pada Ken yang sekarang.
__ADS_1
Gojo mengerut kening. Ia melihat gerakan tubuh pria itu mirip Ken, karena itu ia melirik Ken dengan ekor matanya dan sepertinya pria Jepang itu tak curiga.
"Ini terimalah!" Pria misterius itu memberikan bola kristal itu dengan menyodorkan tangannya. Ia sengaja begitu agar tetap dalam bayangan kegelapan. Ken yang dulu terpaksa maju untuk mengambil bola itu. Setelah itu pria misterius itu pamit.