
Pagi itu saat sarapan, Lucille tak melihat Ken di antara para pelayan yang melayani meja makan, padahal biasanya pria itu selalu ada dan tak pernah absen. Ia memanggil Danzo yang lewat di depannya. "Danzo."
"Iya, Nona." Pria itu sedikit membungkuk.
"Ken, mana? Kenapa dia tak kelihatan? Apa dia sakit?"
"Oh, tidak, Nona. Bukankah Nona yang memintanya untuk bisa menjadi kusir kereta, kemarin? Ia menceritakan hal ini pada Ibu Kepala, dan Ibu Kepala mengirimnya ke istal kuda milik Tuan Donovan. Di sana karena belajar gratis, sebagai gantinya, dia harus membantu mengurus kuda-kuda di istal itu pagi ini."
"Tapi aku tidak menyuruhnya belajar jadi kusir, karena aku pikir dia bisa."
"Sekarang ia belajar untuk menyenangkan Nona."
"Tapi ...." Ada rasa senang karena pria itu memikirkannya sekaligus sedih, karena pria itu tak ada di sana, tapi apa boleh buat, Ken tak ada untuk dihentikan.
Namun Ken sangat senang bekerja di istal kuda itu pagi itu, yang juga cukup membantu pekerja di sana mengerjakan tugasnya. Mulai dari memindahkan jerami, membersihkan kandang kuda, juga membersihkan peralatan kuda yang akan dipakai.
Setelah makan siang dengan para pekerja, ia tidak hanya belajar jadi kusir kereta tapi belajar naik kuda dari para pekerja di sana dengan izin pemilik istal. Tidak butuh waktu lama, ia bisa menguasainya.
------------+++----------
Malam yang kelam tak meninggalkan jejak tentang perjuangan manusia hari itu. Malam yang dingin dan sepi hanya mendengarkan suara burung-burung malam menemani sunyi.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam masuk ke pekarangan rumah itu. Seorang pelayan wanita berlari-lari memasuki dapur yang luas itu. Ia ingin memberitahukan sesuatu sehingga ia mengatur napasnya yang tersengal-sengal, agar bisa bicara dengan lancar. Wanita itu menelan ludahnya lalu bicara. "Tuan Besar sudah datang!"
Seluruh penghuni dapur menoleh dan kemudian riuh. Mereka makin sibuk dengan pekerjaannya dan terburu-buru.
Seorang pria paruh baya turun dari mobil diikuti oleh seorang pria muda di belakangnya. Wajahnya yang dingin dan pucat menoleh ke sekeliling rumah itu. "Coscow ... Coscow!"
Tak lama seekor kucing berbadan gemuk dan berwarna belang kuning dan putih bergegas menghampiri. Pria itu berjongkok sambil meletakkan di ketiak, tongkat pendeknya dan menyodorkan tangannya pada kucing itu. Seketika kucing itu mendekat dan menggosok-gosokkan tubuhnya pada kedua tangan itu.
__ADS_1
Pria itu tersenyum. "Coscow ... apa kau rindu padaku?"
Kucing itu mengeong pelan. Pria itu menggosok-gosok leher kucing itu, membuat binatang itu terasa nyaman. "Ayo kita masuk!" katanya seraya berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia kembali memegang tongkatnya.
Pria itu masuk dengan derap langkah cepat diikuti oleh kucing dan pria muda itu. Pria muda itu terlihat sama pucatnya dengan pria paruh baya itu. Walaupun wajah mereka sama-sama dingin tapi pria muda itu terkesan acuh.
Para pelayan di rumah itu segera membentuk barisan di koridor ketika Tuan Besar itu datang. Pria itu melihat satu-satu pelayannya hingga wajah mereka tertunduk dan tak berani melihat wajah tuannya. Hingga ia melewati pelayan terakhir di ujung yaitu Ibu Kepala Pelayan. Ia mengerut dahi dan kembali pada wanita itu.
Wanita itu seperti tahu apa yang ingin ditanyakan pria itu. "Eh, dia meninggal, Tuan. Eh, tapi sudah ada penggantinya."
Pria paruh baya itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Di mana dia? Kenapa dia tidak hadir?"
"Eh, maaf, Tuan." Wajah Ibu Kepala Pelayan itu mendadak pucat pasi. "Aku mengirimnya untuk belajar jadi kusir, Tuan, karena Nona Lucille protes, dia tak bisa menjalankan kereta kuda, kemarin."
"Mmh." Pria itu menyoroti wajah wanita itu. "Kenapa bisa menerima orang yang tidak bisa bekerja?" ucapnya dengan suara tajam.
Raut wajah wanita itu makin pias. "Eh, maaf, Tuan, tapi orang yang mencarikan pelayan itu bilang, kesulitan mencari pengganti karena sedang kosong. Hanya pria ini saja yang ada tapi belum punya pengalaman kerja." Namun segera ia menambahkan. "Eh, tapi pria penggantinya ini cukup cekatan dalam bekerja, Tuan."
"Eh, baik, Tuan."
Seluruh pelayan membungkukkan tubuhnya hingga kedua pria itu pergi. Mereka bernapas lega ketika keduanya telah berlalu.
Tak lama Ken pulang dengan menumpang kereta kuda milik Tuan Donovan yang kebetulan melewati rumah itu. Ia turun dari kursi kusir dan kemudian berterima kasih pada pria paruh baya itu yang duduk di dalam kereta. "Terima kasih, Tuan, Saya boleh menumpang sampai sini." Pria Jepang itu membungkukkan tubuhnya.
"Oh tidak apa-apa," jawab pria tua itu yang menyentuh jenggot yang putih seperti warna rambutnya. Tangannya yang satu lagi bertumpu pada tongkat kayu berkaki satu. Ia mengangkat topinya yang tinggi seiring kereta berjalan meninggalkan pria Jepang itu.
Ken kemudian berbalik dan mendekati pintu gerbang yang tinggi itu. Penjaga pagar segera mengenali pria itu dan membukakan pagar.
Di dalam rumah, istri pria paruh baya itu menyambut suaminya dengan mendatangi ruang kerja di mana pria itu berada. Ia datang bersama Lucille. "Oh, Edmon. Kau baru datang?" sahut wanita paruh baya itu semringah. Wajahnya masih terlihat cantik di usia yang tak lagi muda. "Kenapa kau di sini? Kenapa kau tak langsung ke kamar saja? Bukankah melelahkan setelah melewati perjalanan panjangmu itu?"
__ADS_1
Pria paruh baya yang duduk di belakang meja kerjanya, hanya melirik sekilas pada wanita di hadapannya, lalu ia kembali acuh sambil mengusap kucing Coscow yang berbaring melingkar di atas meja. "Tidak perlu. Aku banyak kerjaan, jadi mulai malam ini aku tidur di kamar yang terpisah."
"Edmon, aku tidak masalah kalau kamu harus bangun tengah malam ...."
"Eh, ini akan mengganggu tidur nyenyakmu. Lagipula ini sudah keputusanku."
"Edmon ...." Wanita itu terlihat bingung. Pria itu bila berkehendak tak bisa ditolak, tapi kenapa? Kenapa harus pisah kamar? "Ada apa denganmu?" Terlihat dari bola matanya, ia menatap nanar pada suaminya. "Edmon ...." Ada yang berubah dengannya tapi ia tidak tahu ada apa.
Pria paruh baya itu menatap tajam ke arah Lucille tapi hanya sebentar, kemudian kembali acuh. Lucille pun tidak tahu ada apa dengan pria yang menjadi ayahnya itu. Tatapannya tadi begitu menyeramkan seakan ingin mencekik lehernya.
Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu. Ketika pintu dibuka, Ibu Kepala tertegun. "Oh, maaf ...."
"Tidak apa-apa. Masuk saja," ucap pria paruh baya itu dengan santai sementara pria muda yang duduk di sofa, masih saja terlihat acuh.
"Edmon ...." Wanita paruh baya itu masih saja memandangi pria itu.
Ibu Kepala masuk dengan sedikit canggung karena ia datang membawa Ken, tapi ia juga bingung berada di tempat di mana sedang terjadi konflik. Nyonya itu terlihat tegang menatap suaminya.
"Gillian, maaf aku sedang sibuk," ucap pria itu tanpa menoleh dan menyambut kedatangan Ibu Kepala dan Ken.
Ken juga bisa merasakan ketegangan di ruang itu. Apalagi melihat Lucille yang tampak stres.
"Semuanya keluar! Termasuk kau Ivan. Aku ingin bicara dengan suamiku!" Tiba-tiba saja Gillian bicara dengan suara lantang. Ia mengusir semua orang yang ada di sana.
"Gillian, kenapa kau usir anakku?!" teriak Edmon marah.
__________________________________________
__ADS_1