Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Polisi


__ADS_3

"Kau tidak marah 'kan, kalau ibu tidak memberimu pakaian baru?" Ibu menatap Ken yang merapikan rambutnya.


"Mmh?"


"Kau harus memakai pakaian itu agar memudahkan investigasi."


"Eh, iya, Bu." Padahal Ken sudah tak betah ingin berganti pakaian karena ia sudah berhari-hari sejak pesawat itu jatuh, ia belum membersihkan diri dan berganti pakaian. Karena itu, ia ingin buru-buru sampai di tempat tujuan dan menyelesaikan tugasnya hanya agar ia bisa mandi dan berganti pakaian.


"Ingat ya? Jangan panggil aku, 'Ibu'. Panggil 'Yang Mulia' saat keluar nanti."


"Iya."


"Jangan pula cerita ke sembarang orang tentang jati dirimu, mengerti?"


"Iya." Ken yang awam tentang masalah ini, hanya bisa mengiyakan.


Wanita itu mendekati Ken dan meraih kepalanya sambil mengecup kening. "Itu baru anak Ibu."


Ken merasa aneh punya orang tua yang berbanding terbalik dengan yang pernah ia bayangkan. Ayahnya yang lembut yang tak pernah berkata kasar walau dibentak sekali pun, dan ibu yang kadang lembut dan kadang kasar tergantung mood-nya saat berbicara.


Walaupun begitu, ia mensyukuri punya orang tua yang peduli padanya walau mereka di luar espektasi, bukan keluarga normal pada umumnya.


Ken kini naik kuda yang berbeda dari yang dinaiki sang ibu. Walau begitu ibunyalah yang menjalankan kuda miliknya dari samping dengan memegang tali kendalinya.


Jantung Ken berdetak cepat. Ia sedikit gugup akan berhadapan dengan banyak orang dengan skenario yang sudah disepakati.


Benar saja, seperti kata sang dewi bahwa pagi itu sudah ada beberapa orang dari petugas yang telah mulai mencari sisa-sisa mayat serta mencari kemungkinan untuk yang hidup. Kedatangan mereka dari jauh saja sudah menjadi perhatian umum.


Para petugas langsung berkumpul melihat gerombolan pasukan Mongol mendatangi mereka. Tentunya kedatangan itu juga menandai Ken yang berpakaian berbeda. Tentu mereka sudah mengira-ngira tentang apa ini sebenarnya.


Ken berada di depan bersama ibu. Ketika sampai, seorang pengawal maju bersama kudanya dan memberi tahu tentang alasan kedatangan mereka. Ken kemudian diturunkan.


Setelah ia memberi hormat pada ibu, ia mendatangi petugas itu. Para petugas dan Ken kemudian melihat kepergian pasukan Mongol hingga jarak aman, barulah setelah itu mereka mulai sibuk memberi pertanyaan pada pria itu.


"Apa kau benar, satu-satunya yang selamat dari kapal India Air ini?"


"Kenapa kau bisa bertemu Raja Mongol?"


"Kenapa kami tidak bisa menemukanmu?"


"Kenapa kau bisa selamat?"

__ADS_1


Diberondong pertanyaan seperti itu, Ken hanya melongo. Ia tidak tahu, pertanyaan siapa dulu yang harus dijawab. Akhirnya seorang petugas berinisiatif membawa pria itu ke kota untuk diperiksa kesehatannya.


Ken dibawa turun dari bukit itu dan pergi ke kota dengan sebuah mobil.


"Kenalkan namaku Asraf," katanya saat menyetir mobil sambil menyodorkan tangannya dan bersalaman. "Saya dari tim palang merah dan akan membawa Bapak ke rumah sakit untuk diperiksa, tapi aneh juga ya? Bapak seperti tidak terluka sama sekali akibat kecelakaan itu." Pria itu memindai tubuh Ken sekilas.


"Namaku Ken. Aku sendiri heran kenapa aku masih bisa hidup di saat yang lainnya kehilangan nyawa, tapi aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk memberi tahu kalian apa yang terjadi. Aku terluka ringan tapi sempat dirawat oleh Raja itu. Setelah itu, ia membebaskanku."


Mereka kemudian sampai di sebuah rumah sakit besar. Di sana sudah ada beberapa wartawan yang memang sedang mengincar berita. Melihat keadaan Ken dengan baju yang sedikit kumal datang bersama seorang anggota palang merah, mereka penasaran dan mencoba mendekat.


Asraf gampang dikenali sebagai anggota palang merah karena pakaiannya. Ia berusaha menghindar ketika para wartawan itu mendatangi mereka. Para wartawan itu terpaksa melepaskan, karena Asraf dan Ken masuk ke dalam rumah sakit yang dijaga ketat oleh beberapa satpam.


Ken mendapatkan penanganan intensif, diperiksa seluruh tubuh dan rontgen. Setelah dinyatakan sehat ia dibawa lagi ke hotel oleh petugas dari palang merah itu.


"Pak Walikota ingin bertemu dengan Bapak," sahut Asraf.


"Benarkah, tapi aku tidak punya pakaian yang pantas."


"Ok, jangan khawatir. Aku akan membawakannya untuk Bapak. Eh, hotel ini dibayar oleh Pak Walikota dan Bapak juga akan diundang wawancara untuk TV."


"Oh, begitu."


"Eh?" Oya, keluarga. Aku harus bilang apa?


"Bapak tinggal di mana? Mungkin aku bisa menghubungi keluarga Anda."


"Oh, aku hanya seorang anak yatim piatu." Ken memulai kebohongan pertamanya.


"Oh, benarkah? Maaf aku tidak tahu. Oya, pekerjaan Anda?"


"Oh, itu, eh, sedang belajar jadi pebisnis."


"Oh, begitu. Sedang berbisnis apa?"


"Oh, eh." Aku harus jawab apa? Astaga. Tiba-tiba perut Ken berbunyi. "Oh, maaf, aku tidak bisa berpikir karena perutku sedang lapar." Ia mengusap perutnya.


Pria itu tersenyum. "Oh, silahkan pesan saja. Bapak tidak perlu sungkan." Ia memberi Ken buku menu yang ada di dalam kamar hotel itu.


"Terima kasih." Ken mengambil buku menu yang disodorkan.


"Oh, ya. Saya keluar dulu untuk menyiapkan pakaiannya. Sepertinya ukuran Bapak standar ya?" Pria itu kembali memindai tubuh Ken.

__ADS_1


Pria Jepang itu memeriksa tubuhnya. "Ya, begitulah."


"Ok, aku keluar. Tolong kalau ada yang mengetuk pintu, periksa dulu dengan mengintip dari lobang pintu. Kalau bukan aku, jangan dibuka ya?"


"Oh, ya. Terima kasih."


Pria itu pun pergi. Ken kemudian memesan makanan, walaupun belum waktunya makan siang. Aku sudah mulai lapar. Padahal makan siang masih .... Ia menoleh pada jam di atas meja. Setengah jam lagi, hah! Pria itu melepas sweater tanpa lengan yang ia pakai meninggalkan kemeja yang telah kusut dan berdebu.


Sejam kemudian pria itu kembali ketika Ken mulai tertidur sehabis makan siang. " Ini pakaian yang Bapak minta."


"Oh, terima kasih. Aku ingin mandi dari tadi karena sudah berhari-hari tidak mandi." Ken mengucek kelopak matanya.


Pria itu tertawa. "Oya, nanti malam Bapak akan diwawancara televisi dan juga dipertemukan dengan Pak Walikota di tempat yang sama. Nanti sekitar pukul tujuh malam. Lalu, sebentar lagi polisi akan datang ke sini untuk meminta keterangan sekitar kejadian kecelakaan itu."


"Oya? Kalau begitu aku harus buru-buru mandi." Pria Jepang itu bergegas menyambar pakaian yang baru dibawa dan setengah berlari melangkah ke kamar mandi.


Tinggal Asraf yang tersenyum melihat pria Jepang itu yang panik seperti anak kecil lalu pergi ke kamar mandi.


Saat Ken keluar, ia menemukan Asraf tengah berbicara dengan seseorang.


"Oh, dia sudah keluar, Pak. Ini orang yang Saya maksud," ujar Asraf pada kedua polisi itu.


"Oh, siang," sapa salah satu polisi itu.


"Siang," sahut Ken. Ia kemudian memberi keterangan sekitar bagaimana pesawatnya tergulung badai dan ia selamat. Polisi itu tercengang mendengarnya.


"Hebat. Bapak bisa berpikir sampai ke situ, pada saat seperti itu, benar-benar luar biasa, Pak. Saya kira bila saya berada di posisi Bapak, belum tentu saya bisa berpikir sampai sejauh itu, Pak. Bapak benar-benar cerdik," puji salah satu polisi yang pangkatnya lebih tinggi dari temannya.


"Ah, tidak juga," jawab Ken merendah.


"Lalu setelah itu Bapak diselamatkan oleh raja Mongol? Itu kesempatan yang jarang didapat, Pak. Apa saja pembicaraan Bapak dengannya, karena terus terang sulit bisa berada bersama pria itu, karena Beliau sering berpindah-pindah dan sangat sulit didekati. Pak Walikota saja yang ingin bertemu dengannya sampai sekarang masih belum terlaksana."


"Eh, tapi aku pingsan waktu jatuh dalam badai dan bangun dalam keadaan demam. Setelah sembuh mereka segera menyerahkanku pada petugas penyelamat." Ken kembali berbohong.


Sungguh sulit awalnya bagi Ken berbohong, tapi ia harus lakukan. Ini demi melindungi keberadaan Yeti. Dan lagi, ia harus mulai mahir melakukannya karena ke depan ia akan sering melakukan ini guna menyembunyikan identitas diri yang sebenarnya.


___________________________________________


Yuk kepoin yang satu ini.


__ADS_1


__ADS_2