
"Ini?" Ken menunjuk bantal yang ada dekat pintu.
Gadis mengerucutkan mulutnya karena pertanyaan pria itu.
"Oh, iya. He he he." Pria itu mengambil bantal itu dan menyerahkannya pada gadis berambut panjang yang tengah duduk menghadap meja belajar. "Maaf." Namun baru saja ia ingin pamit, perintah lain menyusul.
"Berdiri di sana." Gadis itu menunjuk ke salah satu sudut ruangan.
"Ha?"
"Pergi ... ke sana," rengek Freya yang terlihat hampir menangis.
"Eh, iya, iya, iya." Dibanding mendiamkan perempuan yang sedang menangis, lebih baik memberikan apa yang ia diinginkan. Ken berdiri di sudut ruangan seperti sedang kena hukuman. Ini apa aku sedang dihukum ya? Hahh ....
Gadis itu sibuk dengan tugas sekolahnya. Ia terkadang diam atau ngamuk-ngamuk sendiri karena kesal.
Ken sebenarnya ingin menyambangi penginapan Mira dan memberi tahu kalau ia sudah pindah kerja, tapi entahlah, apa ia masih sempat karena hari sudah malam dan gadis itu mengurungnya di kamar itu.
"Ck, heh!" Gadis itu kembali mengomel sendiri.
Apa aku bantu saja dia biar cepat? "Eh, Nona ...."
"Ck, berisik!" ucap gadis itu tanpa menoleh. Ia sedang fokus dengan apa yang dilihatnya.
Ken berusaha bicara pelan. "Eh, bukan begitu. Maksudku ...."
Gadis cantik bermata indah itu menoleh. "Ck, hihh! Kamu gak tau ya, aku lagi konsentrasi mengerjakan tugas. Susah tau! Ganggu aja." Matanya mendelik dongkol.
"Justru itu eh ...." Pria itu berusaha merangkai kata-kata yang sopan. "Mungkin aku bisa bantu?"
Freya menyorot pria itu dengan kening berkerut. "Ya udah, nih, nih, nih!" Ia menggeser buku tulis, buku cetak dan alat tulis ke arah Ken. "Silakan, Tuan Sok Tahu!" ledeknya.
Pria itu mendekat. Ia memperhatikan tugas sekolah matematika Freya. "Oh, kamu sedang mengerjakan ini?" Ia kemudian mengambil pulpen dan mengerjakannya sambil berdiri. Ken masih ingat karena ia sering membantu anak-anak di panti mengerjakan tugas sekolah. Ia yang memang selalu berprestasi di sekolah, sering mendapat juara umum saat masih sekolah dulu.
Freya hampir tak percaya melihatnya. Tugas sekolah yang paling susah dia kerjakan dari tadi, begitu mudah di kerjakan pria itu, bahkan dengan cepat.
"Tuh, udah." Pria itu meletakkan pulpennya. "Apa aku boleh keluar?"
"Tunggu!" Freya memeriksa buku tugasnya. Walaupun ia tak tahu hasilnya tapi tulisan Ken cukup meyakinkan. Ia menatap pria itu dengan terheran-heran.
"Aku boleh pergi?"
"Eh, belum." Gadis itu mengeluarkan tas dari dekat kaki dan memeriksa isinya. Ia kemudian mengeluarkan beberapa buku lagi dan diserahkan pada pria itu. "Ini kerjakan yang ini sampai sini ya?" Suaranya terdengar lunak dari sebelumnya.
"Mmh?" Pria itu melirik gadis itu. "Kalau bisa, kerjakan sendiri saja, Nona."
__ADS_1
"Ck! Kalau aku suruh kerjakan, ya kerjakan!" Kembali matanya mendelik, sebal.
"Eh, iya, Nona." Ken pun mengerjakan tugas berikutnya.
Kali ini, gadis itu memberikan kursinya pada pria itu. "Kau duduk di sini."
"Oh, terima kasih, Nona." Pria itu duduk dan mengerjakan tugas sedang Freya bergeser ke ranjang.
Gadis itu berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut sambil memperhatikan punggung Ken yang sedang mengerjakan tugas sekolah. Rupanya dia bekas anak pintar di sekolah. Mmh, sungguh beruntungnya aku. Freya tersenyum senang.
Tak lama pria itu menyelesaikan tugasnya. Ia menutup buku-buku itu. "Sudah." Ken menoleh ke belakang dan menyadari gadis itu sudah tidur dengan berselimut.
"Ya sudah, biarkan saja di situ."
"Kau tak ingin memeriksanya, Nona?"
"Tidak perlu. Eh, nanti saja."
"Jadi aku boleh pergi?" tanya pria itu sedikit lega.
"Tunggu sampai aku tidur."
"Apa? Tapi, Nona ...."
"Aku bilang, tunggu sampai aku tidur!" Nada suara gadis belia itu kembali tinggi membuat Ken hanya bisa terdiam duduk di kursi itu.
Ken menggaruk-garuk kepalanya. Heei, kalau begini aku tak bisa ke tempat Mira malam ini. Kembali ia menggaruk-garuk kepalanya. Mira, apa dia sudah tahu, aku sudah pindah ya?
Mira sebenarnya sudah mengetahuinya. Siang hari saat ia mencoba bertandang ke sirkus, ia melihat Lucille dan Bill sedang terlibat pembicaraan dengan 2 orang pria.
Ketika ia menanyakan tentang Ken pada orang-orang sirkus, mereka kemudian menceritakan tentang apa yang terjadi semalam. Kemudian setelah pulang, ia memeriksa keadaan Ken lewat bola kristalnya. Ia bersyukur Ken selamat.
"Nona."
"Mmh."
Pria itu menghela napas pelan. Karena Freya tidur membelakanginya, ia hanya tahu gadis itu sudah tertidur atau tidak dengan memanggilnya. Setiap beberapa saat ia melakukan itu dan gadis itu belum tidur juga. Sepertinya sudah terlalu malam untuk ia bisa mengunjungi Mira.
"Nona, apa kau selalu susah tidur begini? Bagaimana dengan bangun pagimu? Tidak susah 'kan?"
Hening. Ken memberanikan diri untuk mendatangi gadis itu. Ia mengintip dari samping ranjang. Gadis itu ternyata sudah tertidur pulas. Suara dengkurannya yang halus kini terdengar oleh pria itu.
Ah, akhirnya .... Namun Ken tak punya pilihan lain selain kembali ke kamarnya.
----------+++--------
__ADS_1
Gadis itu terkejut saat membuka pintu. Pria itu sudah ada di depan pintu kamarnya.
"Pagi, Nona," sambut Ken.
Gadis itu hanya mengerutkan kening sambil sibuk merapikan isi tasnya.
"Sini aku bantu, Nona."
Freya begitu saja memberikan tasnya pada Ken dan kembali ke dalam. Rupanya ia belum memakai sepatu.
Ken merapikan isi tas gadis itu dan ikut masuk ke dalam. Ia memeriksa meja belajar, memastikan tidak ada yang tertinggal. Freya melirik tingkah laku pria itu seraya memakai sepatu.
"Tidak ada yang ketinggalan 'kan?" tanya Ken pada gadis itu.
"Sepertinya tidak."
Pria itu menutup tas gadis itu dan menyandangnya. Ia mengikuti gadis itu turun ke bawah.
Di bawah, Freya hanya melewati meja makan di mana Don makan sendirian. "Berangkat dulu, Papa."
"Oya, hati-hati ya?" Pria itu menyeruput kopinya.
"Nona tidak sarapan?"
Kata-kata Ken membuat gadis itu terhenti dalam gegas dan berbalik dengan memperlihatkan wajah kesalnya.
"Kasihan 'kan, ayahmu makan sendirian."
Don yang masih menyeruput kopinya kini jadi sorotan keduanya. Ia menunggu. Ternyata Freya melangkah ke meja makan dan menarik kursi di hadapan.
Don tentu saja terkejut. Freya yang begitu keras kepala tidak pernah mau sarapan pagi karena selalu bangun terlambat, ternyata mau meluangkan waktu untuk sarapan bersamanya. Ia begitu senang.
"Nona, aku tunggu di luar ya?"
"Iya," jawab gadis itu sambil mengambil sepotong roti.
Ken kemudian melangkah keluar. Setelah beberapa saat, Freya keluar dengan gegas. Ia melempar sesuatu ke arah Ken. "Ayo berangkat!"
Pria itu memeriksanya. Sebuah kunci mobil. Gadis itu menunggu di samping mobil yang sudah terparkir di depan pintu.
"Eh, maaf, Nona, tapi aku tak bisa menyetir mobil," ucap pria itu dengan sedikit malu.
"Apa?" Satu alis gadis itu meninggi. "Hah!" Ia mengambil kembali kunci mobil itu dan melangkah mengitari mobil. Ia membuka pintu dengan remot. "Ayo!" Gadis itu segera masuk.
Ken melongo. Apa? Dia menyetir?
__ADS_1
"Ayo cepat!" teriak Freya dari dalam mobil.