Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Serigala


__ADS_3

"Mira."


Gadis itu menoleh. Seorang wanita cantik yang amat dikenalnya, datang menyambangi.


"Mami?"


"Ayo kita pulang. Ken ada kerjaan yang harus dia kerjakan."


"Aku menyusul, Mami?"


"Nanti berkumpul di tempat lain setelah dia mendapatkan barangnya."


"Barang apa, Mami?"


Dewi Sri tersenyum. "Kau bersiap saja." Ia mengulurkan tangan hingga gadis itu mendekat. "Ayo!"


Wanita itu ternyata sudah berada di sebuah pintu dengan pemandangan yang tidak jelas di dalamnya. Mira ikut masuk ke dalam pintu itu bersama sang wanita. Setelah pintu ditutup, pintu itu pun menghilang.


Pria gemuk itu melihatnya dengan melongo. Ia mengucek-ngucek mata memastikan apa yang dilihatnya.


Pertama, ia melihat sang pria jatuh ke dalam retakan jalan dan menghilang entah ke mana. Lalu sang gadis membiarkan pria itu jatuh dan tak terlihat panik. Hanya bingung. Lalu gadis itu kemudian dijemput seorang wanita cantik lewat pintu yang bisa datang dan menghilang begitu saja.


Apakah matanya lelah? Atau ia butuh istirahat karena saking kerasnya ia bekerja hari ini hingga halusinasinya tinggi. Pria bule itu akhirnya pergi dari situ dan berniat pulang lalu pergi tidur.


Di lain pihak, Ken masih meluncur turun walaupun sudah beberapa menit berlalu. Aku akan ke mana? Inti bumi atau ... Apa aku bisa mengambil alih?

__ADS_1


Ia kemudian berkonsentrasi. Seketika sekelilingnya berubah menjadi warna pelangi. Apa aku akan berpindah dimensi lagi? Aku lelah berpindah-pindah. Aku ingin bertemu Yumi dan menyelamatkannya. Tolong aku. Bantu aku bagaimana caranya!


Seketika sekelilingnya berubah menjadi badai. Ia berada di tengah-tengah badai. Ia di bawa ke suatu tempat yang ia tidak tahu di mana. Tiba-tiba dirinya kini diliputi badai sehingga pakaian dan rambutnya tertarik badai itu, membuat Ken harus menutup mata agar tak masuk debu. "Ah ...."


Tak lama ia merasa mendarat di suatu tempat. Tempat yang empuk. Ia membuka matanya dan ia berada di atas rumput. Ya, di atas rumput ilalang yang cukup tinggi.


Pria itu berdiri. Kini ia berada di sebuah tanah rumput yang luas. Langit gelap. Hanya cahaya rembulan yang membantunya melihat sekeliling. Aku kini ada di mana? Aku hanya sendiri?


Ya, Ken berada sendirian di padang rumput yang luas itu. Ke manapun matanya memandang, hanya ada padang rumput di bawah sinar rembulan. Sekarang, ke mana ia harus melangkah?


Udara lembut berhembus malam itu walaupun sedikit dingin. Berarti saat itu adalah musim panas. Melihat pakaian yang kini dipakainya, ia kini berada di zaman dahulu zaman keemasan kerajaan Eropa, tapi kenapa ia sendirian? Ke mana yang lainnya? Ke mana rumah-rumah penduduk? Apa ia harus mencarinya?


Setelah melihat sekeliling, Ken melihat hutan di kejauhan. Mungkin ia harus mulai dari sana dulu. Ia pun mulai turun dari bukit yang landai. Semakin dekat, hutan itu semakin besar.


Semakin dekat ia melihat suatu keanehan. Ada sebuah cahaya kecil ia lihat dari dalam hutan. Lama kelamaan cahaya itu terlihat banyak dan langkahnya terhenti. Tak mungkin ada kunang-kunang di dalam hutan, 'kan? Jadi yang ia lihat itu sebenarnya adalah ....


Sesuatu bergerak di dalam hutan secara bersamaan dan mereka muncul dari dalam hutan, keluar mendatangi Ken. Mereka adalah sekumpulan serigala!


Pria itu terkejut dan melongo tanpa suara. Apa yang harus dilakukannya sekarang ... wajah-wajah binatang itu tidak bersahabat, jadi lebih baik ... lari!


Ken memutar balik tubuhnya dan berlari. Berlari sekencang yang ia bisa. Dilihatnya lagi ke belakang, binatang-binatang itu mengejarnya. Ada apa ini ... mereka mengejarku. Kenapa mereka mengejarku? Apa aku terlihat seperti santapan makan malam untuknya? Ah, sial!


Ken terus berlari. Berlari sekencang-kencangnya dengan dahi yang mulai mengucurkan keringat. Kenapa jadi begini? Apa tidak ada yang bisa menolongku? Ah, siapakah yang bisa menolongku ini, tolong!


Sang pria kemudian memilih arah yang berbeda, berharap bertemu seseorang yang bisa membantunya tapi ia malah menemukan sebuah pantai. Ada sesuatu yang berkilau di pantai yang menarik perhatiannya.

__ADS_1


Kawanan serigala itu semakin dekat. Ken menyemangati dirinya agar cepat sampai ke pantai, padahal ia tidak tahu benda apa yang ada di sana. Mengetahui keadaan pantai yang tenang, ia nekat mendekati benda itu. Setidaknya walau benda itu tak berguna, ia bisa berada di dalam laut karena pasti binatang itu tak berani masuk.


Dengan berbekal pengetahuan itu, pria itu mendatangi pantai. Semakin dekat benda berkilau itu semakin kelihatan. Apalagi cahaya rembulan membuat ia lambat laun bisa melihat benda itu. Sebuah pedang. Hei, kenapa ada pedang tertancap di dalam air?Aneh! Siapa yang meninggalkannya di sana?


Ken mendekat dengan masuk ke dalam air. Ditariknya pedang yang tertancap itu dari air yang dangkal. Ada sebuah tanaman yang tumbuh dan berbunga di samping pedang itu. Setidaknya aku bisa melawan mereka satu per satu hingga tak ada yang berani mendekatiku lagi, pikir Ken.


Kini ia siap menghadapi gerombolan serigala. Napasnya terengah-engah dengan pedang di tangan. Ia menaikkan pedang itu, siap menebas serigala manapun yang berani mendekat. Dilihatnya serigala-serigala itu sudah mengelilinginya, tapi di luar dugaan mereka berani masuk ke dalam air.


Sial, binatang itu berani masuk ke dalam air, ternyata. Tapi mereka takut pada pedangku ini 'kan? Namun Ken terkejut, karena setelah dilihat dari dekat jumlah mereka banyak sekali. Mungkin ada sekitar 50 ekor.


Bagaimana ini? Kalau aku menyakiti salah satu dari mereka, yang lain pasti tidak akan tinggal diam, jadi aku harus bagaimana? Aku tak mungkin melawan mereka semua, karena mereka terlalu banyak dan lambat laun mereka pasti bisa mengalahkanku juga. Hah, sial! Benar-benar hari yang sial!


Ken hanya memegangi pedang itu saja dan berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mengurus ini semua. Ia bingung karena tubuhnya sudah letih berlari dan ia sendirian. Harus ada satu cara agar semua ini bisa terselesaikan.


Ia kemudian mencoba rileks sambil terus menjaga jarak. Binatang-binatang itu terlihat liar dan buas, sedang menunggu kesempatan untuk mendapatkan Ken. Ia mencoba berpikir, kapan terakhir kali ia bertemu dengan binatang buas dan bagaimana menanggulanginya.


Ah, betul! Bukankah Mira pernah mengajarinya cara menaklukkan binatang buas? Dulu dengan ... ah, pokoknya pasti bisa.


Ken meluruskan tangannya ke arah serigala-serigala itu. "Masuk!" Seketika, entah bagaimana caranya, binatang-binatang itu tersedot masuk ke dalam tangannya sekaligus. Ken mengarahkannya ke segala penjuru di mana serigala-serigala itu berada. Dalam waktu singkat, binatang-binatang itu telah masuk ke dalam tangannya tak tersisa. Kini, ia benar-benar sendirian berada di tempat itu.


Seketika ia jatuh terduduk di pasir pantai itu dan menghela napas panjang. "Ah, kenapa tidak dari tadi, uh!" keluhnya kesal.


__________________________________________


__ADS_1


__ADS_2