
Ken diundang makan malam khusus laki-laki di sebuah ruangan yang merupakan ruang kerja Raja. Di sana, Raja, Ejiro, Ken dan Pangeran Siau Yang makan malam sambil mengobrol bersama. Dengan meja kecil di hadapan masing-masing, Raja duduk di tengah, di kiri Siau Yang, di kanan Ejiro dan Ken di sampingnya. Mereka duduk di lantai dengan bersila.
Raja tertawa. "Jadi kau lebih dekat dengan Mi La ya, dibanding Ejiro?" tanyanya pada Ken. Ia menyuap lauk dengan sumpitnya pelan.
"Ya, karena kami dibesarkan bersama. Mi La bahkan sedang bersamaku saat Ejiro memberi tahu berita tentang pertunangan ini dan membawanya pergi," terang Ken lagi.
"Oh, kalian tinggal bersama?"
Baru saja, pria Jepang itu ingin bicara, Ejiro langsung memotongnya. "Oh, tidak. Mi La kebetulan sedang main ke rumah kawannya dan bertemu Ken di sana. Mi La dulu ditemukan di panti asuhan. Aku memang saudara tirinya, tapi Ken, dia hanya kakak sewaktu di panti asuhan saja." Kakak Mira berusaha membuat nama baik adiknya tetap terjaga dengan berbicara seperti itu.
"Tapi katanya, dibesarkan bersama. Apa benar begitu? Berarti sampai remaja begitu 'kan?" Raja itu bertanya pada Ken.
Tentu saja, Ejiro kembali merengut. Ia yang bicara tapi Ken yang ditanyai membuat pria berambut pendek itu tersenyum seraya melirik Kakak Mira itu.
"Eh, benar. Ejiro baru beberapa tahun belakangan ini mengenal adiknya dan membawanya tinggal bersama." Ken pun juga berusaha untuk netral. Ia tidak ingin menjatuhkan nama baik mantan samurai itu, sebab biar bagaimanapun, Ejiro adalah kakak Mira.
"Mmh, beruntung sekali Mi La ya, punya orang-orang di sekelilingnya yang begitu memperhatikannya. Semoga pernikahannya berjalan lancar." Raja itu mengangkat cangkir tehnya.
"Iya ... aku sebagai calon suaminya merasa sangat beruntung karena dijodohkan dengan seorang wanita cantik dan berkenalan dengan kakak-kakaknya yang baik ini. Ayo kita bersulang," sahut pangeran yang juga mengangkat cangkir tehnya ke atas. Ejiro dan Ken mengikuti, lalu meminumnya bersama.
Seusai makan malam, kakak tiri Mira mengajak Ken bicara di kamarnya. Pria Jepang itu langsung menyetujui. Dengan melewati koridor panjang, akhirnya mereka sampai di kamar Ejiro. Begitu masuk, mantan samurai itu langsung menutup pintu. Ia menarik kerah baju kimono Ken dengan kasar dan mendorong pria itu ke dinding.
Ken berusaha tenang. "Kenapa kau begitu marah padaku, Kak?"
"Siapa yang mau menjadi Kakakmu, heh!" bentak Ejiro geram. "Aku sudah menjelaskan padamu berulang kali, jauhi Mira!"
"Oh, karena itukah kau segera menikahkannya? Dia tak kenal siapa pangeran itu, kenapa kau tega menikahkan Mira pada laki-laki itu?" protes Ken pelan.
"Apa urusanmu! Mira adalah adikku, jadi kau tak perlu ikut campur!" Darah Ejiro serasa mendidih setiap kali bicara dengan lelaki itu kini.
__ADS_1
"Justru karena kau kakaknya, kau harus bertanya padanya sebelum menikahkannya. Mira sepertinya tidak menyukai pria itu," terang Ken.
"Aku bilang, bukan urusanmu! Kau hanya seorang teman yang kebetulan dekat bukan berarti bisa mengaturku! Kau sama sekali orang lain baginya."
"Itu benar tapi kau juga sama sepertiku. Kau bukan Mira. Hanya dia yang bisa menentukan pilihan hidupnya." Pria Jepang itu berusaha memberi pengertian.
"Dengan bersamamu? Heh!" Pria berambut panjang itu mencemooh. "Aku takkan biarkan hidup adikku dihabiskan luntang-lantung tak karuan di sisa hidupnya. Dia harus bahagia."
"Tapi aku lihat, dia tidak bahagia saat ini. Apa yang dimaksud bahagia bagimu? Dengan melihatnya menikah? Bagaimana kalau ...." Belum selesai Ken bicara, mantan samurai itu mencengkram lehernya, kuat-kuat. Ejiro menatap pria Jepang itu dengan tajam.
"Agh!" Ken hanya berusaha agar ia tidak tercekik dengan memegangi tangan pria itu.
"Jangan pernah mencoba mempengaruhiku, sebab aku benci omong kosongmu! Aku lebih senang kau pergi dari tempat ini sebelum pernikahan Mira besok! Atau kalau kau tetap memaksa bertahan, jangan pernah berpikir bisa mengacaukan pernikahan ini atau kau akan berhadapan denganku! Mengerti?" Mantan samurai itu berusaha mengendalikan emosinya dengan tidak berteriak kencang, karena takut terdengar hingga keluar kamar.
"Hagh ... hagh!" Ken tak bisa bicara karena batang lehernya masih dicengkeram pria itu.
Ejiro segera melepaskannya dan menarik kasar sang pria Jepang ke arah pintu. Ken akhirnya keluar dengan sedikit didorong. Ia tidak marah dan hanya merapikan bajunya saja. Biar bagaimanapun ia harus bisa dekat dengan mantan samurai itu bila ingin bersama Mira. Ejiro juga temannya walau ia tak mengerti, kenapa belakangan ini pria itu melarangnya dekat dengan adiknya.
Setelah meminta izin pada dayang yang berada di sana, pangeran itu masuk. Mira yang duduk di atas sebuah bantal empuk di lantai, telah menunggu pria itu ditemani binatang peliharaannya yang baru, seekor anjing dari Ken.
"Mi La, apa kau suka anjing itu?" sahut Siau Yang saat duduk di hadapan wanita muda itu. "Kalau tahu kau suka peliharaan seperti itu, aku pasti membelikannya lebih dulu dari pada kakak angkatmu itu, Ken." Siau Yang menatap anjing yang berukuran besar itu dengan tersenyum, tapi anjing itu malah menggonggong keras membuat pria itu terkejut dan mundur ke belakang.
"Gojo, jangan begitu," omel Mira pada anjing itu. Seketika sang anjing diam.
"Oh, dia sudah mengenal tuannya. Anjing yang pintar." Namun tak ayal membuat pangeran itu takut mendekat.
"Ada apa ya, Kak, malam-malam datang ke sini?"
"Eh, begini, Sayang. Sebelum menikah, aku ingin kau memilih pakaian dan perhiasan yang akan kau kenakan dan aku serahkan semuanya padamu. Aku hanya mengikuti kemauanmu saja, Sayang. Seandainya kau suka dengan seluruh perhiasan yang dibawa, aku pun tidak masalah. Kau boleh mengambil semuanya." Pria itu kemudian menyuruh seorang pelayan membawakan ke hadapan Mira, barang-barang yang tengah dibawa para pengawalnya.
__ADS_1
Anjing itu menoleh ke jendela. Ia bisa mencium bau seseorang yang dikenalnya di jendela, tapi ia tak sendiri. Ya, benar ada Ken di jendela. Ia berhasil mendekati tempat tinggal Mira yang dijaga ketat oleh beberapa pengawal di depannya.
Ketika pria itu mengendap-endap akan mengintip dari jendela, sebuah tangan menarik kerah kimononya ke belakang. "Ah ...."
Terlihat wajah Ejiro di atasnya dengan raut masam. "Kau ini ... Sudah kubilang berkali-kali jangan dekati Mira, kau masih saja bandel ya?" bisiknya geram.
"Eh, dengar dulu. Aku tidak mendekati. Aku hanya mengintip apa yang terjadi," kilah Ken.
"Dan aku tak mau dengar alasanmu, mengerti?" Mantan samurai itu menyeret sang pria Jepang menjauh dari tempat itu. "Kembali ke kamarmu atau kuusir kau sekarang juga," omel Ejiro.
Ken terpaksa mengikuti ke mana ia dibawa. Ia diseret kembali ke kamar. Pria itu kemudian hanya bisa berbaring di ranjang. Ia sedang memikirkan cara agar bisa berbicara berdua saja dengan Mira.
------------+++-----------
Pagi itu, Mira tengah didandani dengan cantik di kamarnya, tapi wajahnya tampak sedih. Ia banyak diam saat didandani para dayang istana. Namun tampaknya ia sudah tidak tahan. Bulir-bulir air matanya hendak berguguran, hingga ia pergi ke arah jendela.
"Nona, kami belum selesai meriasmu," sahut salah satu dayang memberi tahu.
"Tolong, aku ingin sendiri. Beri aku waktu sebentar untuk bernapas," ucap Mira memandangi jendela terbuka yang hanya ditutupi gorden tipis.
Para dayang akhirnya undur diri. Mereka semua pergi keluar dan menunggu perintah dari wanita itu lagi. Mira terkejut ketika seseorang menyingkap gorden itu ke samping. Muncul seorang pria dari samping jendela.
"Kak Ken?" Wanita itu buru-buru menghapus air matanya dan menghindar, tapi dengan sigap tangan Ken meraih lengannya.
"Mira, tunggu!"
_________________________________________
__ADS_1
Visual Mira dengan baju pengantinnya. Salam, ingflora💋