
Kakek tua pengemis itu memperhatikan pertarungan itu dari jauh dan tersenyum. Ia merasa sudah menemukan apa yang diinginkannya.
Pertarungan berlangsung alot. Yang satu bertahan dengan berbagai cara dan yang satunya lagi berusaha dengan berbagai cara untuk menaklukkannya. Ken walaupun sudah berusaha, tak ayal harus merasakan lebam di beberapa bagian tubuhnya, hanya tak terlihat karena tertutup pakaian. Sedang pria Cina itu, sangat penasaran karena belum sanggup menjatuhkan Ken sedari tadi. Padahal tubuh pria Jepang itu sudah mulai kelelahan dan kesakitan.
Pria Cina itu kini memutar-mutar pita berbandul besi itu dan mulai menyerang Ken. Ia menyerang titik-titik mematikan pria Jepang itu yaitu di leher, dada dan pinggang.
Namun Ken dengan cerdik menyodorkan pedangnya pada baling-baling pita itu hingga langsung terputus seketika. Bukan itu saja. Bandul besi yang terbang lepas, dipantulkannya lewat bilah pedang ke arah pria Cina itu. Karuan saja, senjata makan tuan membuat pria itu mengumpat keras. "Ah, setan! Sialan!"
Kemudian pria Cina itu main curang. Ia menyuruh kedua pengawalnya menyerang Ken sementara ia sendiri juga menyerang pria itu dari depan. Jadilah pria Jepang itu kerepotan karena diserang dari 3 arah. "Ah! Hiah!"
Walau yang menonton tak suka dengan pria sombong itu, tapi tak ada yang berani melawannya. Mereka hanya sanggup menonton dan berharap Ken menang.
Pria Jepang itu berjuang mati-matian sendirian, di mana ia diserang kanan kiri dengan pedang dan di depan oleh pria kaya itu. Napasnya tersengal-sengal dan mulai sulit fokus hingga beberapa kali ia kembali kena pukul pita pria Cina itu hingga akhirnya tangan itu kembali terbelit pita lawan. Hanya bedanya, kali ini kedua tangannya terbelenggu oleh pita itu.
Pria itu tertawa terkekeh. Ken masih mengatur napasnya yang mulai tak beraturan.
"Bodoh!" Kembali pria itu mentertawakannya. "Sudah tamat riwayatmu, karena terlalu ikut campur urusanku dan sekarang ... aku malas melihatmu hidup. Jadi terimalah kematianmu ...," ejeknya. Kembali ia tertawa.
Wanita itu ketakutan. Pria yang akan menolongnya kini akan dibunuh oleh pria Cina itu. "Aku mohon. Jangan bunuh dia, tolong!" teriaknya. Ia kembali menyatukan tangan meminta pengampunan pada orang kaya itu.
"Sudah terlambat, karena dia sudah membuatku muak padanya!" Pria Cina itu kemudian memerintahkan pengawalnya mengeksekusi Ken.
Pedang terayun ke arah pria Jepang yang sudah sangat kelelahan itu, ketika tiba-tiba dua buah batu kecil terbang memukul mundur pedang yang ingin mengeksekusi pria Jepang itu. Pengawal pria kaya itu bahkan harus mundur karena saking kuatnya pukulan batu itu.
Seorang pria tua meloncat ke dalam tempat pertikaian itu membuat keduanya, Ken dan pria Cina itu terkejut melihatnya. Lebih terkejut lagi ketika pria tua itu melepas rambut dan jenggot palsunya. Rambut pria itu masih hitam dan belum tua.
"Kakek?" sahut Ken heran.
"Suhu?"
Ken dan pria Cina itu saking menatap heran.
__ADS_1
"Ka-kek?" eja pria Cina itu heran.
"Su-hu?"
Pria berbaju lusuh itu memotong pita yang mengikat tangan pria Jepang itu dengan benang yang berasal dari kepompong ulat sutra yang di pegangnya.
"Suhu, kau berhasil mempelajari ilmu ulat sutera itu?" tanya pria Cina yang sombong itu senang. Akhirnya ia akan mempelajari, satu lagi ilmu bela diri tingkat tinggi dari gurunya itu.
"Lian Zhi, kau benar-benar keterlaluan. Aku mengajarimu ilmu bela diri karena kau anak Lian Luo, pria yang mengabdi untuk negri ini. Kenapa kau khianati aku dan ayahmu seperti ini?"
Pria kaya itu terbata-bata. "A-aku hanya ... dia yang memulai!" tunjuknya pada Ken.
"Aku sudah melihatnya dari tadi di ujung sana." Pria tua itu menunjuk tempat ia bertemu dengan pria Jepang itu. "Dan aku menyesal mengangkatmu sebagai murid. Kalau begitu aku akan memusnahkan ilmumu. Tak ada gunanya ilmu bela diri itu bagimu, sebab aku melihat sendiri kau menggunakannya untuk kejahatan."
Sehabis bicara begitu, ia bersiap dengan jurus di tangan, tapi pria kaya itu tak mau kalah. Daripada menanggung malu, pria sombong itu menyerang gurunya sendiri dengan pisau.
Dengan sigap pria berbaju lusuh itu menghindar dari beberapa kali serangan, dan kemudian meraih tangan yang masih memegang pisau itu, lalu membelokkannya ke arah pemiliknya sendiri hingga pisau itu menancap tepat ke dada pria Cina itu.
Pria kaya itu syok dengan wajah tak percaya, guru itu malah sanggup membunuhnya. Padahal guru itu dan ayahnya, berteman akrab. Bahkan pria berpakaian lusuh itu berusaha memastikan pria muda itu mati dengan menekan tusukan pisau itu lebih dalam lagi.
"Dan kau anak muda." Pria itu itu menoleh ke arah Ken yang masih melongo memperhatikan kematian pria Cina yang tragis itu.
Ken menatap ke arah pria itu tanpa bisa berkata apa-apa. Ia masih syok, kakek tua itu ternyata tak buta, tidak tua bahkan juga guru dari pria yang berkelahi dengannya. Namun kenapa pria itu malah membunuh muridnya sendiri?
"Kau harus mempertanggungjawabkan semua ini dengan ikut denganku sekarang."
"A-apa?"
Ken yang masih bengong dan kelelahan, dilempar kepompong yang kemudian mengitari tubuhnya berkali-kali, lalu kemudian berhenti dan menempel di pinggang.
"Apa ini?" Pria Jepang itu berusaha mengambilnya, tapi tubuhnya tak bisa di gerakkan. Ternyata ada benang yang sangat halus yang kini mengikat tangan pada pinggangnya. "Ah!"
__ADS_1
Pria itu menyenggol tangan Ken yang masih memegang pedang dan pedang itu terjatuh. Ia tersenyum lebar.
"Kek, kenapa kau mengikatku?" Pria berambut pendek itu menggerakkan tubuhnya, tapi ia malah kesakitan. "Ahh!"
"Semakin kau gerakkan, semakin benang itu menyakitimu. Aku membudidayakan kepompong khusus yang membuat benang yang belum pernah ada di dunia. Benang itu akan menyakitimu bila kau menentangnya."
"A-apa?" Wajah Ken terlihat nanar menatap pria itu dan tubuhnya. Benang gila apa ini?
Pria berpakaian lusuh itu kemudian mendekat dan memanggulnya.
"Ah, Kek, tunggu."
"Aku belumlah tua."
"Eh, Pak ...." Belum selesai Ken bicara, pria itu sudah melompat ke atas atap dan berpindah lagi ke atap yang lainnya seperti monyet. Dengan lincahnya ia berpindah-pindah sambil berlari.
Pada saat itu, Ejiro yang datang dengan memacu kuda, melihat seorang pria memanggul seseorang di bahu, meloncat dari satu atap ke atap yang lainnya. Ia mengenali pria yang dipanggul itu, dari rambut dan pakaian yang dipakainya dari jauh. "Kennn!"
Pria berambut pendek itu menoleh. "Ejiroo ... tolong akuu!"
Pria bercodet itu kembali memacu kudanya mengejar pria yang membawa Ken itu. Gerakan pria berpakaian lusuh itu sangat lincah karena mempunyai ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang hampir sempurna. Karena saat berada di atas, ia dengan mudah berpindah-pindah dengan loncatan yang cukup jauh, dan tak pernah jatuh saat berpijak di manapun. Bahkan pinggiran atap yang miring sekalipun. Tubuhnya seakan selembar daun yang melayang di atas atap.
"Pak, Bapak akan bawa aku ke mana?" tanya pria berambut pendek itu kebingungan.
Pria itu tak menjawab. Ken yang kembali berusaha membebaskan diri dari benang ulat sutra itu kembali kesakitan. "Agh!"
"Sudah kubilang, jangan melawannya," terang pria itu lagi.
Ken terpaksa pasrah. Tubuhnya yang lelah dan babak belur telah membuat dirinya lemah. "Pak ... Bapak mau apa denganku," gumamnya.
Pria itu masih meloncat-loncat di atas atap bahkan balkon lantai atas. Ia bergerak menuju hutan. Ejiro yang tertinggal jauh karena tersesat masuk daerah pemukiman sempit, kehilangan jejak pria itu dan Ken. Ia menghentikan kuda dan mengepalkan tangannya karena geram. "Hhh!"
__ADS_1
__________________________________________