Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Duka Permaisuri


__ADS_3

"Eh ... biarkan dia masuk," ucap Ken ragu-ragu. Siapa yang jadi permaisuriku? Eh, rasanya Mira ikut denganku waktu pindah dimensi. Ya, aku merasa masih menggenggam tangannya saat itu. Itu berarti dia pasti ikut ke sini. Lalu, apakah permaisuriku itu, Mira?


Seorang wanita masuk terlihat dari bayangan kain penutup pintu, dengan pakaian kerajaan yang sedikit panjang. Ketika kain penutup itu disibakkan ke samping, barulah terlihat sosok permaisuri yang cantik jelita. Sayang, Ken tak mengenalnya padahal wajahnya terlihat begitu sedih tertunduk saat masuk ke dalam ruangan itu. Wanita itu kemudian duduk bersimpuh di lantai. "Baginda, apa salah dan dosaku, sudah seminggu ini Baginda tidak lagi mengunjungiku di tempat kediamanku."


"Eh, aku," gumam pria itu. Lah, aku mana tahu? Ken melirik wanita itu. Sang wanita berparas sangat cantik, pria itu tidak memungkirinya, tapi soal hati, itu tetap untuk Mira seorang.


Wanita itu mengangkat pandangan. "Baginda, apa engkau punya selir baru?"


Apalagi ini, pria itu sama sekali tidak tahu. Melihat wajah sedih wanita itu saja, ia iba, tapi ia tidak tahu bagaimana cara menyenangkan hati wanita itu kembali. Tiba-tiba sang wanita berdiri dan bergerak maju membuat Ken panik. Ia mendatangi pria itu. "Baginda ...."


Sang wanita mendatangi punggung pria itu dan berdiri di antara kedua lututnya. Ia mencoba memijit bahu Ken. Mendadak pria itu merasa ngeri tapi ia tak berdaya karena wanita itu istrinya.


"Baginda, apa kau sudah tidak ingin tidur lagi denganku?"


Seketika jantung pria itu serasa berhenti berdetak. Lalu kini ia harus bagaimana? Sulit rasanya memutar kepalanya ke belakang padahal wanita itu tengah memijit bahunya dengan lembut. Ia hanya ingat Mira saat itu. Ingat Mira. Menjadi raja dan memiliki istri saja sudah seperti sebuah penghianatan baginya, apalagi kalau sampai wanita tercintanya itu melihat semuanya.


Ken menepis pijatan di bahunya dengan pindah ke samping. "Eh, maaf. Aku sedang banyak pikiran dan pikiran itu butuh konsentrasi sehingga aku ingin menyendiri dulu. Tolong, jangan ganggu aku untuk sementara waktu."


Seketika tubuh wanita itu lemas mendengar ucapan Ken. Ia tertunduk lesu. Harapannya untuk mengajak suaminya ke tempat kediamannya, musnah sudah. Ia bisa merasakan raja berusaha menghindar darinya.


"Eh, bukan karena kau tak menarik." Ucapan pria itu membuat sang permaisuri melirik padanya. Seketika Ken kesulitan menelan ludahnya sendiri. Ya ampun, aku harus bicara apa ini padanya? Siapakah ... ada yang bisa menolongku?


"Benarkah? Apa Baginda akan datang mengunjungiku setelah semuanya selesai?"


"... mmh," jawab pria itu pelan karena berat.


Langsung terbit senyum di bibir tipis wanita itu "Terima kasih, Baginda. Dinda akan menunggu Kakanda datang ke tempatku." Ia memberi kedipan genitnya, membuat Ken mati kutu. Kali ini bisa lolos, tapi selanjutnya?


Wanita itu kembali mendekatinya membuat pria itu kembali mundur, tapi ternyata ia hanya merapatkan kerah baju kimono suaminya. "Sayang, jaga kesehatan ya, Bagindaku Sayang." Ia tersenyum dan mengecup kening Ken.


Pria itu masih saja kesulitan menelan ludahnya sendiri. Bukan apa-apa. Bentuk tubuh sintal wanita itu sangat menggiurkan. Walaupun tidak mencintainya, ia hanya manusia normal hingga takut tergoda.

__ADS_1


Apalagi dia telah membuat janji manis pada permaisuri. Rasa bersalah karena telah membohonginya tidak begitu saja hilang dari benaknya. Ia mengutuk raja sebelumnya yang membuat hati wanita itu sedih seperti ini.


Permaisuri kemudian undur diri tapi kemudian datang rombongan lain dengan masalah berbeda mendatangi ruangan itu. Pengawal tadi kemudian datang memberi tahu. "Beberapa menteri datang menghadap, Baginda."


"Biarkan mereka masuk," sahut Ken dengan mantap. Makin hari ia makin bisa mendalami perannya di setiap pergantian dimensi dengan cepat.


Empat orang berpakaian kerajaan masuk ke dalam ruangan. Mereka langsung duduk bersimpuh di hadapan raja. Setelah memberi penghormatan, mereka duduk bersila. Salah satu dari mereka mulai bicara.


"Bagaimana, Baginda, keputusan Baginda mengenai utusan itu jadinya?" Salah satu menteri yang lebih tua bicara dengan mengusap jenggotnya.


"Mmh?" Kenapa mereka datang-datang membawa teka-teki, sih? Apa aku harus menebaknya? "Kalau kalian sendiri berpikir bagaimana?" Ken memutar balik pertanyaan.


Keempat menteri itu saling pandang. Menteri yang berjenggot panjang itu kembali buka suara. "Tapi Baginda, kalau kita membantu negara China, itu tidak ada untungnya sama sekali. Mereka minta kita membantunya agar memperluas wilayahnya, sedang kita dapat apa, Yang Mulia?"


China? Apa ... Mira jadi utusan raja China? "Mmh, kita bisa minta barter tentara kita dengan barang berharga. Kerajaan butuh apa?"


Para menteri itu kembali saling pandang. "Bisa saja ditukar dengan kain atau bahan pangan lainnya seperti kedelai dan beras."


"Ulat sutra?" Para menteri terkejut mendengarnya, juga melihat tingkah raja.


"Ya, betul. Ulat sutra adalah pembuat kain sutra yang sangat bagus. Apa kalian pernah melihatnya?"


Keempat menteri itu menggeleng.


"Aku akan minta ulat sutra saja dan dikembangbiakkan di sini. Jadi kita bisa membuat kain sutra sendiri. Kain sutra itu sangat bagus karena warnanya seperti benang emas. Kalau rakyat bisa memelihara binatang ini, mereka akan sejahtera."


"Jadi, Baginda akan menerima pesan yang disampaikan utusan itu?"


"Eh, apa dia ada?" Pria itu penasaran.


"Baginda, kenapa Yang Mulia lupa? 'Kan kemarin Baginda bertemu dengannya?"

__ADS_1


"Oh, eh, mmh maksudku. Dia belum pergi 'kan?" Ken segera meralatnya agar tak ketahuan bahwa ia tidak tahu sama sekali.


"Oh, dia 'kan menunggu jawaban Baginda Yang Mulia," sahut menteri itu lagi.


"Eh, coba panggilkan dia ke sini." Seketika jantung pria itu berdetak kencang, berharap ia bertemu dengan wanita itu.


Tak lama utusan itu datang. Dari bentuk tubuhnya pada bayangan kain penutup sepertinya ia laki-laki sehingga sempat membuat sang raja kecewa, tapi ketika utusan itu menyingkap kain penutup pintu Ken terkejut. Benar, Mira yang datang tapi ... kenapa ia berpakaian seperti pria?


Wanita itu tidak secara langsung menatap mata Ken. Para menteri memberi jalan sehingga wanita itu bisa maju dan bersimpuh di depan raja sambil memberi hormat. "Yang Mulia memanggil Saya?" ucapnya dalam bahasa Jepang.


Apa ia berperan jadi laki-laki? Ya ampun! Kenapa jadi begini? "Eh, aku sudah memutuskan untuk menerima permintaan rajamu untuk ikut berperang dengan mengirim pasukan, tapi aku juga ingin mendapat keuntungan dari situ."


Mira yang berperan dengan baik menjadi seorang pengawal yang diminta menjadi seorang utusan, menanyakan keinginan pria itu. "Jadi Yang Mulia ingin apa?"


"Aku ingin ulat sutra agar bisa ditenun di sini."


"Maaf Yang Mulia, tapi aku harus bertanya pada rajaku dulu. Saat ini, kami butuh pasukan, apakah Yang Mulia bisa menyediakannya dulu?"


Ken terdiam sejenak. Seketika ia punya ide cemerlang. "Ah, bagaimana kalau aku ikut denganmu pergi ke sana?"


Mira mengerut dahi. "Maksud Yang Mulia?"


"Aku akan membawa pasukan bersamaku dan kita akan pergi ke kerajaanmu bersama-sama. Biarkan aku bertemu rajamu agar aku bisa memintanya secara langsung."


"Ah, itu lebih baik Yang Mulia, karena sebenarnya ulat sutra adalah milik kerajaan Cina. Ia tidak bisa begitu saja keluar dari Cina bila tanpa seizin raja kami. Adalah sebuah kehormatan bisa pergi bersama dengan Yang Mulia." Mira kembali menunduk memberikan penghormatan.


Ken tersenyum. Setidaknya ia bisa kabur dari permaisuri dan pergi dengan Mira. Ia lega telah mengambil keputusan ini.


__________________________________________


__ADS_1


Visual Mira yang menjadi tentara laki-laki Cina. Salam, ingflora💋


__ADS_2