Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Berjuang Atau Kalah


__ADS_3

"Jadi bagaimana?" tanya Ken tentang keputusan Kapten Higarashi.


"Mmh, aku coba berpikir positif saja dulu walaupun tetap siaga. Aku akan keluar dan bicara padanya."


Ken menghela napas pelan. Ia tidak menyangka, ialah penyebab semua kekacauan ini. Ia mengikuti Higarashi hingga ke geladak. Kapal perompak itu makin lama makin dekat hingga kedua kapal itu bisa saling berdampingan.


"Eh, maaf. Aku adalah kapten di kapal angkatan laut Jepang ini, Nona! Kalau boleh Saya tahu, maksud dan tujuan Anda mendekati kapal kami ini apa!" teriak kapten Higarashi agar wanita itu mendengar.


Wanita itu melirik pada Ken yang berada di belakang kapten Higarashi. "Harusnya aku yang bertanya, untuk apa kalian datang di pulau ini karena ini adalah pulau milik kami! Kami tidak mengizinkan seorang pun masuk ke dalam pulau milik kami! Siapapun!" teriak Lucille lantang.


Cih, kebohongan apa lagi ini? Apa yang sedang dimainkannya?


"Baiklah. Kalau begitu kami akan pergi!" teriak Higarashi lagi. Baru saja ia akan membalikkan tubuhnya, wanita itu bicara lagi.


"Tapi karena kalian sudah terlanjur masuk ke sini, aku takkan melepaskan kalian begitu saja karena pulau ini adalah pulau rahasia kami. Tak ada orang yang bisa keluar begitu saja membawa rahasia kami dengan mudah. Kalian sekarang jadi tawanan kami atau mati!" teriak wanita itu yang membuat anak buahnya tertawa dan berteriak kegirangan.


Wanita ini ... sudah menyatakan perang rupanya! Air muka Ken terlihat kesal, menahan amarah.


Kapten Higarashi segera mundur dan mulai mempersiapkan diri sementara para anak buah kapal perompak itu mulai menggila. Beberapa dari mereka mulai bergelayutan di tali layar. Mereka mulai bersiap untuk naik ke atas kapal angkatan laut itu dengan menyebrang lewat tali. Mereka mulai mengayun-ayunkan tali itu jauh-jauh agar bisa melompat naik ke kapal itu.


"Letnan, ayo ke sini!" teriak Higarashi saat mendapati Ken bergerak lamban. "Ini." Ia menyerahkan sepucuk pistol dan beberapa peluru tambahan.

__ADS_1


Ken tentu saja kaget, tapi melihat kapten Higarashi mengangguk, ia berterima kasih.


"Serang!!!" perintah kapten kapal Jepang itu pada anak buahnya dan peluru dari senapan mesin pun ditembakkan.


Anehnya peluru-peluru itu sebelum sampai ke kapal perompak, sudah jatuh begitu saja ke dalam air seperti seakan kapal perompak itu dilindungi sesuatu. Ken melihatnya karena dia berdiri di dekat pintu anjungan menuju geladak. Ia berada di luar.


Aneh, peluru-peluru itu tidak ada satu pun yang sampai ke sana, seakan-akan ada lapisan yang melindungi kapal ini. Ia juga melihat para perompak yang ingin menyebrang juga seperti membentur sesuatu ketika mengayunkan tali lebih jauh. Benar, pasti ada pelindungnya. Apakah ini sihir? Wanita ini ... dia bisa sihir?


Peluru itu tidak boleh sia-sia atau kami akan kalah. Ken mencoba berkonsentrasi. Peluru-peluru, sampailah kau ke kapal perompak itu! Ia merasa berat. Seperti ada yang menahan kekuatannya. Pria itu terus berkonsentrasi, terus mendorong hingga keluar keringat di dahinya. Ia terus mendorong hingga ....


"Agh!" salah seorang perompak terkena tembakan. Pelindung itu lepas!


Lucille menatap Ken yang bersembunyi di dekat pintu anjungan dengan pandangan yang entah. "Serangan!!!"


Ken kini berkonsentrasi pada tali. Tali layar kapal itu para perompak itu gunakan untuk bisa melompat masuk ke dalam kapal Jepang itu. Pria Jepang itu mengarahkan tembakan ke arah tali. Peluru, putuskan tali-tali itu. Dengan beberapa kali tembakan, tali-tali itu putus.


Namun beberapa dari perompak itu sudah ada yang sampai lagi di geladak dan mulai mencari mangsa dengan membawa pisau panjang. Belum lagi, perompak itu mengeluarkan meriam mengarah ke kapal Jepang itu. Beberapa berhasil membuat bolong kapal itu. Kapal laut Jepang itu mulai tenggelam.


Tembakan dari senapan mesin dari kapal Jepang itu juga mulai merusak kapal perompak itu. Kapal itu mulai miring.


Ken menembaki perompak yang sudah masuk ke kapal Jepang itu. Sebagian dari mereka berhasil melukai bahkan membunuh anak buah Ken. Karena mereka mulai mendatangi pria itu, ia terpaksa kabur.

__ADS_1


Banyak perwira angkatan laut yang terjun ke laut karena kapal mereka mulai tenggelam tapi justru di laut, mereka bertemu bajak laut yang membawa senjata dan membunuh mereka. Dari atas kapal Jepang pun banyak yang membantu dengan menembaki perompak itu hingga air laut di bawahnya berubah merah. Ya, merah oleh darah manusia yang mati.


Pertempuran terjadi di mana-mana. Bahkan Ken dikejar oleh 3 perompak. Pistolnya hanya tersisa satu peluru dan ia harus bijak menggunakannya. Ia terpaksa menembak salah satu dari mereka saat dikejar tapi yang lain seperti tak peduli dan terus mengejar hingga akhirnya ia tertangkap. "Ah, lepaskan aku!" Ken berontak.


Seorang pria bertubuh tinggi besar berkulit hitam, menyodorkan pisaunya pada wajah pria Jepang itu dan menaikkan dagu pria itu dengan hati-hati. "Kau yang bernama Ken, 'kan?"


Ken yang merasa ngeri dengan pisau itu tak menjawab. Ia bahkan menginjak kaki pria yang menangkapnya itu hingga ia terlepas. Namun sayangnya, ia kembali tertangkap. "Lepaskan aku, lepaskan aku!" Ia meronta.


"Ayo, kita bawa dia kembali ke kapal!" Pria berkulit hitam itu memiringkan kepala. Bertiga mereka terjun ke laut dan membawa Ken dengan paksa ke dalam kapal perompak, yang sudah bobrok diterjang peluru yang bertubi-tubi dari kapal angkatan laut itu. Namun kini tembakan itu telah terhenti. Mungkin sudah tidak ada orang lagi yang bisa menembaki kapal perompak itu. Mungkin semuanya telah mati.


Kapal angkatan laut Jepang itu sudah separuh tenggelam. Perompak itu kini dengan mudah bisa memasuki kapal itu dan memeriksa kalau-kalau ada yang masih hidup. Banyak yang mati dan mengambang di air.


Ken dibawa ke hadapan Lucille. Ia diikat di tiang kayu yang telah patah dibagian atasnya. Sepertinya dari pihak kapal angkatan laut, tidak ada yang selamat kecuali Ken. Mereka membunuh semuanya demi mendapatkan pria itu sedangkan dari kapal perompak sendiri juga banyak kehilangan anggotanya akibat pertempuran itu.


Kapal perompak itu biar pun telah rusak parah, tidak tenggelam. Itu karena berhenti di dekat pantai. Kapal itu hanya jatuh miring ke arah darat.


Lucille tersenyum mendekati Ken yang tengah basah kuyup itu. Kekagumannya pada pria itu bahkan semakin besar. Ia menyentuh dagu pria itu dengan lembut. "Sekarang kau jadi tentara, lalu punya kekuatan untuk menembus lapisan pelindungku pada kapal. Apa kau juga punya sihir, Ken? Ah, betapa sempurnanya dirimu. Bukankah berarti kau memang cocok untukku, Ken?" ucapnya dengan senyum lebar.


"Maaf, tapi aku sudah punya seseorang yang aku suka," ujar pria itu asal.


"Siapa dia? Ah, apa gadis kecil yang bersamamu itu?"

__ADS_1


"Mmh? Oh, bukan. Dan kau tak perlu tahu itu dan yang pasti, dia akan datang menolongku."


"Benarkah? Gadis yang menangis karena kehilangan bola kristal itu?" tanya wanita itu sambil tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2