
"Mira ...." Ken merogoh kantong celananya dan mengeluarkan dompet. Ia mengeluarkan seluruh uangnya dari dalam dompet dan meletakkannya pada telapak tangan gadis itu. "Ini uang yang kupunya. Aku sekarang sedang bekerja dan nanti kalau gajian, hasilnya nanti buat kamu."
"Bekerja? Kenapa Kakak bekerja, 'kan Kakak punya koin emas?"
Seketika Ken merasa bodoh. Kenapa ia tidak ingat kalau ia menyimpan berpeti-peti koin emas di dalam tangannya? Apa karena ia merasa itu bukan miliknya?
"Pakai saja, Kak. Kakak punya, kenapa gak dipakai?"
"Tapi koin itu, mmh ...." Pria itu masih ragu.
"'Kan pasti pemiliknya sudah gak ada jadi pastinya sudah boleh dipakai. 'Kan kita tidak mencuri milik orang lain."
"Kalau kita lapor ...."
"Bagaimana cara lapornya, Kak? Kita saja tidak tahu, menemukannya di mana dan siapa yang akan percaya cerita kita? Yang ada kita akan dirujuk sebagai orang gila."
Ken terdiam.
"Lagipula itu adalah barang milik alam. Karena sudah ada di tangan Kakak, jadi terserah Kakak bagaimana mengolahnya."
"Aku masih bingung menggunakannya."
"Jual, Kak di toko emas, pasti bisa."
"Eh ya."
"Ini uangmu." Gadis itu mengembalikan uang Ken pada tangan pemuda itu tapi pemuda itu tak mau menerimanya.
"Pegang saja denganmu. Aku mencari uang hanya untukmu."
"Kak, 'kan aku bisa cari uang sendiri, jadi tidak perlu."
Namun pemuda itu menggenggam erat tangan gadis itu yang memegang uangnya. "Kau 'kan belum dapat uangnya 'kan?"
"Aku tinggal gratis di rumah ini juga makannya jadi Kakak jangan khawatir."
Namun Ken tetap menggenggam tangan itu erat. "Ck, kamu 'kan gak pegang uang."
"Aku juga digaji, Kak," jawab gadis itu sambil tersenyum.
Pemuda itu sedikit merengut tapi terpaksa menerima kembali uangnya.
"Lagipula, susah kalau kakak gak pegang uang."
"Aku dapat uang jajan dari nenek tempat aku tinggal. Rencananya aku juga ingin mensejahterakan keluarga itu tapi aku gak tau dengan cara apa sedang nenek tua itu saja mencari uang, kenapa aku tidak? Karena itu aku bekerja."
"Bagaimana kalau buka usaha dengan koin itu Kak?"
"Mmh, benar juga ya? Biar aku pikirkan usaha yang cocok untuk nenek itu."
__ADS_1
"Eh, ini sudah menjelang malam, apa Kakak mau makan di sini?"
"Apa?"
"Ayo, Kak makan sama mereka. Bukankah Kakak pernah tinggal di panti asuhan?"
Ken tiba-tiba teringat kembali masa-masa tinggal di panti asuhan. Karena ingin bernostalgia, ia mengiyakan. "Baiklah."
Namun berakhir haru, melihat kondisi mereka dengan pakaian seadanya. Ada yang lusuh, kebesar bahkan yang robek. Kondisi dirinya sendiri masih jauh lebih baik walau harus makan sayur tiap hari karena nenek memberinya jajan. Kalau mereka pasti ....
Ken juga menemukan gadis kecil yang mengingatkannya pada Mimi. Cuma parahnya, gadis seusia Mimi tak hanya satu di sana, karena itu pastilah sangat merepotkan mengurus anak-anak seumuran itu di panti asuhan.
"Ayo sini sama Kakak. Sini Kakak suapi." Dan gadis-gadis kecil itu beserta 2 bocah laki-laki makan disuapi Ken dengan riangnya. Mereka berlari-lari diruangan karena senang bertemu orang baru yang mengurus mereka.
Seusai makan malam, Ken pamit.
"Terima kasih ya, sudah berkunjung ke sini," ucap bapak Kepala Panti.
"Sama-sama." Namun saat ia melangkah keluar halaman, ia baru ingat bahwa temannya Akibara menunggunya di gang di samping panti. Buru-buru ia ke sana karena udara saat itu sudah memasuki musim dingin. Temannya itu pasti sudah kedinginan menunggunya di luar. "Akibara, maaf."
Benar saja, pemuda itu menggigil kedinginan menunggunya di luar. "Huff, Bos kok lama sekali? Dingin nih, Bos!" Ia menggosok-gosok lengannya.
"Eh, maaf, maaf. Aku traktir deh. Kamu mau makan apa malam ini?"
"Oden. 2 porsi." Pemuda berambut ungu itu mengangkat jari telunjuk dan tengahnya.
"Ok, sip. Ayo!"
Ken membuka pintu. Ia mengintip ke dalam.
"Oi, jangan ganggu orang lewat dong!" teriak seorang pemuda yang berdiri di belakang.
"Eh, maaf, maaf." Ken memberi jalan pada pemuda itu. Kembali ia mengintip, tapi kali ini, berdiri seorang pria menghalangi pandangannya ke depan. Saat ia mendongak, ia melihat pria itu tengah bertelak pinggang menatapnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya pria itu pada Ken.
Tentu saja pemuda itu terkejut dan terjatuh ke lantai. "Eh, mmh ...."
"Kalau kau mau belajar, ayo masuk!" jawab pria berpakaian silat berwarna putih itu.
"Eh ...." Ken memang mengunjungi klub judo di sekolahnya sepulang sekolah. Ia ingin tahu apa ia bisa ikut klub itu agar bisa membela diri. Ia yang kalah telak melawan seorang pria kemarin membuat ia sadar arti penting ilmu beladiri ini.
Bagaimana ia bisa melindungi Mira bila ia sendiri tidak tahu bagaimana cara melindungi diri sendiri? Ia merasa tertampar ketika tidak bisa memberi rasa aman pada gadis yang pernah ia janjikan nyaman dan aman bersamanya ini.
Ken mulai belajar jurus-jurus dasar beladiri yang membuat tubuhnya serasa pegal-pegal. Itu karena ia harus bekerja keras seharian. Pagi ia sekolah, sore latihan beladiri dan malam harus kerja part-time di restoran. Lalu ia pulang dengan wajah lelah sampai ke rumah.
"Ken."
"Apa, Nek?" sahut pemuda itu dari dalam kamar.
__ADS_1
"Kau tak ingin mandi?"
"Aku hanya ingin tidur saja, Nek!" teriak Ken lagi.
"Mmh."
Tak lama, Ken yang meringkuk di atas ranjang, kini sudah tertidur pulas.
---------+++---------
"Hari ini ada anak baru pindahan dari Prancis ya?" ucap guru bahasa Inggris.
Seketika Ken bisa merasakan keadaan mulai tidak nyaman karena ia bisa menebak siapa yang datang kali ini. Gadis itu masuk ke dalam kelas.
"Namanya Rusiru De Ra Ru (Lucille De La Rue, dalam aksen Jepang yang tidak bisa mengucap huruf 'L' menjadi 'R')" lanjut ibu guru.
Lucille yang kembali berwajah muda, tersenyum kepada semua anak di kelas, apalagi saat ia melihat Ken di kelas. Pemuda itu langsung membuang wajahnya ke samping.
Hideo yang berada di belakang Ken, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Bos, cantik Bos. Mana rambutnya merah lagi. Keren Bos."
"Kalau mau ambil aja. Bukan tipeku," ucap Ken datar.
"Ok," ucap pemuda berambut ungu itu bersemangat.
"Tapi ini rambutnya asli ya? Tidak diwarnai seperti kalian yang duduk di belakang sana," ledek ibu guru pada geng anak berandal dan lalu melirik Ken. "Untung yang satunya sudah insyaf."
Ken merasa sedang dibicarakan tapi tak mau menoleh. Ia malas melihat Lucille.
"Mmh, kau duduk di sana ya?" Ibu guru itu menunjuk ke kursi di samping Hideo.
Pemuda itu bukan kepalang, senang dan memperhatikan gadis itu duduk di sampingnya.
"Ok, pelajaran dimulai."
---------+++---------
"Ken." Lucille meraih lengan Ken yang buru-buru keluar kelas.
Pemuda itu menepisnya kasar. "Apa sih?"
Gadis itu berusaha tetap tersenyum. "Ken, kenapa sih kamu pura-pura tidak kenal gitu sama aku?"
Ken menatap gadis itu dengan perasaan muak. "Apa itu penting bagiku? Tidak!" Ia kembali melangkah tapi gadis itu kembali meraih lengannya hingga ia menepisnya untuk kedua kalinya. "Apa sih!"
"Aku 'kan anak baru. Beri tahu aku tempat-tempat di sini sekalian ke kantin bareng."
"Bos!" teriak Hideo mengejar mereka.
____________________________________________
__ADS_1