Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Godaan


__ADS_3

Derap kuda terasa begitu jelas di keheningan malam. Melewati rumah-rumah dan bangunan yang terlihat samar karena tidak adanya penerangan jalan. Kuda bergerak menuju hutan.


"Mira ...." Ken menoleh ke samping. "Aku senang kau datang."


Gadis itu hanya diam dan sedikit membungkuk karena kuda melaju cepat sehingga mau tak mau tubuhnya menempel pada tubuh pria itu yang seakan ia peluk dari belakang itu.


"Tubuhmu harum. Bau apa ini?"


"Mawar." Gadis itu menjawabnya dengan jujur.


"Mmh, peluk aku." Ken meraih satu tangan gadis itu dan melingkarkan di pinggangnya.


"Kak, nanti jatuh!" Walau begitu, pipi Mira memerah seketika.


Pria itu jadi serba salah. "Oh, maaf. Aku hanya ingin memelukmu tapi tak bisa."


Mira kembali memegang rambut kuda itu dengan kedua tangannya.


Tangan pria itu kembali menyentuh lengan gadis itu yang melewati pinggangnya. "Mira, aku rindu padamu." Ia menoleh pada wajah gadis itu yang berada dekat di bahunya. "Boleh aku menciummu?"


Fokus gadis itu terusik. Ia melirik pria itu dengan wajah merah padam. Jantungnya berdebar kencang.


"Mira! Jangan tergoda padanya, Mira. Dia tidak sadar! Dia akan menggigitmu dan menjadikanmu drakula juga! Mira!" Gojo berteriak mengingatkan.


Namun gadis itu tak bisa melepaskan pesona pria itu. Ia membiarkan pria itu mendekati wajahnya hingga ia menutup mata. Saat itulah Ken membuka mulutnya di mana di antara deretan giginya, ada gigi taring yang siap merobek kulit di leher putih mulus gadis itu.


Mira terlihat pasrah dan wajah pria Jepang itu makin mendekat tapi kemudian gerhana berubah karena posisi bulan yang bergerak. Tepat pada saat itu, Ken tersadar. Ia menutup mulutnya dan mengecup lembut pipi gadis di sampingnya itu.


Mira membuka matanya. Terlihat netra itu berkaca-kaca.


"Terima kasih kau sudah mempercayaiku, Mira."


"Kakak ...," ucap gadis itu sendu.


Ken merasakan perubahan di tubuhnya. Dengan kondisi yang masih lemah, ia memalingkan wajah ke depan. Ia tak mau Mira melihat kondisi terburuknya. "Hoagh!" Ia berteriak sambil merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Racun itu seperti ingin menguasai tubuh pria itu tapi jarum yang masih menempel di leher Ken menghalanginya.


"Kakak ...." Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan dari mata indah gadis itu. Ia tak tega melihat tubuh pria itu sedikit mengeras karena menahan sakit. Ia menyandarkan tubuhnya pada punggung pria itu yang tengah kesakitan. Ken bisa merasakan punggungnya mulai basah oleh air mata.


Namun itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba tubuh pria itu melemas membuat gadis itu dengan sigap mendekap tubuh itu agar tak jatuh. Kuda pun berhenti sesaat.


"Kakak." Mira terlihat bingung.

__ADS_1


"Apa tubuhnya mulai lemas?" tanya Gojo pada Mira.


"Iya."


"Berarti racunnya akan keluar. Ok, sebentar lagi kita akan sampai. Bertahanlah Mira, kita akan mengobatinya." Kuda kembali melaju di daerah yang sepi penduduk menuju hutan.


"Mira, maaf tubuhku sudah tak kuat. Bolehkah aku bersandar padamu," pinta Ken setengah bergumam.


"Iya, Kak."


Perlahan Ken bersandar pada gadis itu. "Terima kasih."


Mira hampir menangis. Belum pernah ia melihat pria itu selemah ini dengan tubuh yang dikurung racun drakula, dan belum pernah ia secemas ini pada seseorang. Kedekatannya dengan pria itu setiap hari membuat ia kini begitu sensitif dengan keadaan Ken yang memang harus berpetualang demi jati dirinya dan untuk menyelamatkan orang terdekatnya. Ia kini harus mengakui, ia telah jatuh cinta pada pria itu.


"Mira."


Gadis itu mendengarkan.


"Kalau aku berpindah lagi, aku ingin jadi kuat."


Air mata Gadis itu menggenang.


Air mata gadis itu mulai membanjir di pipi.


Ken mengetahuinya karena bahunya tiba-tiba basah. "Aku laki-laki, aku harus bisa melindungimu 'kan?" Kesadaran Ken mulai menurun dan gadis itu mengangguk. Pria itu melihatnya hingga ia bisa tersenyum.


Tak berapa lama, mereka sampai di sebuah rumah di tepi hutan. Mira turun dari kuda dan menolong Ken turun dengan bersandar pada kuda itu.


"Tunggu sebentar." Gojo masuk ke dalam rumah sedang Ken didudukkan di bawah sebuah pohon besar.


Tak lama kuda itu, yang telah beralih rupa menjadi manusia, keluar dengan pakaian etnik China. Ia menggendong Ken dan membawanya masuk ke dalam rumah. Di sana ia dibaringkan di sebuah dipan dan mulai diobati.


Mira membantu dengan memasak air di dapur. Setelah luka dibersihkan dan racun sudah dipastikan keluar, jarum itu dicabut.


"Sekarang kau boleh menutup lukamu, Ken." Gojo memberi tahu. Ia membantu Ken meletakkan tangannya sendiri pada luka yang berlubang di bahu.


Ken sedikit terpejam merasakan sakit tapi ia berusaha bertahan di kekuatan terakhirnya. Setelah itu ia pingsan.


Gojo pun menghela napas panjang, tanda pekerjaannya telah selesai.


------------+++--------

__ADS_1


Ken terbangun dan merasa heran. Pelan-pelan ingatannya kembali. Ia kini berada di sebuah rumah kayu dan ia ingat ia pergi dari rumah itu karena digigit oleh drakula.


Berarti ia kini bersama Gojo dan Mira? Pikiran itu saja sudah membahagiakannya. Segera ia mengangkat kepalanya. "Ah!" Ternyata kepalanya pening. Padahal setahu dirinya, ia tidak pusing, tapi kenapa tiba-tiba sekarang malah pusing?


Pelan-pelan ia mencoba duduk. Masih pening dan penglihatan sedikit kabur. Ada apa dengan diriku ini? Kenapa aku tidak sepenuhnya pulih? Jangan ... jangan sampai aku kenapa-kenapa. Aku ingin sehat, aku ingin kuat, aku tidak ingin jadi beban orang lain.


Ken menggeser kakinya turun. Saat menjejakkan kakinya di lantai dan mencoba berdiri, tubuhnya masih limbung hingga jatuh terjerembab ke lantai. "Ah!"


Gojo dan Mira yang berada di luar rumah, mendengarkan teriakan Ken. Mereka berlomba-lomba berlari masuk ke dalam dan mencari Ken. Pria itu tak ditemui di kamarnya, juga di mana pun di dalam rumah.


"Ken!" teriak Gojo.


Mira menyentuh lengan pria itu. "Mungkin sudah pindah dimensi."


"Benarkah?"


Gadis itu mengangguk. "Ayo, kita kembali ke markas dan memberi laporan pada sang Dewi."


------------+++-----------


Ken terbangun di suatu tempat berbeda. Tempat apa ini? Tubuhnya masih lemah dan ketika berdiri, jalannya masih terhuyung. Ia melihat dirinya memakai kimono Jepang. Apa aku ada di Jepang? Tapi kenapa bangun di sini mirip bangunan di Cina? Ia memperhatikan lagi dirinya. Apa ia salah kostum? Kok bisa?


Ia kini berdiri di depan sebuah bangunan. Bangunan itu seperti sebuah gedung dengan halaman yang besar dan pintu pagar dari kayu yang tinggi. Jalanan di depannya masih sepi, sepertinya masih pagi. Ken tak tahu ia harus ke mana sementara kondisi tubuhnya juga lemah.


Ia mencoba berdiri dan berjalan walau dalam keadaan pusing tapi tubuhnya tak kuat. Ia kembali bersandar pada dinding pagar gedung itu. Jadi aku harus ke mana?


Sedang berpikir begitu, dari arah yang berlawanan, ada sekumpulan pria muda berpakaian hanfu China yang bergerak ke arahnya. Mereka terkejut melihat Ken dan langsung mengepungnya.


"Hei, siapa kamu? Kenapa kamu ada di sini?" tanya salah satu dari mereka. Mereka berbicara dengan bahasa China dan Ken mengerti apa yang dibicarakannya.


Sayang, Ken yang sedang sakit kepala tak bisa menjawabnya dengan benar. "Mmh?"


Pria itu malah berbisik dengan temannya. "Eh, apa dia mengerti apa yang aku katakan?"


Pria Jepang itu sudah tak tahan dan akhirnya jatuh pingsan.


__________________________________________



__ADS_1


__ADS_2