
Beberapa orang diturunkan ke laut untuk memeriksa mesin. Mereka turun hingga ke lunas kapal yang berada di dasar dan bergerak ke arah mesin yang terletak di belakang. Mereka juga membawa kamera pengintai untuk memperlihatkan ada apa di bawah sana.
Saat menuju ke sana, tidak terlihat apapun yang menghalangi kapal itu untuk bergerak. Semua orang yang berada di anjungan kapal melihat rekaman kamera itu termasuk Ken dan Higarashi.
Kemudian seiring mereka bergerak ke propeller, tidak ada sesuatu apapun yang mencurigakan hingga mereka sampai di sana. Ada sesuatu yang menempel panjang dan ketika kamera itu menyorot ke atas ....
"Ah!"
"Hei!"
"Apa ini?"
"Aaah ...." Terdengar teriakan yang mencekam, tapi kejadiannya tak bisa terekam, karena tiba-tiba saja kamera menyorot ke bawah sebelum sempat melihat dengan jelas. Lalu terlihat lagi kamera menyamping dan melihat ada pergumulan yang membuat pasir di dasar laut menyeruak ke atas, sehingga gambar semakin tak jelas.
Orang-orang yang berada di anjungan, semua melihat tegang pada gambar di kamera itu. Ada apa gerangan? Makhluk apa yang kini sedang bertarung dengan para kru kapal karena mereka tidak bisa melihat jelas makhluk itu di dalam kamera.
"Uchida, ada apa di sana?" tanya kapten Higarashi.
"Ini ada, aaahh!"
Terdengar seperti suara tercekik dan kamera jatuh ke dasar laut. Saat itulah mereka bisa melihat makhluk itu, yaitu ketika pasir perlahan mulai turun ke dasar laut.
"Apa ini?" tanya Kapten saat melihat sosoknya.
"Gurita raksasa!" ujar Ken terperangah.
"Iya, lumayan besar dan ketiga kru kita tertangkap olehnya." Kapten Higarashi syok. "Padahal salah satu dari mereka memegang senjata tapi kenapa ...." Ia tak bisa meneruskan kata-katanya karena bingung bagaimana cara menolong mereka.
"Biar aku coba mengalihkan perhatiannya." Ken berlari keluar.
"Hei, Letnan. Berbahaya kalau kau pergi sendiri!"
Masalahnya sudah tidak ada waktu lagi! Kalau telat memberi pertolongan, nyawa mereka taruhannya!
Ia segera turun dan berganti pakaian. Ia juga membawa tabung oksigen. Kemudian pria itu segera membuka lubang tempat ia bisa segera menyelam ke bawah kapal. Pria itu langsung masuk dan menyelam.
Selagi berenang, tiba-tiba kakinya seperti tertahan sesuatu. Ia menoleh dan terkejut. "Mira?"
Gadis itu tersenyum. Ia juga sedang menggunakan baju renang lengkap dengan oksigennya. Rambutnya yang panjang mengambang di dalam air.
__ADS_1
Ken masih terperangah tak percaya tapi kemudian ia segera tersadar ia harus menolong anak buahnya. "Mira, jangan ikuti aku, berbahaya. Di depan ada gurita besar yang sedang menangkap anak buahku."
Namun gadis itu tak mengerti ucapan pria itu dalam air sehingga Ken mengulang ucapannya sambil memperagakannya.
"Jangan ikut aku, Mira, bahaya."
"Kau bisa mengambilnya," ucap Mira sambil memperagakannya membuat pria itu mengerut dahi.
"Ambil?"
Gadis itu meraih tangan pria itu dan menunjuk ke telapak tangannya. "Masukkan ke sini," ujar gadis itu pelan-pelan agar Ken bisa membaca gerak bibirnya saat ia melepas masker oksigen.
"Masuk?" Pria itu masih belum mengerti.
"Kakak bisa mengambil gurita itu dengan memasukkannya ke dalam tanganmu."
Ken kembali teringat bagaimana dulu seekor burung pernah masuk ke dalam tangannya tapi kali ini, binatangnya sangat besar. Apa ia bisa memasukkan binatang sebesar itu ke dalam tangan? Rasanya tak mungkin.
"Kakak bisa," ulang gadis itu menyakinkan.
Ken tak punya banyak waktu. Sambil memikirkan itu, ia bergerak cepat ke arah propeller. Dari jauh ia bisa melihat pergumulan itu karena membuat pasir dari dasar laut kembali beterbangan.
Ketika ia mendekat, ternyata sudah terlambat. Binatang itu telah mencekik anak buahnya hingga tewas. Gurita besar itu melepas anak buah Ken dan kini berhadapan dengannya.
Gurita itu kini mendekati Ken. Tangannya menjulur hendak menyentuh pria itu tapi pria itu menyodorkan telapak tangannya dengan berani dan menyuruhnya masuk. "Masuk!" Suaranya dalam air tidak begitu jelas, tapi gurita besar itu entah kenapa tersedot masuk ke dalam telapak tangan itu dalam sekejap dan semua masalah terselesaikan. Ia pun melongo melihat hasilnya.
"Eh?" Pria itu melihat lagi telapak tangannya dan tidak ada yang aneh dengan tangan itu hingga membuatnya bingung. Tidak berat atau berubah bentuk dan semua seperti mimpi. Padahal awalnya ia sempat takut berhadapan dengan mahluk itu. "Mira, aku bisa," ucapnya hampir tak percaya.
"Dia jadi peliharaanmu, sekarang," terang gadis itu sambil mendekat.
"Benarkah?"
Gadis itu mengangguk. "Nanti Kak Ken bisa mengeluarkannya lagi bila dibutuhkan. Ia jadi jinak bila dipelihara."
Ken memperhatikan Mira. Ia tentu saja mendengarkan apa yang dikatakan gadis itu tapi ia juga tengah berpikir, betapa hanya gadis itu yang selalu bersamanya di saat duka dan senang. Ia rindu. Ken memeluk gadis itu.
"Kak Ken."
"Sebentar saja, aku ingin jantungku ini merasa nyaman," ucapnya pelan.
__ADS_1
Gadis itu terdiam kaku. Ia bingung. Dulu, ia ingin mengikuti Ken karena pria itu adalah Kakak kesayangan, walaupun pria itu tak mengingat dirinya. Ia sudah berjanji pada Dewi Sri untuk tidak memberi tahu jati dirinya pada Ken.
Karena itulah ia diperbolehkan membantu pria itu, tapi makin hari perasaannya berubah. Ia bimbang. Di dalam pekerjaannya, ia tidak boleh melibatkan perasaan tapi hal-hal kecil yang sering dilakukan pria itu malah sering membawanya ke arah itu.
"Kak, urus dulu anak buahmu. Mereka pasti menunggumu."
"Eh, ya," Ken melepas dengan enggan.
Segera ia menuntaskan pekerjaannya dengan mencari kamera yang jatuh. Setelah itu, ia mengambil alat komunikasi di telinga salah satu anak buahnya dan melapor pada Kapten kapal sambil menyorot para korban. Mira memperhatikan dari kejauhan.
Ketika Ken menyelesaikan tugas, ia melihat gadis itu menjauh. Pria itu mengejarnya. "Mira," katanya saat meraih lengan gadis itu. "Kamu mau ke mana?"
"Tugasku sudah selesai."
"Tunggu, aku belum selesai denganmu."
"Tapi bagaimana kalau mereka datang?"
"Eh ...." Ken melihat sekeliling. "Kamu bersembunyi saja di balik batu karang. Saat mereka datang, kau berbaur dengan mereka, mereka takkan tahu bedanya. Oh ya, rambutmu."
Pria itu kemudian menyatukan rambut gadis itu, memilinnya dan lalu menyelipkannya di belakang karet kaca mata renang gadis itu.
Mira bersembunyi. Saat anak buah Ken datang mengevakuasi jenazah, ia ikut berbaur dengan mereka. Bahkan tidak ada yang memperhatikan gadis itu hingga naik ke atas kapal.
Ada seorang anak buah Ken yang menyadari keberadaan gadis itu kemudian, tapi Ken segera membawa Mira naik ke atas setelah melepas tabung oksigen.
"Eh, tadi ada perempuan ya, di dalam rombongan kita?" tanya pria itu pada teman di sampingnya.
"Masa? Kamu berkhayal lagi? Ya sudah, sabar saja. Sebentar lagi kita akan sampai ke darat kok, entah di mana itu." Temannya itu tertawa.
Sementara itu Ken membawa gadis itu ke kamar. "Apa kamu ingin mandi dulu, tapi kamu tidak bawa pakaian ya?"
"Kan sudah kubilang, Kak. Tugasku sudah selesai."
"Eh, aku ingin mengobrol sebentar denganmu," ucap pria itu sedikit merajuk.
"Tapi bosmu menunggumu."
Ken terdiam. "Kalau begitu aku mandi duluan, tapi saat aku menemui bosku, kau jangan ke mana-mana." Pria itu kemudian membuka lemari pakaiannya dan memberikan satu stel pakaian pada Mira.
__ADS_1
___________________________________________