Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Pesan Mira


__ADS_3

"Aku membutuhkan seseorang yang bisa bahasa Arab juga Cina," ujar pria itu.


Ken mengacungkan tangannya, tapi pria itu hanya melihatnya sekilas lalu melihat ke arah lain. Sial! Kenapa dia jadi jual mahal begitu sih, pura-pura tidak kenal tapi tidak kenalnya parah. Apa salahku padanya?


"Ada yang pernah bekerja selain dengan orang Arab?"


Ken kembali mengacungkan tangannya karena pria itu bertanya dalam bahasa Cina. Dua kali pria itu bicara bertanya dalam bahasa Cina, dan sepertinya hanya ia yang mengerti apa yang diucapkan pria itu, karena hanya ia yang mengacungkan tangan sedari tadi.


"Ck!" Pria itu seperti malas mengakui. "Ya sudah, sini kau!" Pria itu turun dari kudanya.


Beberapa budak memberi jalan Ken untuk maju dan pria China itu menyodorkan tangannya. Dengan bantuan para budak lainnya yang mendorong Ken dari bawah, ia akhirnya bisa naik ke atas.


Transaksi penjualan kemudian diselesaikan pria lainnya hingga akhirnya Ken bisa dibawa oleh rombongan pengelana itu. Ken duduk di depan pria kekar yang memilihnya itu, karena mereka berbagi kuda yang sama. Mereka pun memulai perjalanan mereka ke tempat lain.


Pria itu berdehem. "Maaf, aku mesti pura-pura."


"Kenapa kamu jahat sekali padaku tadi!" omel Ken. Wajah pria ini kini kembali ke asalnya yang berusia 20 tahun.


Pria Cina itu tertawa.


"Gojo! Kau pasti sudah direkrut ibu. Kau harusnya menolongku bukan mengabaikanku seperti tadi, mengerti?"


"Baik, Bos."


"Jangan ngeledek kamu, Gojo," sarkas Ken.


Pria itu kembali tertawa.


"Jadi kita akan ke mana? Bagaimana ceritanya akhirnya kau direkrut ibuku?"


Wajah pria China itu terlihat tegang, tapi Ken tak melihatnya karena posisi Ken yang duduk di depan. "Eh, maaf Ken tapi aku hanya ditugaskan mengantar kamu saja ke kota di depan itu, setelah itu kamu berpetualang sendiri."


Ken menoleh ke belakang. "Kenapa?"


"Tugasku hanya itu, Ken dan aku tak bisa bertanya."


"Oh." Pria Jepang itu menghadap ke depan. "Lalu aku harus apa di sana?"


"Oh ya, satu lagi, pesan Mira."


"Apa? Mira titip pesan?" Kembali pria Jepang itu menoleh ke belakang sekilas.


"Jangan mencarinya. Bila bertemu, abaikan."

__ADS_1


"Apa?" Ken menoleh untuk kedua kalinya dan terkejut. "Apa maksudnya tidak boleh mencarinya? Apa dia sudah punya pacar?"


Netra Gojo terlihat bingung dan Ken menangkap ketidakberesan.


"Katakan padaku, ada apa? Tidak pernah seumur hidup dia tidak mau dicari olehku. Biasanya dia yang lebih dulu datang dan menggodaku. Kau ingat 'kan waktu aku pindah rumah bersama Jack waktu itu, tahu-tahu dia sudah lewat depan rumahku berjalan sendirian. Apa itu bukan sengaja menggodaku dan berharap aku mencarinya? Rasanya tidak mungkin itu. Kau bercanda 'kan?"


Namun yang ditanya wajahnya terlihat serius.


Ken pun bingung. "Gojo," tegurnya.


"Pokoknya kamu tidak boleh mencarinya. Kau lakukan sesuatu yang lain saja seperti misalnya kerja di sebuah toko atau yang lainnya, dan kalau bertemu dengannya pura-pura tidak kenal saja, apapun dan di manapun kamu melihatnya, ok?" Wajah Gojo terlihat serius.


"Ada apa ini sebenarnya, Gojo?" Ken merasakan hawa misterius yang mengkhawatirkan.


"Tolong, Ken. Ini tugas pertamaku. Jangan kau rusak. Aku bisa tidak naik level ini."


Pria Jepang itu menyentuh lengan Gojo yang sedang memegang tali kekang kuda. "Kau tahu, walaupun tugas Mira adalah menolongku, tapi aku pria yang pada posisinya seharusnya menolong seorang wanita dan selalu, saat bersamanya aku selalu mewajibkan diriku untuk melakukan itu. Jadi jangan bantah aku kalau ini menyangkut masalah dirinya. Ayo katakan, apa yang terjadi!"


Gojo membuang pandangan ke samping karena kesal. Ia tahu, bila ini menyangkut Mira, pria Jepang itu pasti akan sekeras kepala itu. Bukan apa-apa, Gojo bisa merasakan keakraban di antara keduanya dan sudah lama juga Ken tidak bertemu Mira karena sempat kuliah satu semester, jadi wajar ketika ia menyampaikan berita ini, pria itu sedikit meradang.


"Pasti bukan pacar baru karena Mira tak pernah menghianatiku," gumam pria Jepang itu.


"E, menghianati?" Apa maksudnya itu?


Gojo terlihat ragu. Ia sebenarnya harus melakukan perintah, tapi mendengar 'si kepala batu' ini bicara, mau tak mau ia membagi informasi yang ia tahu. "Mira datang ke jaman beratus-ratus tahun yang lalu ini setelah kau sampai sini, tapi dia terjebak. Jadi terpaksa aku menggantikannya menyelamatkanmu dari perbudakan itu."


Pria Jepang itu mengerut dahi. "Terjebak? Terjebak apa?"


Kali ini Gojo tak berani bicara. Ia hanya berani menatap wajah Ken dengan mengiba.


"Katakan Gojo, dia terjebak apa?" Nada suara Ken mulai tinggi.


Pria Cina itu hanya mampu tertunduk.


"Jangan bilang, SESEORANG TELAH MENJEBAKNYA."


Gojo mendengus kasar.


"Gojo!" Tiba-tiba terlintas di kepala Ken wajah seseorang. "Lucille?"


"Dengar, mungkin tidak seburuk yang kau pikirkan ...."


"Apanya yang tidak. Wanita sialan itu!" kecam pria Jepang itu.

__ADS_1


"Mungkin Mira bisa mengurusnya sendiri tanpa bantuanmu ...."


"Mana mungkin! Terakhir wanita laknat itu mencuri bola kristalnya, dia menangis! Mana tega aku membiarkannya sendiri seperti itu!" Pria Jepang itu mulai marah.


"Tapi mungkin dia bisa melakukannya sendiri, dan bantumu hanya akan merusak rencananya."


Ken tak mau mendengarkan nasehat pria Cina itu dan bahkan mengambil alih tali kekang kudanya. Ia mencoba mengendalikan kuda tapi tak bisa. Kuda itu malah bergerak berputar.


"Gojo! Pacu kudanya ke kota itu!" perintah Ken.


Gojo merengut.


"Sekarang!" titah pria Jepang itu dengan tegas.


Terpaksa Gojo menjalankan kudanya dengan cepat.


Ken berpegangan pada rambut kuda agar tidak terjatuh. "Kalau sesuatu terjadi pada Mira, kau yang harus bertanggung jawab atas semuanya!" teriak pria Jepang itu lagi.


Gojo semakin memacu kecepatan kudanya. Para pengelana yang lain mengikuti kuda pria itu.


----------+++----------


Mereka akhirnya sampai di pintu masuk kota itu.


Ken turun dari kuda. "Kau ikut ya?"


"Aku 'kan sudah selesai dengan tugasku, Ken."


"Sebentar saja. Temani aku makan siang, nanti kutraktir."


"Dengan apa? Dengan uang koin itu?" Gojo menghela napas. "Sebaiknya jangan pakai uang itu dulu. Sini, aku akan mentraktirmu." Pria itu turun dan menarik kudanya. Para pengelana lainnya juga ikut turun. Mereka mengikuti Gojo dari belakang.


Mereka melangkah sambil menyusuri jalan besar itu di keramaian sampai mereka menemukan sebuah restoran. Mereka kemudian berhenti dan masuk ke restoran itu.


"Kalau dilihat dari pakaian mereka, memang ini jaman yang sudah lama lewat. Model pakaian mereka sangat sederhana," ucap Ken sambil mengamati sekeliling. Restoran yang cukup besar itu, hampir separuhnya telah terisi.


Seorang pelayan mendatangi mereka. "Mau makan apa, Tuan?" tanyanya pada Gojo karena Gojo memakai pakaian yang paling bagus.


Pria Cina itu melihat sekitar. "Oh, aku pesan makanan seperti orang itu dan itu," katanya sambil menunjuk meja orang lain yang terlihat enak.


Pelayan itu mencatatnya. "Mmh, baik. Nanti aku akan bawakan." Lalu pelayan itu kemudian pergi.


___________________________________________

__ADS_1



__ADS_2