Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Jalan Keluar


__ADS_3

Ken menceritakan rencananya pada Mira yang terkejut dengan ide brilian pemuda itu.


Nenek menatap keduanya dengan seksama dari kejauhan. Ia kemudian mendekat dengan membawakan Mira teh hangat. "Eh, Mira bekerja di panti asuhan?"


"Eh, iya, Nek. Terima kasih." Gadis itu menarik tehnya mendekat. Dengan menggenggam cangkir teh itu, ia merasa hangat.


"Oh, muda sekali ya? Apa mata nenek yang rabun? Kamu terlihat masih belasan tahun."


"Nenek benar. Usiaku masih 16 tahun, tapi demi kebutuhan panti asuhan, aku bekerja."


"Jadi pasti tidak sekolah ya? Sayang sekali," sahut nenek.


Mira hanya tersenyum kecil dan meminum tehnya.


"Ini sudah malam. Apa tidak sebaiknya kamu pulang saja?"


"Eh, iya, Nek."


"Cepat pulang jangan terlalu larut."


Gadis itu menganggukkan kepala dengan segan.


"Ken, antar dia pulang ya?"


"Iya, Nek," sahut pemuda itu.


Tak lama Mira pamit.


Ken mengantarnya pulang. Ketika kembali, ternyata nenek menunggunya. "Nenek belum tidur?"


"Mmh." Wanita tua itu menyeruput tehnya di meja pendek. "Sudah lama kamu kenal dengannya?"


"Sudah, Nek. Kenapa?" Ken menghampiri.


"Kau suka padanya ya?"


"Seperti adik. Dia sangat manis." Pemuda itu duduk tersenyum sambil makan kripik yang tersedia di atas meja.


Nenek hampir tertawa. "Kamu yakin itu?"


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Apa kamu belum bisa membedakannya, Ken?"


"Membedakan apa?"


"Perasaanmu."


"Perasaanku? Perasaanku kenapa, Nek?"


"Apa ... kau pernah kesal, Mira dekat dengan orang lain?"


"Oh, sekarang ini dia sedang dekat dengan pria menyebalkan. Aku ingin sekali mema*tahkan batang lehernya. Ia bisa membuat Mira lebih memilih dia daripada aku, padahal aku orang yang lebih dulu mengenalnya, Nek. Pria macam apa itu? Sampai-sampai aku belajar judo karena khawatir, jangan sampai Mira salah memilih orang!" Ken mengomel.


"Bukan cemburu ya?"

__ADS_1


"Mmh, cemburu?" Ken kaget mendengar kalimat nenek.


Nenek beranjak berdiri. "Sudah, ini sudah malam. Kau cepatlah tidur."


Pemuda itu masih berkutat dengan kalimat yang dikatakan Nenek itu. Bahkan hingga ke pembaringan. Cemburu? Apa maksud Nenek dengan cemburu? Yang pasti aku kesal dong, sudah lama bersamanya tapi tidak dianggap. Ya kesal, bukan cemburu. Nenek ada-ada saja. Ken memiringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Tak lama ia tertidur.


---------+++----------


"Ken!"


Lagi? Aduh ... Pemuda itu tak bisa menghindar ketika gadis berambut merah itu menariknya ke kantin.


"Apalagi sih?"


Gadis itu hanya tersenyum. Seperti biasa ia membeli roti dan susu kotak. Setelah itu ia mengajaknya duduk di kursi terdekat. "Kamu kemarin ke mana?"


"Ada 'kan sekolah," jawab Ken pura-pura tak mengerti.


"Setelah itu."


"Masuk klub."


"Setelah itu."


"Eh, aku sudah berhenti kerja," jawab pemuda itu sambil melirik sekilas gadis itu.


Lucille merengut. "Kok gak bilang-bilang?"


"Aku sudah berencana lama ingin berhenti karena Nenek tidak setuju dan sekarang aku harus fokus belajar."


"Eh, ya, tapi aku bertanggung jawab untuk membuat orang yang kugantikan ini bisa kuliah karena keluarganya berharap banyak padanya."


Lucille masih terlihat sebal. "Jadi, kau takkan kerja lagi?"


"Ya, aku kerja membantu Nenek, sekarang."


Gadis itu masih merengut sambil menggigit rotinya.


"Sudah ya, aku masih ada kerjaan di kelas."


Lucille ingin menahannya tapi ia masih sangat kesal pada Ken apalagi pria itu sama sekali tak sensitif dengan perasaannya. Ia hanya mampu melihat saja pemuda itu pergi tanpa bisa berbuat apa-apa.


----------+++--------


Kedua orang tua Ken pulang kampung. Bersama nenek, mereka membuka toko pakaian. Nenek pada akhirnya tinggal di rumah. Sesekali ia ke sawah memeriksa orang-orang yang mengurus sawah dan kebunnya, sedang di panti asuhan, mereka membuat minimarket di mana pegawainya sebagian berasal dari anak-anak panti asuhan.


"Ayah, ibu. Berangkat dulu ya?" Ken meminum susunya saat telah menghabiskan roti di tangan.


"Ken, ini bekalmu." Seorang wanita berambut sebahu yang di keriting bergelombang memberi kotak bekal pada Ken. Ia mencium pipi pemuda itu sebelum pemuda itu pergi.


"Pergi ya!" Ken berlari-lari sampai ke pintu depan sambil membawa bekal dari ibu. Ayah hanya melihat saja dari meja pendek sambil meneruskan sarapannya.


Ibu dan ayah saling berpandangan. Ia melihat perubahan pada diri Ken yang tidak lagi senakal dulu. Pemuda itu lebih santun kini dan bersemangat bersekolah.


Ken yang sudah menaiki sepedanya terdiam sesaat. Inilah keluarga yang ia impikan dulu, kini ia mendapatkan, tapi hanya untuk sementara. Entah kapan ia akan pindah dimensi lagi. Ia mengayuh sepedanya.

__ADS_1


Di sekolah, Lucille masih mengejar-ngejar Ken. Gadis itu bahkan ikut masuk klub judo agar bisa dekat dengannya, tapi pemuda itu selalu mengabaikannya.


"Ken, kenapa kau bersikap begini terus padaku padahal aku sudah coba merubah semua keburukanku," ucap gadis itu sambil mengerucutkan mulutnya.


Pemuda itu mendatangi Lucille sambil memandang sinis pada wajah gadis cantik itu dari dekat. "Apa kau akan mengembalikan bola Kristal Mira yang kau curi itu?"


Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya. "Itu tidak mungkin. Bagaimana aku bisa mengikutimu kalau begitu?"


"Kalau begitu, lupakan. Aku takkan mungkin bersikap baik padamu selama kau belum mengembalikan bola kristal yang kamu curi itu pada Mira." Ken melengos pergi.


"Ken!" panggil gadis itu sambil menghentakkan kaki, tapi pemuda itu tak kunjung menoleh. Pemuda itu meninggalkannya.


-----------+++------------


"Apalagi?" Ken didatangi teman berkelahinya Dojo, si rambut putih. Apalagi kalau bukan mengajaknya tawuran.


"Seperti biasa." Pemuda itu menaikturunkan alisnya berulang kali.


"Terus terang aku ingin pensiun dari itu," ucap Ken dengan penuh percaya diri menatap pemuda itu. "Bagaimana kalau kita tanding yang lain saja?"


"Tanding apa?"


"Tanding ini." Ken memperlihatkan lengan atasnya yang mulai berotot. "Ayo kita tanding panco."


"Ayo, siapa takut!" sambut pemuda berambut putih itu.


"Yang kalah traktir ramen dingin ya?"


"Ok, siap!"


Ken berpasangan dengan pemuda berambut putih itu sedang anak buahnya dengan anak buah pemuda itu.


Ken meletakkan tangannya di atas meja. Demikian pula pemuda itu. Setelah menyatukan kepalan, mereka mulai bertanding saling menjatuhkan.


Pemuda berambut putih itu memang punya tangan yang besar. Juga berotot, tapi Ken mampu menjatuhkannya setelah beberapa menit.


"Aku menang!" Ken mengangkat kedua tangannya.


Beberapa dari anak buahnya ada yang menang dan kalah. Setelah itu mereka mendatangi restoran mi, untuk makan mi dingin bersama.


Mereka terlihat akrab. Belum pernah Ken segembira ini bersama mereka.


-----------+++---------


Mulai masuk musim panas di desa itu. Sore itu, Ken mengunjungi anak-anak panti.


"Kak Ken!"


"Kak Ken!"


Anak-anak kecil itu langsung berlari mendekat, ketika tahu pemuda itu datang. Bukan saja karena Ken membawakan puding mini tapi karena mereka senang pemuda itu berkunjung ke sana. Biasanya Ken akan bercanda dengan anak-anak itu atau membacakan buku cerita buat mereka. Mereka sangat memfavoritkan pemuda itu.


Mira kadang-kadang hanya memperhatikan saja dari jauh bagaimana pemuda itu bercanda dengan anak-anak kecil itu. Ken sepertinya menyukai anak-anak.


____________________________________________

__ADS_1



__ADS_2