Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Rumah Sakit


__ADS_3

"Ken ...!"


Pria itu menoleh. Ia menegak dari kaleng, minuman jus jeruk yang ia dapat dari mesin penjual. Ia menunggu wanita itu mendekat.


Hannon yang datang dengan berlari-lari, kemudian berhenti di hadapan Ken. Ia mengatur napas karena terengah-engah habis berlari. "Aku dapat nama rumah sakit yang membolehkan kamu magang," ucapnya dengan napas yang masih tidak beraturan.


"Oh, terima kasih. Apa dari dosen itu? Kau tidak?"


"Ya, belumlah! Semua juga harus lulus dulu, baru bisa. Ini 'kan beda kasus, Ken. Dosen gila itu mau kamu jadi asistennya asal mengikuti syarat yang dia berikan."


"Oh, begitu?" ucap pria Jepang itu pura-pura terkejut.


"Ah, Ken! Kamu tuh ...." Wanita itu menendang kaki pria itu yang sudah terlanjur menghindar.


Ken tertawa terkekeh-kekeh sambil menahan perutnya.


"Gak lucu!" Hannon melipat tangannya di dada karena ngambek dan membuang wajahnya ke samping.


"Hannon ... masa gitu aja marah. Aku 'kan cuma bercanda. Nanti kutraktir piza lagi deh. Ya?" bujuk pria itu.


Wanita itu melirik Ken dengan wajah kesal. "Sombong kamu, sejak jadi orang pintar. Double cheese ya?"


"Iya, iya. Aku gak akan lupa kok. Udah dong, jangan ngambek lagi. Nanti siapa yang akan menolong aku lagi, kalo bukan kamu?" bujuk sang pria seraya tersenyum.


Hannon mulai melunak. "Awas, jangan lupa. Double cheese pizza." Ia mengingatkan.


"Iya." Ken mengacak-acak rambut wanita itu lembut, yang kini dipotong pendek dan makin memperlihatkan sisi tomboi sang wanita.


Sehari-hari, memang wanita itu banyak membantunya. Mencari buku, materi ujian, mencari dosen, bahkan menghindari wanita-wanita yang naksir padanya hingga banyak yang menyangka, Hannon pacar Ken. Ada pula yang menyangka Ken gay. Itu karena penampilan wanita itu yang mirip laki-laki. Bertubuh tinggi kurus dan berambut pendek. Padahal kalau diperhatikan, wanita ini cukup manis.


Hannon menghela napas pelan. "Tapi di sana, kau harus mulai mengusahakan segala sesuatunya sendiri sekarang, karena rumah sakit itu agak jauh dari sini tapi dekat dengan apartemenmu."


"Apa? Rumah sakit Imperia?" tanya Ken memastikan.

__ADS_1


"Ya, betul. Rumah sakit mewah itu."


"Hah ...." Pria itu menghela napas kasar seraya bersandar.


"Ada beberapa senior kampus ini yang juga magang di sana, seperti ...."


Ken menggoyang-goyangkan tangannya. "Sendiri lebih baik."


Wanita itu tersenyum lebar. "Semangat ya?" Ia menaikkan kedua tangannya yang terkepal.


---------+++----------


Ken mendatangi meja pendaftaran. "Maaf."


Seorang wanita berseragam petugas kantor rumah sakit menatapnya. "Iya, Anda mau daftar ke mana?"


"Oh, bukan. Aku mahasiswa kedokteran yang mau magang di sini. Aku harus lapor ke mana ya?"


"Oh, begitu? Sebaiknya Anda naik ke lantai dua dan temui kepala perawat. Dia yang lebih berkepentingan soal ini di rumah sakit."


"Ok, ikut aku." Namun baru saja mereka hendak pergi ke tempat lain, tiba-tiba semua orang di sekitar, memberi hormat pada seorang pria paruh baya yang lewat di depan mereka dengan seorang wanita yang ternyata dikenal Ken.


Tentu saja. Siapa lagi yang tidak kenal dengan Lucille, si rambut merah. Dari jauh saja semua orang pasti langsung mengenalinya. Ken berusaha tetap tenang dengan ikut memberi hormat pada pria itu.


Pria bule paruh baya itu mengenakan jas yang berwarna sama dengan celana panjangnya, abu-abu. Rambutnya yang putih dan sedikit panjang ditata sedikit klimis ke belakang. Wajahnya terlihat nyentrik dengan dandanannya yang seperti itu.


Wanita berambut merah itu terkejut melihat pria Jepang itu dan langsung mendahului pria paruh baya itu. "Pa, aku mau kerja di sini, asal aku bisa bertemu dengannya setiap hari." Ia mengucapkannya sambil menunjuk pada Ken.


Keruan saja semua orang yang ada di rumah sakit melihat ke arah mereka berdua, termasuk pria paruh baya itu. Pria Jepang itu pun terkejut mendengar keterusterangan Lucille di tempat umum seperti itu.


"Jangan bercanda, Lucille. Tadi katanya kau tak mau bekerja di rumah sakit karena tak tahan bau obat," sergah pria itu yang ternyata adalah direktur sekaligus pemilik rumah sakit itu. Ia pusing mendengar ucapan anaknya yang sering berubah-ubah.


"Tapi dia temanku, Papa. Aku ingin bekerja dengan orang-orang yang aku kenal," sungut Lucille.

__ADS_1


Pria paruh baya itu menghela napas berat. Ia menatap Ken. Teman yang dimaksud pasti bukan teman biasa karena orang Jepang yang berada di hadapannya ini adalah seorang pria. Pasti istimewa. Ia melihat Ken berdiri di samping kepala perawat.


"Siapa dia?" tanyanya pada kepala perawat itu.


"Oh, ini orang magang baru, Pak."


Pemilik rumah sakit itu terkejut. "Dokter baru?" tanyanya tak yakin karena biar dilihat dari manapun, pria itu tampak masih sangat muda.


"Oh, bukan. Calon dokter."


"Calon dokter?" Pria bule itu melirik lagi pada Ken dengan kening berkerut. "Mmh." Ia menoleh pada kepala perawat itu. "Ayo, ikut aku ke kantor." Ia bergerak memimpin di depan diikuti Lucille, kepala perawat dan Ken.


Ken melihat pandangan iri pegawai rumah sakit lain padanya, membuat ia jadi serba salah. Sebenarnya, ia bila ingin egois, ingin rasanya meninggalkan mereka semua, tapi ia ingin jadi asisten dosen.


Posisi itu sangat diinginkannya. Apalagi dengan dokter ahli yang memang selalu dicari itu. Mendapatkan perhatiannya sungguh sangat luar biasa bagi Ken. Dilema, dan Lucille selalu jadi batu sandungan.


Di ruang kerja kepala rumah sakit, pria itu mendengarkan cerita dari kepala perawat.


"Begini, Pak. " Wanita berpakaian perawat itu mulai bercerita. "Memang yang berstatus mahasiswa, belum bisa magang, kecuali sudah mengambil gelar dokternya, tapi ini permintaan dari salah satu dosen di sana agar mahasiswa ini magang dengan cara berbeda. "


Pria ini masih mendengarkan karena penasaran. "Teruskan." Ia melipat tangannya di dada.


"Mahasiswa ini baru satu semester kuliah di sana, dan nilai ujiannya sangat bagus. Ia akan jadi asisten dosen, tapi dengan syarat harus menghadiri beberapa operasi besar yang ada di rumah sakit ini. Itupun, magang di rumah sakit ini, karena rekomendasi dokter itu."


"Oh, aku tahu! Pasti dokter Barnes, " sahut pria itu menyentuh jenggot kecil di dagunya. "Hanya dokter itu yang sering memberi syarat gila pada mahasiswanya."


"Ya, betul dia, Pak. "


"Karena dia dokter syaraf yang paling dicari dan kita membutuhkannya, jadi terima saja apa yang dimintanya selama itu merugikan kita. Berarti ini pasti mahasiswa pilihannya. Berapa operasi yang harus mahasiswa ini hadiri?" Pria itu menunjuk Ken dengan dagunya.


"Katanya 5, tapi tidak semua operasi bisa dia hadiri. Operasi yang akan dia hadiri harus dengan persetujuan dokter Barnes," terang kepala perawat itu.


"Ok. Tentang jadwalnya bagaimana?"

__ADS_1


"Di luar jam kuliah, karena itu aku akan mencocokkan jadwalnya. Dia akan menunggu untuk operasi dadakan juga, untuk itu dokter itu juga akan datang lebih sering ke rumah sakit ini."


"Oh, bagus kalau begitu. Beri tahu aku bila dokter itu datang."


__ADS_2