Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Toko


__ADS_3

Pria itu kehilangan kata-kata. Ia tidak mengira pemuda itu akan membayar dengan emas sebanyak itu. Seumur hidupnya, ia baru kali itu melihat emas murni sedemikian banyaknya. Bahkan, rupa sekeping emas dalam bentuk aslinya, baru kali itu ia melihatnya secara langsung.


Untuk beberapa saat pria itu tenggelam dalam kekaguman akan koin emas yang dipegangnya, sampai Ken berdehem hingga membawanya lagi ke alam nyata.


"Eh, maaf, tapi kami tidak menerima pembayaran dalam bentuk apapun selain uang Yen, karena itu sebaiknya koin emas ini dijual dulu baru bisa dipakai," terang pria itu.


"Tapi aku harus jual ke mana, aku tidak tahu," jawab Ken lugu.


"Oh, aku tahu tempatnya! Tidak jauh dari sini kok. Sini, aku kasih tahu tempatnya," jawab salah satu calon pembeli. Ia mengeluarkan secarik kertas dan menggambarkan peta.


Dari pria penjual toko itu juga pemuda itu mendapatkan harga pasti dari kedua toko itu dan kemudian Ken pergi. Pria itu menoleh kepada para calon pembelinya. "Maaf, sepertinya toko yang tersisa akan dibeli oleh anak muda itu semuanya."


"Tidak apa. Kita bisa apa kalau penawaran anak muda itu lebih menguntungkan untukmu," jawab wanita itu.


Pria itu juga bingung dari mana pemuda itu bisa mendapatkan koin emas sebanyak itu tapi ia tak mau ambil pusing. Asalkan penjualannya lancar, ia juga akan mendapat untung besar dari penjualan ini.


--------------+++------------


"Nenek, aku pulang," teriak Ken ketika sampai di rumah.


Nenek tentu saja terkejut. "Tumben kau pulang cepat, Ken. Kamu tidak sakit 'kan?" Wanita tua itu malah khawatir. Ia keluar dari dapur.


"Nek, ke sini sebentar," ajak pemuda itu ke meja pendek di tengah ruangan.


Nenek pun duduk bersamanya di samping meja itu.


Ken mengeluarkan setumpuk uang dari dalam tas ranselnya yang membuat nenek itu terperangah. "Ini Nek, aku dipinjami uang oleh teman untuk buka usaha."


Nenek masih melongo beberapa saat. "Ini benar dipinjami uang sama teman kamu? Kamu tidak mencurinya 'kan Ken?"


"Tidak, Nek. Jadi temanku itu tadinya ingin membantu panti asuhan, tapi memberi uang saja tidak akan pernah cukup. Jadi dia mengusulkan padaku untuk membuat usaha untuk panti asuhan itu, agar ada perputaran uang yang tidak habis dan bisa menjaga kelangsungan panti itu.


Namun uang yang diberikan menurutku terlalu banyak dan juga riskan bila hanya satu usaha saja. Karena itu aku membeli 2 toko. Satu untuk panti asuhan dan satu lagi buat nenek, jadi kalau sewaktu-waktu usaha yang dijalankan panti asuhan itu bangkrut, 'kan masih ada toko yang dikelola Nenek."


"Maksudnya gimana, nenek gak ngerti, Ken? Kenapa Nenek diberi toko secara gratis begini? Apa dia tidak rugi?" Wanita tua itu makin terperangah.


"Bukan gitu, Nenek. Jadi Nenek diminta mengelola sebuah usaha apa saja dengan sebuah toko. Usaha yang Nenek bisa. Nah, keuntungannya dibagi dua dengan panti asuhan. Istilahnya, panti asuhan meminjamkan modal pada Nenek untuk buka usaha. Ini ada uang untuk Nenek membeli lagi barang-barang keperluan untuk jualan. Ken harap ini cukup untuk modal Nenek berjualan."

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan kebun dan sawahnya?"


"'Kan Nenek bisa sewa orang untuk mengurusinya 'kan?"


Nenek hampir tak percaya mendengarnya. Ini bagai durian runtuh. Netra wanita tua itu kini berkaca-kaca. Ia memeluk cucunya dengan erat. "Baik sekali temanmu itu ya? Sampaikan rasa terima kasih nenek padanya ya?" Wanita tua itu menempelkan wajahnya pada wajah cucunya itu.


"Aku berharap ayah dan ibu mau pulang untuk membantu nenek di toko."


"Mmh, nenek akan tanyakan pada mereka, toko apa yang cocok untuk dikelola bersama."


Walaupun wanita itu bukan neneknya tapi air matanya tetap jatuh melihat wanita itu berurai air mata menatapnya. Pemuda itu memeluknya dengan hangat.


----------+++---------


Mobil berhenti di tempat sepi dan sedikit temaram. Pria itu mematikan pula lampu mobilnya.


"Eh, kenapa kita berhenti di sini?" Tanya gadis itu keheranan. "Bukannya kita mau pergi ke acara pertemuan?"


"Sebelum itu kita membuat kesepakatan dulu." Pria itu menyatukan jemarinya.


"Iya, karena itu, sekarang sudah saatnya." Pria itu mendekatkan dirinya pada Mira.


Gadis lugu itu heran dengan sikap yang ditampilkan pria itu. "Bapak mau apa, Pak?"


Pria itu meraih pinggang gadis itu dengan berani. "Tentu saja dirimu."


"Apa?" Mira mendorong tubuh pria itu dengan kasar tapi pria itu makin bernafsu memeluknya. Di saat itu, gadis itu memiringkan tubuh dan menjadikan sikutnya senjata untuk menghajar tubuh dan juga wajah pria itu dengan 2 kali serangan cepat.


"Ah ... agh!"


Sehingga pegangan pria itu terlepas. "Kau!" ucapnya geram. "Panti asuhan itu takkan bisa bertahan tanpa bantuan dariku, ingat itu! Jadi kalau kau tak melayaniku, aku takkan membantu mereka!" ancamnya pada gadis itu.


"Persetan! Menolong orang itu mulia. Bagaimana bisa bercampur dengan pekerjaan setan seperti ini, mmh?!" kecam gadis itu garang. Ia segera membuka pintu mobil.


"Eits, pikirkan sekali lagi. Sekali kau keluar, kau takkan bisa mengemis padaku lagi, Nona!" ancam pria itu lagi sambil mengacungkan jari telunjuknya.


Mira tetap keluar dan menutup. Ia menatap pria itu dengan mata membulat sempurna dari kaca jendela dengan yakin. "Selamat tinggal, Tuan Kawaki yang terhormat!" Dan ia pergi meninggalkan mobil itu sambil berjalan kaki.

__ADS_1


Pria itu mendengus sebal.


----------+++--------


Gadis itu melangkah sendirian di udara malam yang mulai dingin itu. Ia bingung dan juga kesal. Seperti yang dikatakan Ken bahwa pria itu punya niat jahat padanya, tapi di lain pihak ia juga harus memikirkan kelangsungan panti asuhan itu. Kini, ia bingung harus ke mana lagi meminta bantuan.


"Mira?" Ken datang dengan sepedanya. "Kenapa kamu malam-malam di sini?" Pemuda itu turun dari sepeda.


Bukan disambut gembira, gadis itu malah menangis.


"Lho, Mira. Ada apa?"


Gadis itu mendekat dan memukuli tubuh pemuda itu dengan lemah. "Kenapa Kakak baru datang sekarang, kenapa? Katanya Kakak akan melindungi Mira, Kakak bohong! Huuu ...."


"Mira, ada apa denganmu?" tanya Ken lembut. Ia berusaha mendekap gadis itu walau masih ada perlawanan kecil, tapi perlahan gadis itu merebahkan kepalanya pada dada bidang pemuda itu. "Mira ... Kakak minta maaf kalau Kakak salah ya?"


Gadis itu kini mendekap pemuda itu dan menyembunyikan wajahnya di tubuh atletis Ken. Ia berusaha menenangkan gejolak dirinya yang masih terus meluap.


Ken membiarkan gadis itu meluapkan perasaannya. Sesekali ia mengusap kepala gadis itu lembut hingga akhirnya tangis gadis itu berhenti. "Kau mau ke mana?"


Mira tak menyahut. Ia mogok bicara.


"Ya sudah. Emh, aku mau pulang karena tadi barusan membeli obat untuk kaki nenek yang pegal. Kau mau ikut?"


Gadis itu mengangguk walau masih menyembunyikan wajahnya di tubuh pemuda itu.


"Kalau begitu, kamu kakak bonceng di belakang, mau? Atau mau di depan?"


Gadis itu memukul lengan Ken dengan manja dengan mulut mengerucut.


Pemuda itu tertawa lepas. "Ya sudah. Yuk!"


Gadis itu membonceng di belakang. Saat pemuda itu mengayuh sepeda, Mira memeluk pinggang pemuda itu dan menyandarkan kepalanya di sana. Hatinya kini damai.


__________________________________________


__ADS_1


__ADS_2