
"Memang ada apa, Kak?" tanya gadis itu, heran.
Ken baru akan mengucapkan sesuatu ketika ia nengerut dahi memperhatikan penampilan gadis itu yang tak biasa. "Kenapa rambutmu memutih sebagian?"
"Oh, ini? 'Kan aku datang ke tempat seperti ini, Kak. Banyak yang mewarnai rambut dan pakai anting di wajahnya jadi aku berusaha beradaptasi seperti ini."
Pria itu merengut. "Jangan berdandan seperti ini, aku gak suka. Kamu terlihat jelek!" ketusnya.
Mira ikut-ikutan merengut dan kesal hingga meninggal Ken di sana sendirian. Pria itu, yang menyesal telah salah bicara, langsung mengejarnya. Ia meraih tangan gadis itu dan meminta maaf. "Mira, maaf, maaf, maaf ya?"
"Lagian ... aku 'kan gak minta pendapat Kakak tentang penampilanku."
"Iya, maaf." Ken memberi senyum yang paling lebar. "Tolong, maafkan aku ...." Ia menyatukan tangan di depan wajah, memohon.
Mira masih merengut.
"Eh, di depan ada kafe yang menjual es krim. Mau gak?" bujuk pria itu.
Gadis itu terdiam saja tapi mulutnya sudah jauh lebih datar.
Melihat kesempatan itu, Ken langsung menggandeng gadis itu untuk mendatangi kafe dengan menyeberang jalan. "Es krimnya enak lho, ada yang rasa stroberi," bisiknya.
"Aku suka yang rasa vanila."
"Oh, ada ... ada." Pria itu senang bisa melunakkan kekesalan gadis itu. Ia tersenyum senang.
Keduanya mendatangi kafe mungil di seberang jalan. Pria itu memilih meja yang berada di luar. "Kau mau apa, pilih saja." Ia menyodorkan buku menunya pada gadis itu.
"Eh, tapi ini mahal," ucap Mira saat melihat harganya. "Lebih baik pilih yang dipinggir jalan saja."
"Tapi jam segini mereka belum buka."
"Tidak apa-apa. Daripada ini," terang gadis berkuncir satu itu.
"Sudah, pilih saja. Aku punya uang kok untuk membayarnya, walau tak banyak."
"'Kan lebih baik ...."
Ken segera meraih tangan gadis itu yang ada di atas meja. Ia menggenggamnya. "Aku cari uang untuk kamu kok."
Betapa berbunga-bunga hati gadis itu mendengarnya. Kak Ken mencari uang untukku? Pipi gadis itu memerah seketika. "Hanya untukku?"
Ken mendekat dan mencubit pipi gadis itu, lembut sambil tersenyum lebar. "Pria mana yang tak suka mempunyai adik semanis ini, mmh?"
Entah kenapa, Mira merasa sedikit kecewa mendengarnya. "Eh, ya sudah," sahutnya sedikit canggung. Ia kemudian memesan es krim yang disajikan di sebuah gelas. Ia mencobanya. "Kakak gak mau?" katanya menyodorkan gelas yang sudah disendokinya beberapa kali.
"Tidak, aku masih kenyang." Ken menyeruput tehnya. Sambil meletakkan cangkir, ia menatap Mira. "Eh, kamu tahu 'kan aku sudah pindah dimensi?"
Gadis itu meliriknya. "'Kan aku sudah di sini."
"Eh, iya. Maaf ya, aku tinggal. Aku pindah secara mendadak."
"Aku tahu." Gadis itu menyuap es krimnya.
"Aku jadi merasa bersalah padamu, karena sudah janji tapi tidak ditepati."
"Tidak, apa-apa. Sudah biasa."
"Eh, jangan begitu. Aku tak enak padamu," rengut Ken.
__ADS_1
Mira meletakkan sendoknya dalam gelas dan menatap pria itu lekat. "Kak Ken, itu pekerjaanku. Kamu pun juga tak harus memgenalku kalau kau tak mau."
"Eh, jangan begitu." Pria itu segera mendekatkan kursinya pada gadis itu. "Aku tidak bermaksud begitu."
"Tapi ini komitmen pekerjaan, Kak Ken. Tidak ada hubungannya dengan perasaan."
"Tapi aku, eh?" Ken terkejut dengan pernyataan Mira. "Maksudmu, walau aku membencimu atau kamu membenciku sekalipun, kamu tetap akan membantuku?"
Gadis itu mengangguk.
"Oh." Pria itu melongo. "Apa kau membenciku?"
Gadis itu menggeleng.
"Apa kau menyukaiku?" Namun sebelum Mira menjawab, pria itu segera memotongnya. "Eh kalau yang itu tidak perlu." Ken segera tersenyum. "Tidak perlu."
Mira meneruskan makannya dengan nyaman.
"Eh, berarti kamu tahu, aku di sirkus sekarang, 'kan?"
Gadis itu mengangguk.
"Kamu datang dong, tengok aku."
"'Kan sekarang sudah?"
"Aku sedang bingung, mau meneruskan pekerjaanku atau tidak," cerita Ken.
"Kalau tidak mau ya berhenti saja," ucap gadis itu santai.
"Masalahnya, aku terlanjur berhutang karena dianggap telah mengintip sirkus tanpa bayar. Padahal aku 'kan tiba-tiba saja jatuh di sana dan tak akan mungkin aku ceritakan ini ke mereka, iya 'kan?"
"Tapi mereka mengancam akan memasukkanku ke penjara kalau aku berusaha kabur dari tanggung jawab."
Mira masih mengangguk-angguk.
"Tapi kalau aku masuk penjara, siapa yang akan bayar dendanya?"
Gadis itu kini mengangkat bahu.
"Nah, karena itu aku bilang padanya akan rugi bila memasukkanku ke penjara dan akhirnya solusinya ini."
"Dan Kakak gak mau meneruskan."
"Bukan gak mau meneruskan tapi resikonya besar."
"Memang Kan Ken mengerjakan apa?" Dahi gadis berwajah kecil itu berkerut.
"Melangkah di atas tali."
"Kenapa gak mau?"
"Seram sekali, Mira. Tinggi, tinggi sekali. Ini lebih tinggi dari saluran udara yang kita lewati waktu itu."
"Lalu kenapa?"
"Aku 'kan bisa jatuh, bisa celaka. Walaupun ada tali pengaman sekalipun yang akan melindungi, tetap saja ...."
"Tetap saja, apa?"
__ADS_1
"Aku 'kan bisa celaka, Mira!" jawab Ken kesal.
"Memang kenapa kalau celaka?"
"Mira aku 'kan ...."
"Kamu 'kan bisa menyembuhkan dirimu sendiri. Kamu 'kan bukan manusia tapi manusia setengah dewa."
Ken meletakkan telunjuknya di mulut. "Sst!" Ia menengok kanan kiri. Untung saja kafe masih sepi.
"Intinya kenapa kamu harus takut? Kamu punya kelebihan dari manusia lainnya kenapa tidak dipergunakan?"
Ken terdiam dengan menundukkan matanya.
"Tapi aku gak punya hak untuk mengatur hidupmu sih!" kata gadis itu, tahu diri.
"Eh, tidak Mira, kau benar." Ken meraih lengan gadis itu di atas meja.
"Apa Kakak yakin? Kalau tidak yakin, ya tinggalkan saja. Aku ada tidak untuk memaksamu. Aku ada hanya untuk membantumu saat kau butuh. Kalau tidak, ya aku tidak bisa memaksa."
Pria itu menatap gadis itu lagi dengan sungguh-sungguh. Kalau ia tidak mengerjakannya memang tidak ada pilihan lain atau ia akan terus berada di dunia itu tanpa bisa berpindah lagi, padahal di depannya sudah ada segudang rencana yang harus ia tuntaskan dan ini adalah sebuah lompat. Ya, lompat yang harus ia lakukan walau ia tidak tahu gunanya untuk apa. Ia juga harus melihat jeri payah Mira yang sudah menemaninya hingga sejauh itu.
Ken menggenggam tangan Mira dengan keputusan yang sudah bulat. "Tapi nanti malam datang ya?"
"Kakak sudah mulai atraksi?"
"Bukan. Aku jadi badut yang lucu," ucap pria itu sambil menggerak-gerakkan tubuh dan tersenyum.
Mira pun melebarkan senyum sambil mengunyah kembali es krimnya. "Iya, ok."
"Tapi rambutmu ...." Pria itu menunjuk rambut gadis itu.
"Iya, iya ...."
-----------+++----------
Ken menemani setiap anak kecil yang mau berfoto dengannya. Anak-anak itu senang karena Ken jadi boneka panda putih yang lucu. Setelah mereka pergi, pria itu kembali mendatangi Mira yang duduk di kursi panjang. Ia membuka kepala bonekanya. "Panas juga ternyata pakai ini."
"Mmh."
Mereka tak sadar tengah diintip Lisa, Sinna dan Costa.
"Itu pacarnya ya?" tanya Lisa pada Sinna.
"Mana aku tahu."
"Wajahnya lucu ya? Imut. Apa mungkin itu adiknya, karena wajahnya seperti anak SMP."
"Tidak mungkin. Wajah mereka tidak mirip. Mungkin pacarnya."
"Bagaimana kalau itu temannya?" sahut Costa dari belakang.
"Tidak mungkin. Kamu saja tidak percaya, cowok dan cewek bisa berteman," sindir Lisa.
Costa merengut.
____________________________________________
__ADS_1