
Ken masih berbaring di atas pasir pantai itu melepas lelah. Sekarang aku harus ke mana? Apa aku harus mencoba masuk hutan itu lagi? Hah ... tak ada orang untuk diajak bicara. Ken memejamkan mata seraya meletakkan lengan di dahinya. Ia tidak serta merta langsung tertidur. Pikirannya menerawang ke kejadian barusan.
Kenapa dia berada di situ sendirian? Apa permintaannya tadi dikabulkan? Lalu bagaimana caranya ia akan menyelamatkan Yumi kalau hanya berbekal pedang dan sendirian? Ia bahkan tidak tahu harus ke mana sekarang.
Ken membuka matanya. Udara cerah malam membuatnya bisa melihat rembulan seutuhnya bahkan bulat tanpa terhalang awan. Ia memutar tubuhnya ke samping memunggungi pantai.
Ah, kenapa aku masih saja bodoh dan tak bisa apa-apa. Bahkan sampai saat ini tak tahu bagaimana mencari tempat tinggal Lord Z(Lorzi) itu. Ken resah dan menghela napas dengan kasar.
Tiba-tiba pria itu terduduk. Daripada resah yang tak jelas ujungnya, lebih baik ia bergerak sekarang. Setidaknya hatinya tidak terus-terusan penasaran. Ia kemudian bangkit, membawa pedang itu menuju ke arah hutan.
Saat mendekati hutan, Ken sedikit ketar-ketir akan bertemu makhluk lain yang sama menyusahkannya seperti serigala tadi, tapi ia berusaha kuatkan tekat, dirinya tak selemah itu dan mampu menyelesaikan masalah. Ia punya tangan dan otak untuk membantunya.
Baru beberapa meter memasuki hutan, ia mendengar sesuatu. Seperti suara mendesis ... ular. Ya, ia melihat ular besar berwarna hitam dengan garis-garis putih, melingkar di sebuah dahan besar di atas pohon.
Tentu saja pria itu terkejut. Ia mengarahkan tangannya ke arah dahan itu.
"Oi, Ken. Tunggu!"
Pria Jepang itu tentu saja mengenali suara barito pria itu. Netranya langsung mencari berkeliling tapi ia tak menemukan wujudnya. "Gojo, kau di mana?"
"Aku di atas."
Kembali netra Ken menatap ke arah atas sambil menunjuk ular itu. "Itu kamu?"
"Iya, sebentar." Ular itu kemudian melepas lilitannya pada dahan dan meluncur turun. Ia kemudian masuk ke sebuah semak dan tak lama keluar kembali dengan wujud Gojo yang pria Jepang itu kenal.
Melihat Gojo datang, Ken merengut kesal. "Hampir saja aku masukkan kamu ke dalam tanganku." Ia nyaris memukul pria Cina itu dengan tangannya.
Pria itu terkekeh. "Aku cuma bercanda. Tadinya mau bikin kejutan, 'kan kamu takut ular."
Sang pria Jepang mengerut dahi sambil masih menatap tajam pada anak dewa binatang ini yang membuat Gojo makin tergelak. "Terus aja meledekku!" ujarnya ketus.
"Ya tidak, Ketua. Kau Ketua perjalanan ini."
"Kenapa kau memanggilku, Ketua?"
"Karena kau yang akan memandu kami nanti."
"Kami?" Dahi Ken kembali berkerut.
__ADS_1
"Nanti yang lain akan datang bergabung."
"Seperti Ejiro dan Mira?"
"Orang-orang yang kau kenal."
Pria Jepang itu terlihat bersemangat. "Eh, terima kasih kau mau datang dan membantuku. Aku pikir aku akan melawannya sendirian."
"Tidak mungkin. Kalau kami ikut, berarti kamu butuh pertolongan."
"Iya, bahkan sejujurnya aku tak tahu, aku akan pergi ke mana."
"Kau pasti akan menemukannya, percayalah."
Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan. Tak lama terdengar suara orang yang sedang bertengkar di dalam hutan. Keduanya berusaha mencari, karena mengenal si empunya suara itu.
"Ngak mau!"
"Ini dikasih yang bagus malah gak mau, gimana ...."
"Ya gak maulah! Aku mau ambil sendiri. Awas jangan dekat-dekat. Kamu itu genit!"
Mau genit gimana?"
Keduanya, Ken dan Gojo segera mencari sumber suara itu. Tak jauh dari sana, ada sebuah pohon apel. Entah kenapa pohon apel itu ada di dalam hutan.
Kedua orang yang bertengkar itu, siapa lagi kalau bukan Ejiro dan Mira. Melihat Ken datang, gadis itu berlari ke arahnya dan bersembunyi di belakang punggung pria Jepang itu.
"Kak Ken, tolong aku. Aku tak terbiasa dengan pria tua yang tangannya jahil itu," adu Mira dengan sedikit menggerutu.
Ken dan Gojo tertawa.
"Hei, aku belum tua ya? Aku hanya lebih tua beberapa ratus tahun saja dari Ken!" Ejiro bertelak pinggang.
"Beberapa ratus tahun? Kamu ada sebelum pra sejarah ya? Yang berarti tua, tua sekali," tangkis Mira sengit.
Ken dan Gojo makin tergelak. Ejiro cemberut karena dikatakan dirinya tua, tapi ia memang paling tua di antara mereka berempat. Gojo yang wajahnya tak jauh dari Ken, tampak sebaya, bahkan lebih muda padahal Gojo jauh lebih tua hampir seratus tahun dari Ken.
"Sudah, Ejiro. Kamu itu suka memaksa sih. Kalau perempuan gak mau, ya biarkan saja." Ken menasehati.
__ADS_1
"Tuh, denger!" Tunjuk sang gadis pada pria berwajah lugu itu, seraya menatap ke arah kakak tirinya.
"Kamu tuh, terlalu lembek. Kurang jantan," ledek Ejiro.
"Apa kamu bilang?" Ken mengangkat satu alisnya. Ia kini mengejar kakak tiri Mira saking kesalnya. "Hei, kau bilang aku kurang jantan! Enak saja!" Tangannya diangkat hendak memukul pria itu.
Ejiro yang lari lebih dulu, kini tertawa. "Ha ha ha, memang kamu begitu. Lembek! Jadi dipermainkan perempuan terus!" ledeknya sambil mengitari pohon apel itu.
Ken terus mengejarnya sedang Gojo hanya menahan tawa. Mira tersenyum lebar. Tak lama mereka sibuk mengambil buah apel. Sang pria China sangat jago memanjat karena ia pintar merayap di pohon sehingga yang lainnya hanya menunggu di bawah, dan memilih buah yang bagus untuk dimakan.
Makan malam yang hanya buah apel saja, cukup disyukuri keempat orang itu, dan suasana makan malam terasa menyenangkan. Ken mendapat air minum dari botol minum Gojo. "Di mana kau mendapatkan air minum ini, Gojo? Air ini jernih dan bersih."
"Oh, aku mendapatkannya dari mengumpulkan air embun. Air itu sudah bisa diminum tanpa perlu dimasak lagi."
"Setelah ini kita ke arah mana, Ken?" Tiba-tiba Ejiro bertanya.
Ken pun terlihat bingung tak bisa menjawab pertanyaan sang pria. "Aku juga tidak tahu, tapi aku merasa kita sudah dekat dengan tempat yang akan kita datangi. Mungkin berbentuk markas, atau rumah besar, aku tak tahu. Kita berjalan sesuai petunjuk yang datang saja."
"Jadi petunjuknya apa?" cecar kakak tiri Mira.
"Eh, nanti akan datang. Tunggu saja. Sementara kita lanjutkan perjalanan," terang gadis itu membantu Ken.
Ken hanya diam karena selama ini memang Miralah yang membantunya keluar dari masalah. Informasi dari ibunya selalu datang lewat gadis itu.
"Jadi, apa kita sekarang akan meneruskan perjalanan, atau beristirahat dulu," tanya Ejiro lagi. Ia ingin melihat jiwa kepemimpinan Ken sampai di mana dalam menuntaskan masalahnya sendiri.
"Eh, kalau tak ada yang keberatan, bagaimana kalau kita teruskan perjalanan ini? Walaupun malam tapi aku lihat, waktu tak bergeser pagi. Aku berpikir waktu berhenti, tapi tidak. Daun masih bergerak, itu pertanda kita memasuki alam setengah maya. Hanya kita tidak bisa menghitung waktu di sini."
"Baiklah." Kakak Mira itu berdiri. "Aku tak masalah untuk langsung pergi. Bagaimana dengan yang lain?"
Yang lain ikut bangkit dari duduknya. Mereka kemudian mengikuti Ken. Perjalanan sekitar setengah jam, hutan mulai terbuka. Pemandangan di depan yang membuat mereka melongo melihatnya. Tidak ada apa-apa selain padang rumput.
"Lalu kita harus ke mana Ken?" tanya Gojo kebingungan.
"Mungkin aku bisa bantu."
Keempatnya menoleh ke arah sumber suara itu. Ada seorang wanita cantik berambut merah berdiri di belakang mereka.
"Lucille?" Ken terkejut.
__ADS_1