
Namun begitu, pemuda itu berpikir cepat. Ia segera melilitkan tali pada tangannya dan bergerak memanjat dengan cepat. Untung saja, ia menggunakan sarung tangan hingga tangannya terlindung dari lilitan yang menyakitkan.
Dengan sekuat tenaga ia bergerak cepat agar tidak terkena sorotan sinar lampu itu, tapi sulit. Hingga pada detik terakhir, saat ia hampir terkena sinar, ia menggerakkan tubuhnya maju mundur agar talinya berayun. Saat itulah ia punya waktu lebih beberapa detik untuk bersiap naik. Tak lupa ia menghindari beberapa sinar yang datang karena ia menghapal ritme sinar itu bergerak. Tahap demi tahap ia lalui dengan memanjat tali hingga akhirnya ia terbebas dari sinar lampu itu.
Ken menghela napas pelan. Ia kemudian memanjat sisa tali dengan lebih santai.
"Ken, apa kamu bisa mengambil permata itu?" tanya Devan. Ia hanya melihat Ken sebagai bulatan berwarna hitam yang berada di dalam peta.
"Oh, iya, sudah. Ternyata Kepala Polisi itu lupa memanggil prajuritnya pulang. Setelah penjaga itu keluar semua, mereka menggantinya dengan penjagaan lewat sinar lampu seperti yang diajarkan Irish."
"Oh, begitu. Ayo, cepat kembali. Kau ingat arah pulang, 'kan?"
"Mudah-mudahan." Ken kemudian memanjat kembali tali itu hingga sampai ke dekat besi yang menggantung. Ia ingin menggapainya tapi tangannya belum sampai, hingga ia melihat seseorang turun mengulurkan tangan. "Eh?" Pemuda itu terkejut.
Terlihat wajah seorang gadis yang sudah lama tak dilihatnya. Rambutnya yang panjang digelung ke atas dengan pakaian sedikit rumit berwarna putih dengan aksesoris berwarna hitam.
"Mira?"
"Ayo cepat naik, Kak." Ia masih mengulurkan tangannya.
"Oh, iya." Ken menyambut uluran tangan itu. "Hati-hati, awas kau jatuh."
"Tidak."
"Mira? Siapa Mira?" Pupil mata Devan membesar. Ia menoleh pada Irish.
"Siapa dia?" Irish balik bertanya.
Ini sangat mengherankan untuk mereka berdua, karena siapa lagi yang tahu keberadaan pemuda itu di situ selain tim. Apakah itu teman baik Ken? Namun, bagaimana orang itu tahu dan tiba-tiba berada di situ?
"Tanyakan, siapa dia!" titah Irish pada Devan.
"Ken, siapa itu? Siapa Mira?"
Ken yang sedang naik ke dalam saluran udara baru menyadari, percakapannya dengan Mira terdengar oleh timnya. Setelah naik, pemuda itu segera mengantongi earphone itu di salah satu kantung di pinggangnya. Ia kemudian memeluk Mira karena sudah lama tak bertemu. "Mira ...."
Gadis itu terkejut tapi kemudian senang. "Kakak sehat?"
"Iya." Ken melepas pelukan. Matanya berkaca-kaca dan meneteskan air mata.
Mira membantu menghapus air mata pemuda itu. "Ya ... kok nangis?"
__ADS_1
Pemuda itu tertawa. "Tidak, aku senang bisa bertemu lagi denganmu. Aku pikir kita tidak akan bisa bertemu lagi."
"Tidak dong. Aku 'kan mengikuti kamu."
Pemuda itu kembali menatap wajah gadis itu lalu memeluknya kembali. "Mira ... bertemu denganmu membuat diriku sedikit lebih waras."
"Mmh, masa?" Mira senang dan membalas pelukan pemuda itu.
Di tempat lain di mobil, tim di sana terlihat panik. Mereka tidak menyangka ada orang lain lagi masuk dalam operasi besar mereka di sana. Siapa dia? Siapa Mira? Apakah dia dengan misi yang sama dengan mereka atau ada hal lain yang diincarnya? Apakah dalam melaksanakan misinya, ia sendiri atau dengan tim kerja seperti Ken?
"Irish, ada orang lain di sana dan ia sangat mengenal Ken. Apa kau tahu sesuatu?" Jack menginterogasi Irish.
"A-aku tidak tahu," jawab Irish gugup.
"Irish, ini penting! Jangan sampai Ken hanya pura-pura polos di depan kita tapi ternyata ia adalah raja pencuri. Ia mempergunakan kita agar bisa masuk ke dalam musium itu."
Irish berpikir keras.
"Mungkin saja itu teman wanitanya yang juga dengan profesi yang sama, apalagi Ken cukup cerdas untuk pemuda seusianya."
"Tapi ... tapi aku yakin bukan itu jawabannya."
"Ayo, Kak, kita cepat keluar."
"Kita akan ke mana?" Ken mulai merapikan tali, katrol dan besi dan meletakkannya kembali di sekeliling pinggang.
"Kakak harus kembali ke tim."
"Apa?" Pemuda itu menatap gadis itu tak percaya. "Bukannya kamu datang untuk menyelamatkanku?"
"'Kan sudah."
Ken mengerut kening. "Maksudmu?"
"Tugas Kakak belum selesai jadi Kakak belum bisa lompat ke jaman yang lain."
"Tugasku? Apa tugasku? Aku hanya dijadikan sapi perah oleh mereka untuk mencuri!" jawab pemuda itu dengan kesal.
"Nanti Kakak akan tahu sendiri tugas Kakak apa."
"Mira, apa kamu sudah gila? Kau menyuruhku kembali pada mereka?!" Suara Ken mulai membesar.
__ADS_1
Mira meletakkan telunjuk di depan mulutnya. "Sst, nanti terdengar orang, Kak."
Ken ingin mengungkapkan kemarahan tapi ia berusaha menahan diri.
"Kak, tutup dulu saluran udara ini biar gak ketahuan penjaga kalau pencurinya lari lewat sini," bujuk gadis itu.
"Tapi aku belum ...."
Mira menyentuh lengan pemuda itu dan menepuk-nepuknya dengan lembut. "Iya, iya, nanti aku dengarkan. Tolong tutup dulu ya, Kak, yang rapi." Gadis itu tersenyum lembut.
Wajahnya yang mungil dan lucu membuat pemuda itu sempat merasa bersalah telah memarahinya. "Maaf ya, Kakak kasar sama kamu, padahal kita baru bertemu lagi. Sebentar ya, Kakak selesaikan ini dulu." Ken menurunkan tangannya dan meraih tutup saluran udara itu. Ia kemudian memasangnya kembali.
"Ayo, Kak. Kita keluar."
"Mmh." Pemuda itu mengangguk.
Mira memimpin di depan dan pemuda itu di belakang. Sedikit tidak nyaman buat Ken karena harus melihat tubuh gadis itu dari belakang terutama karena gadis itu menggunakan celana pendek, tapi ia berusaha fokus dan berniat kabur bersama gadis itu.
Saat melewati lorong sempit, Ken cukup lega karena melewatinya bersama gadis itu. Ia setidaknya bisa mengurangi rasa trauma melewati tempat itu karena terlihat, pemuda itu tidak begitu mengeluarkan banyak keringat ketika melewati lorong itu. Mira yang juga bertubuh kecil sudah sampai lebih dulu di ujung lorong sedang Ken masih merayap di lorong itu.
Penjaga musium kembali mengitari tempat itu untuk memeriksa keadaan di tiap-tiap ruangan. Ia melewati ruang tempat permata itu berada dan penasaran ingin melihatnya. Ketika masih ada penjaga yang menjaga permata itu, ia sedikit enggan.
Pria itu membuka pintu, tapi ia tak dapat melihat apa-apa karena gelap. Namun sorot lampu yang bergerak membantunya melihat letak permata itu di tengah-tengah dan ia menyadari hanya ada kotak permata itu yang terbuka lebar tapi tidak dengan permatanya. Permata itu telah hilang dari tempatnya.
Pria itu mendekat, memastikan. Bahkan matanya membulat sempurna saat melihat kenyataan di depan mata. "Hilang, permata itu hilang! Permata itu telah dicuri! Permata Ainun Zah!" teriaknya. Pria itu berlari ke salah satu dinding dan menekan sebuah tombol berwarna merah di sana, setelah sebelumnya membuka tutupnya.
Terdengar bunyi sirine panjang yang berbunyi keras di dalam gedung itu. Ken dan Mira, para tentara Arab yang baru akan bersiap pulang, bahkan orang-orang anggota tim yang berada di dalam mobil bisa mendengarnya.
"Suara sirine itu ...," ucap Devan.
"Apa Ken ketahuan?" tanya Jack.
Sementara, Mira dan Ken yang berada di dalam saluran udara, panik. Mereka saling berpandangan.
"'Kan sudah aku bilang, Kak. Buru-buru," terang gadis itu. "Ayo cepat, Kak, kita keluar dari sini."
Ken bergegas. "Iya."
___________________________________________
__ADS_1