Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Hampa


__ADS_3

Teman-teman Ken yang lainnya datang menyusul. Mereka hanya bisa melihat saja apa yang terjadi, kecuali Mira yang menutup mulutnya sambil menahan air mata. Yumi telah pergi. Gadis Cina itu tak pernah berpikir akan berakhir seperti ini.


"Yumi, ia dibunuh oleh Lord Z," sahut Lucille yang berada di tempat itu.


Gojo mengangkat satu alisnya mendengar ucapan wanita itu. Ia memperhatikan lagi kedua mayat itu hingga mengerut dahi.


"Lord Z menakut-nakutiku dengan menjadikan Yumi sandera. Yumi demi agar aku bebas membunuh pria itu, dia bunuh diri dengan pisau Lord Z." Wanita itu tengah berjongkok membersihkan wajah Lord Z. Ia penasaran dengan wajah asli pria itu.


Kembali pria berambut berombak itu makin mengerutkan alis. Ia kembali meneliti kedua mayat itu. Ada yang aneh dengan keterangan Lucille.


"Lucille, kau sedang apa?" tanya Ejiro. Ia melihat wanita itu asyik dengan apa yang sedang dikerjakannya.


"Lihatlah wajah asli Lord Z," ujar sang wanita setelah selesai membersihkan wajah mayat pria itu.


Ken yang penasaran ikut menoleh dan terkejut. "Ah, pria ini masih hidup!"


Ejiro, Mira dan Gojo segera menoleh ke arah Ken dan juga mayat Lord Z.


Lucille syok mendengar pernyataan Ken hingga memeriksa kembali mayat tersebut. Gojo memperhatikan wajah panik wanita itu. Namun Lord Z memang telah berhenti bernapas. "Tapi aku sudah periksa, dia sudah mati!"


"Bukan, bukan itu. Maksudku, dia pernah dinyatakan meninggal karena terbawa arus saat berada di pantai tapi mayatnya tak pernah ditemukan," sambung pria Jepang itu.


Wanita itu sedikit lega. Ia tentu saja kaget bukan main karena takut kebohongannya terbongkar.


"Kau mengenalnya?" tanya Ejiro.


"Tidak."


"Lalu, bagaimana kau tahu cerita tentang hal itu?" Kakak Mira itu mengerut kening.


"Ayahku yang cerita. Aku pernah menemukan foto orang ini bersama Ayah di laci meja kerjanya. Katanya ini foto kakaknya." Walaupun wajah mayat pria itu bergeser sedikit menua, tapi Ken tetap mengenalinya. "Tapi setahuku ia dikabarkan meninggal saat aku berumur 2 tahun."


"Oh, lama sekali. Kenapa ia memalsukan kematiannya selama ini? Eh, berarti dia itu pamanmu, dong," sahut Ejiro lagi mengingatkan.


"Eh, iya." Ken menyadarinya. "Kenapa pamanku melakukan ini semua padaku?"


"Entahlah."

__ADS_1


Ken menghela napas dengan berat. "Kenapa orang-orang terdekatku semua pergi satu-satu," ujarnya sedih sambil tertunduk dalam. Kalimat itu tak ada seorang pun berani menjawabnya. Wajah pria itu terlihat murung.


Lucille kemudian beranjak berdiri. Ia menyodorkan bola kristal itu pada Ken. "Ini bola kristalnya aku kembalikan. Berarti tugasku telah selesai."


Pria Jepang itu terkejut. Kini tanpa diminta, wanita itu mengembalikan bola kristal yang dicurinya. Apa itu berarti ia sudah menyerah dan tak akan mengejar Ken lagi? "Eh, terima kasih." Pria itu mengambilnya. Ia menyerahkan bola itu pada Mira.


"Kalau begitu aku pamit."


"Boleh aku ikut?" goda Ejiro.


Wanita berambut merah itu terlihat cemberut dan langsung meninggalkan tempat itu.


Ejiro tersenyum miring.


Ken, pada saatnya nanti aku akan mencarimu. Aku akan sembuhkan hatimu hingga padaku kau akan kembali, janji Lucille dalam hati. dia memantapkan langkah meninggalkan tempat itu.


Gojo mengendus-ngedus tubuh Yumi dan belati yang tertancap di dada gadis itu. Juga tubuh Lord Z. Naluri binatangnya demikian tajam hingga mampu memisahkan bau tubuh manusia yang menempel pada manusia lain.


"Gojo, kamu sedang apa?" tanya Ejiro setengah tertawa.


"Kenapa ada bau Lucille di kedua mayat ini?" tanya pria bertubuh kekar itu bingung.


"Apa itu penting sekarang?" ledek kakak Mira itu lagi. "Yang penting sekarang, kita bawa kedua mayat ini."


Mereka kemudian membawa kedua mayat itu menggunakan gerobak kecil yang ditemukan di tempat itu. Gojo yang menariknya sementara Mira mendampinginya sambil menatap mayat Yumi. Mira sangat sedih melihat kematian gadis itu yang sangat tragis, tapi lebih sedih lagi melihat pria yang disukainya kehilangan semangat hidup.


Ken yang didampingi Ejiro sepanjang perjalanan, banyak diam. Ia seperti orang linglung yang saat ditanya, tak mendengar. Kakak Mira banyak memberinya semangat tapi tak semudah itu ia bangkit. Ia seperti kehilangan harapan.


Ketika hendak memasuki hutan, mereka melihat sebuah pintu yang kemudian terbuka. Pria misterius itu keluar dan meminta kembali bola kristalnya pada Ken.


"Ini." Sang pria Jepang mengembalikan bola kristal yang diambil dari dalam tas yang ada di pinggangnya.


"Mayat itu, biar aku yang bawa. Aku akan berikan pada ayahmu," ucap pria misterius itu.


"Aku ikut," pinta pria Jepang itu.


"Tidak sekarang, belum saatnya kamu bertemu ayahmu."

__ADS_1


"Tapi ...." Ken berpikir sejenak. "Baiklah. Kalau begitu, sampaikan salamku untuknya. Maaf, aku tidak bisa menyelamatkan Yumi," ujar Ken lirih. Ia tertunduk dan hampir menangis.


" ... aku mengerti." Pria itu pamit. Ia menarik gerobak itu ke balik pintu. Setelah melewatinya, ia menutup pintu. Seketika pintu itu menghilang.


Ejiro menoleh pada pria Jepang itu. "Nah, bagaimana, Ketua? Kita harus bagaimana?"


"Kalian boleh pergi. Aku masih ingin di sini sendiri." Ken kemudian menepi dan mendatangi sebuah batu besar lalu duduk di atasnya.


Gojo, Ejiro dan Mira saling berpandangan.


"Eh, aku akan menjaganya. Kalian tak usah khawatir," sahut pria berambut berombak itu lalu kemudian menepi dan duduk tak jauh dari sang pemimpin.


"Aku ingin menemaninya, Kak." Gadis itu ikut-ikutan menepi dan duduk tak jauh dari Ken.


"Hah!" Mau tak mau Ejiro ikut tinggal karena ingin menjaga Mira.


-----------+++----------


Setiap hari teman-teman Ken berusaha membangkitkan semangat pria itu. Mengingatkan makan dan mengajaknya mengobrol, tapi sulit. Ia seperti kehilangan gairah hidup. Gadis itu hanya bisa diam dan menemani di sisinya.


"Hah, bagaimana ini? Dia terlalu berlebihan menaruh perasaan pada seorang wanita," keluh Ejiro pada Gojo yang sedang menarik daun rumput kering yang ada di hadapannya.


"Dia mengenalnya sejak kecil, sudah seperti keluarga. Wajar kalau dia merasa sangat kehilangan," terang pria Cina itu.


"Dia terlalu sentimentil."


Gojo menoleh ke arah kakak Mira itu, dan mendengus sambil tersenyum. "Kak, dia masih muda, umurnya baru 21 tahun. Wajar kalau dia merasa tragis hidupnya. Tidak seperti kamu yang sudah ratusan tahun hidup di bumi."


Ejiro menatap pria yang duduk di sampingnya itu. "Tidak juga. Umurku sebenarnya mungkin sama denganmu, hanya bedanya aku melompati dimensi yang terlampau jauh, ratusan tahun yang lalu."


Pria Cina itu tertawa. "Berarti benar kata Mira dong, aku tidak perlu memanggilmu kakak."


Ejiro malah cemberut. "Yah, terserah padamu saja!" ucapnya kesal dan memalingkan wajahnya ke samping. Gojo tersenyum lebar.


Di tempat lain, Mira mulai membujuk Ken. "Kak, kita jalan-jalan ke tempat lain, yuk! Mengunjungi tempat yang belum kita kunjungi."


Pria itu masih terlihat muram. Ia berusaha menelan salivanya dengan susah payah sebelum menjawab pertanyaan gadis itu. "Mira, maaf. Tinggalkan aku sendiri. Aku ingin sendiri. Aku tidak ingin kau menyia-nyiakan waktumu bersamaku."

__ADS_1


__ADS_2