Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Dibajak


__ADS_3

Ken akhirnya menemui bosnya. "... begitu, Kapten."


"Mmh, aneh juga. Mungkin karena korban sudah meninggal, karena itu gurita itu meninggalkan tempat itu. Sayang, tempatnya agak jauh sehingga kau datang terlambat."


"Maaf, Pak." Ken menunduk.


"Ya, tidak ada yang bisa engkau laporkan karena kamu tidak ada di sana dan kehilangan jejak gurita itu. Entah kamu beruntung atau rugi, sebenarnya."


Letnan Ken masih menunduk, diam.


"Kalau begitu, kau boleh kembali ke tempatmu. Kapal ini memang ada sedikit kerusakan di bagian luar jadi terpaksa menunggu untuk diperbaiki.


Sekarang petugas yang membetulkan mesin aku turunkan dengan kurungan besi agar dia aman bekerja. Petugas monitor juga sedang mencari tahu keberadaan kita sekarang, karena sejak terbawa badai, kita tidak tahu lagi titik koordinat kita yang baru. Alat monitor kita juga mengalami gangguan tapi mudah-mudahan bisa cepat selesai agar kita bisa pulang kembali ke Jepang."


Ken kemudian pamit. Di Koridor, ia bergerak cepat agar bisa bertemu dengan Mira. Ia membuka pintu kamarnya. "Mira ...."


Kosong.


"Mira!" tak ada suara yang menyahut. Pria itu bolak-balik memeriksa kamar itu tapi gadis itu tetap tidak ada. Seharusnya memang tidak sulit mencari gadis itu di dalam kamar kecil itu dan bila tidak bertemu, berarti ia telah pergi.


Ken membuka lemari pakaian dan menemukan pakaian yang telah ia berikan pada gadis itu, ada di sana. Betapa kecewanya. Pria itu menghempas dirinya di atas ranjang.


Ia mengerti gadis itu sedang bekerja tapi saat ini, hanya gadis itu temannya bicara. Mengenang lagi betapa manisnya saat gadis itu tersenyum atau saat senang, atau saat berjalan setengah melompat-lompat.


Ken tersenyum sangat mengingat tingkah polah gadis itu saat bersamanya, tapi ia harus mengalah karena Mira memang tidak punya pilihan selain bekerja.


----------+++------------


Esoknya kapal berlayar kembali walau tersendat-sendat karena ternyata ada komponen mesin yang rusak parah dan harus diganti. Saat itu mereka melakukan perjalanan dengan alternatif yang cukup berbahaya bagi mesin karena itu, kapal melaju pelan.

__ADS_1


Kapten sangat menyayangkan tidak adanya suku cadang pengganti yang seharus dimiliki sebuah kapal besar seperti kapal angkatan laut itu, tapi ini menjadi koreksi agar ke depannya barang itu tersedia di dalam kapal. Ini sangat berbahaya untuk kapal yang sedang berlayar karena seringkali mereka berada di laut bukan di darat.


"Pak, kita menemukan pulau," ucap seorang petugas yang menjaga monitor. Saat itu monitor masih dalam gangguan, belum bisa mendeteksi sedang berada di laut mana. Apalagi keadaan mulai gelap, mulai menjelang malam. "Apa kita perlu merapat, Pak?"


"Mungkin sebaiknya begitu. Bahan makanan masih ada untuk sebulan ke depan tapi mungkin saja kita bisa dapat bantuan dari penduduk sekitar."


"Baik, Kapten."


Kapal pun siap-siap merapat tapi kemudian, pulau yang mempunyai gunung dan tanah tinggi tersebut ternyata mampu menyembunyikan sesuatu. Sebuah kapal perompak. Kapal itu bergerak ke luar dari tempat persembunyiannya mendatangi kapal angkatan laut Jepang itu.


Orang-orang yang berada di dalam anjungan kapal Jepang itu tentu saja kaget, karena mereka dapat dengan mudah mengenali kapal perompak dari benderanya, yang berwarna hitam dan bergambar tengkorak.


"Bagaimana ini, Kapten?" tanya petugas di bagian kontrol.


"Coba pengeras suaranya," pinta pria itu pada anak buahnya. Ia mendekati mike di dekat monitor, dan petugas itu menyalakannya.


Ken yang berada di belakang mereka juga cukup tegang mendengar kata 'perompak' itu, mengingatkannya pada perompak di dalam buku cerita anak-anak. Namun semengerikan apa mereka, ia tidak tahu.


Namun kapal perompak itu tetap bergerak mendekat. Bahkan sudah ada orang-orang yang keluar dari kapal itu dengan pakaian aneh. Sepertinya mereka bukan berasal dari asia tapi dari daerah eropa karena wajah mereka yang bule dengan postur tubuh yang tinggi besar.


Anehnya mereka seperti bukan berasal dari jaman sekarang tapi dari jaman beberapa ratus tahun yang lalu. Terbukti dari pakaian mereka yang sama persis seperti yang ada di dalam buku cerita anak-anak yang pernah dibaca Ken, saat kecil dan ini sangat mengherankan. Benarkah mereka berasal dari jaman itu, atau ada penjelasan lain mengenai hal ini?


"Apa mereka berkostum Halloween?" tanya kapten kapal hampir tak percaya.


"Apa mungkin ini adalah kapal untuk pesta Halloween? Kalau benar ini sungguh luar biasa, tapi kenapa mereka mengadakan di tempat terpencil seperti ini?" tanya petugas monitor karena melihat pulau itu seperti tidak berpenghuni sebab menjelang malam begini, tak satupun penerangan ada di pulau itu. Pulau itu gelap gulita.


Petugas monitor curiga dan saling pandang pada kapten kapal.


Kapten Higarashi berdehem sebentar. "Karena kita pernah kecolongan sebelumnya yang mengakibatkan awak kapal meninggal, sebaiknya kita waspada. Siapkan senjata pada kapal kita dan bersiap untuk di tembakkan sewaktu-waktu."

__ADS_1


"Siap, Kapten." Petugas itu langsung mengumumkan kepada seluruh kru kapal untuk menyiapkan senjata mengarah ke kapal perompak.


Kapten juga menggunakan teropong melihat ke arah kapal itu. Di area geladak, ada beberapa orang tengah mondar-mandir di sana. Seseorang kapten kapal berdiri di tengah-tengah mereka sedang mengarahkan anak buahnya. Uniknya kapten kapal itu dengan topi lebarnya ....


"Tunggu dulu!" teriak kapten Higarashi membuat sontak mereka yang sedang fokus menyiapkan senjata karena dalam keadaan darurat, menoleh ke arahnya. "Aku tidak salah lihat 'kan? Kapten kapal itu wanita!"


"Apa?" Ken bergerak maju.


"Aku harus apa, katakan! Ini jebakan atau aku yang terlalu berlebihan," pria itu terlihat panik.


Ken yang punya firasat buruk, meminta teropong itu dari Kapten Higarashi. "Bisa aku pinjam sebentar teropongnya?" Ia meneropong ke arah geladak kapal dan terkejut. Lucille ... ternyata ia berhasil mengejarku. Sialan! Aku harus bagaimana? Yang pasti, bola kristal itu ada padanya, tapi tidak mungkin aku memintanya. Ia pasti takkan berikan.


Jadi dia mau menyerang kapal ini dengan maksud menargetkanku. Mmh, kalau aku menyerahkan diri, apa masalahnya akan selesai?


Tidak, untuk apa aku menyerahkan diri karena aku tak salah. Cinta tak bisa dipaksa sampai kapanpun. Yang benar, dialah yang harus sadar dengan usahanya yang sia-sia ini tapi aku harus bertindak apa?


Ken menurunkan teropongnya. "Sepertinya ini jebakan. Di mana-mana, wanita cantik itu selalu jebakan."


"Benar, tapi ... sungguhkah?" Kapten Higarashi ragu.


"Hati-hati, mungkin saja mulut manisnya berbisa."


Higarashi menoleh ke arah Ken. "Kau seperti mengenalnya?"


"Eh, tidak. Aku pernah punya kenalan seperti dirinya."


"Tapi ini bukan dia. Bagaimana kau tahu wanita ini punya sifat yang sama dengannya?" Namun sebelum Letnan itu menjawab, Higarashi menjawab sendiri ucapannya. "Eh, itu sekarang tidak penting, tapi ya ... memang harus berhati-hati," ucapnya mengiyakan omongan Ken.


____________________________________________

__ADS_1



__ADS_2