
"Ayo, kabur ...!" teriak pemuda berambut putih itu, membuat anggota gengnya lari kalang kabut dengan mengendarai motor.
Ken pun membonceng motor Akibara kabur dari tempat itu. Ia terpisah dengan yang lain karena mengikuti pemuda berambut ungu itu ke suatu tempat yang masih asing baginya. Ia hanya tahu, polisi tidak lagi mengejar mereka. Motor berhenti di tempat yang tersembunyi.
"Rasanya aman, Bos," ucap Akibara.
"Begitu?"
Keduanya masih menengok kanan kiri dan menunggu.Tak sengaja, pandangan mata Ken mengarah ke depan, sebuah mini market, di mana seorang gadis keluar dari pintu depan. Ia mengenali gadis itu. Baru saja ia akan memanggil gadis itu tapi dari arah belakang ada seorang pria mengikuti dan menyentuh bahu gadis itu. Gadis itu menoleh dan mereka bicara. Setelah itu, gadis itu mengikuti pria itu.
Pemuda itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya, apalagi gadis itu mengikuti pria itu hingga ke mobilnya. Ia mengucek-ngucek matanya. Ini benar dia 'kan, tak mungkin aku salah lihat? Ia segera turun membuat Akibara terkejut.
"Bos, mau ke mana?"
Ken tak peduli dan menyeberang jalan lalu mendatangi keduanya di perparkiran. Ia ingin memastikan penglihatannya. "Mira ...."
Gadis itu menoleh dan terkejut. "Ah ...."
"Siapa orang ini, hah? Kenapa kau berbohong kepadaku?!" Dengan nada marah, Ken minta penjelasan. Ia menoleh pada pria itu dan mendorongnya menjauh dengan kasar. "Berengsek! Beraninya kau membawa dia."
"Apa katamu?" Pria itu tak terima dan langsung menghajar wajah Ken.
"Ah!"
Lalu memukul perut Ken hingga jatuh tersungkur. Mira terperangah. Pria itu merapikan pakaiannya. "Sekarang, kau mau meneruskannya atau tidak ini, mmh?"
"Eh ...." Gadis itu mendekati pria itu hingga pria itu senang dan membukakan pintu mobil untuknya. Mobil kemudian pergi meninggalkan Ken sendirian.
"Mira ...!" teriak Ken. Ia tak habis pikir kenapa gadis itu tiba-tiba berubah seperti orang lain. Ada apa dengannya? Padahal gadis itu jelas-jelas mengenalinya.
"Ada apa, Bos? Apa itu cewek incaran Bos yang baru?" Akibara datang dengan motornya.
Pemuda itu segera bangkit dan naik motor temannya itu. "Cepat kejar motor itu!" perintah Ken.
Akibara bergegas mengejar dengan kecepatan penuh.
"Jangan terlalu dekat! Jaga jarak saja. Aku hanya ingin tahu, mereka ke mana," pinta pemuda itu lagi.
__ADS_1
Akibara akhirnya bersembunyi di belakang sebuah mobil yang sedang melaju sambil mengikuti mobil yang ditunjuk Ken.
Tak lama mobil itu berbelok ke sebuah rumah besar yang terlihat sederhana. Motor Akibara bersembunyi di sebuah gang. Ken melihat lagi gadis itu diturunkan dan kemudian berbicara sebentar dengan pria itu. Mira membungkukkan tubuhnya ketika mobil itu pergi.
Siapa sih laki-laki itu sampai membuat dia lebih istimewa dariku? Bukankah dia mengurusiku, kenapa dia kini mengurusi orang lain? Apa sekarang dia sudah menemukan pria yang ia suka? Mengingat itu, Ken mengencangkan kepalan tangannya, gemas. Jangan tinggalkan aku dulu Mira, aku masih membutuhkanmu. Aku masih .... Pria itu turun dari motor Akibara.
"Mau ke mana, Bos?"
"Kau tunggu di sini," perintah Ken. Ia kemudian mendatangi tempat itu dan mengetuk pintu.
Keluar seorang pria paruh baya yang menyambut pemuda itu. "Ada yang bisa dibantu?" Ia sedikit mengerut kening melihat wajah pemuda itu karena ada luka di sudut bibirnya.
Ken terkejut dengan gaya penerimaan dirinya. Tempat apa ini? "Eh, boleh aku bertemu Mira, Pak?"
"Oh, ada urusan apa ya? Mira pegawai Saya. Ada yang bisa Saya bantu?" Pria itu semakin curiga.
"Pegawai? Memang ini tempat apa ya, Pak?" pemuda itu semakin bingung.
"Ini panti asuhan."
"Iya, panti asuhan. Kalau boleh tahu, kenapa ya Anda mencari Mira?"
"Oh, a-aku kakaknya, Pak. Kakak angkatnya. Bapak boleh tanya ini pada Mira," ucap pemuda itu meyakinkan bapak itu. Kenapa Mira bekerja di panti asuhan ya? Ini aneh.
"Eh, tidak apa-apa, Pak. Dia memang kakak Saya," sahut Mira dari belakang.
"Oh, ya sudah." Pria itu meninggalkan mereka berdua.
Mira mendatangi Ken yang sedang punya begitu banyak pertanyaan di dalam kepalanya.
Pemuda itu langsung menarik tangan gadis itu keluar dan mendorongnya ke samping. "Kenapa kau bekerja di sini, aku tidak mengerti."
Namun perhatian Mira malah tertuju pada sudut bibir pemuda itu yang terluka yang ia coba sentuh.
"Ah!"
"Sakit ya Kak, maaf," sesal gadis itu.
__ADS_1
Pemuda itu segera meraih tangan Mira yang baru saja menyentuh bibirnya. "Mira, kau tak menjawab pertanyaanku," tanyanya mencecar jawaban.
Gadis itu menunduk. "Aku 'kan hanya mengikuti saranmu. Katanya perempuan itu tak boleh tidur di sembarang tempat jadi waktu aku tak sengaja bertemu Bapak tadi, aku terima saja penawarannya untuk tinggal di sini sambil bekerja membantu dia mengurus anak-anak panti asuhan.
'Kan kakak yang mengajari aku untuk bekerja kalau ingin punya tambahan uang. Aku sudah lakukan kenapa kakak marah-marah?" ujarnya sambil merengut.
"Lalu siapa laki-laki tadi? Kenapa pacarmu kasar sekali?" ketus Ken.
Mira menarik tangannya dari genggaman pemuda itu. "Itu 'kan salah Kakak sendiri, kenapa Kakak kasar padanya," rengutnya lagi.
"Jadi benar itu pacarmu? Katanya kau tak punya pacar. Kamu bohong padaku ya?" sergah pemuda itu.
"Itu bukan pacarku. Dia salah satu pendana panti asuhan ini. Dia seorang pengusaha muda."
"Jadi kamu lebih tertarik dengan orang kaya, begitu, sampai lupa mengurusku!" ledek Ken kesal karena biar dilihat bagaimanapun tetap terlihat Mira tertarik dengan laki-laki itu karena lebih memilih pria itu dibanding dirinya tadi diparkiran.
"Kakak jangan salah paham dulu. Panti asuhan ini lagi butuh uang untuk mendanai kehidupan anak-anak di panti, dan pendananya sedikit sekali sekarang ini. Laki-laki yang bersama aku itu, tadinya, ibunyalah yang mendanai panti asuhan ini cukup lama dan adalah pendana terbesar tapi sejak ibunya meninggal dunia, panti asuhan ini punya masalah keuangan yang besar.
Anaknya tadi itu sedang memikirkan untuk meneruskan atau tidak pendanaan tersebut karena dia adalah anak satu-satunya. Karena itu aku mencoba membujuknya dan kebetulan dia hanya mau bicara denganku saja, tidak dengan yang lain. Begitu kak, ceritanya." Mira menjelaskan panjang lebar.
"Tapi Mira." Nada suara pemuda itu kini mulai lembut. Bahkan terdengar khawatir. Ia meraih tangan gadis itu. "Sepertinya dia suka padamu."
"Ya 'kan bagus Kak, jadi aku bisa membujuknya."
"Bukan itu maksudku. Aku merasa dia punya niat buruk padamu."
"Kakak jangan berpikir yang tidak-tidak. Dia memang terlihat sedikit sombong tapi orangnya baik kok. Maaf ya, Kak. Tadi aku tinggal di sana soalnya aku gak punya pilihan, tapi sekarang obati dulu luka di bibir Kakak ini ya?" Gadis itu menarik Ken masuk ke dalam rumah dan diobati.
"Sudah Kakak jangan dekat-dekat dengan kami lagi. Aku susah membujuknya. Ini demi kebutuhan panti, Kak. Bukan apa-apa."
Pemuda itu sibuk memperhatikan Mira yang tengah sibuk mengobati lukanya. Betapa ia telah salah paham dengannya tapi Ken tidak mau gadis itu mengemis pada pria berengsek seperti pria itu. Ia harus membantu gadis itu entah bagaimana caranya.
"Sudah Kak." Mira memperhatikan memar dan bekas luka di pipi pemuda itu yang sudah ia beri obat.
_________________________________________
__ADS_1