Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Sang Pemisah


__ADS_3

"Tapi Gojo mau masak makan siang. Kasihan kalau meninggalkannya sendirian. Nanti tidak ada yang makan makanannya lagi."


"Mmh ...." Ken berpikir sebentar. "Bagaimana kalau kita bantu saja dia di dapur, agar cepat kerjanya. Lagipula sebentar lagi makan siang. Kalau kita menunggu dia masak sendirian rasanya takkan selesai-selesai."


Mmh, dari tadi kek, batin pria gondrong itu kesal. Ia tersenyum saat Ken dan Mira datang membantu. Mira membantu memotong daging menjadi kecil-kecil sedang Ken memotong sayur. Dalam sekejap semuanya telah berada di dalam perapian karena tengah di masak. Pria Jepang itu juga membantu memasak nasi, sehingga Gojo bisa berkonsentrasi memasak lauk. Tak lama semua masakan jadi dan mereka makan bersama.


"Gojo kamu tidak apa-apa 'kan di rumah sendirian? Aku ingin pergi dengan Mira ke pasar," ujar Ken sambil menyendok nasi ke mangkuknya.


"Gak papa, pergi saja. Aku juga mau cari pacar," sahut pria gondrong itu dengan angkuhnya.


Kata-kata Gojo membuat Ken tertawa geli. "Semangat, Gojo. Aku mendukungmu."


Seusai makan siang, keduanya pergi. Mereka ternyata harus menyebrangi sungai untuk sampai di tempat itu. Mira duduk di rakit dan pria itu berdiri. Ken memperhatikan pemandangan sekitar yang terasa masih asri dan jauh dari peradaban.


Lingkungan seperti ini kalau di zamanku pasti dieksploitasi untuk tempat wisata. Padahal keaslian tempat seperti ini lebih baik daripada peradaban yang membawa polusi udara kemudian. Hotel, pondok-pondok, taman bermain, lalu rumah-rumah mewah dan dalam sekejap, tempat ini akan jadi kota kecil yang terasing. Hufh, manusia ....


Tak sengaja netra Ken melihat ada yang bergerak di dalam air. "Apa itu?" tanyanya pada pria pemilik rakit.


"Oh, buaya."


"Apa?" Ken panik. "Mira, kau jangan duduk di sana. Bahaya!"


"Eh, tidak apa-apa kok, asal kita tidak mendekatinya," kata pemilik rakit itu dengan tenang.


Namun, pria Jepang itu mana mungkin tenang. Ia langsung membuat gadis itu berdiri dan menggenggam tangannya sampai rakit itu mencapai tempat yang dituju. Pemilik rakit hanya melihat sekilas bagaimana Ken memegangi tangan wanita itu dengan wajah khawatir.


"Eh, terima kasih, Pak." Pria Jepang itu membayar upahnya.


Keduanya kembali meneruskan perjalanan. Tak butuh waktu lama, mereka menemukan pasar yang masih ramai walau matahari sudah tidak lagi terik. Mereka mendatangi toko pakaian dan melihat-lihat. Ken tertarik dengan pakaian yang berbahan halus. Ia menyentuhnya. "Oh, bagus sekali pakaian ini."


"Oh, pakaian ini cukup mahal ya," ucap si penjual pada Ken. Ia melihat Ken dan Mira hanya berpakaian sederhana.


"Aku mau ini."


"Tapi, apa uang Anda cukup? Harganya ...."


Sang pria Jepang segera meletakkan koin emas yang tulisan dan gambarnya telah ia lebur. Mira bahkan terkejut melihat koin itu tanpa gambar dan tulisan sama sekali.

__ADS_1


"Bagaimana? Cukup 'kan?"


"Eh, cu-cukup," jawab wanita penjual itu terbata-bata. "Tuan bahkan bisa beli beberapa." Wanita itu segera memperlihatkan beberapa pakaian bagus lainnya pada keduanya. Mira mencoba salah satunya dan itu membuat Ken terpana. Wanita muda itu terlihat sangat cantik, seperti seorang putri kerajaan.


"Mira ka-kau mau yang mana? Yang ini bagus juga." Pria itu sampai tak ingin memalingkan wajah dari pemandangan indah di depannya.


"Nona ini sangat cantik, karena itu ia terlihat tampak bersinar ketika memakainya," puji si penjual.


"Iya, benar," ucap Ken tanpa sadar.


Mira tersipu-sipu mendengar pujian keduanya. Pipinya merona merah dengan pandangan malu-malu. "Terserah kakak saja," sahutnya dengan manja.


"Eh, bagaimana kalau kita beli beberapa?"


Ken bahkan membelikan wanita itu sepatu beberapa pasang, membuat ia kembali teringat saat ia kecil dulu. Pria itu tak pernah lupa membelikannya sepatu. Sebuah benda yang akhirnya dimilikinya setelah setiap kali iri melihat kakak-kakak di panti asuhan mempunyai sepatu.


"Bagaimana, Mira?"


"Suka," jawab wanita itu sedikit manja. Tak lama setelah berbelanja, mereka pulang. Ia kemudian mengenakan pakaian itu di rumah mencoba memamerkannya pada Gojo. "Bagus gak?"


"Bagus." Pria gondrong itu mengangguk-angguk.


Pria Jepang itu tersenyum lebar. Tiba-tiba terdengar bunyi pintu diketuk. Ken mau pun Gojo terlihat saling pandang. Mereka tidak mengharapkan tamu tapi siapa yang mengenal mereka di tempat itu hingga datang berkunjung?


Demi menghilangkan penasaran, Gojo segera membuka pintu. "Oh ...." Ia terperangah.


"Siapa, Gojo?" Pandangan Ken dan Mira terhalang pintu yang terbuka ke dalam. Saat dibuka lebar barulah keduanya bisa melihat siapa yang datang.


Mira yang terkejut melihat siapa yang datang, segera melepas pelukannya pada Ken.


"Ejiro?" sahut Ken terkejut.


Ejiro tentu saja melihat adegan tadi tapi ia malah tersenyum miring. "Kau tak mengharapkan kehadiranku?" tanyanya ketus.


"Oh, tidak tentu saja." Ken segera menarikkan kursi meja makan yang tak jauh dari situ.


Gojo memberi jalan dan Mira langsung ke dapur. Ia menyiapkan teh. Ketiganya sangat sibuk menjamu pria itu. Ejiro hanya mau berbicara pada Gojo sedang Ken hanya pasrah sebagai pendengar.

__ADS_1


"Bagaimana kehidupan di sini? Cukup menyenangkan bukan?" tanya kakak Mira itu pada bawahannya sambil menepikan jubahnya yang panjang.


"Oh, iya, iya. Sangat menyenangkan. Bagaimana perjalananmu? Apa sempat mampir ke tempat lain?"


"Oh, iya. Aku sempat bertemu dengan raja pedang biru, Han dan berbincang-bincang dengannya sebelum sampai ke sini. Dan pembicaraannya cukup menyenangkan hingga kita mencapai kata mufakat dan membuat perjanjian."


"Semoga perjanjiannya lancar ya?"


"Oh, iya. Terima kasih." Ejiro melihat Mira datang dengan pakaian tadi, cukup terkejut. Mira tengah memakai pakaian yang sangat bagus dan sedang menyajikan teh untuknya.


"Pakaianmu sangat bagus. Siapa yang membelikan?"


"Oh, Kak Ken yang membelikan, Kak."


"Mmh." Sang kakak menoleh pada Ken. "Terima kasih."


"Ah, tidak apa-apa. Sebagai kakaknya, aku harus memberikan yang terbaik untuknya."


"Benarkah?" Ejiro tersenyum miring seperti mencemooh. "Berarti kau akan mendukung rencanaku berikutnya. Aku dan raja Han sudah sepakat untuk menikahkan Mira dengan anak raja Han yaitu Siau Yang."


"Apa?" Ken terkejut.


Mira yang baru saja menarik bakinya, menjatuhkannya seketika di lantai. Bagai tersambar petir, wanita itu syok mendengarnya.


"Daripada dia pergi malam-malam keluyuran ke tempat yang tidak jelas, lebih baik ia tinggal di tempat yang aman bersama suami yang bisa melindunginya. Bukan begitu, Ken? Kau sebagai kakaknya tahu apa yang terbaik buatnya 'kan? Sebuah keluarga."


Ken melirik Mira. "Eh, iya."


Saat itu juga Mira kecewa. Ken bahkan tak menahannya. Di ambilnya baki yang jatuh ke lantai dengan wajah menunduk sedih. Setelah pria itu berjuang meyakinkannya untuk tinggal bersama, ia melepas begitu saja tanggung jawab yang ia gadang-gadangkan dari awal hanya karena kakaknya Ejiro ingin mengambil tanggung jawab itu. Wanita itu benar-benar kecewa.


"Ok, tak perlu berpanjang waktu. Aku sebenarnya akan membawa Mira sekarang juga karena pihak sana sudah menunggu kedatangan kami secepatnya. Ayo Mira, tunggu apalagi? Cepat kemasi barang-barangmu!" titah Ejiro.


Mira melirik Ken yang tampak kebingungan.


_________________________________________


__ADS_1


Visual Mira dengan baju baru yang dibeli Ken. Salam, ingflora💋


__ADS_2