
Ken melihat dirinya berada di dalam sebuah pipa sempit seukuran tubuhnya, besi yang sedikit berkarat. Di sana gelap, tapi di ujung pipa yang tak jauh dari kepalanya, memancarkan sinar terang yang masuk ke dalam pipa itu.
Ken yang jatuh terlentang karena ikut berputar saat pipa itu menggelinding tadi, mencoba mengangkat kepalanya. Sedikit pusing memang, walau hanya mengelinding sebentar hingga ia terpaksa terdiam sesaat.
Ia tak bisa duduk karena sempitnya pipa itu, tapi ia bisa merasakan di bagian bawah tubuhnya sedikit lembab dan berjamur. Pelan-pelan ia membalikkan tubuh tengkurap lalu merangkak menuju ujung pipa itu.
Samar-samar ia melihat di depannya ada tempat terbuka dan suasana gelap. Sepertinya hari telah malam dan cahaya terang itu berasal dari sinar rembulan.
Dengan kepala sedikit pusing ia akhirnya sampai pada ujung pipa itu dan memghirup udara segar. Ia heran kenapa tadi pipa itu menggelinding dan baru saja ia berpikir begitu, tiba-tiba seseorang menyergapnya dari atas pipa.
"Nah, akhirnya tertangkap juga kamu ya!" Suara seorang pria dengan berbahasa Inggris terdengar kasar di telinganya.
Ken tiba-tiba saja mengerti bahasa Inggris dan menoleh ke arahnya. Seorang pria muda bertubuh kekar lebih tinggi darinya, memiting tangan Ken ke belakang. "Agh! Lepaskan aku! Sakit!"
"Makanya jangan main-main denganku, anak kecil!"
Apa? Dia menyebutku 'anak kecil'? "Kau mau apa? Lepaskan aku!" Ken menyadari ia telah pindah dimensi karena pria yang ditemuinya kini adalah seorang pria keturunan Meksiko.
Pria itu belum pernah dilihatnya sebelumnya dan kini ia ada di sebuah tempat terbuka. Sebuah tanah lapang dengan sebuah pipa besi besar tak berguna yang ditinggalkan di lapangan itu begitu saja.
Ia baru keluar dari pipa itu dan pria itu menangkapnya. Kemungkinan, pria itulah yang tadi menggelindingkan pipa agar ia segera keluar dari dalam pipa besi itu.
"Jangan banyak bicara! Ayo, ikut aku!" kata pria itu lagi dengan menarik kasar Ken agar ikut dengannya.
"Lepaskan aku!" Sia-sia saja Ken memberontak karena pria itu jelas lebih kuat darinya. Ia dibawa ke pinggir jalan di mana ada 2 buah mobil menunggu di sana. Tempat itu sepi, tidak ada seorang pun di sana sehingga tidak ada gunanya ia berteriak minta tolong. "Kau mau apa? Lepaskan aku!"
"Berisik!" teriak pria itu, masih menyeretnya.
"Tolong, bebaskan aku. Kau mau apa?" Ken mengiba karena tak punya pilihan, tapi pria itu tak peduli karena sudah sampai di samping pintu mobil. Ken melihat sekilas beberapa orang ada di dalam mobil.
Pria itu kemudian memasukkan Ken di kursi belakang bersamanya. Seorang lagi pria yang berada di kursi belakang telah menyiapkan tali dan segera mengikat tangan Ken ke belakang membuat pemuda itu semakin tak punya kesempatan untuk melarikan diri.
__ADS_1
"Hei, lepaskan aku. Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Ken tanpa pengharapan. Pandangannya nanar. Kenapa orang-orang ini tega menculiknya?
"Tentu saja karena kau sangat berguna, karena itu kami menculikmu." Suara seorang wanita terdengar dari arah depan. Wanita itu kemudian menoleh ke belakang. Terlihat seorang wanita cantik berambut lurus sebahu yang melirik sekilas ke arah Ken lalu kembali menghadap ke depan. "Ayo, jalan," perintahnya pelan pada pria yang berada di kursi pengendara.
"Eh, tunggu. Kenapa kamu menculikku? Aku tak punya masalah denganmu, kenapa kamu menculikku?" tanya pria Jepang itu ingin tahu.
Wanita itu melirik tajam ke samping. "Tutup mulutnya."
"Baik, Bos." Pria di samping Ken mengeluarkan sapu tangan.
"Tunggu! Katakan padaku, kenapa kau menculikku!"
Tak ada yang menjawab hingga pria di samping Ken mengikat mulut pemuda itu dengan saputangan.
"Mmm mmmm."
Lima belas menit kemudian, mobil mencapai sebuah gedung yang terbengkalai. Ken dan rombongan orang-orang dari 2 mobil itu masuk ke dalam gedung itu dari pintu depan. Setelah itu mereka naik ke lantai atas.
Sampai di lantai atas, Ken dimasukkan ke sebuah kamar dan didudukan di tepi ranjang. Wanita itu kini berdiri menghadapnya sedang pria yang menangkapnya tadi melepas sapu tangan di mulut Ken dan meninggalkan keduanya di dalam kamar itu.
Wanita itu menatap pemuda Jepang itu dan mendekatinya. Ken sedikit takut dan bergerak mundur.
"Kau tahu kenapa aku menculikmu?"
Ken menggeleng.
"Kau itu hanya pemuda pengangguran yang luntang-lantung di jalan dan tak punya pekerjaan. Kalau kulihat, kau juga pasti belum lulus SMA dan beruntung kamu bertemu dengan kami karena kami datang memberimu pekerjaan. Lalu, kenapa kau kabur setelah ditawari pekerjaan oleh Diego? Apa kau takut karena pekerjaan ini merampok? Kau tak perlu takut karena kita bekerja satu tim. Kau hanya perlu menjalankan bagianmu dan kami melindungimu. Kita tak mungkin tertangkap, apa kau mengerti?"
Apa? Merampok? Karena itukah aku tadi kabur dan bersembunyi? "A-aku tak mau merampok," jawab Ken yang masih ragu dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Wanita itu kesal dan menarik dengan kasar kaos pemuda itu hingga tepat ke depan wajahnya. "Dengar baik-baik. Aku tak terima penolakanmu karena kamu sekarang tawananku. Suka atau tidak suka, kau akan menjalani latihan itu mulai besok!" titahnya dengan sinis.
__ADS_1
"Ta-ta-tapi ...."
Wanita itu melepas cengkraman tangannya pada kerah baju pemuda itu, dan lalu meninggalkan pemuda itu seorang diri di dalam kamar.
Ken menghela napas dan menjatuhkan dirinya ke samping. Ia masih mencoba mencerna apa yang terjadi. Kenapa aku pindah ke tempat ini sih? Apalagi salahku kini, ah ....
Ia mencoba meluruskan punggungnya dengan tidur terlentang tapi agak sulit karena tangannya terikat ke belakang. Pelan-pelan ia mencoba mengingat kembali, kenapa ia bisa pindah ke dimensi itu.
Waktu itu aku berpikir apa? Aku hanya mencoba lari dari kepungan para preman itu, tapi kenapa sekarang pindah dimensi jadi orang yang diculik untuk merampok ya? Kenapa jadinya seperti ini? Apa aku ... eh, aku waktu itu berpikir ingin lari cepat karena tidak dapat menemukan Mira. Iya, 'berlari cepat'. Aku ingat itu 'berlari cepat' tapi kenapa pindah ke sini? Ah, aku tidak tau!
Pemuda itu merengut karena tak kunjung mengerti. Ia kemudian mengalihkan pandangan dengan memperhatikan ruangan itu.
Ia tidur di atas sebuah ranjang tua. Kamar itu sebenarnya bukanlah bangunan lama, tapi sepertinya bangunan yang tak selesai dibangun karena mungkin ada kendala finansial dari pemiliknya. Ini terlihat dari bangunan yang masih baru tapi dindingnya belum selesai di cat. Ruangan itu juga bukan kamar tidur tapi ruang sebuah kantor. Sayang sekali gedung itu sepertinya belum selesai dibangun.
Tiba-tiba seseorang masuk dengan membawa bungkusan plastik. Pria yang menangkap Ken itu meletakkan bungkusan itu di samping tubuh pemuda itu. Ken berusaha duduk tapi sulit.
"Ini kubawakan makan malammu."
"Bagaimana aku bisa makan kalau tanganku terikat seperti ini," protes Ken.
Pria itu kemudian membantu mendudukkan pemuda itu dan melepas ikatannya. Ia hanya memindahkan ikatannya ke depan. "Jangan berusaha kabur, karena, sekali lagi kamu berusaha kabur aku akan menghajarmu," ucap pria itu dengan enteng.
"Kenapa kalian memilihku sih?" tanya Ken heran. "'Kan banyak orang jahat lain yang benar-benar suka dengan pekerjaan ini. Kenapa harus memaksa orang yang ingin hidup baik-baik dengan merampok?"
Pria itu bertelak pinggang dan menatap pemuda itu. "Karena hanya kamu yang cocok dengan kriteria yang kami cari."
__________________________________________
Yuk, kepoin novel baru ini.
__ADS_1