Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Kuda


__ADS_3

"Kucing Coscow tidak apa-apa!" teriak pelayan wanita itu pada kerumunan.


Orang-orang melihat ke arah pelayan itu termasuk Lucille. Ken muncul dari balik dinding menggendong kucing itu. Ia mendekati kerumunan dan menurunkan kucing itu di hadapan mereka.


Kucing itu bergerak seperti biasa. Ia bahkan berputar di hadapan mereka menunjukkan tidak ada yang berubah di tubuhnya.


Ibu Kepala mengelus dada. "Oh, syukurlah." Matanya terlihat berkaca-kaca.


Satu per satu para pelayan kembali ke dapur, termasuk Ibu Kepala Pelayan itu. Ini cukup melegakan buat Lucille tentunya, tapi juga sekaligus mengherankan karena ia ingat betul ia menendang kucing itu dengan sangat keras. Seandainya kucing itu selamat, setidaknya ada memar atau luka di tubuhnya, tapi tidak. Kucing itu, seperti belum pernah mendapat perlakuan buruk sebelumnya. Seakan kucing itu terlahir kembali, atau punya kembaran atau ....


Wanita itu meliriknya. "Ken, apa kau bisa sihir?"


Pria Jepang itu hanya menghela napas. Ia berjongkok dan mengulurkan tangannya pada kucing itu. "Rupanya namamu Coscow ya?" Setelah kucing itu melompat dalam pelukan, Ken membawa kucing itu mengitari halaman belakang yang luas itu. Ia meninggalkan wanita itu sendirian menatap punggungnya yang makin lama makin menjauh.


"Dia wanita bodoh ya?" sahut Gojo.


"Dia tak mungkin bodoh. Dia penyihir."


"Dia bodoh karena mencintaimu. Laki-laki yang membencinya."


"Itu bukan bodoh namanya, tapi kasihan."


Kucing itu menatap pria itu. "Berarti kau juga bodoh karena mengasihaninya."


Ken hanya melirik kucing dan menepuk kepalanya dengan sayang. "Kau juga bodoh karena terlalu banyak berpikir."


Keduanya tertawa.


-----------+++----------


Seusai makan siang, Ken dipanggil Lucille ke ruang tengah. Begitu mendengar berita itu, pria itu segera ke sana. "Ada apa, Nona," sahutnya sedikit membungkuk.


"Aku ingin belanja. Siapkan kereta."


"Apa?" Pria itu tampak kebingungan.


"Kereta. Cepat!" Wanita itu melihat dengan malas.

__ADS_1


"Kereta?" Ken masih belum tahu maksud wanita itu.


Mmh, ada juga yang kau tak tahu 'kan? Makanya jangan sok tahu, mentang-mentang lebih tahu. "Kereta, masak kau tak tahu? Kereta kuda."


Pria itu tentu saja tak tahu dan pastinya wanita itu tahu kalau Ken tak bisa menjalankannya. "Nona, aku tidak tahu cara menjalankannya, jadi Nona minta tolong saja dengan yang lain," pintanya.


"Aku memintamu, kenapa kau menghindar?"


"Aku bukan menghindar ta—"


"AKU MEMINTAMU, bukan yang lain!" hardik Lucille dengan hampir membulatkan matanya. Setelah itu ia terkesan acuh.


Ken melirik wanita itu sambil menelan ludahnya. Permainan apa lagi ini? Belum usaikah rasa kesalnya padaku? Padahal aku tadi sudah menolongnya.


Namun pria itu berusaha bersikap sopan karena tempat itu adalah berada di tempat umum. Siapa saja bisa melihatnya. "Maaf, Nona, tapi aku memang tak bisa menjalankan kereta kuda karena memang tak bisa mengendalikan kuda. Itu sangat berbahaya kalau Nona tetap memaksa Saya menjalankannya. Berbahaya bagi keselamatan Nona."


Wanita berambut merah itu terdiam. Kata-kata pria itu terdengar masuk akal hingga ia memikirkan opsi lain. "Kau tetap ikut tapi kamu juga harus belajar dari yang lain. Panggilkan Danzo. Dia kusir yang biasa membawa kuda."


Ken terdiam sejenak. "Kenapa tidak pergi dengan Danzo saja?"


"Kamu ini!" Netra wanita itu mendelik karena kesal. "Kerjakan saja, jangan membantahku!"


Danzo memang biasa membawa kereta kuda. Di rumah itu memang dia kusir satu-satunya karena yang lain tidak ada yang bisa.


Ken duduk mendampingi Danzo, pria Meksiko itu. Sepanjang perjalanan, ia memperhatikan pria itu menjalankan kereta dan menghela kuda. Danzo pun mengajari pria Jepang itu cara menjalankan kuda yang menarik kereta.


Ken juga menikmati suasana musim gugur yang lumayan sejuk di sore itu. Memandangi jalan yang dipenuhi rumah-rumah yang dibangun indah di jamannya. Kemudian mereka melewati bangunan-bangunan seperti kedai, restoran atau kantor sebelum memasuki sebuah pasar terbuka yang bersih.


Ken turun dan membukakan pintu kereta untuk Lucille. Wanita itu turun dengan berpegangan tangan dengan pria itu. Ia memegangi rok bajunya yang panjang dan mekar sebelum menurunkan kakinya dari kereta. Pria itu kemudian menutup pintu dan menemaninya berbelanja.


Ken hanya mengekor. Lucille mendatangi pedagang buah-buahan yang menyusun dagangannya di sebuah meja panjang. Di atasnya, aneka buah-buahan segar disusun di dalam beberapa kotak kayu agar terlihat rapi dan mudah memilihnya.


Saat menunggui wanita itu, Ken terkejut ketika seorang biarawati yang lewat di sampingnya menyentuh lengahnya. Pria itu menoleh. Tepat saat itu, wanita itu menjentikkan jemarinya. "Waktu berhentilah!"


"Ibu?" Pria itu terkejut.


Wanita itu tersenyum. Ia menggandeng tangan anaknya dan mendatangi pedagang buah-buahan. Ia mengambil sebuah apel. "Ken, kau mau apa?"

__ADS_1


"Eh, tidak usah, Bu. Aku baru makan."


"Ya sudah." Wanita itu kemudian meletakkan sekeping uang koin di atas meja dekat pedagang itu lalu menarik Ken ke tempat lain. Ia menggosok-gosok apel itu pada baju sebelum menggigitnya. "Kau benar tak ingin apa-apa? Ibu bisa belikan kamu minuman."


"Tidak usah, Bu." Ken masih memperhatikan Lucille yang tidak bergerak, tengah memandangi buah-buahan. Wanita itu juga terkena dampak dari waktu yang berhenti hingga ia tak sadar telah membeku. Semua orang membeku bahkan hingga ke sebuah kedai tempat ibu Ken membawa anaknya.


"Kita duduk di sini ya?" Wanita itu menarik sebuah kursi dari meja yang masih kosong dekat pintu masuk. Dari kedai yang setengah terbuka itu, mereka bisa merasakan udara sejuk musim gugur yang sedikit berangin.


"Oh, ibu sudah membebaskan Mira?" Pria itu seketika teringat gadis itu saat menarik kursi hingga ia berhenti untuk duduk.


"Belum," jawab Dewi Sri ketika duduk.


Ken merengut saat ia tidak mendengar kabar baik dari ibunya. "Jadi Ibu kenapa mendatangiku, Bu? Ibu 'kan lebih baik menyelamatkan Mira dibanding duduk santai di sini bersamaku."


"Justru ada hal penting yang ibu ingin sampaikan."


"Apa itu?"


"Duduklah," ucap wanita itu ketika melihat pria itu masih berdiri.


Ken duduk perlahan seraya melihat ibunya yang terlihat serius.


"Kamu, apa yang sudah kamu dapatkan?"


"Mmh ... maksud Ibu?"


"Kau hanya terus berputar-putar tanpa menemukan hal yang berarti, padahal di luar sana, banyak orang yang ingin berada di posisimu."


"Ibu ... siapa yang mau berada di posisiku, Bu? Aku kehilangan teman, tempat berteduh, dan selalu harus terpaksa melakukan sesuatu seperti saat ini. Demi untuk menyelamatkan Mira, aku harus bekerja jadi pelayan di mana nantinya aku harus membunuh seseorang. Baru setelah itu Mira dibebaskan. Ini sama sekali tidak menyenangkan, Bu."


"Ada orang sakit yang ingin sembuh, di mana kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri. Ada orang lain yang ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan yang terlanjur salah, di mana kau dengan mudahnya kembali ke masa lalu. Ada orang yang hidup sengsara dengan segala keterbatasannya, di mana kau punya banyak orang yang bersedia membantumu melewati masalahmu, apa kau masih belum juga bisa bersyukur?"


Ken terdiam mendengar nasehat ibunya. Dalam hati, ia merasa menjadi beban orang lain. "Ibu ... kapan Ibu menolong Mira karena aku merasa sangat bersalah padanya, Bu."


___________________________________________


__ADS_1



__ADS_2