
π
π
Kini mereka sedang berada di pusat penjualan kain terbesar di Jakarta. Sofia membawanya mendatangi beberapa suplyer dan melihat ribuan contoh kain yang dia butuhkan untuk disain pakaiannya.
Perempuan itu masuk di antara gulungan-gulungan kain dan dia segera menunjuk beberapa diantaranya untuk dilihat.
Ada kain satin dengan beberapa warna mencolok, lalu sutera yang tingkat kelembutannya merupakan yang terbaik. Dan jenis-jenis kain lain yang Nania tidak tahu apa namanya.
"Dari dulu Mama selalu memilih bahan sendiri untuk produk pakaian kita. Selain lebih puas nanti ketika melihat hasilnya, jadi nyaman juga kan karena sebagian besar apa yang kita pakai berasal dari apa yang Mama buat." Sofia menyentuh ujung-ujung kain untuk merasakan lembut atau kasarnya sebagai patokan kualitas.Β
Meski si penjual mengatakan jika yang mereka bawa itu merupakan kain dengan kualitas terbaik, tapi Sofia ingin mencari tahu sendiri.Β
"Aku juga kalau ada pesanan sukanya belanja sendiri ke pasar dari pada beli ke suplyer. Lebih puas aja karena bisa pilih apa yang menurut kita bagus." Nania menimpali.
"Nah, konsepnya sama seperti itu. Duh, Mama sudah lama tidak ke pasar. Sejak kapan ya? Rasanya setelah Dimitri lahir." ucap Sofia.
"Masa dulu Mama suka ke pasar?" Nania tertawa membayangkan mertuanya yang berpenampilan elegan seperti ini berjalan menyusuri pasar tradisional dan menenteng belanjaan seperti dirinya.
"Eh, kamu tidak tahu saja dulu Mama seperti apa, sebelum ketemu papi kan kami juga susah." Sang mertua berujar.
"Kami?"
"Mama dan Dygta."
Nania tampak mengerutkan dahi.
"Mama janda waktu bertemu papi yang punya istri."
"Aduh?"
"Pokoknya begitulah."
Nania mendengarkan mertuanya bercerita sedikit.
"Eh, kenapa malah jadi mendongeng?" Sofia tertawa pelan kemudian kembali pada kain-kain di depannya.
"Pak, saya pesan yang ini, ini, ini dan ini masing-masing sepuluh meteran dulu ya? Nanti seperti biasa saya pesan lagi kalau butuh tambahan?" Perempuan itu menunjuk gulungan kain yang dimaksud.
"Baik Bu." Lalu pria di depannya memerintahkan kepada para pegawainya untuk segera mengerjakan apa yang diminta.
"Sekalian dengan benang yang warnanya sama ya?"
"Baik, Bu. Akan saya siapkan."
"Terima kasih, diantarnya nanti agak sore saja, Pak." Lalu dia melakukan pembayaran.
"Iya Bu."
"Nah setelah ini kita mau ke mana?" Mereka berjalan keluar menuju mobil yang sudah siap di depan.
"Nggak tahu, mungkin pulang? Kan belanja kainnya udah beres." Nania menjawab.
"Ish, tidak asik kamu ini. Mumpung kita keluar, ayo kita jalan-jalan!" Mereka masuk kedalam mobil yang segera melaju meninggalkan tempat tersebut.
"Jalan-jalan ke mana? Kan kalau udah beres harusnya pulang?" Nania berujar.
"Baru sebulan jadi istrinya Daryl kamu sudah begini? Padahal sebelum menikah kamu orang bebas."
"Kan katanya kalau udah menikah keadaan jadi beda."
"Iya, tapi jadi drastis. Seperti sesuatu menekanmu untuk jadi begitu?" Sofia menatap curiga.
"Umm β¦ di pikiran aku, kalau orang terdekat ngucapin kata yang sama berulang-ulang kadang kayak jadi keharusan untuk aku nurut sama dia. Kayak ibu yang selalu bilang kalau aku aku harus nurut sama membalas budi."
"Lho, kenapa begitu?"
"Nggak tahu, mungkin kebiasaan?"
"Kamu terbiasa dibentak atau diteriaki ya? jadi akan menurut kalau misalnya ada seseorang yang berbuat begitu kepadamu?"
__ADS_1
"Iya."
"Kamu tahu, sebenarnya keadaanmu itu mengkhawatirkan, dan mungkin membutuhkan penanganan dokter."
"Aku nggak sakit." Nania terkekeh.
"Ini bukan soal sakit, tapi soal kejiwaanmu yang mungkin butuh dipulihkan."
Nania terdiam.
"Tidak apa-apa kalau kita ke pantai? Sepertinya suasananya cocok bagi kita untuk berbicara." Sofia kembali berbicara.
"Tapi nggak renang kan?" Nania bertanya.
"Tentu saja tidak, Mama tidak suka berenang di tempat umum. Bisa marah papimu kalau Mama begitu." Ibu mertuanya itu tertawa.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
"Kita harus mengambil foto dulu di sini." Sofia memotret dirinya sendiri bersama Nania di depan sebuah bangunan pinggir pantai.
Semacam kafe outdoor dengan suasana pulau tropis yang kental bernuansa Bali yang menjadi salah satu tempat favoritnya.
Tak berselang lama, ponselnya berbunyi.
"Benar kan, pasti langsung menelfon." Dia menggeser tombol hijau lalu menekan tombol loudspeaker.
"Ya Sayang?"
"Belanja kainnya sudah?" Suara Satria terdengar dari seberang sana.
"Sudah, nanti diantar agak sore."
"Kamu akan di sana lama?" Pria itu bertanya lagi.
"Mungkin. Kamu juga masih dengan Arfan kan?" Sofia balik bertanya.
"Ya. Kalau begitu aku pulang sore saja, sekalian dengan anak-anak."
"Hati-hati, Sayang."
"Ya, kamu juga." Lalu panggilan pun berakhir.
Nania menatap perempuan itu sambil tersenyum. Rasanya menyenangkan melihat interaksi seperti ini, dan dia beruntung karena menyaksikannya setiap hari.
"Kamu tahu, begitulah papimu. Tidak jauh berbeda dari Daryl." Sofia menyesap minuman dinginnya yang dia dan Nania pesan.
"Tapi mungkin Daryl lebih ekstrim. Dulu Mama dan anak-anak boleh keluar rumah hanya jika didampingi Arfan. Ke manapun boleh pergi meski tanpa Papi, tapi Arfan harus selalu ada."
"Pak Arfan?"
"Ya, papanya Ara. Dia dulu asisten Papi."
"Oh β¦."
Sofia menatap wajah menantunya lekat-lekat.
"Nna, apa Daryl memperlakukanmu dengan baik?" Lalu dia bertanya.
"Hum?"
"Apa Daryl memperlakukanmu selayaknya suami kepada istrinya?"
Nania mengerutkan dahi.
"Mama khawatir dia tidak memperlakukanmu dengan baik. Melihat caranya berbicara atau terkadang meneriakimu, membuat Mama berpikir yang tidak-tidak."
"Oh β¦ iya. Dia baik kok."
"Yakin?"
"Iya. Dia ngasih uang, terus bersikap kayak suami pada umumnya. Nggak mungkin harus aku jelasin gimana-gimana nya kan? Karena semua yang udah nikah pasti gitu? Mama pasti ngerti." Nania terkekeh dengan wajah tersipu.
__ADS_1
"Ah, kalau itu Mama juga mengerti, haha." Sofia pun tertawa.
"Tapi maksud Mama, caranya memperlakukanmu apa baik? Dia tidak semena-mena terhadapmu?"
"Baik kok. Kalau soal teriak-teriak, dari awal kenal juga udah gitu. Sekarang mendingan, tapi dulu mana judes sama suka marah-marah nggak jelas lagi. Tapi tetep datang terus ke kedai dan minta aku yang bikinin makanan. Kan aneh?"
"Ah, dia memang yang paling unik diantara saudara-saudaranya. Mama tidak tahu kenapa bisa begitu, hanya saja akhir-akhir ini Mama sering melihat dia menyuruhmu mengikat tali sepatu." Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulutnya.
"Soal itu β¦."
"Kita memang harus tunduk kepada suami, tapi jika dia tidak memperlakukanmu dengan baik, apalagi semena-mena kamu jangan diam saja. Kami tidak akan membela yang salah meskipun itu anak kami."
"Eh, β¦ nggak."Β
"Pikiran Mama jelek setelah melihatmu begitu kepada Daryl, apalagi tadi pagi."
"Mama pasti salah faham." Nania mengibas-ngibaskan tangannya.
"Tadi itu kan tali sepatunya Daryl emang lepas, sebelum itu aku ngiketnya nggak kencang."
"Selama ini kamu yang mengikat tali sepatu Daryl? Sejak kapan? Sejak kalian menikah?"
"Umm β¦."Β
Perempuan ini pasti tidak tahu soal kelainan pada anaknya. Lantas bagaimana dia harus menjelaskannya, sedangkan Daryl mati-matian menyembunyikan hal tersebut dari semua orang? Begitu pikirnya.
"Enak sekali dia? Seperti raja saja?" Sofia menggerutu.
"Nggak apa-apa, kan itu sebagian dari tugas istri?" ucap Nania, cari aman.
"Ya, kamu memang istrinya, bukan budaknya."
Nania terdiam sebentar. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya karena itu akan melukai harga diri suaminya.
"Emang kalau istri ngurus suaminya nggak boleh ya? Kan itu salah satu caranya bikin suami senang. Daryl senang kalau aku ngancingin kemeja sama ngikat tali sepatunya."
"Mengancingkan kemeja juga?"
"Iya."
"Kamu persis Bu Lily yang tidak membiarkan dia berpakaian sendiri. Pantas kalian cocok!"
"Bu Lily?"
"Pengasuhnya sebelum pergi ke Moscow."
"Oh β¦ ya anggap aja gitu. Hahaha."
"Hah, Mama khawatir dia berbuat yang tidak-tidak kepadamu. Awas saja, kalau benar kamu tidak boleh membelanya!"
"Nggak, Ma. Nggak ada apa-apa. Itu cuma semacam kewajiban istri mengurus suaminya. Emang nggak disuruh, tapi kalau itu membuat suami senang ya apa salahnya?"
"Benar-benar, kamu selangkah lebih maju dari Mama soal ini. Bagus-bagus." Sofia mengangguk-anggukkan kepala.
Sementara Nania tersenyum, dan dia merasa lega setelah menjawab pertanyaan mertuanya.
π
π
π
Bersambung ....
Alasannya boleh jugaπππ
Kira-kira, Mama percaya?ππ
Klik like komen sama hadiahnya, genks biar novel ini terus naik.
Alopyu sekebonππ
__ADS_1