
💖
💖
"Untung kita tidak menggunakan penerbangan komersil. Jika ya, maka sudah bisa dipastikan kita akan tertinggal." Darren masih mengomel meski mereka berdua sudah tiba di bandar udara Abdurachman Saleh pada hampir siang.
Keduanya segera turun dari pesawat setelah yakin tak ada yang tertinggal dan langsung bertolak ke hotel terdekat di mana konferensi pengusaha muda se Asia Tenggara diadakan.
"Aku saja buru-buru dan tidak sempat berpamitan sepertimu dengan Kirana. Tapi kau dengan seenaknya membuatku menunggu." Pria itu masih belum puas.
"Kau ini keterlaluan!" katanya lagi dengan raut wajah kesal.
"Shut up!! Kau ini berisik sekali. Dari tadi bicara terus!" protes Daryl kepada saudara kembarnya.
"Habisnya kau menyebalkan!"
"Aku tahu. Aku kan sudah minta maaf, kau tidak dengar?"
Darren mendelik, kemudian keduanya terdiam.
"Baby, aku sudah sampai di Malang dan sekarang sedang menuju ke hotel. Kamu berangkat sekolah?" Daryl mengirimkan pesan.
Lalu Nania melakukan panggilan telfon setelah dia membaca pesannya.Â
"Kenapa kamu menelfon? Bukankah sedang belajar?" Daryl berbicara.
"Gurunya lagi keluar kelas sebentar." Dan Nania menjawab dari seberang sana.
"Lho, kok bisa begitu?"
"Iya, dipanggil kepala sekolah, mungkin ada rapat dadakan?"
"Ohh …."
"Kamu sudah sampai hotel?" Nania bertanya.
"Belum, masih di jalan. Mungkin sebentar lagi."
"Hmm … langsung ke konferensi?"
"Tidak juga. Kami istirahat dulu lah sebentar. Mungkin nanti siang dimulai."
"Gitu ya?"
"Uh'um …."
"Oke. Ingat yang aku bilang ya? Gelangnya nggak kamu lepas kan?" Nania mengingatkan kepada pria itu. Sehingga dia melihat apa yang melilit pergelangan tangannya.
"Tentu saja tidak, mengapa aku melakukannya? Lagipula ini sulit dilepas. Kamu lupa ya kalau aku tidak bisa membuka ikatan?"
"Oh, iya ya?" Perempuan itu tertawa.
"Senang ya membuatku terlihat aneh di depan orang-orang?" Daryl pun tertawa.
"Iya, biar nggak ada yang mau deketin kamu kan?" jawab Nania dari seberang.
"Dasar, kamu!"
"Habisnya cewek-cewek sekarang ngeri, nggak peduli cowoknya udah nikah tetep aja dijajal. Asal sama-sama suka nggak bikin mereka mundur, malah kadang lebih galak dari istri sahnya."
"Duh, pengalaman sekali kamu ya soal itu?" Mereka terus berbincang di telfon.
__ADS_1
"Sering lihat di medsos, asli ngeri."
"Sudah aku katakan jangan terlalu mengikuti berita di media sosial, itu membawa pengaruh buruk untukmu. Apalagi kamu suka overthinking kan?"
"Tapi penasaran kalau nggak lihat."
"Mulai sekarang kurangilah, Malyshka!"
"Iya, nanti dicoba."
"Jangan hanya dicoba, tapi dilakukan."
"Hmm …."
Baiklah, aku tutup dulu. Nanti sore aku telfon lagi ya?" Daryl hampir menyudahi percakapan.
"Iya. Hati-hati." Nania menanggapi.
"No, kamu yang hati-hati. Aku di sini kan aman, kamu yang nggak aman."
Nania terdengar tertawa.
"Jangan hanya tertawa, tapi ingat apa yang aku katakan."
"Iya, Daddy."
"Baik, aku tutup telfonnya ya? Sekolah yang baik."
"Hu'um."
Lalu dia mematikan sambungan.
"Kau seperti bapak-bapak yang sedang menasehati anaknya?" Darren menjawab.
"Apa kau bilang?"
"Apakah setiap hari kau begini? Aneh sekali mendengarnya. Jangan-jangan kalau mau bercinta dia memintanya seperti anak yang meminta mainan ya? Ahahah …." Sang adik tertawa.
"Sembarangan!"
"Atau merengek-rengek? Apa itu yang membuatmu jatuh cinta kepadanya? Ish, geli sekali membayangkannya. Apa tidak seperti sedang menggauli anak-anak?" Darren tertawa lagi.
"Tutup mulutmu! Nania buka anak-anak! Kau tahu umurnya sudah cukup dewasa untuk aku nikahi dan tidak ada masalah dengan itu?"
"Tapi percakapan kalian kedengarannya seperti anak dengan ayahnya. Bagaimana kau bisa begitu?"
"Bukan urusanmu!" Daryl mendelik, sedangkan sang adik kembali tertawa.
Mobil yang mereka kendarai tiba di sebuah hotel di tengah kota Malang, di mana atribut dan bendera dari beberapa negara sudah berjajar menyambut kedatangan para peserta konferensi yang biasa diadakan satu tahun sekali itu.
Dan tanpa menunggu lama keduanya masuk setelah menerima akomodasi dan segala macam terkait acara yang sebentar lagi akan segera berlangsung.
"Tunggu sebentar, Der!" Darren menahan sang kakak.
"Now what?" Dan pria itu menghentikan langkah.
"Aku belum pernah melihatmu menggunakan aksesoris seperti ini?" Darren meraih tangan Daryl dan melihat apa yang melilit di pergelangannya. Semacam tali berwarna hitam yang dililitkan dan diujungnya terdapat pengait yah ditautkan.
"Ada apa kau ini? Diamlah!" Namun sang kakak menepis meski dia tetap bisa melihatnya.
"Astaga! Yang benar saja, ahahaha!" Dan Darren pun tertawa setelah dia menyadari apa yang Daryl kenakan.
__ADS_1
"Jangan tertawa, bodoh! Ini jimat yang Nania berikan agar aku selamat."
"Jimat kepalamu! Mau-maunya kau menuruti keinginan anak-anak seperti itu!"
"Hey, sudah aku katakan jika Nania bukan anak-anak. Dia bahkan sudah bisa memberikan anak untukku?"
"Ya ya ya. Bahkan pria dewasa sepertimu bisa jadi anak-anak juga seperti dia." Darren tertawa lagi.
"Tutup mulutmu!" Daryl menendang kaki saudaranya, tapi akhirnya dia tertawa juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sebentar aja, please!" Nania kembali memohon kepada Regan untuk mengantarnya menemui ibunya.
"Sudah saya katakan tidak bisa. Lebih baik kita menunggu saja seperti yang dikatakan ibumu."
"Ini udah tiga hari tapi ibu masih belum ngasih kabar."
"Ya tidak apa-apa, mungkin dia sudah menentukan pilihan." Pria itu melirik kaca spion dan menemukan mobil di belakang yang mengawal mereka.
"Ayolah, gimana kalau ternyata ibu nunggu aku jemput?" Nania terus berbicara.
"Bu Mirna itu orang dewasa, dan dia tahu apa yang seharusnya dilakukan. Jadi saya rasa tidak mungkin kalau dia menunggu." Namun Regan tetap pada pendiriannya, seperti apa yang Daryl pesankan sebelum pria itu menaiki pesawatnya.
"Hah …." Dan Nania menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi setelah tak berhasil membujuk bawahan dari suaminya itu.
"Saya bisa saja membawamu diam-dia ke sana tanpa sepengetahuan Pak Daryl, tapi …."
"Bisa?" Namun perempuan itu kembali bangkit dan dia merasa memiliki harapan.
"Kalau tidak ada yang mengawasi pasti bisa. Semua laporan kan ada pada saya."
"Apa?"
"Kamu lihat mobil hitam di belakang itu?" ucapan Regan membuat Nania menoleh ke arah belakang mobil yang dia tumpangi.
"Mereka diperintahkan untuk menemani saya mengantar jemput kamu, karena keadaan sedang tidak terlalu baik saat ini."
"Ish, kamu lebay deh?" Nania dengan raut kecewa. "Aku kan cuma pergi sekolah, kayaknya anak presiden juga nggak gini-gini amat?"
Regan tampak terkekeh.
"Ya kalau kamu bukan istrinya Pak Daryl tidak akan mendapat perlakuan seperti ini."
"Hu'um, kalian semua berlebihan. Kak Kirana sama Kak Rania kayaknya nggak gini deh? Malah Kak Dygta juga nggak kayaknya?"
"Keadaan mereka berbeda, tidak berbahaya seperti kamu. Bu Rania bahkan bisa mempertahankan dirinya sendiri walau pergi tanpa Pak Dimitri, sedangkan kamu? Akan selalu ada yang mendekat untuk memanfaatkan, jadi itu sebabnya kamu tidak bisa pergi sendiri."
"Huh, masa harus kayak Kak Rania dulu biar apa-apa dibolehin? Kan susah." Nania mengeluh.
"Ya makanya, diam dan menurut saja pada aturan suamimu. Itu sangat mudah."
Perempuan itu mendengus sambil mengerucutkan mulutnya, sementara Regan kembali fokus pada lalu lintas jalanan.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1