The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Bisnis Keluarga


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


"Aku suka wanginya, ini yang paling mendekati kayak yang udah aku campur waktu itu." Nania membubuhkan setetes parfum yang dibawa Daryl seperti yang sebelumnya.


"Paling mendekati?" Sedangkan pria itu duduk bersandar pada sofa dengan jas yang sudah dia lepaskan begitu tiba di rumah pada sore harinya.


"Iya. Wanginya lebih enak. Coba." Nania menyodorkan pergelangan tangannya kepada Daryl agar dia bisa mencium aroma parfum tersebut.


"Hmm …."


"Wanginya enak kan?"


"Yeahh …."Β 


"Yang ini juga." Lalu dia menunjukkan wangi pada ke lima botol lainnya.


"Okay." Dan Daryl menarik perempuan itu sehingga dia terjatuh di pangkuannya.


"Semuanya sudah sesuai?" tanyanya kemudian.


"Ya. Aku pikir sih udah pas. Jadi udah siap launching minggu depan."


"Baiklah." Pria itu segera mengirim pesan pada nomor yang sejak siang tadi meminta kabar.


"Ya udah, sekarang mandi dulu gih. Habis itu kita ke rumah Mama untuk makan." Daryl melirik jam tangannya yang baru menunjukkan pukul lima sore.


"Sebentar lagi boleh?"Β 


"Cepetan lah, mama sama papi udah nunggu kali dari tadi." jawab Nania yang bangkit dari posisinya.


"Baiklah kalau begitu aku akan cepat." Lalu pria itu meraup tubuh kecil Nania dan setengah berlari membawanya ke lantai atas.


"Aaaa … jangan! Aku udah mandi tadi." rengek Nania.


"Nanti mandi lagi saja, kita punya banyak air." Namun itu tak menghentikan Daryl. Malah, dia segera membawanya masuk kedalam kamar yang pintunya ditutup rapat-rapat.


***


"Pelan-pelan, Nna. Mau ke mana sih kamu makanya buru-buru?" Sofia memperhatikan menantunya yang makan dengan tergesa.


"Umm … nggak ke mana-mana."


"Terus kenapa buru-buru begitu?"


"Cuma lapar."


"Ya, tapi hati-hati atau nanti kamu akan tersedak."


Nania mengangguk lalu meneguk air minumnya hingga hampir habis setengahnya. Sementara Daryl hanya melirik tanpa berkata-kata.


"Bagaimana perkembangan untuk launching parfum dan pembukaan FSH?" Satria memulai percakapan.


"Lancar, Pih. Hanya menunggu pembuatan iklannya." Daryl menjawab.


"Masih belum juga? Kenapa? Memangnya tidak akan terlambat ya?" Sofia ikut berbicara.


"Aku belum menemukan model yang cocok. Rasanya tidak pas, begitu."


"Di antara sekian banyak model yang kita punya, masa sih tidak ada satu saja yang cocok dengan kriteriamu? Apanya yang kurang?" Sofia menyahut.


"Entahlah, tidak ada yang kurang. Maksudku, mereka semua sempurna tapi rasanya …."


"Apa?"

__ADS_1


"Aku maunya yang lain. Yang fresh, yang belum pernah tampil di majalah kita."


"Model baru maksudmu?"


"Mungkin."


"Apa perlu merekrut model lagi?"


"Hmm … aku rasa tidak, hanya saja …."


"Kenapa tidak menggunakan yang ada saja? Tawari Rania, misalnya. Bukankah dia sering diminta untuk jadi model?" Satria dengan idenya.


"Masa dia aku ajak untuk iklan model parfum?" Daryl tertawa.


"Memangnya kenapa? Dia cukup baik makanya beberapa produk sempat mengontraknya sebagai model mereka bukan?"


Pria itu berpikir.


"Ya, kenapa tidak menggunakan yang ada saja?" ucap Satria lagi yang membuat putranya mengangguk-anggukkan kepala.


"Ide Papi lumayan." katanya.Β 


"Cepat hubungi dia sebelum jadwal latihannya padat atau pergi balapan. Mumpung masih awal minggu kan?"


"Ya. Tapi aku butuh dua lagi yang karakternya berbeda."


"Memangnya harus ada berapa model?" Sofia bertanya lagi.


"Tiga pasang. Kan parfumnya juga masing-masing tiga macam untuk laki-laki dan perempuan. Dan itu merepresentasikan tiga karakter berbeda." Daryl menjelaskan.


"Hmm … mengapa tidak menggunakan saudara-saudaramu saja? Panggil Dimitri, lalu Darren dan Kirana untuk menambah modelnya. Dan mungkin juga kamu dan Nania bisa masuk juga."


"Apa?"


"Aku?" Perempuan yang dimaksud menunjuk wajahnya sendiri, padahal dia sedang fokus dengan makanannya.


Daryl menoleh ke arah istrinya. "Kamu mau?" lalu dia bertanya.


"Masa aku jadi model? Bajunya aku yang bikin, terus aku pakai juga gitu?" Nania tertawa. Tidak pernah ada dalam bayangannya untuk menjadi apa yang suami dan mertuanya bicarakan.


"Ya tidak apa-apa, setiap hari kita jadi model untuk produk sendiri, bukan?"


"Tapi ini iklan." ucap Nania.


"Ya terus?"


"Nanti syuting-syuting gitu?"


"Ya, sedikit berakting di depan kamera."


"Duh."


"Ayolah, tidak ada salahnya kita mencoba?" Daryl tampak antusias.


"Kamu emangnya mau?"


"Hanya kalau kamu mau. Ini juga pertama kalinya untukku." jawab Daryl.


"Umm …."


"Jadi masalahnya selesai kan? Setelah ini hubungi Dimitri dan Darren agar pembuatan iklannya bisa segera dimulai. Jangan sampai acaranya diundur hanya karena kita tidak siap." Satria menyudahi diskusi pada malam itu.


***


"Aku nggak yakin, masa produknya punya kita, yang rancang botol sama bajunya aku, eh yang jadi modelnya kita-kita juga." Mereka sudah kembali ke rumah dan bersiap untuk tidur. Setelah diskusi berlanjut dan Daryl melakukan apa yang disarankam oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


Yang tanpa diduga mendapat respon bagus dari kedua saudaranya dan istri mereks yang menyetujui ide tersebut.


"Ya tidak apa-apa, memangnya kenapa? Produk punya kita, ya suka-suka kitalah mau pakai model siapa atau bagaimana, atau apa pun yang mau kita lakukan."


"Mentang-mentang bisnis keluarga ya?" Nania tertawa.


"Begitulah."


"Apa aku bisa ya tampil di depan orang banyak? Dateng ke pesta aja aku gampang gugup, apalagi syuting iklan. Mau gimana nantinya?"


"Itu bisa dipelajari, kan ada pengarah gaya dan pengatur adengannya. Nanti mereka akan memberi tahu."


"Masalahnya aku malu kalau nanti harus bergaya di depan mereka."


"Anggap saja mereka tidak ada, dan pikirkan hal selain itu."


"Gimana bisa? Orang nantinya mereka ada di depan aku."


"Hanya lihat saja aku, dan anggap hanya ada aku di sana. Kamu kan tidak gugup jika hanya denganku."


"Itu beda tahu?"


"Anggap sama." Daryl mengulurkan tangannya ke piggang Nania, lalu dia menarik perempuan itu hingga merapat kepadanya.


"Aku nggak yakin deh?"


"Yakin saja, nanti kita sama-sama belajar. Bukankah kamu pintar dan cepat belajar?" Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.


"Untuk hal lain mungkin iya, tapi kalau soal ini aku nggak tahu." Nania menahan dada suaminya ketika jarak diantara mereka hampir menghilang.


"Pasti bisa." Pria itu tersenyum.


"Hmm … kita lihat nanti aja." Nania menguap seraya mengucak kedua matanya yang terasa berat. Kantuk mulai menyerang dan dia ingin segera tidur.


Namun tangan Daryl merayap dibalik pakaian tidurnya dan hal itu cukup mengganggu.


"Nggak ah, aku mau tidur. Tadi sore kan udah?" Nania menghentikannya.


"Tadi sore hanya sebentar." Namun pria itu tak mau berhenti.


"Sebentar juga cukup, emangnya mau berapa jam?" Dan Nania hampir memejamkan mata ketika Daryl berhasil melepaskan pakaiannya.Β 


Dan sedetik kemudian pria itu sudah menenggelamkan wajahnya di belahan dada Nania. Sementara tangannya meremat bulatan kenyal milik perempuan itu.


"Mmm … Daddy! Aku mau tidur!" Lalu Dia berusaha menjauhkan kepala Daryl dari dadanya.


"Ya tidur saja, aku bisa sendiri." Pria itu menjawab, dan tak lama setelahnya dia sudah membenamkan senjatanya di pusat tubuh Nania.


"Ugh!!" Nania membelalak ketika Daryl mulai menghentak.


"See? Aku bisa sendiri." ucap Daryl lagi yang kembali menyentuh tubuh Nania hingga lama kelamaan akhirnya dia terpancing juga.


Dan segera saja, des*han dan erangan kembali mengudara seiring hasrat keduanya yang menanjak dengan mudah.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ....


Umm ... AnuπŸ™ˆπŸ™ˆ


Come on gaess, klik like komen hadiah sama votenya biar cerita ini makin naik.

__ADS_1


Alopyu sekebon 😘😘


__ADS_2